Ke - 6 (Revisi)

1026 Kata
Ada dua hal yang Angel benci di dunia. Ditinggalkan dan kebohongan. Angel besar tanpa sosok Ayah, hal yang cukup menyedihkn untuk diungkapkan, berumur 7 tahun dan langsung mendapat tamparan keras oleh kenyataan jika Angel tdiak akan bisa memiliki keluarga yang utuh, cukup membuat mental Angel kala itu hancur. Berita buruk mengenai keluarganya tersebar luas. Memiliki orang tua yang cukup berpengaruh, nyatanya tidak membuat Angel bahagia. Sang ayah yang memiliki rumah sakit dan mamanya yang memiliki pengaruh dalam dunia entertainment, jelas bukan hal yang sulit bagi semua orang mengetahui bagaimana kondisi keluarga Angel. Bahkan nyaris satu jam sejak pertengkaran orang tuanya, berita langsung memenuhi media. Entah tentang sang papa yang berada di bandara dan hendak pergi tanpa sang mama, atau sang mama yang membatalkan syuting film dengan beberapa stasiun televisi. Semuanya keluar bagai bom yang diledakkan bersamaan. Rumahnya penuh dengan wartawan, sekolahnya menjadi tidak tenang, dan yang paling parah yang Angel alami kala itu adalah pembullyan dengan membawa fisik. Kesedihan Angel kala itu tak lagi bisa ditahan, tak jauh berbeda dengannya, kedua kakaknya juga merasakan hal yang sama, dan mungkin Rizal lebih parah darinya dan Noah. Kakak kedua Angel itu sudah menjadi model remaja ketika usianya menginjak 10 tahun. Semua kontrak terpaksa harus Rizal batalkan, dan uang yang harus dikeluarkan oleh kedua orang tuanya tentu tidak sedikit, mengingat saat itu Rizal sedang berada di atas. Rizal, anak kedua aktris terkenal yang memiliki ketampanan luar biasa. Masa-masa buruk itu tidak akan pernah Angel lupakan sampai kapanpun. Dan semua itu terjadi karena dua hal. Ditinggalkan dan kebohongan. Angel ditinggal sang ayah, pria yang menjadi segala-galanya bagi Angel, pria yang memiliki sejuta cara agar Angel bisa kembali tersenyum, pria yang berhasil menopang segala hal yang Angel inginkan. Dan kebohongan atas ucapan Yoo Jun yang mengatakan akan terus berada di samping Angel sampai kapanpun, dengan sang mama ataupun tidak. Sempat terpuruk, Angel dan yang lain kembali bangkit. Mungkin lebih tepatnya hanya mama dan kakak-kakaknya saja yang bangkit, Angel sendiri masih bertahan dengan masa lalu. Meski perlahan, sosok ayah yang ia benci kembali muncul dalam sosok Noah. Segala kebaikan, senyum dan juga perhatian Yoo Jun, menurun hampir seluruhnya pada Noah. Lelaki yang usianya terpaut 6 tahun dengan Angel itu memperlakukan semua anggota keluarga layaknya sang papa ketika pria itu masih ada. Pulang tepat waktu, menyapa dengan hangat, memeluk dengan penuh kasih sayang dan memberikan cinta dengan sepenuh hati. Namun, itu semua hanya berselang 5 tahun. Dari semua sifat dan kepribadian Noah, terkadang Angel bertanya-tanya, kenapa semuanya sangat mirip dengan sang papa? Kenapa Noah juga harus menjadi sosok Papanya sampai pada akar? Kenapa lelaki itu begitu persis dengan Yoo Jun? Kenapa? Tidak hanya sang papa yang memberi luka, Noah pun sama. Meninggalkan Angel yang sudah nyaman dan merasa jika memang itu adalah kebahagiaan sesungguhnya dengan memilih pergi, mengejar mimpi yang ia bilang akan ia capai secepat yang ia bisa, yang mana memiliki impian yang sama juga dengan sang papa, menyelamatkan semua manusia yang membutuhkan pertolongan. Dokter. Impian Noah yang berbanding terbalik dengan keinginan Lizandra. Entah masih menyimpan amarah dengan sang suami, Lizandra tidak memperbolehkan anak-anaknya untuk menepuh jalan yang sama dengan Yoo Jun, dan karena hal itu juga Angel menginjakkan kakinya dalam dunia entertainment. Seperti sekarang. “Abang!” Ruang rapat yang semula terasa menegangkan itu seketika berubah. Seluruh pasang mata menatap Angel yang membuka pintu kaca di depannya dan mematung di depan sana. Rian yang juga melihat keberadaan sang tunangan hanya bisa menghela napas, memejamkan matanya sesaat sebelum melirik pada Viona, Rian lalu keluar dari ruangan. Tanpa harus mengucapkan apapun pada Angel, Rian berjalan lebih dulu di depan Angel. “Ah, maaf.” Angel kembali menutup pintu, berbalik dan menyusul Rian yang sudah memasuki lift, Angel segera membulatkan mata melihat lift yang akan tertutup. Tepat saat dirinya masuk, lift tertutup. “Abang kenapa nggak—“ Ucapan Angel langsung terhenti begitu benda kenyal menempel di bibirnya. Bukan! Bukan menempel, tapi juga bergerak liar. Rasa panas yang Angel rasakan di luar sana kembali Angel rasakan, yang mana hanya berbeda alasannya saja. Jika tadi karena cahaya matahari, maka kini karena hal lain. Akal sehat Angel jelas memberontak, sayangnya, tubuh sialnya itu tidak melakukan hal yang sama. Tangannya justru mengalung di leher Rian kala lidah Rian memaksa menerobos masuk, erangan juga tidak bisa Angel tutupi kala pinggangnya ditarik mendekat. Membuat tubuh keduanya hampir menyatu jika saja Angel tidak menahan d**a Rian dengan tangannya. Sadar dengan tempat yang tidak kondusif, Angel bergegas mengurai tautan bibir keduanya. “Ngel,” erang Rian kesal. Angel yang terengah jelas hanya bisa mengatur napasnya seraya menjauh. Alih-alih membiarkan perempuan itu mengatur napas, Rian justru menarik pinggang Angel semakin dekat, membuat jarak keduanya benar-benar terkikis habis. Angel bahkan bisa merasakan d**a bidang Rian. “I—Ini di dalam lift,” cicit Angel seraya memalingkan wajah kala Rian akan kembali menyerangnya. 6 tahun dengan hubungan yang sehat? Persetan! Tidak ada yang pernah bisa melakukan itu, Angel dan Rian pun begitu. “Hukuman buat kamu yang masuk seenak udel!” kesal Rian dan mengecup leher Angel sampai suara decakan terdengar cukup keras. “Abang!” Angel berteriak secara spontan. “Apa?” Suara berat yang keluar dari mulut Rian itu berhasil membuat bulu kuduk Angel berdiri. Sialan yang ternyata bisa membuat Angel lemah. Kenapa juga ia bisa berada di dekat lelaki ini sekarang? Dan kenapa Rian bisa menciumnya di saat-saat seperti ini, sih? Apa lelaki itu tidak memikirkan hal lain? Seperti akan terekam cctv dan lainnya? Sadar apa yang baru saja ia pikirkan, Angel bergegas melihat ke atas. Ia menghela napas lega melihat atap yang kosong. "Hukuman kamu belum selesai." “Diem dulu!” Rian mengangkat kedua tangannya ke atas begitu melihat tatapan tajam dari Angel. Perempuan itu benar-benar menjauh dan bersandar pada pegangan besi, Angel menutup matanya merasakan degupan jantungnya yang seperti akan meledak. Padahal ini bukan pertama kalinya ia dan Rian berciuman, tetap saja rasanya seperti akan mati saat itu juga. “Kamu kenapa bisa di sini?” Pertanyaan yang Rian lontarkan bersamaan dengan terbukanya pintu lift, Angel yang melihat itu langsung mendongak dan terdiam begitu sadar ada seseorang di depan sana. Begitupun Rian yang bergeming melihat siapa yang kini berdiri di depan pintu lift. “Lo berdua kenapa?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN