“Samudra, tunggu!” Diva menarik tangan Samudra sebelum laki-laki itu berbelok di lorong kelasnya.
Sejenak, Samudra melirik tajam pada tangan Diva yang menyentuhnya. Namun Diva sama sekali tidak tersinggung. Cepat-cepat gadis berusia 17 tahun itu membuka tas ranselnya dan mengeluarkan kotak bekal dari dalam sana.
“Ini buat Samudra,” kata Diva.
Samudra hendak menolak seperti biasa akan tetapi Diva juga tak kalah keras kepala seperti biasa.
“Terima, dong! Ini Diva yang buatin, bukan Bi Inah.” Diva pun meraih lagi tangan Samudra dan langsung memberikan kotak itu secara paksa.
“Sampai di sini dulu ya. Diva balik ke kelas dulu. Jumpa lagi, Samudra!” pamit Diva. Karena kelas mereka masing-masing berada di ujung lorong yang berbeda. Diva berbalik dan berlari kecil meninggalkan Samudra. Tak lupa ia juga melambaikan tangan di udara.
Menghela napas, Samudra menatap bekal yang ada di tangan. Kemudian ia pun segera menuju kelas.
“Kenapa telat lagi?” bisik Rino yang duduk tepat di belakang Samudra.
Samudra hanya menjawab dengan indikan bahu sambil mengeluarkan alat tulis pelajaran saat itu. Ia sempat menoleh pada Rino dan menyerahkan kotak bekal berwarna pink.
“Buat gue? Yes!” bisik Rino lagi-lagi kegirangan. “Dari Diva ya? Tadi ketemu?”
Tak ada jawaban yang keluar dari bibir Samudra. Ia mencoba fokus untuk mendengarkan materi.
***
“Bagi dong, Rin!” seru Farrel saat tau Rino sedang dengan enak-enaknya memakan bekal nasi goreng di tangan. Awalnya Rino menolak, ia memeluk kotak bekal dari Samudra di da-da kuat-kuat, tapi Farrel terus menariknya sampai membuat Rino tersedak.
“Azab orang pelit tuh! Hahahaha!” ucap Farrel menambahkan. Ia sudah merebut kotak bekal nasi goreng dari Rino dan memakan beberapa suap.
“Jangan dihabisin dong!”
“Iya, ini masih banyak,” jawab Farrel dengan mulut penuh.
“Lo yakin nggak mau coba Sam?” tanya Rino kemudian. “Enak lho. Lebih enak dari pada nasi goreng yang dijual di kantin kita,” lanjut Rino mengiming-iming.
Samudra cuek saja. Ia justru lebih sibuk memilih playlist lagu di handphone-nya dan memasang headset di telinga. Samudra menyandarkan tubuh dengan nyaman di kursi, ia pun memejamkan mata untuk menikmati musik yang mengalun.
Sedang asik-asiknya, Samudra terkejut dengan getaran di ponsel. Membuka mata, ia langsung membuka aplikasi hijau di mana tertera sebuah pesan dari nomor baru.
“Gimana? Samudra suka nasi gorengnya?”
Tak butuh waktu lama bagi Samudra untuk tau siapa pemilik nomor baru tersebut. Tanpa membalas sama sekali, Samudra kembali memejamkan mata.
Drrt .. drrrt ... drrrt ...
Kembali, ponsel Samudra bergetar dan membuat remaja itu batal memejamkan mata.
“Kok di read doang? Balas dong Samudra.”
Lalu lagi dan lagi pesan-pesan baru mulai masuk ke ponsel Samudra dari nomor yang sama, membuat Samudra kesal sendiri. Rasanya ia telah menyesal memberikan nomornya pada gadis bernama Diva yang jelas-jelas Samudra tahu akan terus mengusik hidupnya di sekolah. Padahal Samudra sungguh sangat membenci kaum hawa.
Mencabut headset di telinga, Samudra pun mematikan ponsel. Memasukkannya dalam ransel lalu merebahkan kepalanya di meja. Samudra memilih untuk tidur saja.
***
Latihan basket sore ini membuat rasa lelah Diva pada dunia sekolah jadi hilang sama sekali. Hanya membayangkan akan bisa bertemu dengan Samudra saja Diva sudah sangat kegirangan sama sekali.. Dengan energi penuh semangat, Diva pergi ke lapangan basket.
“Diva!” sapa Rino melambaikan tangan di kejauhan. Yang langsung dibalas Diva dengan lambaian tangan juga.
Gadis itu pun langsung mencari-cari keberadaan Samudra dan senyumnya langsung mengembang begitu menemukan pria tersebut.
Diva hampir tidak mendengarkan sama sekali briefing dari Sara, pun dengan anggota member yang lain. Mereka lebih sibuk mencuri-curi pandang pada tim basket pria. Maklum saja, rata-rata yang masuk di tim basket adalah dengan alasan ini dan untuk itulah tim basket putri sama sekali tidak berkembang dan jarang peminat.
Selain itu Sara, selaku ketua tim basket putri hanya memilih anggotanya berdasarkan tampang, bukan kemampuan. Banyak dari anggota yang berbakat tapi tidak memiliki wajah yang good looking memilih keluar sebab mereka hanya dijadikan orang yang harus disuruh-suruh, seperti halnya Diva. Namun gadis itu terlalu bucin dengan Samudra hingga membuat ia memilih bertahan. Lagi pula di suruh-suruh rasanya sepadan dengan bisa melihat Samudra lebih dekat setiap sore seperti ini. Memikirkan bisa latihan bareng saja Diva sudah teramat bahagia.
Beberapa menit kemudian baik tim basket putra maupun putri memulai latihannya. Dengan kepala t*******g saja sudah terlihat ketimpangan permainan, di mana tim basket putra jauh lebih apik, sementara tim basket putri dengan ogah-ogahan. Mungkin jika Sara bukan keponakan dari kepala sekolah, tim basket putri sudah dibubarkan dari dulu.
“Diva! Beresin bola!” seru Sara. Dibelakanya dua anteknya mengikuti. Napas mereka tersengal dan digantikan oleh pemain lain padahal mereka baru latihan selama 5 menit.
“Haus gue,” keluh Lika sambil mengelus tenggorokan.
“Beliin minum, Div!” perintah Sara karena juga meraasa haus.
“Nanti habis beresin bola,” jawab Diva dengan nada santai. Sementara matanya terus mengawasi jalannya pertandingan tim basket pria. Tentu ia tidak ingin kehilangan momen melihat Samudra yang mendrible bola dan memasukkannya dalam ring.
Kesal, Sara berdiri. Ia membuang bola di tangan Diva dan melotot tajam pada Diva. Tak segan ia juga menghalangi pandangan Diva dari Samudra.
“Heh, ngaca dong! Samudra nggak akan lirik-lirik lo! Jadi sekarang beliin kita minum dulu baru balik ke sini dan beresin bola yang keluar dari lapangan!” bentak Sara.
Ingin sekali Diva membantah namun ancaman dari Sara membuat Diva urung.
“Kalau lo bantah perintah gue, gue nggak segan-segan ngeluarin lo dari tim sekarang juga! Masih banyak kok yang mau gabung ke tim basket kita. Iya nggak girls?”
“Yoi!” sahut Indah dan Lika.
Menghela napas, Diva pun segera meninggalkan lapangan menuju kantin. Ia tidak ingin dikeluarkan tim dan terpisah dengan Samudra-nya.
Sesampainya di kantin, Diva tidak membeli hanya 3 botol minuman, melainkan langsung 6. 3 ia serahkan pada Sara dan dua temannya sementara 3 lagi ia berikan pada Samudra, Rino dan Farrel.
“Makasih minumannya, Div!” ucap Rino kesenangan. Farrel juga berterima kasih sangat pada Diva. Laki-laki itu terharu karena baru kali ini ada cewek yang perhatian padanya dengan membelikan minum.
“Ini buat Samudra,” ucap Diva menyodorkan air mineral pada Samudra. Laki-laki itu tau jika ia menolak Diva pasti akan memaksa.
Jadi, ia langsung menerimanya. Tapi juga langsung melemparkannya ke anggota tim yang lain yang langsung berebut.
“Lain kali, beliin sama rata, beli buat semua anggota tim,” ucap Samudra datar. Ia menuju tepi lapangan dan membuka ranselnya. “Lagian lo nggak perlu ngasih gue, gue selalu bawa minuman gue sendiri.”
Meski Diva merasa sedikit sakit hati melihat Samudra sama sekali tidak menghargainya namun ia tetap tersenyum. Ia mengangguk dan berkata, “Oke, lain kali aku beliin minuman buat semua anggota. Samudra kalau butuh apa-apa jangan sungkan bilang ke Diva ya. Satu lagi, jangan lupa balas chat Diva. Samudra tau kan seberapa besar Diva ngumpulin keberanian buat chat Samudra.”
Menatap Diva tanpa ekspresi, Samudra menunduk dan berbisik. “Lo adalah pengganggu. Gue udah blokir nomor lo jadi jangan hubungin gue lagi.”
Setelah itu Samudra melewati Diva dan kembali ke tengah lapangan basket, meninggalkan Diva dengan rasa sesak di da-da karena baru saja ditolak tanpa perasaan.