Chapter 17 - Negosiasi

1995 Kata
Ditinggalkan oleh sosok Ibu sejak beberapa tahun yang lalu membuat Diva hidup lebih mandiri. Dulu saat masih ada Mama, setiap pagi Diva perlu dibangunkan dan dituntun ke kamar mandi agar tidak terlambat ke sekolah. Mulai dari seragam, buku pelajaran bahkan sepatu semuanya Mama yang akan menyiapkan. Pun dengan gaya rambut Diva dan aksesoris apa yang harus Diva kenakan di sekolah agar lebih terlihat kece  Namun kepergian seseorang memang selalu tanpa peringatan. Kehilangan sosok Mama karena meninggal sakit membuat Diva mau tidak mau harus melakukan semuanya sendiri. Maksimal Diva harus mulai bisa bangun pagi tanpa bantuan dari orang lain. Awalnya memang sangat berat, tapi lama kelamaan Diva mulai terbiasa juga. Menyiapkan seragam, sepatu dan buku pelajaran. Minus dengan aksesoris karena setelah itu Diva memutuskan akan pergi ke sekolah hanya memakai seragam dan rambut ia biarkan tergerai panjang. Seiring berjalannya waktu, Diva juga mulai belajar untuk bisa merapikan kamarnya sendiri, membersihkan toiletnya sendiri dan menata kasur sendiri. Meski terbilang sangat jarang melakukan karena semua tugas Bi Inah yang membereskan namun sesekali Diva masih suka mengerjakannya. Jadi, ketika ia harus membersihkan toilet sekolah, hal itu terbilang cukup mudah bagi Diva. Ia menyikat seluruh toilet dengan cairan khusus hingga semua nampak bersih dan wangi, kemudian mengepel lantai, menyikat wastafel dan mengelap kaca. Tak lupa ia juga memasangkan tisu-tisu di bilik-bilik kamar mandi yang tisunya sudah habis. Sekitar 45 menit, Diva sudah selesai dengan tugasnya. Ia menatap puas pada kebersihan yang dia lihat di depan mata meski keringat membasahi seragam dan dahinya. “Selesai!” ucapnya. Mengembalikan peralatan yang ia pakai di gudang khusus dan langsung mencuci tangan menggunakan sabun. “Nggak bawa parfum?” tiba-tiba Aaron muncul dan bertanya. Tadi di menit-menit pertama ia sempat menemani Diva, tapi lama kelamaan ia bosan juga. Jadi, dia pergi ke taman belakang dan mengobrol dengan para hantu pohon beringin. “Nggak,” jawab Diva singkat. Ia mengambil beberapa tisyu untuk mengeringkan telapak tangan. “Kenapa emang? Kamu lagi butuh?” Aaron menggeleng, lalu menunjuk Diva. “Bukan buatku, tapi buat kamu.” “Hah?” “Kamu keringetan. Bau!” “Ih, enak aja!” Diva mengangkat tangan dan mengendus keteknya. “Masih harum tau! Nih cium kalau nggak percaya!” “Boleh cium?” seringai Aaron mengerling jahil. “Eh, nggak jadi!” cemberut Diva. “Udah ah, mau cek Samudra dulu.” “Pakai parfum dulu Div! Ingat tips kedua!” “Nggak bawa parfum.” Aaron menepukkan tangan sekali dan tiba-tiba sebuah parfum muncul di tangan. “Ini, pakai ini.” Ia melemparkannya pada Diva dan berhasil ditangkap dengan mulus. Diva sempat mencium dan mencoba baunya di pergelangan tangan dan mendapati bau segar dari parfum tersebut. Tanpa pikir panjang, ia menyemprot leher, dua ketiak, lalu ke udara untuk membiarkannya rata pada seluruh rambut dan pakaiannya. “Ini. Makasih, Aaron.” Aaron menjawab dengan anggukan kepala. Ia tersenyum miring melihat Diva sudah langsung meninggalkan toilet. Tak sabar menunggu bagaimana reaksi Samudra saat mencium aroma tersebut. Karena tanpa Diva tau, parfum itu adalah parfum khusus untuk membangkitkan gairah seorang pria. Meski efeknya hanya sekitar setengah jam tapi itu sudah lebih dari cukup. “Ingat ya perjanjian kita. Kalau sampai terjadi adegan dewasa antara Samudra sama Diva, kamu harus mau kencan seharian sama saya!” Begitulah kira-kira ultimatum Miss Key saat Aaron meminjam parfum tersebut di taman belakang sekolah tadi. Aaron menghela napas, dalam hati berharap semoga kencannya dengan hantu di bumi tidak sampai terdengar di dunia dewa. Sebab jangankan kencan, ketahuan berteman dengan para hantu saja akan menjadi buah bibir di seluruh dunia para dewa di atas sana. Ting! Samudra menghilang dari toilet cewek. Dengan para hantu bawah pohon beringin, mereka beramai-ramai menuju toilet cowok, tempat di mana Diva akan menemui Samudra. *** Saat Diva masuk ke dalam toilet pria, ia dibuat menganga dengan apa yang ia lihat. Lantai basah kuyup dan air di mana-mana hingga membuat becek. Ia juga melihat Samudra sudah melepas seragam sekolahnya dan hanya memakai kaus warna putih. Keringat membasahi rambut dan laki-laki itu sedang muntah di wastafel. “Samudra sakit?” tanya Diva setengah khawatir. Ia berjalan hati-hati agar tidak terpeleset jatuh. Menoleh, Diva bisa melihat wajah pucat Samudra. Diva mengulurkan tangan menyentuh dahi Samudra untuk mengecek suhu tubuh. Hampir saja Samudra menepis tangan Diva sampai ia mencium aroma wangi yang langsung bisa membuat ia merasa lebih baik. Bahkan sangat-sangat baik! Samudra ingin ... meraih tangan Diva dan menciumnya. Namun ia menggelengkan kepala dan menyadarkan diri sendiri untuk tidak melakukan hal bo-doh tersebut. Alih-alih, ia malah mengambil langkah menjauh karena merasa alarm tanda bahaya dari tubuh berbunyi. “Ngapain lo ke sini?” tanya Samudra ketus. “Mau cek aja sih tadi. Diva pikir pekerjaan Samudra udah selesai, ternyata malah kacau.” Samudra mendengus singkat, kemudian menyalakan wastafel lain dan mencuci muka. Sudah tak terhitung sejak 45 menit yang lalu berkali-kali Samudra mencuci muka demi menghilangkan rasa mual. Untuk waktu yang cukup lama, Diva mengamati Samudra. Pria itu mengambil pel dan sikat. Lalu masuk ke dalam salah satu bilik. Akan tetapi baru dalam hitungan 5 detik, Samudra sudah keluar dan muntah di wastafel. Membuat Diva menggelengkan kepala sambil berdecak kecil. “Jijik banget ya bersihin toilet?” Diva mengajukan pertanyaan. Samudra melirik sinis pada Diva. Lalu melanjutkan pekerjaan. Sama seperti tadi dan sebelum-sebelumnya, Samudra keluar dari bilik dan langsung muntah di wastafel. “Jangan bilang, Samudra punya penyakit Myshopobia?” tebak Diva. Samudra mencuci tangan dengan sabun cepat kemudian berbalik menghadap Diva. “Emang lo bersihin toilet udah yakin bersih?” “Yakin dong! Kalau nggak percaya cek aja!” tantang Diva. Hal itu membuat Samudra kian kesal. Diva cepat selesai sedangkan dia sejak tadi baru akan membersihkan bilik kedua. Masih tersisa 8 bilik lagi untuk dibersihkan, berikut dengan wastafel, kaca dan lantai. Sungguh, jika boleh, Samudra ingin hukumannya diubah saja. Lari keliling lapangan 20 kali pun tidak masalah asalkan jangan membersihkan toilet! “Diva bener kan Samudra punya myshopobia?” “Nggak parah kok. Cuma untuk bersihin toilet aja gue jijik. Lagian itu kan bekas banyak orang.” Diva ber-oh ria. Kemudian sebuah ide cemerlang muncul di kepala Diva. “Mau Diva bantu bersihin?” Samudra menatap Diva lama dan menemukan senyuman mencurigakan dari gadis itu. “Nggak usah!” tolak Samudra tanpa pikir panjang. “Yakin? Udah berapa bilik sih yang Samudra bersihkan? Yakin bisa bertahan sampai akhir? Kalau nanti masuk 5 detik mual lagi di wastafel gimana? Kalau kuman-kuman di sana semuanya pada pindah nempel ke tubuh Samudra gimana?” Membayangkan para kuman di toilet berpindah ke tangannya saja Samudra gatal ingin mencuci tangannya lagi. “Oke, oke! Jadi, lo mau apa?” tanya Samudra tidak santai. “Hahahaha, selain ganteng, ternyata Samudra peka ya! Hahaha!” tawa Diva. Ia pun mengeluarkan ponselnya dan menyerahkan pada Samudra. “Diva bantu tapi kasih Diva nomor ponsel Samudra. Oke?” Cukup lama Samudra berpikir. Selama ini ia hanya memberikan nomornya pada Rino dan Farrel. Bahkan Samudra pun menolak masuk ke grup kelas karena menghindari inbox-inbox tidak jelas dari siswi-siswi sekolah ini. Namun jika harus membersihkan seluruh toilet, Samudra tidak akan sanggup. Dengan berat hati ia pun menyetujui syarat dari Diva. “Yes!” pekik Diva senang. “Tapi awas! Jangan sebarin nomor gue ke siapapun. Ngerti?!” “Tenang aja, Samudra! Akan Diva simpan nomor Samudra buat Diva seorang. Karena mana mau sih calon istri masa depanmu ini ngasih nomor calon suami masa depannya ke orang lain?” Samudra menatap Diva seolah gadis itu sudah gila tapi tak urung juga langsung mengetikkan sebuah nomor di ponsel Diva. Diva sempat mengecek dan me-misscall nomor tersebut untuk memastikan dan ia tersenyum puas saat itu adalah nomor yang benar. “Nih! Buruan!” Samudra menyerahkan pel dan sikat pada Diva. Sekilas, sekali lagi, Samudra mencium aroma wangi menggoda dari tubuh Diva. Membuat Samudra ingin menarik Diva untuk bisa mencium aroma tersebut lebih lama. “Oke! Samudra lap kaca aja sama sikat wastafel aja deh. Kalau kaca sama wastafel nggak jijik kan?” Samudra mengangguk saja. Ini lebih baik dari pada harus membersihkan bilik toilet bekas kotoran banyak orang. Keduanya pun lantas bergerak. Diva menuju bilik dan Samudra membersihkan wastafel. Karena dikerjakan bersama, pekerjaan pun menjadi jauh lebih cepat selesai. Dalam waktu dua puluh menit Diva sudah selesai. Ia meletakkan peralatan bersih-bersih ke pojok ruang kemudian mencuci tangan dengan sabun. Tak lupa, ia juga mencuci muka karena merasa gerah. “Udah beres?” tanya Diva, mengamati hasil kerja Samudra yang lumayan. Karena kaca dan wastafel sudah tampak lebih bersih dari sebelumnya. “Udah. Tinggal pel lantai aja.” Diva mengangguk. “Samudra minggir dulu agak ke sana. Biar Diva yang beresin.” Sebab lantai becek, Diva mengambil alat khusus untuk mengarahkan air ke lubang. Diva tidak tau namanya yang jelas itu lebih mirip pel tapi dengan ujung karet, bukan kain. 5 menit kemudian semua sudah nampak bersih. Sekali lagi Diva mencuci tangan degan sabun, kemudian mengeringkannya dengan tisyu. Samudra ikut mencuci tangan sekali lagi. Dan nahas, saat itu Diva mengibaskan rambut hingga tercium kembali aroma menggoda dari tubuh Diva. Samudra menghirupnya dalam-dalam. Merasa hasratnya tak terbendung lagi. “Parfum lo ... lo pakai parfum apa?” tanya Samudra dengan suara sedikit berat. “Hmm? Parfum?” Diva mengernyit lalu ingat dengan Aaron. “Oh, parfum temen Diva. Emang Samudra bisa cium? Baunya udah ilang kok! Kan Diva keringetan lagi. Nih nih kalau nggak percaya. Diva bau keringet nih! Hahaha!” Diva mengibas-ngibaskan rambut sambl tertawa, merasa tak percaya Samudra bisa mencium bau parfum yang menurut indera penciumannya aroma wnaginya sudha hampir menghilang. “Cukup!” geram Samudra, yang tiba-tiba meraih bahu Diva, membaliknya dan menjepitnya di antara wastafel. Kedua mata Diva terbelalak lebar. Samudra yang lebih tinggi darinya membuat Diva sedikit mendongak, mengamati wajah Samudra dengan jarak begitu dekat. Diva yang sangat polos sama sekali tidak tahu ada kabut gairah di mata Samudra. Pria itu mengamati bibir Diva dan ingin sekali menunduk untuk menciumnya. Aaron dan teman-teman hantunya menyaksikan adegan tersebut dengan tegang. Mereka seperti melihat drama FTV remaja secara live. “Aduh, buruan cium ah! Gemes gue. Tombol pause-nya please hidupin! Nggak kuat eyke!” ujar si pocong tak sabar. “Kencan sama saya seharian ya. Hihihihihihihihi,” kekeh kuntilanak pada Aaron. Yakin benar jika Samudra akan mencium Diva. “Aduh, jadi kangen hidup lagi. Kenapa dulu gue mati cepet sih!” Kini hantu penunggu toilet yang berkata. Sudah puluhan tahun ia mendiami salah satu bilik toilet cowok ini. Ia dulu juga siswa di sini dan meninggal karena kecelakaan di depan gerbang sekolah. Dan toilet menjadi tempat favoritnya setelah dia meninggal. “Huuushhh diam semuanya! Gue lagi serius nih! Jangan berisik!” protes sundel bolong. Aaron memijit pelipis namun tetap mengawasi kelanjutan dari Samudra dan Diva. Samudra mengulurkan tangan, meraih dagu Diva. Ia sudah menunduk dan membuat Diva jantungan hampir pingsan ketika sudut matanya menatap kaca wastafel. Sekilas, kedua bola mata Samudra nampak melebar, sebelum ia menghirup napas dalam dan mengambil langkah mundur beberapa langkah. “Thanks udah bantuin. Gue balik ke kelas.” Tanpa basa-basi Samudra pun langsung keluar dari toilet, meninggalkan Diva yang memegang jantungnya yang berdetak tidak santai. Wajah Diva memerah karena ingat ... apakah Samudra tadi berniat menciumnya? Diva senyum-senyum sendiri. “Samudra! Tungguin Diva!” seru Diva, segera keluar menyusul Samudra. Mereka harus ke BK dulu untuk mengambil tas dan laporan ke Bu Ambar. Di sisi lain, para hantu berseru kecewa. Karena adegan ciuman yang mereka tunggu-tunggu gagal total! Siapa sangka Samudra begitu kuat keimanannya? “Gagal deh kencannya,” ucap kuntilanak sambil menghela napas kecewa. Ia menghilang dan kembali ke pohon beringin, disusul dengan teman-teman yang lain. Sementara itu Aaron justru sibuk dengan pikirannya sendiri. Karena untuk sesaat saja, lagi-lagi Aaron merasa tadi Samudra tengah menatapnya lewat pantulan cermin. Sama seperti apa yang terjadi di lapangan nbasket dulu. “Mustahil manusia bisa lihat dewa,” gumam Aaron. Ia menoleh ek arah hantu penunggu toilet yang sedang mengaca dan frustasi sendiri sebab tidak bisa melihat bayangannya di cermin. Kemudian ia mendengus. Mungkin Samudra bisa lihat hantu, ucapnya dalam hati lalu menghilang dari sana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN