“Pagi, Diva!”
Seruan dari seseorang bersuara familiar membuat Diva menoleh. Ia tersenyum melihat Bari mengendarai sepeda motor sepelan mungkin untuk menyamai langkah kaki Diva.
“Pulang sekolah nanti, jadi kan ke rumah?” tanya Bari. Wajahnya nampak sumringah karena berharap hari ini ia bisa menghabiskan waktu dengan perempuan yang ia sukai.
Mendadak, langkah kaki Diva berhenti. Membuat Bari buru-buru menghentikan laju motornya.
“Oh iya, Diva lupa!” jawab Diva sambil menepuk dahinya. Lantas ia menatap Bari dengan tatapan rasa bersalah. “Bari, kayaknya nggak bisa pas pulang sekolah deh. Soalnya Diva lagi dalam masa percobaan.”
“Masa percobaan apa?”
Tin tin ... Tin tiiiiiiiiinnn!!
“Woi, minggir! Menghalangi jalan aja kalian berdua. Kalau mau pacaran jangan di sini dong!”
Seorang siswa yang mengendarai mobil berwarna hitam mencak-mencak. Menuntut Bari agar memberi dia jalan masuk.
“Mending Bari masuk dan parkir motor dulu. Nanti Diva ceritain,” ujar Diva.
“Cepetan woi! Anj*ng lah!” maki siswa tersebut tak sabar.
Tepat saat itu sepeda motor dengan bodi besar berwarna merah lewat. Dan Diva tau jika yang mengendarai adalah Samudra.
“Ya udah. Aku parkir motor dulu. Tapi janji bakal cerita, oke?”
“Hmmm,” angguk Diva.
Ia sedikit minggir dan memberi jalan pada mobil hitam tersebut untuk lewat, sementara Bari sudah melajukan motornya lebih dulu.
“Diva.”
Diva menoleh ke samping dan hampir terlonjak melihat wajah Aaron tepat berada di depan mukanya.
“Apa-apaan sih!” gerutu Diva sambil berjalan menuju gedung sekolahan. “Kamu ini, harus Diva bilang berapa kali sih. Jangan muncul mendadak! Ngagetin tau!”
Aaron nampak abai. Ia lebih sibuk memperhatikan gadis-gadis cantik yang melewati mereka. Lebih-lebih para siswi yang memakai seragam sangat ketat dan rok setengah paha. Aaron sampai dibuat bersiul kegirangan, sesekali usil menggunakan kekuatannya untuk menghembuskan angin, membuat rok-rok mini para siswi itu lebih terangkat naik lagi.
“Aaron! Jangan me-sum deh!” tegur Diva.
“Saya itu dewa hawa nafsu, Diva. Sangat suka dengan keseksian dan keintiman. Dan saya itu bukannya me-sum, tapi memang saya harus melihat itu semua untuk tetap waras,” ucap Aaron sambil memutar bola mata.
“Oh, jadi Dewa bisa jadi gi-la juga?”
“Ya bisa dong!” jawab Aaron cepat. “Kamu pikir saya bukan hasil dari kegilaan orang tua saya?” tanya Aaron sambil menunjuk pada dirinya sendiri.
“Maksudnya?”
“Bukan apa-apa.” Aaron mengibaskan tangan di udara. “Jadi, kamu masih belum mau ganti target?”
“Target apaan?” tanya Diva tidak mengerti.
“Samudra, Diva! Ganti target laki-laki yang kamu sukai. Kamu nggak kasihan sama aku? Aku udah mulai hampir gi-la karena tidak bisa melakukan adegan dewasa plus plus di atas ranjang bersama seorang wanita.”
“Dasar Dewa aneh!”
“Ya, ini karena efek itu tadi. Seorang dewa hawa nafsu tapi tidak bisa menyalurkan hawa nafsunya sendiri. Sungguh tragis!”
“Bukan itu!” kekeh Diva.
“Lalu?”
“Memangnya para Dewa kalau ngomong kayak kamu ya? Kadang fomal, kadang baku, kadang juga pakai bahasa gaul.”
“Nggak juga. Sebenarnya kami memiliki bahasa sendiri, jadi bahasa manusia menjadi bahasa asing bagi kami. Harap maklumin aja, kalau kita suka mencampur bahasa manusia dengan formal, baku dan gaul.”
Diva manggut-manggut. Hendak bertanya lagi pada Aaron tapi bahunya sudah ditepuk seseorang.
Menoleh, Diva mendapati Bari yang melakukannya.
“Ngomong sama siapa kamu?” tanya Bari, dahinya sedikit mengernyit heran. Ia pikir tadi Diva sedang berbicara melalui panggilan telepon yang tersambung dengan headset wireless, tapi dari depan sini Bari tidak melihat kedua telinga atau salah satunya terpasang benda tersebut.
“Hah? O, oh ... Bukan sama siapa-siapa. Diva cuma lagi eum ... menghafal dialog sebuah novel. Hehe.”
Aaron yang mendengar hanya menggelengkan kepala kecil, kemudian menghilang entah ke mana.
Meski sulit dipercaya, Bari mengangguk saja. Bahkan sepertinya apapun yang Diva katakan akan Bari setujui.
“Jadi? Kenapa nggak bisa pas pulang sekolah?” lanjut Bari bertanya hal tadi.
“Itu ... soalnya sekarang Diva jadi manajer tim basket.”
“Hah? Manajer? Dibayar dong?”
Diva tergelak. “Ya enggaklah. Itu semacam ekstrakulkuler juga, tapi beda posisi. Nah karena pertandingan nasional antar SMA sebentar lagi, jadi mereka butuhin manajer buat bantu siapin kebutuhan mereka.”
“I-itu ... kedengaran kayak pembantu buat aku,” ucap Bari sambil menggaruk tengkuk yang tidak gatal. Ia bukannya tidak tahu Diva nge-fans berat dengan Samudra. Jadi Diva pasti mau jadi manajer tim basket putra karena ada Samudra di sana.
“Yah ... mungkin. Tapi nggak apalah. Lagian Cuma sampai pertandingan berakhir,” tukas Diva. “Jadi nanti Diva akan ke rumah kamu sore. Sekitar jam 5 mungkin, habis latihan tim basket selesai. Nggak apa-apa kan?”
Rasanya ingin berkata ‘Jangan! Aku itu nggak suka kamu dekat-dekat sama Samudra!’, namun karena sadar ia bukan dan belum menjadi siapa-siapa Diva, Bari mengangguk pasrah saja. Dengan bahu yang sedikit lemas.
Sebenarnya, apa sih yang Diva lihat di diri Samudra? Cowok itu nggak pernah memperlakukan Diva dengan baik.
“Oke kalau gitu. Nanti aku jemput.”
“Nggak usah. Kasihan kamu bolak-balik. Diva naik taksi aja.”
“Nggap apa, Diva. Pokoknya nanti aku jemput. Ya udah, aku ke kelas duluan. Bye Diva!” ucap Bari sambil melambaikan tangan.
Diva membalas lambaian tangan Bari.
***
“Heh, Diva! Ngapain lo di situ? Keganjenan banget sih!” Sara membentak Diva pada latihan sore hari karena melihat Diva duduk-duduk di bangku penonton. Memperhatikan dan sesekali meneriaki tim agar semangat mendrible bola.
“Itu beresin bekas latihan kita, dan belikan gue, Indah sama Lika es teh! Buruan!” perintahnya semena-mena.
“Kalau bola nanti Diva beresin. Tapi kalau beli minum, Diva nggak mau.”
Penolakan Diva membuat Sara terkejut sekaligus marah. Jika bukan karena image, sudah ia jambak rambut Diva sekarang juga.
“Lo berani nolak gue?” desis Sara. “Kalau lo nolak perintah gue, gue bakal keluarin lo dari tim sekarang juga!”
Diva berdiri menantang pada Sara. “Nggak usah kamu keluarin, Diva bakal keluar sendiri.”
Mulut Sara terbuka speechless. Cewek ini!
“Kalau gitu ngapain lo masih di sini? Pulang sana! Gedung ini khusus buat latihan doang. Yang nggak berkepentingan dilarang ada di sini!”
“Diva nggak bisa. Diva harus ada di sini buat urus mereka!” tunjuk Diva pada tim basket putra yang sedang bermain.
“Iiishhh, dasar cewek mura-han!”
“Ada apa ini ribut-ribut?” Tiba-tiba Pak Jaka muncul. Ia melirik wajah Sara yang marah dan wajah Diva yang terlihat santai.
“Sara? Kamu nggak latihan?”
“Baru istirahat, Pak.”
Pak Jaka mengangguk kecil, melirik pada latihan anak-anak basket di lapangan.
“Tapi Pak Jaka, cewek ini bukan bagian dari tim basket. Harusnya dia nggak ada di sini kan? Usir dong, Pak!” protes Sara pada pembina tim putra.
“Oh, maksud kamu Diva? Justru dia harus ada di sini karena saya butuh menilai cara kerjanya seperti apa.”
“Maksud Bapak?”
“Diva ini manajer tim basket putra, jadi dia harus ada di sini buat siapin segala kebutuhan tim.”
Lagi-lagi Sara di buat tak bisa berkata apa-apa. Sudah lama ia tidak mendengar ada manajer tim basket lagi dan sekarang ...
Ini tidak bisa dibiarkan.
“Kenapa Bapak nggak jadiin aku aja sebagai manajer tim-nya? Aku yakin kok aku bisa kerja lebih baik dari dia!”
Pak Jaka menggelengkan kepala geli. Menahan senyum di bibir. “Kalau gitu, sepulang sekolah nanti, kamu beresin semua bola di sini. Terus sekarang, kamu pergi ke kantin buat beli minum untuk mereka semua. Jumlahnya 10 orang ya. Dan selesai latihan nanti, pergi ke ruang ganti klub, ambil semua kaus-kaus basket mereka dan cuci di mesin cuci. Nggak perlu pakai tangan karena tim basket putra sudah sedia mesin cuci di sana.
“Lalu, sapu dan pel juga lantai ruang ganti mereka. Selama mengerjakan itu, kamu nggak boleh minta bantuan teman-teman kamu apalagi nyuruh orang lain. Kamu tahu kan, nggak ada yang boleh masuk ke ruang ganti tim selain mereka, saya dan manajernya? Kamu sanggup mengerjakan itu semua?”
Jelas tidak! Teriak Sara dalam hati.
Dan apa kata Pak Jaka tadi? Nyapu, ngepel, cuci baju? Bisa rusak kuku-kuku cantik Sara yang rutin dirawat di salon dan dikutek ini.
Kesal, Sara pun hanya bisa menghentakkan kaki, kemudian berbalik dan pergi dari sana. Moodnya hancur karena Diva.
Sepeninggal Sara, Diva melirik pada Pak Jaka.
“Terima kasih, Pak,” gumamnya pelan, tidak berharap bahwa pelatih tersebut akan mendengarnya.
Namun ternyata Pak Jaka mendengarnya. Ia menoleh dan tersenyum tipis pada Diva. “Saya bukannya tidak tau jika selama ini Sara memperlakukan anak-anak yang baru gabung ke tim basket putri sebagai pesuruh. Selama ini saya hanya bisa mengawasi dari jauh karena saya sudah pernah lapor ke Pak Kepala Sekolah dan beliau tidak menganggapi secara serius. Kamu tahu sendiri kan siapa Sara?”
Diva mengangguk. Sara adalah keponakan kesayangan dari Pak Kepala Sekolah.
“Jadi asalkan perbuatan Sara nggak keterlaluan, saya diam saja. Dan oleh karena itu juga saya menolak menjadi pelatih tim basket putri. Karena jika saya menjadi pelatih tim putri, orang pertama yang akan saya keluarkan ya si Sara. Dia itu, baru main 5 menit aja udah ngeluh capek. Habis itu dia nggak paham permainan basket itu seperti apa. Taunya dia harus ambil bola dan masukin ke ring saja.”
Diva tertawa kecil. Mengingat kembali bagaimana selama ini tim basket putri latihan. Mereka semua selalu mengerubungi bola, berebut tanpa mengopernya ke teman tim mereka. Sungguh aneh, tapi nyata.
“Oh iya, sudah siapin minum buat anak-anak?” tanya Pak Jaka.
“Sudah dong, Pak! Itu, lengkap sama kotak P3K kalau nanti ada yang terluka,” tunjuk Diva pada barang-barang yang terletak tak jauh dari mereka.
“Bagus! Sudah belajar juga cara merawat kayak luka lecet, keseleo dan lain sebagainya? Minimal kamu harus tau dasarnya saja.”
“Baru sedikit sih, Pak. Tapi Diva akan mempelajarinya lagi.”
Pak Jaka mengangguk puas. Sepertinya Diva memang sudah tepat dijadikan manajer tim sampai waktu pertandingan nanti.
Tak lama kemudian Pak Jaka meniup peluit, tanda jika waktu latihan telah berakhir.
Semuanya mendesah lega. Pergi ke tepi lapangan dengan keringat-keringat di masing-masing tubuh. Mereka meneguk air mineral dan langsung bercanda kembali.
Pak Jaka mengucapkan terima kasih dan menyatakan bahwa permainan mereka sudah sangat bagus dan meminta agar terus dipertahankan sampai hari H nanti, setelah itu beliau mempersilakan semuanya untuk bubar.
“Andi, seperti biasa, bereskan seluruh bola sebelum pulang,” ingat Pak Jaka.
“Siap, Pak!” ujar Andi dengan muka manis. Tapi setelah Pak Jaka pergi ia langsung berkata pada Diva, “Ku serahkan semuanya padamu, wahai manajer. Hehehe,” dan ia pun langsung kabur dari sana.
Diva menggelengkan kepala pelan. Ia mulai membereskan bola basket yang tersebar di lapangan. Di sini sudah sepi sebab tim putri pun sudah bubar saat Pak Jaka meniup peluit.
Sementara itu di ruang ganti tim basket putri, Sara mencak-mencak marah. Timbul keirian yang sangat besar di hati.
“Tenang, Sar. Tenang! Nanti lo punya darah tinggi loh!” tegur Indah berusaha menenangkan.
“Ya habis gue kesel banget! Cari muka banget nggak sih tuh cewek! Iiiishhh, rasanya pengen gue jambak dan cakar mukanyaaaaa... Cantik juga cantikan gue!”
“Etapi menurut gue, Diva juga cantik kok,” celetuk Lika tanpa sadar. Ia sibuk mengaca sambil membenarkan make up di wajah.
Saat sadar Sara sedang meliriknya tajam, Lika buru-buru meralat ucapannya. “Oh tapi lebih cantikan kamu kok, Sara. Buktinya lo model, calon artis terkenal di negara ini! Ya nggak, Ndah?”
Indah memutar bola mata dan mengangguk saja. Padahal ia tahu sendiri jika Sara menjadi model karena menyuap fotrogafer dan perusahaan majalah, bukan karena bakatnya sendiri.
“Tau ah! Kesel gue!”
“Tenang, Sar. Tenang! Eum ... gimana kalau kita kerjain dia aja,” ide Indah.
“Kerjain gimana?”
Indah tersenyum, lalu berbisik di telinga Sara. Membuat bibir Sara membentuk senyum jahat. Tanda bahwa ia menyukai ide dari Indah.
***
Selesai membereskan semua bola—terima kasih pada Aaron yang membantunya sehingga ia selesai dalam hitungan menit, Diva pergi ke ruang ganti tim basket pria. Di sana ia sempat menunggu beberapa saat agar semuanya keluar lebih dulu.
“Diva, manajer kami! Semangat ya!”
“I love you, my manajer! Sulap ruang ganti kami yang bau dan kucel karena kurang sentuhan wanita itu jadi bersih dan layak untuk ditinggali ya! Semangat!”
“Diva, kami pulang dulu ya! Makasih udah mau urus kami!”
Dan masih banyak lagi salam perpisahan sebelum pulang dari anak-anak basket, membuat Diva hanya bisa tersenyum ramah.
Farrel, Samudra dan Rino adalah 3 orang terakhir yang keluar. Rino menepuk bahu Diva dan mengucapkan kata ‘semangat!’ pun dengan Farrel. Berbeda dengan Samudra yang tidak mengucapkan satu patah kata pun.
Setelah kosong, barulah Diva masuk. Ia tidak menyangka bahwa ruang ganti tim basket putra cukup luas. Ada beberapa loker, satu set sofa, mesin cuci dan rak penjemur baju. Sebuah AC juga terpasang dan sedang menyala dengan baik.
Jika tim basket putri melihat ruang ganti ini, mereka pasti akan iri setengah mati, batin Diva.
Setelah mencari gudang tempat penyimpanan alat kebersihan, Diva mulai bersih-bersih. Pertama, ia mengumpulkan kaus kotor para member yang tergeletak di mana-mana. Sungguh terlihat berantakan sekali!
Setelah semua terkumpul, Diva memasukkannya ke dalam mesin cuci. Tak lupa memberinya sabun banyak-banyak agar baju-baju tersebut harum.
Setelah itu, barulah Diva menyapu lantai. Membuang sampah dan mulai mengepelnya. Diva mengecek pengharum ruangan dan berdecak kecil menemukan tidak pernah diganti. Isinya sampai kering.
Pantas saja di sini agak pengap dan bau keringat!
Diva mematikan AC dan membuka jendela, membiarkan sirkulasi udara bertukar dari luar. Setidaknya bau lepek dan keringat bertukar dengan udara yang lebih segar.
Selesai mengganti pengharum ruangan, Diva kembali menutup kaca jendela. Ia menyalakan AC dan membiarkan ruangan jadi sejuk. Pengharum ruangan juga nampak sudah mulai bekerja karena bau pria tadi sudah mulai berkurang dan berganti dengan bau harum.
“Tinggal nunggu cucian,” ucap Diva sambil merenggangkan tangan. Ia lelah dan duduk di sofa.
“Masih lama?” tiba-tiba Aaron muncul, mengejutkan Diva.
“Iya, tinggal nunggu cucian itu.”
“Ckckckck,” decak Aaron, lalu tiba-tiba menghilang lagi. Benar-benar definisi dewa yang tidak jelas!
Diva tidak tahu saja jika Aaron sudah memiliki teman-teman hantu pohon beringin dan sekarang mereka sedang berencana untuk pergi ke bioskop melihat film thriller terbaru yang katanya bagus itu.
Karena kelelahan, Diva jatuh tertidur. Ia tidak sadar saat dari luar terdengar suara bisik-bisik dan orang yang mengendap-endap.
“Kita kan nggak boleh masuk,” suara bisikan tersebut. "Setahu gue, Andi pernah bilang ada CCTV juga di dalam. Kalau kita masuk bakal ketahuan."
“Ya nggak usah masuk. Itu tuh! Kebetulan gemboknya di luar,” sahut bisikan yang lain.
“Oh, hehehehe, beruntung banget kita. Sukurin lo Diva! Biar mampus semalaman nginep di sekolah.”
Ceklek!
Gembok pun sudah terkunci dari luar, sementara Diva masih terlelap dalam tidurnya.