Chapter 20 - Dua Syarat

1171 Kata
Diva merasa marah sekaligus cemburu (?). Karena di depan sana ia melihat Samudra tengah merangkul seorang gadis. Mereka tertawa bersama, sesekali Samudra nampak menggoda gadis tersebut dan mencium pipinya. Ingin sekali Diva berlari ke arah mereka dan memisahkan rambut gadis yang mukanya terlihat blur tersebut dari Samudra. Rasanya Diva tidak rela melihat itu semua. Sementara Diva yang terus memperjuangkan Samudra saja terus didorong menjauh oleh laki-laki itu. Sangat kesal, napas Diva jadi sedikit memburu. Terlebih ketika Samudra menoleh ke arahnya dan memberi senyum miring meremehkan. Pun dengan gadis tidak jelas itu yang ikut menoleh dan tersenyum mengejek. Dalam kata tanpa suara, Diva bisa membaca gerakan bibir gadis yang bersama dengan Samudra. Mu. Ra. Han. Diva tak tahan lagi. Ia berteriak dan langsung berlari menerjang gadis itu. Namun ... BRAK! “Awwwh!” pekik Diva. Ia mengerjab dan membuka mata melihat sekitar. Ternyata ia baru saja jatuh dari atas kasur. Dan hal yang tadi Diva lihat adalah mimpi belaka. Kam-pret! Umpat Diva, seiring dengan bunyi alarm yang menyala nyaring. “Ngapain kamu tidur di atas lantai?” Aaron melongok dari atas kasur. Seperti biasa dia memang suka diam-diam tidur di samping Diva. Namun, ia selalu pergi 5 menit sebelum alarm Diva berbunyi, jadi ia tidak pernah ketahuan oleh Diva. Diva tidak menjawab. Ia segera berdiri dan melemparkan selimut ke atas kasur. Tak lupa, ia juga mematikan alarmnya agar tidak berisik. “Bangun tidur kok udah cemberut saja kamu ini,” sindir Aaron. “Diam, deh! Kamu nggak tau tadi Diva mimpi apa. Kesel tau!” gerutu Diva. “Emang mimpi apa?” kepo Aaron. Menatap wajah Aaron yang seperti artis boyband negeri gingseng yang ia suka nyatanya mampu sedikit meredam hati Diva yang sampai saat itu masih terasa cenut-cenut. Sungguh, Diva sangat tidak suka dengan mimpi yang dilihatnya tadi. Membuang napas singkat, Samudra pun langsung masuk ke dalam kamar mandi. Sebuah tekat baru tiba-tiba muncul dari dalam diri Diva. Bahwa sampai lulus SMA, ia tidak akan menyerah pada Samudra. Tidak akan pernah. *** Samudra terlambat lagi? Begitulah pertanyaan chat dari Diva pada Rino, yang berbalas kata ‘yap’ dari Rino. Dahi Diva mengernyit. Terakhir kali Diva ingat, hukuman yang diberikan Bu Ambar adalah membersihkan toilet cowok di lantai dua. Mengingat Bu Ambar selalu memberikan hukuman yang sama atau jauh lebih berat—sungguh, Beliau sama sekali tidak pilih-pilih memberi hukuman, selalu sesuai dengan tingkat kesalahan siswanya—jadi Diva tebak hukuman Samudra pun akan sama seperti terakhir kali. Atau malah ditambah membersihkan toilet di lantai satu juga. Pikiran Diva melayang-layang. Tidak tega membayangkan Samudra menahan mual membersihkan bilik toilet sebanyak itu. “Bu!” Tiba-tiba Diva mengangkat tangan, membuat Bu guru yang tengah mengajar menoleh. “Iya, Diva? Ada apa?” “Ijin ke UKS,” kata Diva takut-takut. Sebab ia sedang melakukan kebohongan pada gurunya. “Kenapa? Kamu sakit?” Sakit hati, Bu. “Iya. Agak nggak enak badan.” “Oh, ya sudah. Dibuat tidur di UKS. Jangan lupa minta obat sama yang jaga.” Diva mengangguk. Ia memang selalu mudah mendapatakan ijin karena ia termasuk siswi berperilaku baik. Nilai-nilai Diva juga termasuk tinggi dan di atas rata-rata. Tak jarang, banyak guru yang mengenal Diva. Keluar dari kelas, Diva tentu tidak menuju UKS, melainkan menuju toilet cowok. Berhubung kelasnya ada di lantai dua jadi ia tidak perlu turun tangga. Benar saja dugaan Diva. Saat ia telah dekat dengan pintu toilet, ia mendengar suara orang yang sedang muntah. Diva menggelengkan kepala geli. Nyatanya cowok yang sangat populer itu memiliki penyakit myshopobia. Tok tok tok! Diva sengaja mengetuk pintu sebelum masuk. Dan ia langsung menemukan wajah Samudra yang sudah setengah lemas dan memucat. “Terlambat lagi?” tanya Diva. Samudra mengabaikan Diva. Ia merakup air dan membasuhkannya ke muka berulang kali. “Butuh bantuan?” Tetap saja Samudra mengabaikan Diva. Membuat Diva memutar bola mata. “Ya sudah, deh. Diva balik ke kelas dulu. Selamat membersihkan toilet Samudra!” Baru saja Diva berbalik dan berjalan 3 langkah, Samudra sudah berseru. “Tunggu!” Diva menahan senyum yang ingin mengembang di bibir. Alih-alih, ia menoleh dengan gaya anggun. “Iya, kenapa?” Wajah Samudra memerah. Ia berdehem kecil dan terlihat salah tingkah. Samudra bukannya tidak sadar diri betapa kejam perlakuannya pada Diva karena merasa risih gadis itu selalu ingin mencari perhatiannya. Namun saat ini, ia ingin menghilangkan semua rasa risih tersebut. Alasannya, karena hanya Diva yang bisa membantunya. Sementara Farrel dan Rino, dua sahabat laknatnya itu sama sekali tidak mau membantu Samudra dalam konteks dihukum.  Terlebih membersihkan toilet. “Bantu gue bersihin toilet,” pinta Samudra dengan nada yang sangat cepat. “Hah? Ngomong apa sih? Diva nggak ngerti,” sahut Diva berpura-pura. Kapan lagi ia bisa memperlakukan Samudra seperti sekarang ini? Menggertakkan rahang, Samudra menahan rasa jengkel pada Diva. Sekali lagi ia mengulangi kalimatnya, tapi dengan kecepatan yang ia kurangi. “Bantu gue bersihin toilet.” “Nggak mau!” tolak Diva cepat, yang membuat Samudra sedikit terkejut. Tumben sekali gadis itu menolaknya padahal biasanya suka menawarkan bantuan. “Di mana-mana orang kalau mau minta tolong itu ya pakai kata ‘tolong’, kalau nggak mana mau yang dimintai tolong bantuin?” ceramah Diva. Ada rasa senang tersendiri mengerjai Samudra saat ini. “Kalau nggak mau bantu ya udah. Pergi sana!” usir Samudra. “Oh, oke.” Diva menurut. Berbalik saja dan hempir melangkah tapi Samudra langsung menarik tangannya. Kedua bola mata Diva membelalak. Hampir tidak percaya jika Samudra menyentuhnya. Ya Tuhan! Kalau dengan mimpi buruk Diva bakal dapetin jackpot kayak gini, Diva rela mimpi buruk tiap hari! Batin Diva. Nampaknya, Samudra menyadari kebodohannya dengan cepat. Ia pun segera melepas tangan Diva dan mengacak rambut frustasi. Oke, Samudra. Buang rasa gengsi lo sekaliii aja. Kalau nggak, lo bakal habis di tangan Bu Ambar. Menarik napas dalam, Samudra menatap Diva yang sedang tersenyum-senyum sendiri. Gadis itu menyentuh bekas sentuhan Samudra di tangannya tadi. Pipinya merona dan ia menatap Samudra genit hingga membuat Samudra merinding. Ingatkan dia untuk tidak terlambat besok! “Ehem, kalau gitu ... to-tolong ... tolong bantu gue bersihin bilik toilet,” kata Samudra setelah membuang seluruh harga dirinya. Jika Rino dan Farrel menyaksikan hal ini, mereka pasti akan mengira Samudra sedang kerasukan. Kali ini Diva tersenyum lebar. Ia pun langsung menjawab. “Aye aye, Captain!” serunya sambil membentuk salam hormat dua jari. Samudra menghela napas lega, namun itu tidak berlangsung lama karena Diva tiba-tiba mengajukan syarat. “Tapi syarat pertama, Samudra harus buka blokir nomor Diva. Dan untuk seterusnya Samudra harus janji nggak akan blokir nomor Diva lagi.” Dengan berat hati dan ingin masalah cepat selesai, Samudra mengangguk mengiyakan. “Oke.” “Syarat kedua, Samudra nggak boleh nolak lagi makan siang yang Diva kasih ke Samudra. Samudra nggak tau apa, tiap hari Diva rela bangun lebih pagi untuk masakin nasi goreng buat Samudra?” “Gue nggak pernah minta lo buat masakin nasi goreng.“ “Jadi nggak mau? Ya udah, Diva pergi aja.” “Iya, iya oke!” tukas Samudra terpaksa. “Sekarang bantu gue!” “Siap!” sahut Diva diiringi tawa penuh kemenangan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN