Berciuman?
Hah, Angel rasanya ingin tertawa sekeras yang ia bisa. Hanya sebatas itu rumor yang Kakaknya berikan? Hanya sampai sana Kakaknya memberi kabar tak enak pada Angel? Bahkan para media saja sudah pernah meliput dan memberikan kabar mengenai Rian dengan Viona dengan berita yang lebih parah, seingat Angel kalau tdiak salah menginap bersama di sebuah hotel? Atau kabar burung yang lain, seperti meninggalkan Angel hanya demi Viona?
Semua kabar buruk itu sudah Angel dengar hampir setiap minggunya, dan bukan sekali dua kali Angel terpengaruh, mencoba untuk percaya pada apa yang disampaikan orang lain. Namun, lagi-lagi kepercayaannya pada Rian lah yang berhasil memenangkan segalanya, Rian yang berhasil meyakinkannya dan Angel yang begitu memuja Rian, sampai-sampai semua rasa marah dan bencinya terhadap Rian lenyap seketika.
“Berita tadi udah dihapus sama Kak Noah.”
Mata Angel yang semula menatap kosong ke depan itu langsung bergerak menatap Raya yang kembali masuk. Kali ini tidak hanya sendiri. Ada Jayyen yang senantiasa ikut dengan perempuan itu dari luar.
“Bagus kalau gitu,” jawab Angel lemah, kepalanya yang memang sudah pening kini terasa berat dengan rasa pusing yang semakin menjalar, memejamkan mata dan kembali berbaring, Angel tutup keningnya dengan lengan. Ternyata cukup menguras tenaga hanya berbicara dengan lelaki itu.
“Lo istirahat dulu aja, ya? Gue sama Jayyen mau nyari makan siang. Lo mau nitip sesuatu?” tanya Raya dan menempelkan punggung tangannya pada leher Angel, memeriksa keadaan tubuh Angel yang mungkin saja kembali demam. Mendapat gelengan kepala dari Angel, Raya kemudian mengangguk sebelum menarik Jayyen agar kembali keluar bersamanya, namun, bukannya menurut dan ikut dengan Raya seperti saat masuk, lelaki itu justru berdecak seraya melepaskan cekalan tangan Raya.
“Gue baru—“
“Lo paham kata istirahat, kan?” desis Raya dengan penekanan di setiap katanya, tak lupa mata tajam juga wanita itu berikan pada Jayyen yang langsung memberikan tangannya kembali agar Raya menariknya seperti semula.
“Kalau bisa, makan di tempatnya, Ray,” pesan Angel lemah.
Raya membalikkan tubuh sesaat, melihat bagaimana keadaan Angel saat ini sebelum menghela napas panjang. Ia cukup tahu apa yang sedang Angel maksud, dan memahami perkataan gadis itu juga cukup mudah.
“Oke.”
“Tapi nanti lo—“
“Mau makan apa gue yang makan lo?”
Jayyen menghela napas kasar. “Kanibal lo!”
Tak menghiraukan ucapan Jayyen, Raya menarik lelaki itu keluar, meninggalkan Angel yang bergeming di tempatnya.
Sepeninggal keduanya, Angel bergegas mengambil ponselnya yang tergeletak di atas brankar, mulai mendial nomor Rian yang sudah berada di luar kepala sebelum akhirnya menatap benda persegi panjang itu dengan gelisah. Ya, lagi dan lagi ia terpengaruh dengan ucapan orang lain, otaknya yang kecil itu memang lebih pantas tidak menerima apapun sebelum Rian kembali ke rumah sakit.
Panggilan pertama tak Rian angkat, begitu juga dengan panggilan kedua, ketiga dan keempat yang Angel tekan secara terus menerus, sampai pada akhirnya nada dering dan jawaban operator berganti dengan suara lain. Bukan suara yang sedang Angel ingin dengar, melainkan suara seorang perempuan yang begitu Angel hapal dengan baik, bahkan hanya dengan satu kata saja Angel sudah tahu siapa yang kini mengangkat panggilannya dari ponsel Rian.
“Dimana Abang?” tanya Angel tanpa basa-basi. Rasa gelisahnya kian meningkat kala suara perempuan di sebrang sana terdengar parau.
“Ada di ruang rapat, kenapa, Ngel? Ada yang mau lo sampe—“
“Kasih ke Rian sekarang.” Potong Angel tanpa ingin dibantah.
“Tapi—“
Kesal karena panggilannya terus dibalas oleh Viona, Angel mematikan panggilan dan menekan tombol 1 pada telepon rumah sakit yang ada di atas nakas, meminta salah satu perawat untuk datang ke ruangannya. Tak berselang lama, seorang perempuan dengan pakaian putih khas perawatnya itu memasuki ruangan, tersenyum pada Angel seraya bertanya apa yang dibutuhkan olehnya.
“Saya mau pulang hari ini,” tukas Angel.
“Maaf, Bu, tapi, Ibu Lizandra—“
“Saya bilang saya mau pulang hari ini,” ucapnya lagi dengan kalimat yang sama dengan penekanan penuh. Perawat itu tampak gelisah dan melihat keluar beberapa kali. Mata Angel jelas tak lepas dari pergerakan perawat di depannya, saat kaki perempuan yang mungkin umurnya jauh lebih muda dari Angel itu akan melangkah keluar, dengan cepat Angel memanggilnya kembali.
“Saya bisa minta Mama untuk kasih penilaian yang buruk sama kamu,” ancam Angel.
“Ja-jangan, Bu. Sa—saya baru bekerja di sini.”
“Kalau gitu, bantu saya pulang hari ini.”
“Tapi—“
“Saya yang akan bilang pada Ibu Lizandra masalah ini. Jadi, tolong bantu saya melepaskan infusannya.”
Angel menatap tajam perempuan di depan sana sebelum menghela napas lega melihat perempuan itu menghampirinya dan berdiri di samping brankar, Angel tersenyum manis kala wajah perawat itu tampak takut untuk membantu Angel melepaskan infusan.
“Saya—“
“Jangan bilang siapapun. Saya akan menelepon Mama setelah ini. Kamu bisa bilang jika ini keinginan saya untuk pulang,” ucap Angel dan menutup punggung tangannya dengan kapas kecil begitu infusan di tangannya benar-benar terlepas. Rasa pegal karena jarum yang menusuknya itu akhirnya menghilang.
“Kalau Bu Lizandra bertanya, apa yang harus saya katakan, Bu?”
“Bilang saja kalau ini masalah penting,” jawab Angel.
Mengambil tas kecil yang berisi kartu dan juga beberapa uang, Angel bergegas keluar, tak lupa kunci mobil Raya yang memang tergeletak di atas nakas ia rampas, tidak mungkin Angel pergi dengan menggunakan taxi, sang mama mungkin akan dengan mudah melacaknya, ia yang keluar dari rumah sakit saja sekarang pasti sudah diketahui sang mama.
Menekan tombol gembok pada remote kunci mobil, Angel bergegas memasuki Maserati Ghibli berwarna merah yang Raya beli bulan lalu, menjalankannya dengan kecepatan yang bisa Angel capai, gadis itu hampir saja menabrak sebuah motor berwarna hitam yang akan memasuki area rumah sakit. Sadar jika orang di atas motor itu adalah Rizal—kakak keduanya—Angel segera menunduk dan kembali menjalalankan mobil, berusaha agar tidak terlalu terlihat dan mencolok.
Sayangnya, bersamaan dengan keluarnya Angel dari parkiran rumah sakit, Rizal mendapat telepon dari sang mama jika Angel kabur.
“Hah?!”
“Kamu susul mobil Raya! Dia pake mobil Raya buat keluar! Cepetan dikejar!”
“Ya udah, sih, Ma, kalau dia nggak mau diatur. Aku males—“
“Rizal! Papa kamu ke sini!”
Tanpa membantah seperti sebelumnya, Rizal langsung memutar kembali motornya dan mengejar mobil merah sang adik.
“Emang nyusahin hidup lo, Ngel!”