Ke - 7 (Revisi)

1001 Kata
“Jadi bisa kamu jelasin kenapa kamu kabur dari rumah sakit?” Angel menelan salivanya kasar, sepertinya acara kaburnya lagi-lagi tak berjalan mulus, apalagi setelah melihat tatapan Rian yang akan membunuhnya saat ini juga, rasanya Angel ingin pergi ke tempat yang jauh sekalipun ia tidak akan ditemukan. Baru akan membuka mulutnya untuk mengatakan apa yang menjadi alasannya kabur dari tempat berbau obat itu, seseorang datang dengan santainya, memasuki ruangan Rian yang kini penuh dengan aura tegang. “Eh, gue kira lagi nggak ada konferensi pers. Maaf,” ucap lelaki dengan kemeja berwana merahnya itu dan kembali keluar. “Masuk aja, Gung,” titah Rian dan menunjuk salah satu sofa yang kosong. Yang mana berada tak jauh dari tempat duduk Rian. Agung menggaruk tengkuknya dan menatap Angel, Rian, dan Rizal yang berada tepat di depan Angel dengan kikuk. “Gue mending di luar aja, deh,” sarannya yang dibalas dengan tatapan dingin oleh Rian. “Lo tahu kalau Papa ke sini hari ini?” Kepala Angel yang semula menunduk itu seketika mendongak, bersamaan dengan Agung yang duduk di sebelah Rian. Lelaki yang menjadi teman sekaligus sahabat Rian itu menatap Angel dan Rian bergantian. Sebenarnya, apa perannya di sini? Tidak mungkinkan ia hanya menatap dan melihat pertengkaran antar tiga orang di depannya? “Papa ke sini?” beo Angel dengan wajah terkejutnya. “Kata siapa?! Mau ketemu siapa? Kak Noah?” Rizal mengernyitkan kening. “Noah? Kak Noah ada di sini?” “Bentar, Kak Rizal gak tahu Kak Noah di Indonesia?” Rizal menggelengkan kepala. “Jadi, Kak Noah nggak ke rumah? Nggak ketemu sama Mama?” “Mana gue tahu. Gue nggak ketemu sama dia dari pagi. Dia ke rumah sakit?” Angel menganggukkan kepalanya cepat. “Iya! Tadi pagi Kak Noah datang ke rumah sakit.” Rian yang sejak tadi hanya mendengar ikut mengernyitkan keningnya. Merasa tidak asing dengan nama lelaki yang baru saja Angel katakan. “Noah yang mana?” tanya lelaki itu bingung. Angel menoleh pada Rian dan berdecak pelan. “Masa Abang lupa? Kak Noah, Kakak pertama Angel. Yang ikut sama Papa ke Korea. Tadi pagi ada di rumah sakit. Angel kira Kak Noah udah ada ke rumah. Dia juga yang buat Angel kabur dari rumah sakit. Coba kalau dia nggak bilang Abang ciuman sama Viona, Angel nggak akan ke sini,” cerocos Angel. Agung yang baru meminum teh di dekat Rian langsung tersedak. Lelaki itu menatap horor Angel, bahkan bukan hanya dirinya saja yang menatap lekat Angel saat ini, tapi Rian dan Rizal juga melakukan hal yang sama. “Ciuman sama Viona?” beo ketiganya bersamaan. Angel yang sadar sudah mengatakan apa yang seharusnya ia sembunyikan itu langsung mengalihkan pandangan. Mengigit bibir bawahnya, Angel merutuk dirinya sendiri, memang mulut tidak tahu diuntung! Kenapa harus memberitahu alasannya sekarang! “Kamu percaya lagi sama omongan kaya gitu? Dan bela-belain kabur cuman buat mastiin hal gak jelas asal-usulnya?” tanya Rian. Bukan pertama kalinya Angel bersikap seperti sekarang. Semborono dan berfikir jika yang diucapkan orang lain adalah fakta terbenar yang harus Angel pikirkan sampai membuat semuanya kesulitan. “Itu asal-usulnya jelas, kok. Kak Noah yang bilang!” jawab Angel tak ingin kalah. “Lelaki kaya dia masih lo percaya? Yang udah tega ninggalin lo di sekolah demi ketemu Papa, yang kaya gitu yang buat lo b**o sampe lepas infusan?” Rizal dengan mulut pedasnya memang sesuatu yang tidak bisa dilepaskan. Apa-apaan mengatai Angel dengan sebutan b**o? Lagipula, siapa juga yang akan tetap diam sementara kabar burung mengenai tunangannya sudah terdengar sampai telinga? “Walaupun kaya gitu Kak Noah, kan, tetep—“ “Tetep apa?” Rizal sengaja memotong ucapan sang adik. “Gua yang masih ada di sisi lo sama Mama, bahkan nurut setiap lo sama Mama minta sesuatu, yang selalu bantu lo saat lo susah, nggak pernah lo percaya! Sedangkan dia yang jelas-jelas buat lo kaya orang gila dulu masih lo percaya? Otak lo sebenarnya di mana, sih, Ngel?” Katakan saja Angel sebodoh itu. Ia memang tidak bisa melupakan kebaikan yang Noah tuai padanya. Meskipun lelaki itu sudah menaruh luka yang cukup besar di hati Angel. Sikap lembut, peduli dan penuh perhatian seorang Noah, entah sampai kapan, akan selalu melekat pada Angel. Sampai-sampai Angel merasa jika memang hanya dirinya saja yang bodoh, yang bisa dibodohi beberapa kali oleh lelaki yang sama. “Angel, aku udah bilang untuk nggak denger apapun, kan? Kamu juga tahu kalau aku sama Viona nggak ada apa-apa. Kami hanya rekan kerja. Nggak lebih,” jelas Rian dengan perlahan, tidak seperti sang kakak yang menggebu-gebu, Rian terlihat santai dan tenang. Lelaki itu menatap Angel dengan lekat, mengusap bagian punggung tangan Angel yang sempat ditutupi oleh kapas. Sepertinya di sana tempat terakhir infusan tertancap. “Angel minta maaf. Tapi, Angel bener-bener nggak tahu harus gimana. Angel udah telepon Abang beberapa kali, tapi terus ditolak. Sekalinya diangkat, Viona yang ngobrol sama Angel. Di mana Angel masih bisa berfikir positif?” Jika tadi tatapan Rizal mengarah pada sang adik, maka kini mengarah pada Rian yang juga langsung menatapnya. “Saya sedang rapat,” jawab Rian yang berhasil membuat Rizal kembali menutup mulutnya, hendak bertanya apa yang lelaki itu kerjakan sampai Viona yang mengangkat panggilan. “Angel bener-bener minta maaf.” Angel menarik napas panjang. Matanya menatap Rizal dan Rian bergantian, menujukkan ekpresi tersedihnya yang biasanya menjadi gaya andalan Angel untuk mendapat maaf termudah bagi kedua lelaki terdekatnya itu. Dan sesuai dengan dugaannya, kedua lelaki itu hanya bisa membuang wajah, enggan termakan wajah memikat Angel yang selalu bisa meluluhkan siapapun. “Angel dimaafin, kan?” tanya Angel dan menggenggam tangan Rian. Rian hanya menjawab dengan anggukan pelan. Sedangkan Rizal memilih bangkit dan keluar dari ruangan. “Gue beneran cuman jadi figuran,” celetuk Agung saat melihat pintu kembali tertutup dengan rapat, menyandarkan punggungnya pada sofa, Agung meliirk kecil pada Rian yang mendelik tajam. “Suruh siapa ngedengerin,” timpal Rian. Membulatkan mata, Agung kembali menatap tajam Rian. Lelaki itu bahkan langsung mengubah duduknya menjadi menghadap pada Rian. “Yang suruh gue masuk ke sini tadi siapa?!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN