Chapter 21 - Kesal

1715 Kata
Diva ingin menyantet seseorang. Dan orang itu adalah Samudra. Bagaimana tidak jika pria itu telah menipunya? Dua syarat yang diberikan Diva pada Samudra beberapa hari yang lalu memang Samudra lakukan sesuai janji. Namun ini bukan seperti ekspektasi seorang Diva! Berdiri tepat di depan Samudra, Diva memicingkan mata tanda kesal. Di sisi lain, Samudra meliriknya tanpa rasa bersalah. Bahkan setelah itu ia menganggap Diva tidak ada. Dasar cowok ngeselin! Umpat Diva dalam hati. Ingin rasanya ia meremas-remas tubuh Samudra saat itu namun jelas ia tidak akan bisa. Di sekitar Samudra banyak sekali siswa—baik dari kelasnya sendiri maupun kelas sebelah yang tergabung dalam tim basket— mengerubungi bangkunya seperti biasa. Tujuan mereka hanya satu; memakan seluruh makanan yang diterima Samudra dari para siswi yang menjadi penggemarnya. Mulai dari cokelat, wafer, permen, astor, salad sampai makan siang dengan berbagai menu yang berbeda. Memang, cowok itu selalu mendapatkan kiriman makanan dari cewek-cewek setiap hari. Sebenarnya Samudra selalu menolak. Terbuktapi mereka selalu meninggalkannya di kolong meja atau menitipkannya pada teman-teman sekelas Samudra. Satu-satunya siswi yang berani memberikan secara langsung dan berani menghadapi penolakan berulang kali dari Samudra adalah Diva. Tapi sekarang perasaan Diva tak karuan. Ia kesal karena menyaksikan dengan mata kepala sendiri Samudra memberikan bekal nasi goreng yang ia siapkan dengan penuh cinta pada teman-temannya. “Samudra kan udah janji bakal nerima bekal dari Diva!” todong Diva. Suasana kelas yang tadi riuh kini mendadak hening. Dengan kesadaran penuh, para siswa tadi mundur, memberi ruang pada Samudra untuk berbicara dengan Diva. Mereka semua melihat sambil menikmati makanan yang mereka ambil dari bangku Samudra. “Gue udah nepatin janji kok.” “Dengan cara ngasih bekal Diva buat Samudra ke orang lain?” Rino yang menjadi langganan tetap memakan bekal nasi goreng buatan Diva langsung tersedak. Ia menatap kotak makan siang tersebut di tangan. Mendadak merasa berdosa. “Gue cuma janji nerima bekal makan siang dari elo, nggak termasuk memakannya juga.” Diva jadi speechless oleh kalimat itu. Juga merasa sangat-sangat tertipu! Jika tau begini, syarat yang diajukan Diva akan Diva ubah. Tak bisa mengelak atau mendebat, Diva pun akhirnya keluar dari kelas Samudra. Tapi sebelum itu ia menyumpah pada Samudra. “Awas aja kalau Samudra dihukum lagi! Diva bakal ubah syarat-syarat yang dulu!” Dengan senyum tidak mencapai mata, Samudra menjawab, “Gue nggak akan terlambat lagi.” *** Tidak seperti hari-hari biasanya di mana Diva senang sekali berlari ke kantin dan membelikan minuman untuk seluruh anggota tim basket, kali ini karena masih kesal dengan Samudra Diva tidak melakukannya. Alih-alih, ia hanya membelikan minuman-minuman untuk Sara dan dua anteknya yang suka sekali menyuruh-nyuruh Diva. Saat pertandingan latihan berlangsung pun Diva tidak berteriak sama sekali. Hanya mengawasi dari jauh sambil membereskan bola bekas latihan ke dalam ranjang yang tersebar di hampir seluruh penjuru lapangan. “Kalau dengan masuk tim basket kamu hanya disuruh-suruh gini, mending kamu keluar deh Div.” Tiba-tiba Bari muncul di samping Diva, membantu gadis itu menjemput para bola. Biasanya Bari sedang berada di ruang musik untuk latihan. Pria dengan rambut jabrik itu sangat pandai bermain piano sejak SMP dan ia bercita-cita menjadi pianist terkenal di masa depan. Namun karena hari ini guru yang biasa membimbing sedang sakit, latihan Bari harus tertunda. Ia pun menyusul Diva ke lapangan sebab tau gadis itu masuk ke tim basket beberapa hari yang lalu. “Iya sih. Tim basket putri payah banget!” gerutu Diva jujur. “Habis ini mau ikut aku?” “Ke mana?” “Ke toko buku. Kamu nggak lupa kan, Nayla besok ulang tahun?” Langkah Diva terhenti. Ia menoleh pada Bari cepat sambil menepuk dahi. “Astaga iya! Besok Nayla ulang tahun ya! Aduuuh, Diva lupa banget! Untung kamu ingetin Diva. Kalau gitu oke deh, sekalian Diva juga mau beliin beberapa buat Nayla.” “Oke,” senyum Bari. Nayla adalah adik bungsu Bari. Usianya masih 10 tahun. Berbeda dengan Bari yang sangat menyukai musik, Nayla lebih suka pada dunia literasi. Di usianya yang sekarang saja ia sudah hatam membaca buku-buku berat seperti Supernova karya Dee Lestari, series Harry Potter dari JK Rowling dan masih banyak lagi. Ia bahkan punya perpusatakaan mini untuk koleksi buku-bukunya. Keduanya mengobrol sambil bercanda. Menunggu latihan tim basket putra selesai karena masih menjadi tugas Diva membereskan semua bola setelah latihan. Beberapa menit lamanya akhirnya peluit tanda berakhir telah berbunyi. Seluruh anggota tim menepi dan beberapa dari mereka langsung membuka baju karena gerah. Menoleh dan mencari-cari di mana gerangan gadis yang biasa menraktir mereka air minum. “Haus gue,bro!” kata Rino dengan napas yang masih sedikit tersengal. Keringat membasahi seluruh rambut dan bajunya. Pun dengan dahi dan leher. “Sama,” balas Farrel. Iris matanya tertuju pada Diva yang masih sibuk mengobrol dengan Bari di kursi penonton. “Gara-gara ngambeg sama Samudra, manajer kita jadi nggak siap tanggap. Biasanya kita merasa di surga karena ada yang perhatian sama tim,” tambah Farrel yang akhir-akhir ini selalu memanggil Diva dengan sebutan manajer. Samudra hanya menggelengkan kepala dan meminum air di tas. Kemudian ia melempar botolnya pada Farrel agar pria itu juga kebagian minum. “Makanya lain kali sebelum latihan pada bawa air minum. Nggak usah ngandelin orang lain.” Farrel, Rino dan kawan-kawan tidak terlalu menganggap ucapan Samudra. Mereka lebih sibuk berebut minuman. Sesekali ada gumaman yang mencari-cari Diva berikut dengan air mineralnya. “Gue balik dulu,” pamit Samudra kemudian. *** Setelah dari toko buku dan memborong sekitar 5 novel keluaran terbaru, Diva dan Bari mampir ke restoran cepat saji. Mereka memesan burger dan kentang goreng, paket hemat yang biasanya ditawarkan. “Jadi keluarga kamu udah membaik sekarang?” Bari mengangguk. “Iya. Usaha katering Mama mulai dikenal banyak orang. Bahkan sekarang Mama udah punya sekitar 10 karyawan.” “Syukurlah ... Diva senang dengarnya,” ungkap Diva tulus. “Terus Papa kamu gimana? Udah baikan sekarang?” “Iya. Kemarin aku habis jenguk Papa. Dia titip salam buat kamu.” “Diva jadi ngerasa berdosa jarang jenguk Om Ryan.” Bari terkekeh. “Nggak apa. Atau mau lain kali jenguk barengan?” “Boleh-boleh! Hehe,” ringis Diva. Ia ingat di mana hari perusahaan keluarga Bari dinyatakan pailit oleh Bank dan salah satu televisi nasional. Om Ryan terkena serangan jantung dan langsung mengalami struk. Sampai saat ini pria itu masih ada di rumah sakit untuk perawatan intensif. Perusahaan yang Om Ryan bangun bertahun-tahun jadi tak tersisa karena beberapa manajer yang melakukan korupsi dan membawa kabur dana perusahaan. Hutang Bank yang sangat besar pun menjadi tanggungan keluarga Bari. Mereka menyita rumah berikut perusahaan Om Ryan, membuat keluarga Bari harus pindah ke rumah yang lebih kecil. Memulai hidup yang baru di sana. Saat itu Diva juga ingat banyak teman Bari yang menjauhi Bari. Bari merasa sedikit terpuruk karena cap miskin langsung disematkan padanya. Maklum saja, SMP tempat mereka bersekolah dulu termasuk sekolah elite, di mana murid-murid di sana adalah anak dari orang-orang kaya yang mayoritas akan menjadi penerus kerajaan bisnis keluarga. Hanya Divalah satu-satunya yang masih mau berteman dengan Bari. Menemani Bari, dan membela Bari dari siswa-siswi yang mem-bully-nya. Untung saat itu mereka sudah kelas 3 dan hampir lulus. Jadi bullying yang diterima Bari juga hanya sebentar. Setelah lulus, baik Diva maupun Bari mencari sekolah umum saja, bukan sekolah seperti masa SMP mereka. “Habis ini ke toko Serba Ada yuk!” ajak Diva, merujuk pada sebuah toko aksesoris. “Diva juga mau beliin jam tangan sama gelang buat Nayla.” “Banyak banget. Buku-buku yang kamu beliin udah cukup kok!” “Ihh, Bari. Nayla itu ulang tahun. Kapan lagi bisa manjain dia dengan banyak barang. Oh iya, besok pulangnya barengan ya, kta beli kue bareng terus ke rumah kamu.” “Siap, princess!” Menyudahi makan mereka, Bari dan Diva pun menuju ke toko Serba Ada. Diva memilih jam berwarna merah pun dengan sebuah gelang manik-manik indah. Setelah bertanya pendapat Bari dan Bari bilang bagus, Diva membelinya. Tak lupa ia minta ke penjualnya untuk membungkus sekalian dengan kertas kado. Bari baru akan mengantar Diva pulang ketika ponselnya tiba-tiba berdering. Dari Mama. “ ... Hah? Kok bisa? Iya, tapi Bari lagi sama Diva, Ma. Bari harus antar Diva dulu dong. Emang karyawan yang lain ke mana? Nggak ada yang bisa nyetir mobil? Aduh!” Bari menepuk jidatnya sendiri. Diva yang melihat menarik-narik seragam Bari dan bertanya, “Ada apa?” “Satu-satunya karyawan Mama yang bisa nyetir tiba-tiba jatuh pingsan, emang udah dari pagi dia demam tapi maksa kerja. Sekarang katering yang buat diantar ke acara hajatan malam ini nggak ada yang antar karena nggak ada yang bisa nyetir mobil. Jadi Mama minta aku buat bantuin.” “Ya udah bantu dong.” “Tapi kan aku harus antar kamu dulu.” Diva menghela napas, kemudian mengambil ponsel di tangan Bari. “Halo? Iya, Tante. Hehe Diva juga kangeeen banget sama Tante. Oh, beneran? Hahahaha... besok Diva mampir deh.” Jeda sejenak. Nampaknya Mama Bari berbicara panjang lebar dan asik mengomel, membuat Diva tersenyum geli. “Iya nanti Diva paksa Bari buat langsung pulang. Nggak, nggak usah khawatir, Tante. Ingat kan Diva udah 17 tahun! Diva bisa pulang sendiri. Lagian ini juga masih sore. Hahahha ... iya nggak apa. Iya. Iya. Oke Tante!” Panggilan telepon pun tertutup. Diva mengembalikan ponselnya pada Bari. “Pulang sana bantu Mama kamu dulu.” “Tapi kamu—“ “Bari, Diva bisa pesan taksi online, jadi nggak usah khawatir. Sementara di rumah mama kamu butuh kamu. Kalau bisnisnya kacau, Diva ikut sedih juga. Kasihan Tante Ratna yang udah banting tulang tiap hari harus begitu.” Dalam hati pun Bari membenarkan kalimat Diva. Tak jarang Bari melihat wajah lelah sang ibu dan ingin sekali menggantikannya bekerja. Tapi Ratna selalu melarang Bari. Katanya, tugas Bari dan Nayla itu hanya sekolah dan belajar. Sementara urusan kerja harus orang tua yang handle. Jadi kalau misal karena satu kejadian ini reputasi bisnis mamanya jadi menurun, Bari pasti akan merasa bersalah luar biasa. “Ya udah kalau gitu, aku pulang duluan ya.” “Iya.” “Maaf Diva.” “Bari nggak perlu minta maaf. Udah sana pulang. Nanti terlambat! Oh iya, besok pulangnya bareng oke?” Bari tersenyum dan mengacungkan jempolnya. “Oke!” Sepeninggal Bari, Diva mengeluarkan ponsel dari saku. Ia hendak memesan taksi online saat Aaron tiba-tiba muncul di sampingnya. “Diva. Beliin aku Boba dong!” pintanya dengan wajah memelas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN