Ruang pertama yang dituju Diva sesampainya di sekolah adalah kelas Samudra. Saat itu jam sudah menunjukkan pukul 8 kurang 15 menit, jadi hampir seluruh siswa sudah berdatangan. Memang, sekolah Diva menerapkan jam 8 pagi sebagai jam masuk sekolah.
“Diva!”
Seperti biasa, Rinolah yang pertama melihat dan menyapa. Ia menepuk bahu Farrel dan teman-temannya lalu keluar dari kelas menghampiri Diva. Diabaikannya sorakan-sorakan riuh dari mereka yang berpikir jika Diva adalah gebetan Rino.
Sempat Diva celingukan sebentar sebelum ia akhirnya bertanya pada Rino, “Samudra belum datang?”
Rino menyapukan pandangan ke kelas lalu menggeleng. “Belum.”
“Oh.”
“Nggak usah cemberut gitu. Paling sebentar lagi,” ucap Rino tidak yakin. Karena akhir-akhir ini Rino juga sedikit cemas dengan Samudra yang sering terlambat datang ke sekolah.
Walaupun Rino dan Farrel adalah orang yang paling dekat dengan Samudra di sekolah, keduanya tidak terlalu tahu menahu tentang kehidupan Samudra di luar sekolah. Samudra sering ke rumah Farrel atau Rino tapi baik Rino maupun Farrel tidak pernah sekalipun ke rumah Samudra.
Jangankan rumah, alamat cowok itu pun mereka tidak tau.
Selain itu, setiap kali mereka membahas tentang keluarga, Samudra selalu diam seribu bahasa. Seolah dia tidak memiliki keluhan apapun tentang keluarganya.
“Kamu punya nomor Samudra nggak?”
“Punya dong.”
Diva meringis hingga gigi putihnya yang rata dan rapi terlihat. “Diva boleh minta?”
“Ijin dulu ke orangnya atuh Div.”
“Please ...,” mohon Diva. Ia mengatupkan dua tangan di depan da-da sambil memasang muka puppy eye. “Please .. pleaseee ... ya ya ya! Diva janji nggak akan sebarin ke orang lain. Janjiii suer demi cintaku sama Samudra, calon suami masa depan Diva!” janji Diva. Jarinya membentuk huruf V sebagai pengikat.
Rino tergelak. “Ya elah Div, yakin banget Samudra bakal jadi calon suami masa depan lo! Bisa aja gue atau mungkin malah Farrel yang bakal jadi. Kan lo tau sendiri Samudra nggak doyan cewek. Hahahahaha.”
Cemberut, bibir Diva tertarik ke depan karena kesal. Namun tak urung juga ia tetap meminta nomor Samudra pada Rino.
“Ya udah, kasih tahu nomor Samudra dulu nanti biar Diva sendiri yang ngomong ke Samudra.”
“Nggak bisa gitu dong Div! Itu namanya nggak punya solidaritas.”
Diva menghela napas, kemudian melirik jam dinding di dalam kelas. Ini kurang 5 menit lagi dan Samudra belum sampai.
“Kalau gitu, Diva pergi dulu ya. Makasih, Rino!”
“Yoi! Sama-sama. Lain kali cari gue aja yang ada!” seru Rino sambil menggelengkan kepala. Ia mulai berpikir akan sampai kapan Diva bertahan mengejar Samudra.
***
Diva berlari menuju gerbang. Napasnya memburu saat melihat Pak Satpam sudha bersiap untuk menutup gerbang sekolah.
“Bapaaaak, bentar-bentar! Jangan tutup dulu!” cegah Diva dengan napas tersengal. Saat itu juga bel tanda masuk jam pelajaran pun berbunyi nyaring.
“Kenapa, Neng?”
Setelah mengatur napas selama beberapa detik, Diva bertanya dengan serius. “Bapak tau yang namanya Samudra?”
“Samudra siapa, Neng?” tanya Pak satpam balik sambil menggaruk rambut yang tidak gatal.
“Itu ... yang motornya kayak motor balap warna merah Pak.”
“Yang motornya kayak motor balap mah banyak Neng. Udah ah, Bapak tutup dulu pintunya. Nanti kalau Bu Ambar ke sini dan gerbang belum saya tutup, saya bisa kena marah sama dipanggil ke ruang BK lagi.”
Saat itu di jarak 300 meter, Diva bisa melihat sebuah sepeda motor melaju kencang. Diva pun langsung tau itu Samudra, gadis itu hafal betul dengan jaket kulit warna army yang cowok itu sering pakai ke sekolah.
“Pak, tungguuu! Itu teman Diva bentar lagi sampai. Jangan tutup dulu!” rengek Diva.
Namun Pak satpam lebih takut melihat Bu Ambar yang sudah berjalan ke arahnya dari jarak sekitar 10 meter. Jadi ia tidak mendengarkan Diva, alih-alih langsung menarik kuat pintu gerbang agar menutup.
Tak kehabisan akal, Diva langsung berlari keluar dari gerbang tepat sebelum pintu menutup dengan sempurna.
“Lho! Neng kok malah keluar?” tanya Pak Satpam.
Belum sempat Diva menjawab, motor Samudra akhirnya sampai di depan pintu gerbang. Laki-laki tersebut membuka kaca helm full facenya tanpa turun dari sepeda motor. Bu Ambar pun sudah sampai di gerbang 3 detik setelahnya. Ia menatap tajam bergantian pada Samudra dan Diva.
“Samudra A Maxwell. Terlambat lagi hari ini?” tanya Bu Ambar dengan nada ketus. Sebagai guru BK ia memang harus selalu setegas ini meski sesekali ia nampak lebih ramah pada para siswa berprestasi dan berkelakuan baik.
Samudra tidak menjawab, hanya mengangguk kecil sebagai tanda sopan santun pada salah satu guru sekolah.
Melirik arloji di tangan, Bu Ambar pun memerintahkan Pak satpam untuk membiarkan Samudra dan Diva masuk. Tak lupa berpesan pada pak satpam untuk menutup pintu gerbangnya lagi. Jika nanti ada siswa lain yang terlambat, Bu Ambar berpesan agar Pak Satpam menahan kartu pelajar mereka sampai mereka menghadap ke Bu Ambar di ruang BK.
“Kalian berdua, ikuti saya ke ruang BK!” seru Bu Ambar pada Diva dan Samudra.
Sesampainya di ruang BK, Bu Ambar mulai berceramah mulai dari A sampai Z, mulai dari kisah pendidikan jaman dulu yang serba susah dengan jaman sekarang yang sudah sangat mudah tapi muridnya bandel dan tidak menghargai waktu. Samudra dan Diva hanya diam. Samudra dengan tatapan datar, sementara Diva yang setiap menit terus mencuri pandang ke arah Samudra.
Melalui berbagai pertimbangan setelah melihat catatan, Bu Ambar pun sampai pada keputusannya.
“Samudra, kamu bersihkan semua toilet cowok yang ada di lantai dua sekarang!”
Samudra mengerjab sejenak. Lalu mengangguk kaku.
“Dan kamu Diva. Karena ini pertama kalinya kamu terlambat masuk, hukuman kamu berdiri di bawah tiang bendera selama satu jam pelajaran. Mengerti?”
Meski takut-takut dengan bentakan Bu Ambar, tetap saja tidak mencegah keinginan Diva untuk bersuara.
“Bisa nggak Bu, hukuman Diva diubah jadi bersihin toilet cewek di lantai dua?”
Bu Ambar mengernyitkan dahi sementara Samudra menatap Diva seolah-olah cewek itu tidak waras.
“Itu hukuman nanti kalau kamu sudah terlambat sebanyak 4 kali! Ini kamu baru terlambat sekali.”
“Ya nggak apa, Bu. Diva lagi pengen bersihin toilet. Hehe,” ringisnya padahal cuma modus alias ia ingin hukumannya sama dengan Samudra.
“Ya sudah, kamu ini dikasih hukuman yang agak ringan kok malah milih yang berat!” omel Bu Ambar. Tapi tak urung juga ia mengiyakan. Sebab hari ini Bu Sinta—pekerja kebersihan toilet perempuan—sedang tidak masuk karena sedang mantu.
“Baik. Kalau begitu, kamu bersihkan toilet cewek di lantai dua!”
“Yes!” pekik Diva senang.
“Awas ya! Nanti saya cek kerjaan kalian. Kalau saya menemukan belum bersih, saya akan menambah hukuman kalian berdua!”
“Siap, Bu!” jawab Diva semangat.
Keduanya pun lantas keluar dari ruang BK dan bergegas menuju lantai dua di mana hukuman harus mereka jalankan sekarang juga.