“Hatsyiiii ...!!” Diva bersin untuk kesekian kalinya. Membuat Bari yang berjalan di sampingnya menatap khawatir.
“Yakin nggak apa-apa?” tanya laki-laki tersebut. Ia pun menyentuh dahi Diva untuk memastikan apakah Diva demam atau tidak.
“Iya. Diva nggak apa-apa Bari. Cuma agak pilek aja soalnya kemarin kehujanan,” jawab Diva dengan suara sedikit sumbang.
“Kok bisa kehujanan?”
Diva tersenyum, kejadian kemarin berputar kembali dalam ingatan.
“Ditanya kok malah senyum-senyum,” tegur Bari heran.
“Hehe. Oh iya, Diva lupa. Diva kan belum nemuin Nayla soal yang kemarin ulang tahun.”
“Oh, nggak apa-apa kok. Yang penting kadonya udah sampai di dia,” jawab Bari. Ia menghentikan langkah kemudian sedikit menunduk untuk menyejajarkan wajahnya dengan Diva. “Mau aku antar ke UKS aja?” tanyanya dengan raut khawatir karena lagi-lagi Diva bersin.
Diva menggeleng. Kemudian meraih ransel dan membukanya.
Sekilas, Bari melihat kotak bekal makan dari sana, mengakibatkan sedikit rasa sakit di hati. Bukannya ia tidak tahu jika Diva sering membawakan bekal untuk Samudra. Selama ini Bari hanya pura-pura tidak melihat atau tidak tahu saja.
“Diva udah bawa ini kok,” tunjuk Diva pada satu sachet obat herbal yang dipercaya bisa menghangatkan tubuh.
“Oooh oke. Tapi nanti kalau pusing atau ngerasa demam dikit aja bilang ya sama aku. Biar aku antar ke UKS.”
Diva tertawa kecil lalu mengangguk. Keduanya pun berjalan menuju kelas masing-masing karena bel tanda masuk sekolah sudah dimulai.
Sementara itu di kelas lain ...
“Hatsyiii!”
Rino dan Farrel menoleh ke bangku Samudra yang di mana laki-laki tersebut berulang kali bersin-bersin. Tidak hanya mereka berdua, teman-teman perempuan di kelas Samudra pun melakukan hal yang sama.
“Lo sakit, Sam?” tanya Rino.
“Nggak. Cuma agak pilek aja.”
“Ke UKS sonoo ... Ntar virus-virus lo nyebarrr di kelas, nularin kita-kita lagi.
“Bodo amat. Hatsyiiii!” Samudra malah sengaja mengarahkan bersih ke Rino, di mana Rino langsung akting seperti tercekik lalu sesak napas dan pingsan di atas bangku.
Samudra tertawa, melempar bolpoinnya ke arah Rino.
“Wah, lumayan bolpoin gratis! Makasih banyak Samudra!” ujar Rino semangat. Masih menjadi misteri kenapa bolpoinnya sering hilang, padahal Rino selalu hanya punya satu bolpoin di dalam tas. Tidak punya pensil, tidak punya penghapus dan tidak punya tipe x pula. Semua alat sekolah rasanya Rino lebih suka modal meminjam dari pada beli kecuali untuk buku-buku.
“Yeeeuuu dasar! Bolpoin lo hilang lagi?” tanya Farrel yang diangguki oleh Rino.
Samudra hanya menggelengkan kepala saja.
“Samudra ... ini buat kamu.” Tiba-tiba seorang siswi menghampiri meja Samudra dan menyerahkan satu botol minuman berwarna oranye pada Samudra. Terdapat logo 100% vitamin C di bagian luar. Salah satu merek minuman yang cukup terkenal dalam negeri.
Samudra hanya menatap minuman tersebut tanpa mau mengambil. Ia justru sibuk mengeluarkan buku pelajaran dari dalam tas, membuat suasana kelas jadi sedikit awkward.
Si siswi salah tingkah karena dicueki oleh Samudra. Inilah alasan kenapa banyak sekali penggemar Samudra yang memilih menitipkan barang atau meletakkan apa yang ingin mereka berikan pada Samudra langsung ke bangku atau lokernya, bukan ke orangnya. Sebab Samudra tidak pernah mau menerima barang apapun secara langsung, apalagi oleh perempuan.
Meletakkan botol tersebut di atas meja Samudra, siswi tersebut segera berbalik dan kembali duduk di kursinya yang terletak di bagian depan. Beberapa teman wanita yang duduk di sampingnya berusaha menghibur.
“Fak men, masih sok keren aja lo! Dingin banget jadi cowok!” umpat Farrel. Akan tetapi tangannya merah botol minuman oranye tersebut. “Buat gue ya?” ringisnya.
Samudra mendengus kecil. Tapi Farrel tau bahwa Samudra mengijinkannya.
Samudra selalu seperti itu. Tidak pernah berubah.
***
Melakukan tugas sebagai manajer tim basket, Diva duduk di bangku penonton sambil menyiapkan segala sesuatu yang anggota tim mungkin akan butuhkan. Mulai dari kotak P3K, beberapa handuk kecil juga botol-botol air mineral.
Sesekali Diva bersorak, memberi semangat pada anggota tim yang sudah mulai Diva kenal seluruh namanya.
Saat peluit pertama berbunyi tanda latihan ronde pertama telah berakhir, semuanya menepi ke arah Diva.
“Wah, ada handuknya juga sekarang! Bersih, harum lagi!” ungkap Agus sambil mengelap keringat di lehernya.
“Memang ya, cuma Diva yang cocok jadi manajer kita. Hidup Manajer Tim, Hidup Manajer Timmm!!” sorak Farrel. Semuanya menanggapinya dengan tawa sekaligus acungan dua jempol.
Diva nampak senang. Iris matanya menoleh ke arah Samudra dan ia pun berdiri untuk menghampirinya.
“Ini!” Diva menyodorkan satu sachet obat herbal yang pagi tadi ia minum pada Samudra. Gadis itu ternyata menyadari bahwa beberapa kali Samudra nampak bersin. Padahal tadi siang saat Diva menyerahkan bekal makanannya, Samudra nampak baik-baik saja.
Alis Samudra bertautan, seolah sedang bertanya ‘apa ini?’
“Udah minum aja! Diva tadi juga minum kok karena agak ngerasa pilek. Tapi sekarang lihat, Diva udah jauuuh lebih baik. Manjur banget ini obat! Herbal lagi. Jadi nggak berbahaya buat tubuh!” Diva memaksa Samudra untuk menerimanya, seperti biasa.
Ingin Samudra menolak tapi rasanya bersin-bersinnya cukup mengganggu. Selain itu, Samudra juga tidak ingin pileknya malah jadi semakin parah hingga bisa mengganggu latihannya. Jadi tanpa pikir panjang, Samudra pun merobek ujung bungkus dan langsung meneguk isinya hingga habis.
Rasa mint.
“Gimana? Hangat kan?”
Samudra mengangguk saja.
Diva masih punya banyak di tas. Kemarin Papa sama Abang Diva yang beliin banyak. Nanti Diva kasih separuhnya buat Samudra deh biar cepat sehat!”
Priiiiittt !!!
Peluit tanda ronde kedua dimulai tiba-tiba berbunyi. Para anggota tim yang berjumlah 10 orang kembali ke lapangan. Termasuk juga dengan Samudra.
Tapi sebelum Samudra pergi dari hadapan Diva, Diva menyerukan kata ‘semangat’ pada Samudra. Tepat saat Samudra membalikkan badan, bibirnya membentuk senyum tipis. Yang saking tipisnya, tidak ada orang yang menyadari hal tersebut.
Di sisi lain lapangan, para anggota tim basket putri menatap Diva dengan penuh iri. Terutama Sara. Tak hanya iri, namun ada kebencian yang terpancar dari sana.
Jelas! Selama ini ia mati-matian merayu pamannya yang merupakan kepala sekolah untuk tetap membiarkan ada klub tim basket putri. Tujuannya agar Sara bisa melihat Samudra setiap hari. Sukur-sukur kalau malah bisa jadi dekat karena sering bertemu.
Sayang, bukannya ia yang dekat, malah jadi Diva yang bisa masuk ke dalam circle tim basket putra. Sara jadi kesal sendiri.
“Dasar ganjen!” maki Sara. Di sisi kiri dan kanan ada Lika dan Indah yang selalu menjadi antek Sara setiap hari.
“Iya. Ngeselin banget! Dasar sok kecantikan!” dukung Lika.
“Jadi pengen gue pites!” Indah ikut menimpali.
Sara menggertakkan rahang. Kedua tangannya ia lipat di depan da-da sementara otaknya menyusun rencana bagaimana ia bisa membuat Diva jera.
Meski ia belum menemukan hal tersebut tapi Sara yakin, suatu saat nanti ia bisa memberi Diva pelajaran.
***
“Kapok gue ah masuk ke tubuh orang. Bukannya bisa ngontrol malah gue jadi gosong gini!” gerutu Miss Key yang sedang duduk di salah satu ranting pohon beringin.
“Makanya yang dimasukin itu jangan anak ustadz be-go!” sahut si manis sambil menyisir rambut hitamnya dengan jari.
“Ya gue mana tahu itu anak ustadz?”
Si manis mengindikkan bahu, lantas mengecek kuku-kukunya yang berwarna hitam. Uh oh, rasa-rasanya ia ingin pergi ke salon dan mengganti warna kuku tersebut jadi merah. Sayang dunia hantu tidak ada jasa persalonan.
“Sudah-sudah. Besok juga muka lo balik putih glowing kok! Udah kodratnya kuntilanak itu kulitnya gitu, beda sama genderuwo,” tukas pocong. “Tapi omong-omong, genderuwo mana nih? Tumben nggak ada.”
Si tuyul tiba-tiba angkat bicara. “Kemarin saya lihat, dia kebakar.”
“Hah? Kok bisa?!” serentak semua hantu pada histeris.
“Iya. Orang genderuwonya juga sih. Masa malah gangguin pak kyai yang lagi lewat di persimpangan jalan sono, kan jadinya dia dibacain ayat-ayat. Kebakar deh!”
Semua hantu menggeleng dan berdecak kecil. Berduka cita karena kehilangan salah satu penghuni pohon beringin.
“Hei, Dewa Aaron! Tumben diem aja? Lagi galau mikirin apa sih?” tanya sundel bolong. “Kalau tau di sini hanya mau menggalau saja, mending kita semua balik bobok. Hari masih siang ini, belum jam kerja para hantu.”
Aaron tidak berkata apapun. Sebab ia benar-benar tenggelam dalam pikiran. Namun tak lama kemudian ia berdiri dan tanpa mengatakan sepatah kata pun, dewa asmodeus tersebut menghilang dari sana.
“Dasar nggak sopan! Udah bangunin kita, eh main pergi gitu aja!” gerutu pocong.
Lantas satu per satu hantu di dahan tersebut pun menghilang, kembali ke peradaban mereka masing-masing.