Chapter 19 - Bari

1237 Kata
Diva tengah melamun di sebuah restoran fast food. Sesekali ia menghela napas sambil menatap handphone nya yang sesekali berdering karena notifikasi chat yang masuk. Sama sekali Diva tidak tertarik membukanya. Membaca dari layar notif saja sudah terlihat siapa saja yang mengiriminya pesan. Rata-rata siswa kelasnya yang minta salinan tugas atau tanya mata pelajaran yang tidak mereka paham. Karena Diva termasuk dalam siswa kelas dengan nilai tertinggi. Nggak ada Samudra., ucap Diva dalam hati dengan sedih. Nomornya benar-benar diblokir oleh cowok iitu. Membuat hati Diva kian nelangsa tiap kali ingat kalimat Samudra di sekolah tadi. “Lo adalah pengganggu. Gue udah blokir nomor lo jadi jangan hubungin gue lagi.” “Kenapa muka lo je-lek kayak gitu?” Dan seperti biasa, Aaron akan selalu ada untuk mengganggu Diva. Berdecak kecil, Diva mencomot satu buah kentang goreng dan memakannya setengah hati. Membuat Aaron menggelengkan kepala dan memakan beef burger-nya dengan gigitan-gigitan yang besar. Hmmm, makanan manusia jaman sekarang memang enak-enak, batin Aaron puas. “Jahat banget nggak sih Samudra,” curhat Diva. “Apa sih kurangnya Diva yang baik hati dan nggak sombong ini? Suka menabung lagi!”  “Udah ganti target aja,” sahut Aaron. “Lagi pula apa sih yang kamu suka dari cowok dingin kayak gitu?” Diva diam saja. Sampai tiba-tiba seseorang duduk di seberang Diva. Untung saja Aaron dengan cepat menghilang dari sana, kalau tidak auto ia yang diduduki laki-laki tersebut. “Diva.” “Bari,” kata Diva, terkejut dengan kedatangan Bari. “Sendirian aja?” tanya Bari sambil mengedarkan pandangan ke sekitar. “Tau gini tadi pulang sekolah bareng aku aja. Oh iya, di chat grup kelas banyak yang cari kamu. Tumben nggak dibalas?” “Lagi males aja,” jawab Diva singkat. “Kamu mau makan atau ngemil doang? Kalau ngemil doang, ini bantuin Diva makan kentang.” Melirik piring kecil berisi kentang goreng, Bari terkekeh kecil. “Tumben sepiring kecil gini nggak habis?” “Lagi nggak mood makan aja.” “Kenapa?” Diva hanya menghela napas kecil dan Bari tau ada jika gadis itu sedang sedih. Ia pun menyomot satu kentang goreng dan memakannya. “Oke, aku bantuin. Tapi setelah ini ikut aku ya.” “Ke mana?” “Mmmm ... mall?” “Ngapain?” “Jalan-jalan aja. Udah lama banget kita nggak jalan bareng. Mau nggak?” Setelah menimang-nimang bahwa kegalauannya akan hilang jika dipakai berjalan-jalan di mall, Diva pun langsung mengiyakan. “Oke!” Keduanya makan kentang goreng dengan cepat lalu segera meninggalkan restoran cepat saji tersebut. “Pakai helm-nya Div!” “Helm kamu kan Cuma satu. Kamu aja yang pakai. Kan kamu yang di depan.” Tidak peduli, Bari langsung mengenakan helm tersebut ke kepala Diva. Tak lupa ia mengancingkannya di bawah dagu agar tidak lepas. “Safety first, princess.” “Tapi kan—“ “Ssssttt ...,” Bari meletakkan jari telunjuknya di bibir Diva, kemudian tersenyum manis. “Udah, no debate. Titik. Karena bagi aku, keselamatan kamu yang paling utama.” Bari berbalik kemudian menaiki sepeda motornya. Di susul Diva yang membonceng di belakang. “Pegangan Div!” Diva tersenyum dan langsung memeluk perut Bari. Tidak ada rasa sungkan sama sekali sebab ia dan Bari sudah berteman sejak taman kanak-kanak. “Jangan ngebut ya! Kamu nggak pakai helm!” peringat Diva. “Beres!” Meluncur dari restoran cepat saji, Bari mengajak Diva ke sebuah pusat perbelanjaan. Dulu saat mereka SMP mereka sering pergi bersama ke mall. Meski mereka kebanyakan hanya melihat-lihat dan membeli ice cream atau makan saja, itu semua sudah sangat memuaskan mereka dan menyenangkan hati. Bari harap dengan cara ini ia bisa membuat Diva tidak galau lagi. *** “Makasih banyak ya, Bari. Hari ini Diva seneng banget diajak jalan-jalan sama kamu. Oh iya, kamu mau mampir makan dulu?” tanya Diva setelah mereka sampai di rumah. Hari sudah berganti menjadi malam. Tak terasa tadi mereka keliling mall sampai pukul 7. Jika tidak ingat ada banyak PR yang belum mereka kerjakan, mungkin mereka masih ada di mall tersebut sambil bermain di timezones. “Wah, boleh nih! Udah lama nggak ngerasain masakan Bi Inah.” “Ayo masuk! Bi Inah juga pasti senang banget kamu mampir ke sini.” Bari mengangguk. Ia turun dari motor dan masuk ke rumah lantai dua yang didominasi cat berwarna putih tersebut. Benar saja kata Diva. Saat melihat kedatangan Bari, Bi Inah langsung berseru histeris. Memeluk Bari dan bahkan mencium pipi kiri dan kanan Bari. “Den Bari ke mana aja nggak pernah mampir ke sini? Bibi kangen banget sama Aden,” kata Bi Inah. Bari meringis saja. “Hehe, iya Bibi ... Maaf ... Bari juga kangen sama Bi Inah!” ucap Bari memeluk wanita paruh baya tersebut. “Udah pada makan belum? Kalau belum tunggu sebentar. Tadi kebetulan Bibi masak sambal terong kesukaan kalian berdua.” “Asiiiik!” teriak Diva diiringi gelak tawa Bari. “Bibi angetin dulu bentar.” “Siap, Bi!” Sepeninggal Bi Inah, Diva juga pamit pada Bari untuk mandi terlebih dahulu. “Kalau kamu mau mandi, kamu bisa mandi di kamar Kak Dava. Nggak lupa sama letak kamarnya kan?” “Iya.” Diva naik ke lantai dua. Diam-diam Bari mengikuti dari belakang. Namun ia tidak ikut masuk ke kamar Diva, melainkan berhenti di ruang tengah dan duduk di sana. Meraih remot, Bari dengan semena-mena mengganti saluran drama korea yang tengah menyala. Sama sekali siswa SMA tersebut tidak menyadari bahwa ada Aaron di sana, yang sedang tegang-tegangnya melihat adegan pembunuhan dan hampir menangkap si pelaku ... “What the fu*k!” Aaron mengumpat kecil. Ingin rasanya menggeplak kepala Bari jika bisa. Dasar manusia! Merusak kesenangan Dewa saja! Menoleh, Aaron mendapati Bari sudah berdiri kembali. Ia menuju nakas untuk melihat beberapa pigura yang terpampang banyak sekali potonya dan Diva. Mulai dari yang memakai seragam putih hijau ala sailor, putih merah sampai putih biru. Bahkan masih ada juga potonya yang memakai seragam putih hitam saat MOS awal masuk SMA dulu. Semuanya bersama dengan Diva. “Kalau suka kenapa nggak ngomong langsung aja sih?” Aaron berkata seolah Bari bisa mendengarkannya. Pria itu sudah berdiri di samping Bari. “Huft,,, dasar manusia. Heran. Apa-apa dibikin ribet,” keluh Aaron. Sekitar setengah jam kemudian, Diva keluar dari kamar. Ia mengajak Bari untuk turun ke lantai satu dan makan malam. “Gimana? Enak masakan Bibi?” tanya Bi Inah pada Bari. “4 jempol seperti biasa, Bi!” puji Samudra sambil mengacungkan dua jempol. Selesai makan, Bari pamit pulang. Diva mengantarnya sampai depan rumah. “Makasih ya makan malamnya,” ucap Bari. “Harusnya Diva yang makasih sama Bari. Kan tadi yang ngajak jalan-jalan Diva kamu.” Membungkukkan sedikit badan, Bari mencubit dua pipi Diva dengan gemas. “Makanya jangan pasang muka-muka galau! Jelek tau!” “Sakit, Bari!” protes Diva. Bari terkekeh, kemudian berdiri tegak dan mengacak rambut hitam Diva. Detik berikutnya ia teringat sesuatu yang dibeli di mall tadi. Merogoh saku, Bari mengeluarkan sebuah gelang dan langsung meraih tangan Diva. "Buat kamu," ucapnya. "Bagus banget!" ucap Diva mengamati gelang yang sudah melingkar di tangan. "Makasih, Bari!" Tersenyum, Bari berpamitan sebelum hari semakin larut. "Aku pulang dulu ya. Salam buat Om Damian dan Kak Dava.” Diva mengangguk. “Sering-sering mampir ke sini ya kalau misal lewat!” “Iya!” “Makasih udah antarin Diva!” “Sama-sama, princess!” “Hati-hati di jalan!” seru Diva. Bari mengangguk sekali karena ia sudah melajukan sepeda motornya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN