Diva tengah berlarian menjemput satu bola ke bola yang lain untuk ia kembalikan ke ranjang khusus penyimpanan bola basket saat Aaron tiba-tiba muncul. Dari kejauhan pria tersebut mengamati Diva dengan prihatin.
Aaron tidak mengerti bagian mana yang indah dari percintaan makhluk bernama manusia. Terlebih ketika dalam keadaan cinta bertepuk sebelah tangan seperti ini. Sebab yang Aaron lihat, bukannya membuat bahagia malah membuat Diva sengsara.
Lihat saja ekspresi gadis itu yang terlihat lelah dan dahi penuh dengan keringat. Aaron menggelengkan kepala prihatin.
Diva mendesah lega saat memasukkan dua bola di tangan ke ranjang. Masih ada 10 buah lagi yang harus ia ambil di ujung lapangan sana. Luas lapangan yang dua kali lipat membuat ia kelelahan bahkan meski ia harus berjalan sebab Diva harus bolak-balik dari ujung sana ke ujung sini.
Berpikir sepuluh bola itu yang terakhir dan tugas selesai, Diva berbalik. Berlari kecil menjemput para bola. Namun saat ia sampai di posisi, dahi Diva mengernyit sebab ia menemukan ada 10 buah lagi tersisa.
Salah hitung atau salah lihat kali ya tadi, batin Diva. Mengambil dua bola dan berlari menyeberang lapangan untuk ia letakkan dalam keranjang.
Diva kembali ke tempat semula untuk mengambil dua bola lagi namun lagi-lagi ia terkejut mendapati hitungannya kembali menjadi 10 buah. Padahal jelas tadi tinggal 8 buah.
Diva sempat bolak-balik ke sana ke mari sampai ia merasa ada suatu keanehan. Dengan cepat ia memutar pandangan dan langsung mendengus kesal melihat Aaron tengah menertawakannya dari bangku penonton.
Pantas saja bola-bola itu terus ada dan tidak berkurang sama sekali! Aaron yang mengembalikannya ke tempat semula!
“Aaronnn!!” teriak Diva kesal. Jika ia punya tanduk mungkin tanduk Diva langsung muncul ke permukaan.
“Biar sehat, Div! Olah raga 3 jam! Hahahahahaha!”
Diva mendesis tajam. Ia membuang bola basket di tangan kemudian berlari menghampiri Aaron dengan hawa membunuh.
Aaron sendiri langsung menyeringai jahil. Saat Diva hendak menangkapnya ia menghilang dari satu tempat ke tempat yang lain. Sengaja mengambil jarak-jarak yang dekat agar membuat Diva kebingungan dan semakin kesal.
“Iiiish, Aaron! Ngeselin banget! Balikin nggak bolanya ke ranjang! Diva capek tau!”
“Tangkap aku dulu dong, Cinta!”
“Namaku Diva, bukan Cinta!” protes Diva tambah kesal.
Aaron hanya tertawa meledek. Sesekali menjulurkan lidah seperti anak kecil. Diva pun terus mengomeli Aaron tanpa henti.
Di sisi lain, Samudra, Rino dan Farrel telah sampai di lapangan. Ketiganya masuk dan menyapukan pandangan ke seluruh ruangan gedung. Mereka pikir mereka akan menemukan tim basket putri, tapi malah hanya satu sosok cewek saja yang mereka temui.
"Loh, mana tim basket ceweknya?" tanya Farrel menyuarakan hati Rino.
Samudra yang jelas tujuannya hanya untuk mencari kunci acuh saja. Ia melanjutkan perjalanan ke tempat yang tadi ia pakai untuk istirahat.
Rino dan Farrel menyusul masuk. Alih-alih langsung membantu Samudra, mereka malah berseru memanggil nama Diva.
"Diva!"
Menoleh, Diva terkejut mendapati Rino, Farrel dan Samudra ada di lapangan. Cepat-cepat ia berbalik dan berlari menghampiri Rino. Diva mengernyit melihat Samudra nampak mencari-cari sesuatu.
"Kok lo sendirian aja? Anak yang lain mana?" tanya Rino saat Diva sampai di dekatnya.
"Udah pulang," jawab Diva jujur, lalu menunjuk pada Samudra yang berada di jarak cukup jauh.
"Samudra cari apa?"
"Kunci motor. Kayaknya jatuh soalnya nggak ada."
"Oh, kayaknya Diva—"
"Tunggu, jangan bilang lo yang bersihin lapangan sendirian?" tiba-tiba Farrel menyela.
Diva mengindikkan bahu. "Katanya Diva anggota tim baru jadi Diva harus lakuin ini."
"Nggak ada." Kini Samudra yang berkata. Ia sudah bergabung dalam kerumunan Diva. Membuat Diva langsung senyum-senyum salah tingkah. "Bantuin dong!"
Rino dan Farrel mengiyakan. Mereka berjalan ke lapangan dan mulai menjumputi bola untuk mereka kembalikan ke ranjang.
"Sekalian bantuin Diva, Sam. Kasihan beresin ini sendirian!" seru Rino.
Samudra menghela napas, namun tak urung juga ia membantu membereskan bola-bola basket.
"Huuu nggak seru! Niatnya mau ngerjain kamu malah datang 3 pengganggu!" gerutu Aaron tiba-tiba sudah muncul di samping Diva.
Diva tak merespon kalimat Aaron. Ia lebih sibuk berada di dunia fantasinya sendiri, melihat Samudra seolah dia adalah pangeran berkuda putih yang sedang menolong pekerjaan rakyat jelata. Sama sekali mengabaikan fakta jika di sana juga ada Rino dan Farrel.
Berdecak, insting kejahilan Aaron kembali muncul. Ia memainkan rambut Diva, menarik-nariknya, membuat lamunan Diva buyar.
"Apa sih, jangan ganggu Diva," ucap Diva. tapi tetap saja Aaron mengganggu gadis itu.
"Aaron!"
Aaron tertawa kecil, kembali menarik-narik rambut Diva.
Saat itu, tak sengaja iris mata Aaron menangkap sesuatu yang aneh. Sekilas, ia melihat Samudra menoleh dan menatapnya. Tapi saat Aaron menoleh dan menatap Samudra lama untuk memastikan, laki-laki seumuran Diva tersebut sudah memalingkan muka. Menyapukan pandangan ke arah lain.
Cuma perasaan ku? kata Aaron dalam hati di mana tepat saat itu geplakan Diva mengenai kepalanya.
"Jangan ganggu aku!" peringat Diva lalu bergegas menjauh. Meninggalkan Aaron yang mengumpat padanya dan meringis sakit sambil mengelus kepala yang tadi dipukul Diva.
"Makasih ya udah bantuin Diva," tukas Diva mengucap terima kasih.
Farrel mengacungkan dua jempol dan Rino mengangguk. Kemudian sama seperti Samudra, Rino dan Farrel nampak melanjutkan mencari-cari sesuatu. Diva pun ingat dengan perkataan mereka yang mana Samudra sedang mencari kunci motornya.
"Samudra cari kunci motor?" tanya Diva menyita perhatian ketiganya. Ia merogoh saku celana olahraga dan mengeluarkan sesuatu dari sana.
"Yang ini bukan? Tadi Diva temuin pas beresin bola."
"Alhamdulillah!" pekik Farrel.
"Ketemu nih, Sam!" balas Rino senang.
Mendekat, Samudra menjulurkan tangan. "Mana balikin."
"Bilang makasih dulu dong, Sam. Hahaha," celetuk Rino.
Ingin sekali Samudra menggeplak kepala dua temannya namun ia ingin segera pulang. Samudra tidak terlalu suka berada di dekat kaum hawa. Lebih-lebih tipe bucin seperti Diva.
Samudra pun langsung merebut kuncinya dari tangan Diva kasar. Tanpa ucapan terima kasih, Samudra sudah berbalik pergi.
"Sama-sama!" teriak Diva. Karena pekerjaan sudah beres, ia segera mengambil ranselnya dan langsung meninggalkan gedung olah raga yang sudah kosong. Sebab Rino dan Farrel sudah terlebih dulu menyusul Samudra.
Setelah itu, Diva berjalan riang ke luar sekolah. Gerbang belum ditutup sebab Pak Satpam biasanya berkeliling kelas-kelas dulu untuk memastikan semua siswa sudah pulang.
Sembari membayangkan kembali wajah Samudra tadi, senyum Diva terus mengembang. Senandung kecil bernada cinta pun keluar dari bibir.
Tuhan ... kapan sih Samudra akan membalas perasaannya? Diva udah pengen bageeet peluk- peluk Samudra. Hihi.
Mengeluarkan ponsel dari ransel, Diva membuka aplikasi taksi online. Diva berjalan di tepi jalan raya fokus memperhatikan layar saat sebuah mobil tiba-tiba melaju kencang.
Untung saja Diva cepat sadar karena suara bel mobil. Diva melompat ke samping dengan cepat sementara mobil tersebut tetap melaju dengan cepat tanpa peduli jika hampir menabrak seorang gadis.
Lompatan Diva membuat Diva oleng dan jatuh. HP nya terlempar sejauh satu meter sementara tangan dan lutut Diva mengalami luka lecet. Diva meringis sakit.
"Diva!" seru seseorang dari belakang. Itu Rino, turun dari boncengan Farrel dan langsung membantu Diva. Tadi ia sempat melihat kejadiannya dan mengumpat pada mobil tersebut yang juga hendak menyerempetnya dan Farrel.
"Lo nggak papa?" tanya Rino lagi sambil membantu Diva berdiri. Tak lupa ia juga mengambilkan ponsel Diva.
"Kaki lo berdarah."
"Diva nggak apa kok."
"Lo pulang sama siapa?"
"Taksi."
Rino menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari-cari taksi yang Diva maksud. Tapi ia tidak menemukan apapun.
"Mana nggak ada taksi."
Diva menjawab, "Baru mau pesan. Mana ponselku?"
Rino yang khawatir tidak tega. Dan sepertinya Yang Maha Kuasa pun tidak tega. Karena tepat saat itu Samudra keluar dari sekolah dengan motornya.
Rino bergegas mencegat temannya tersebut.
Diva sempat melihat perdebatan antara Rino dan Samudra, yang kemudian disusul dengan Farrel, membuat Diva menghela napas. Ia ingin memanggil Rino dan meminta ponselnya kembali untuk segera memesan taksi online. Diva tidak ingin Samudra melihat penampilannya yang kacau begini. Diva malu.
Namun, saat Rino kembali, Samudra mengikuti di belakang. Wajah yang tertutup helm itu bisa Diva tebak sedang memancarkan tatapan dingin dan datar. Namun karena sudah biasa, Diva hanya nyengir dan melambaikan tangan pada sang idola.
"Hai, Samudra," sapanya.
"Lo pulang aja sama Sam," tukas Rino. Ia menarik tangan Diva untuk naik ke atas sepeda motor besar Samudra.
"Eh?"
"Nggak usah ah eh ah eh. Dari pada nunggu taksi lama mending biar Samudra aja yang antar," balas Rino. "Lagian sebagai ucapan makasih juga lo udah nemuin kunci motornya tadi."
Hal ini membuat Diva sedikit canggung. Namun rasa senang Diva lebih besar mengalahkan rasa canggung. Mimpi apa dia semalam sampai bisa digonceng Samudra?
"Ini!" akhirnya baru Rino mengembalikan ponsel Diva ketika gadis itu sudah naik di atas motor.
"Pegangan, Div! Nanti jatuh."
"Tapi—"
Rino tidak mau mendengarkan protes Diva. Sebab ia tahu sekencang apa Samudra mengendarai sepeda motor. Ia tidak ingin gadis polos seperti Diva menjadi korban teman beruang kutubnya ini.
Ia pun menarik tangan Diva untuk memeluk tubuh Samudra. Mengabaikan delikan tajam sahabatnya dari balik kaca helm.
"Hati-hati di jalan, Sam! Ini anak orang!" tunjuk Rino sambil menepuk bahu Samudra.
Samudra nampak acuh, menginjak pedal gigi, Samudra pun melajukan sepeda motor ke jalan raya.