Chapter 33 - Dimsum

1461 Kata
Diva sedang berkutat memasak di dapur bersama dengan Bi Inah. Sejak malam di mana Diva memasakkan nasi goreng di apartemen Samudra, gadis itu jadi lebih rajin belajar memasak. Untung saja ia memiliki Bi Inah yang bisa mengajarinya dalam hal ini. Meski Bi Inah adalah wanita paruh baya dan berpendidikan hanya lulusan SD, tapi jangan salah. Menurut Diva, kemampuan memasak Bi Inah justru sebanding dengan para chef lulusan luar negeri bahkan bisa jadi lebih baik. Faktanya, Diva sering sekali diajak oleh Papa dan Dava makan di berbagai macam hotel dan restoran berbintang saat mereka sedang punya banyak waktu luang. Di sana tentu mereka memesan berbagai macam menu mulai dari yang berasal dari nusantara sendiri maupun menu-menu luar negeri. Tapi setelah mencoba di sendokan pertama, Diva langsung bisa membandingkan jika rasa masakan Bi Inah jauh lebih lezat. Dan sebagai informasi, Bi Inah bahkan bisa memasak beberapa masakan dari luar negeri seperti sushi, makaron, lasagna, beef wellington, ratatouille, mushroom risotto dan masih banyak lagi. Bi Inah biasanya butuh bereksperimen dengan resep dulu untuk menyulap makanan-makanan tersebut jadi cocok di lidah orang Indonesia seperti Diva. Makanya, Diva jarang sekali makan di luar . Kecuali hanya saat ia ingin. Hari ini Diva membuat Dimsum dengan berbagai rasa. Jamur, udang, ayam dan cumi. Sebagai guru yang baik, sambil memasak Bi Inah juga menjelaskan takaran bahan, lama memasak dan lain sebagainya yang berhubungan dengan membuat dimsum. Dua jam kemudian Diva mendesah lega. Dimsum telah selesai dan ia sudah mencobanya. Rasanya sungguh luar biasa lezat. “Enak, Non?” tanya Bi Inah sambil mengunyah sebuah. “Masakan Bi Inah emang the best!” jawab Diva sambil mengacungkan dua jempol. Diva mengambil sebuah wadah makan dan memasukkan beberapa potong dimsum ke dalamnya. Tak lupa juga dengan saus sambal sebagai pendamping. “Samudra pasti bakal ketagihan makan ini. Makasih banyak Bibi!” “Hahahaha. Sip, Non! Bibi juga mendoakan semoga PDKT nya Non Diva lancar.” Doa Bi Inah sedikit membuat Diva menghela napas dalam. Dan itu disadari oleh pembantu rumah tangganya tersebut. Dan sebelum beliau bertanya kenapa, Diva sudah berbicara lebih dulu. “Kenapa ya Bi, Samudra masih dingin banget sama Diva? Diva pikir setelah kemarin hubungan Diva dan Samudra tambah dekat. Eh boro-boro. Nasi goreng yang tadi siang Diva bawain aja dia kasih lagi ke temen-temennya. Iiish, kesel deh kalau ingat! Nggak tau apa Diva selalu bangun lebih pagi buat masakin bekal Samudra?” Bi Inah tersenyum tipis. Kemudian berkata, “Ya kan kata Non Diva, Den Samudra ini orangnya dingin banget.” “Iya sih. Tapi seenggaknya terima kek perjuangan Diva.” “Cinta itu butuh proses Non. Nggak bisa langsung tau-tau suka. Kecuali kalau dia punya sindrom jatuh cinta pada pandangan pertama,” Bi Inah mulai menjelaskan. Mendadak menjadi pakar percintaan remaja. “Jadi kalau Non Diva benar-benar suka sama Den Samudra, Non Diva harus berjuang! Jangan pantang menyerah! Ibarat kata sebuah batu yang keras sekalipun Non, kalau ditetesi air terus-menerus, lama kelamaan pasti batunya jadi cekung atau berlubang. Sama seperti manusia. Sekeras dan sedingin apapun hati seseorang, tapi kalau terus terusan dihujani dengan cinta dan kasih sayang, suatu saat pasti akan luluh juga.” Diva manggut-manggut, kemudian menatap Bi Inah dengan mata berbinar. “Makasih banyak buat motivasinya, Bi! Bibi benar! Diva harus berjuang semakin keras lagi biar Samudra bisa luluh sama Diva. Kalau gitu, Diva ke atas dulu mau mandi. Siap-siap ke rumah Samudra.” Bi Inah mengangguk. “Bibi nggak diajak nih, Non?” “Mau ngapain Bibi ikut?” “Habis Bibi penasaran bingit sama cowok yang disukai Non Diva. Secakep apa sih?” tanyanya penasaran. “Oh, Diva belum pernah kasih lihat fotonya Samudra?” “Belum Non.” “Tunggu.” Diva merogoh saku, mengeluarkan ponsel dari sana. Ia masuk ke dalam akun insta dan membuka id akun jurnalistik sekolah. Di sana, banyak sekali foto siswa-siswa populer, siswa-siswa berprestasi dan juga event-event sekolah yang diabadikan. Samudra tidak punya insta, itulah sebabnya jika ingin melihat foto Samudra harus melalu insta umum sekolah seperti ini. “Nah, ini Bi. Ini yang namanya Samudra!” tunjuk Diva pada seorang remaja laki-laki yang sedang  dalam keadaan mendrible bola di lapangan. Kulit Samudra putih bersih, dengan bibir berwarna pink dan rambut hitam. Wajah yang memiliki iris mata hitam dan alis tebal sekaligus hidung yang cukup mancung untuk ukuran orang asli Indonesia, membuat Bi Inah langsung bertanya-tanya. “Ini bukan artis, Non?” “Bukan, Bi.” “Oooh. Kalau gitu pasti Den Samudra ini model ya Non.” “Bukan juga,” sanggah Diva geli. “Kok muka ganteng banget Non! Ini mah kalau masuk TV pasti udah punya banyak fans atuh. Oh iya,” Bi Inah ikut mengeluarkan ponsel di saku. “Kalau boleh tau, nama insta Den Samudra apa ya? Biar Bibi follow.” Diva tertawa. “Samudra nggak punya insta, Bi. Ini aja Diva lihatnya di insta punya sekolahan.” “Lho lho lho. Gimana sih. Ganteng-ganteng kok nggak punya akun? Kan lumayan to kalau mau buat, pasti banyak endorse. Bisa kaya.” Diva terkekeh kecil. “Ya udah kalau gitu, Diva ke atas dulu, Bi.” “Iya Non!” Setengah jam kemudian, Diva sudah siap dan rapi. Ia memoleskan make up tipis yang sangat natural. Tak lupa menyemprotkan sedikit parfum ke tubuh. Ingat pada tips kedua dari Aaron. “Mau ke mana Div?” Dan seperti biasa, dewa itu sangat panjang umur. Selalu datang tiba-tiba seperti ini. “Ke apartemen Samudra.” Diva berbalik dan tersenyum pada Aaron. “Gimana penampilan Diva? Udah cantik?” Kedua alis Aaron bertautan, kemudian ia mengangguk. “Cantik emang. Harum lagi. Aku suka.” Lalu pandangannya turun ke panjang rok dress yang mencapai lutut. “Minus itu. Kepanjangan menurut aku.” Mata Diva memicing tajam. “Jangan lakuin apapun seperti memperpendek dress ini. Terakhir kali bukannya Samudra tertarik, dia malah rendahin Diva.” “Halah, muna-fik!” sahut Aaron. “Aku ini laki-laki Diva dan sangat tau isi otak dari laki-laki. Pertama yang mereka bakal lihat itu fisik kamu. Jika kamu good looking, kamu bakal masuk kandidat list cewek yang ingin dimiliki. Tapi kalau kamu di luar itu, nggak akan ada kesempatan.” “Nggak semua cowok kayak gitu juga kali,” tuding Diva. “Buktinya banyak tuh di media-media yang diberitakan, suaminya ganteng tapi istrinya biasa aja.” “Itu satu banding sepuluh juta manusia.” “Dan Samudra termasuk di jumlah yang satu itu.” “Dari mana kamu tahu?” Diva menghela napas. Kemudian meraih tas slempang dan memakainya. “Pokoknya Diva lebih tau Samudra dari pada Aaron. Lagi pula kita itu masih remaja, bukan saatnya tampil seksi-seksi kayak gitu.” Setelah mengatakan demikian Diva keluar dari kamar, meninggalkan Aaron dengan gerutuannya sendiri. “Apanya yang bukan saatnya tampil seksi-seksi? Nyatanya kebanyakan manusia yang pakai pakaian seksi justru saat masih remaja. Dan kebanyakan kenakalan remaja juga terjadi di SMA. Ck, memang ya. Manusia itu ada juga yang rumit. Huuftt ...” Aaron pun kembali menghilang dari kamar Diva. *** Setelah berpamitan dengan Bi Inah, Diva masuk ke dalam sebuah taksi online yang ia pesan. Menyebutkan alamat apartemen Samudra, transportasi umum tersebut melesat ke jalan raya. Karena perjalanan masih sangat jauh, Diva membuka aplikasi chat berwarna hijau untuk mengirim pesan pemberitahuan lebih dulu. Di sana, ia menekan chat dengan nama Samudra. Yap benar. Diva tidak mengubah nama Samudra seperti calon pacar, calon suami atau cowok ganteng. Apalagi nama-nama seperti My Prince, My Love, kesayangan dan lain-lain. Sempat Diva tergoda namun urung, sebab Diva tau ia belum mempunyai hubungan apapun dengan pria tersebut. Dalam chat, Diva bisa melihat puluhan chat terkirim yang terbaca tapi tak berbalas. Membuat Diva kadang kesal sendiri. Padahal, apa susahnya sih membalas sebentar? To : Samudra Samudra, kamu di rumah? Ketik Diva dan langsung mengirimkannya. Satu menit kemudian pesan itu dibuka dan dibaca. Tapi seperti biasa hanya begitu. Kemudian akun Samudra kembali offline. Diva mengirimkan pesan lagi. To : Samudra Diva mau mampir ke apartemen kamu. Ini Diva bawain dimsum. Lagi. Pesan itu hanya dibaca tanpa dibalas. Diva berdecak jengkel. Ia pun menekan tombol telepon sebagai alternatif akhir. Beruntung dulu ia melakukan perjanjian dengan Samudra saat ia membantu membersihkan toilet, jika tidak pasti seluruh panggilan dan chat dari nomor Diva sudah di blokir kembali. “Halo?” sapa Diva saat panggilannya sudah diangkat. “ ... “ “Ish ... dijawab dong Samudra. Ini Diva mau ke apartemen kamu. Samudra ada di tempat kan?” “Hmm.” Menghela napas sabar. Diva berkata lagi. “Ya udah, tunggu di sana dan jangan ke mana-mana! Diva bakal sampai sekitar lima belas menit lagi.” “ .... “ “Samudra ... jawab— halo? Haloooooo?” Diva menatap layar ponsel tak percaya. Jika saja tidak sayang ponsel, ia pasti sudah melemparnya ke luar jendela mobil saking gregetnya. Dasar cowok batuuuuu!! Umpat Diva.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN