Diva sedang latihan basket seorang diri di lapangan, Ia mendrible bola ke sana dan kemari, kemudian ia berusaha melemparkannya masuk ke dalam ring. Beberapa bisa masuk dengan sempurna meski lebih banyak bola yang gagal masuk. Rata-rata bola tersebut terpental papan atau besi.
Menarik napas panjang, Diva memposisikan tubuh untuk sekali lagi memasukkan bola ke dalam ring. Baru saja ia hendak melompat, sebuah suara mengagetkan Diva.
“Bukan gitu caranya!”
Menoleh, Diva mendapati sosok Samudra muncul. Berjalan mendekat ke arah Diva.
Dengan raut muka datar yang selalu dilihat Diva setiap hari, ia mengambil bola basket di tangan Diva kemudian berdiri tepat di samping Diva. Melihat Samudra dengan jarak sedekat ini tentu membuat jantung Diva berdetak lebih cepat.
“Kalau lo mau masukin bola ini ke dalam ring, posisi lo harus benar. Kalau posisi lo salah kayak gitu, bola ini nggak akan masuk,” ucap Samudra menasihati.
Setelah itu, ia pun mempraktekkan posisi yang benar pada Diva. Dengan konsentrasi penuh dan sedikit lompatan, bola basket yang meluncur dari tangan Samudra bisa masuk dengan mulus ke dalam ring, mencetak 2 poin dengan sempurna.
“Coba lagi.” Samudra menyodorkan bola basket pada Diva.
“Tapi Diva nggak tau gimana caranya.”
“Gue ajarin.”
Diva tersenyum. Ia berusaha mengikuti posisi yang tadi Samudra tunjukkan. Lantas Samudra membenarkannya sedikit.
“Antara kaki dan tangan harus sinkron biar kekuatan lompatan dan lemparan bisa memiliki tenaga yang pas. Tubuh lo juga harus mengira-ngira seberapa kekuatan yang akan kamu keluarkan untuk menumpu kaki ... “
Bukannya mendengarkan dengan seksama, Diva lebih sibuk mengendalikan detak jantungnya sendiri. Rasanya ia mau pingsan ketika Samudra berdiri di belakangnya, memeluk pinggang dan berbisik di telinganya, mengajarkan tentang bagaimana posisi yang benar agar bisa mencetak poin ring.
“Sekarang, coba kamu lompat sedikit dan lempar bola ini ke ring,” tukas Samudra setelah beberapa saat. Ia sudah berpindah posisi di depan Diva dengan tujuan agar bisa tau dan mengoreksi bagaimana gerakan Diva selanjutnya.
Diva mengangguk. Ia mengikuti perintah Samudra—dengan sangat senang hati dan semangat yang berlebihan—membuat Diva melompat jauh lebih tinggi dan melempar bola ke ring dengan kekuatan penuh. Hal itu jelas membuat bola langsung terpental karena menabrak papan.
Tapi bukan itu masalah utamanya sekarang.
Karena terlalu bersemangat itulah, saat mendarat kaki Diva tidak bisa menyangga tubuh dengan benar. Membuat ia langsung oleng ke depan, menubruk badan Samudra.
Keduanya pun jatuh ke lantai. Diva meringis sakit atas lutut dan telapak tangan yang terasa perih. Akan tetapi Diva lebih mengkhawatirkan keadaan Samudra sebab Samudra berada di bawahnya.
Cepat-cepatlah Diva mengangkan badannya sendiri. Ia takut Samudra kenapa-kenapa.
“Samudra, kamu nggak apa-ap—“
Pertanyaan Diva terpotong begitu saja karena tiba-tiba Samudra mencengkeram lengan Diva, mencegah perempuan itu untuk menjauh.
Terkejut? Jelas!
Sebab Samudra tau-tau menarik Diva mendekat kembali. Tangan kiri Samudra yang masih bebas meraih tengkuk Diva sementara wajah laki-laki itu mendarat di leher Diva. Mencium aroma Diva dalam-dalam yang membuat Diva setengah geli, setengah lagi merasa aneh dalam tubuh.
“Gue mau lo, Div.” Samar-samar Diva mendengar kalimat tersebut dari bibir Samudra, membuat senyum Diva langsung mengembang dan ia memberikan akses lebih di leher untuk Samudra.
Kini posisi mereka sudah total berubah. Samudra memangku Diva dan terus bermain di leher Diva. Sementara Diva mulai merasakan sesuatu yang asing. Tubuhnya panas dingin dan merasa aneh. Seolah ada bagian lain yang ingin disentuh oleh Samudra juga.
Sampai Samudra menjauhkan wajah dari leher, lelaki itu menyentuh pipi Diva dan langsung mendaratkan ciuman di bibir Diva. Diva memejamkan mata dan hanya membiarkan Samudra melakukan apapun ... ia ingin merekam momen ciuman pertamanya dengan Samudra yang indah ini dalam otak.
Namun mendadak ...
“Non? Non Diva? ... Nonn??? Bangun, Non!”
Karena tubuhnya di goyang-goyangkan, Diva tersentak dan membuka mata. Pertama kali yang ia lihat adalah bayangan samar dua orang di depannya.
Diva mengerjab sampai bayangan itu membentuk sosok-sosok yang nyata. Mereka Bi Inah dan Aaron. Mengamati Diva dengan ekspresi yang sangat berbeda.
“Non Diva bangun! Sudah jam 6 ini. Katanya mau buatin nasi goreng buat Den Samudra?” kata Bi Inah saat melihat Nona majikannya sudah membuka mata namun masih terdiam. Mungkin Diva masih mengumpulkan nyawa yang semalaman berkelana entah ke mana.
“Lagian Non Diva teh mimpi apa? Kok bibir sampai di monyong-monyongin gitu?” tanya Bi Inah lagi, menyipitkan mata curiga. “Mimpi ciuman ya?!”
Diva mengerang. Ia mengambil bantal dan menutup mukanya dengan benda itu. Diva malu ketika sadar ciumannya dengan Samudra tadi hanyalah mimpi.
Catat baik-baik, wahai pembaca!
HANYA MIMPIIIII!!!
Kesal, Diva menendang-nendangkan kaki di udara, membuat Bi Inah terkejut dan setengah khawatir. Takut-takut kalau Diva sedang kesambet se-tan.
Dan cara terbaik untuk mengatasi ini versi Bi Inah adalah .... kabur.
“Oke, Non! Bibi ke dapur dulu,” pamit Bi Inah, buru-buru keluar dari kamar.
Sepeninggal Bi Inah, Diva mendengar tawa keras mengejek dari Aaron. Diva pun beringsut duduk dan langsung melemparkan bantal pada pria tersebut. Namun Aaron bisa menghindarinya dengan cepat. Ia menghilang dan berpindah tempat namun sama sekali tidak menurunkan intensitas tawanya.
“Mimpi apa, Div? Pasti mimpi adegan plus-plus. Monyong-monyong gitu bibirnya. Hahahahahahaha!” ledek Aaron terus-terusan.
Diva mendesis kesal. “Tau ah! Pergi sanaaa!” teriak Diva.
“Kalau udah pengen banget Div, aku mau kok menjadi pelampiasan kamu. Mau sekarang? Ayok! Kamu nggak perlu khawatir. Aku jamin kamu bakal ketagi-han sama permainan aku.”
Dalam hitungan detik, Aaron sudah melepas pakaian bagian atasnya, menampilkan perut 8 pack dengan sempurna. Otot-otot yang terbentuk membuat mata kaum hawa yang sudah dewasa pasti akan berbinar-binar karena rasa ingin menyentuh, meraba dan menciuminya.
Diva sendiri meneguk saliva kasar. Ia hampir melupakan fakta bahwa Aaron memang seseksi dan se-hot ini! Pokoknya Aaron itu body goal banget!
“Gimana? Udah siap?”
Entah sejak kapan Aaron sudah ada di depan Diva. Membungkuk dan mengambil beberapa helai rambut Diva, mencium aroma harum lembutnya dalam-dalam dengan mata terpejam.
Saat membuka mata, Diva lagi-lagi dibuat terpaku dengan iris mata Aaron yang berubah menjadi merah. Tidak ada kesan mengerikan sama sekali. Diva justru dibuat terkagum-kagum dan terpesona. Bagaimana iris mata hitam itu bisa berubah merah dalam sekali kedip saja?
“Diva ...” Suara Aaron serak. Jujur saja bagi Dewa Asmodeus seperti Aaron, menahan hasrat hawa nafsu adalah sesuatu yang menyengsarakan hidup. Dan sekarang Aaron ingin sekali melepas kesengsaraan itu sekarang juga.
Tidak adanya respon dari Diva membuat Aaron memberanikan diri mengulurkan tangan. Ia mengelus pipi Diva lembut, membuat Diva memejamkan mata.
Bayangan tentang mimpinya dengan Samudra tadi berputar di kepala Diva. Sosok Aaron di depan mata terasa kabur, digantikan dengan sosok Samudra yang menyentuhnya.
Jantung Diva bertau hebat. Ia membuka mata dan menemukan dirinya tersesat dalam kabut yang sangat sulit untuk ia cerai berai.
“Aku akan melakukannya dengan gentle,” bisik Aaron. Ia semakin mendekatkan wajah sementara jari jempolnya sudah mengelus bibir lembut Diva.
Baru saja ia hendak mendaratkan ciuman ke bibir tersebut dan Diva sudah teramat sangat pasrah, namun pintu kamar tiba-tiba terbuka. Membuat Diva maupun Aaron terkejut dan menoleh.
Di sana ada Bi Inah, membawa sutil teflon dan lap kering di bahu.
“Non Diva nggak jadi bikin nasi goreng?”
Butuh beberapa detik lamanya bagi Diva untuk mendapatkan kesadaran ekstra. Kemudian ia terbelalak mendapati Aaron dan langsung mendorong tubuh pria itu menjauh.
Berdiri, Diva berlari ke arah Bi Inah. Diam-diam ia menetralkan detak jantung yang terasa masih menggila.
Apa-apaan tadi? Apa ia baru saja hampir menyerahkan diri pada Aaron? Kalau iya, Diva harus menjauhi pria itu! Aaron akan sangat berbahaya bagi kesehatan jantungnya!
“Jadi, Bi. Ini Diva tadi mau langsung turun kok. Ayo!” Diva langsung mendorong Bi Inah menuruni tangga.
Bi Inah tadinya sangat kebingungan dengan tingkah aneh Diva, namun ia ingat kalau kadang Diva memang suka aneh. Akhir-akhir ini sudah tak terhitung banyaknya Bi Inah memergoki Diva sedang berbicara sendiri.
Wanita paruh baya itu hanya mampu curhat pada sang kekasih hati dan berdoa agar semoga Diva dilindungi dari makhluk tak kasat mata yang menyesatkan manusia.