“Loh Angel? Lo dari—“
Akbar menatap Angel yang memasuki lift itu dengan kening mengernyit. Lelaki yang memang sedang menuju lantai dasar itu melirik Angel yang tampak akan menangis. Terlihat jelas dari wajahnya yang memerah sekalipun menunduk dan bahunya yang bergetar kecil. Akbar yakin gadis yang kini berada di sisinya itu baru saja dari ruangan Rian.
“Gua tahu seharusnya gua gak bilang ini sama lo,” ucap Akbar membuka suara setelah terdiam beberapa detik. Lelaki itu menggeser tubuhnya agar memiliki jarak antara Angel dan dirinya sendiri. Memiliki kantor yang sedikit sensitif tentang hubungan atasannya, membuat Akbar sadar diri dan enggan masuk ke dalam dunia pergibahan para pegawai.
“Rian kemungkinan sakit. Dari mukanya, gua tahu dia demam. Rapat tadi aja gak ada yang berjalan lancar. Semua dari rapat penting hari ini, kayaknya harus diulang. Karena tertunda sama Rian yang hilang fokus beberapa kali. Dan jelas lo tahu alasannya kenapa, kan?” Akbar melirik Angel yang kini mendongak dan menatap ke arahnya.
“Karena seseorang?” tebak gadis itu.
Akbar mengangguk. “Dia gak fokus selama rapat. Beberapa kerjaan aja belum selesai. Padahal seharusnya besok udah ada garapan kasarnya.”
“Kok bisa Abang gak fokus?”
Akbar mengedikan bahunya seraya menatap pintu lift yang masih tertutup. Lelaki itu kemudian menghela napas panjang. “Gua kira lo lebih tahu,” ujar Akbar dan melihat Angel sesaat. “Secara lo kan tunangannya.”
Akbar sengaja menekankan kata tersebut. Berharap Angel segera sadar. Kalau bisa dikatakan, Akbar cukup kesal dan gemas sendiri dengan hubungan sahabatnya itu. Akbar tahu seberapa besar Rian mencintai Angel. Begitupun sebaliknya. Tapi, apa pantas membiarkan tubuh dan juga perasaan yang terus tertutup hanya demi kebahagiaan Angel? Yang bahkan gadis itu sendiri tidak begitu paham dengan kondisi Rian sebenarnya. Sosok Angel menurut Akbar terlalu berlebihan bagi seorang perempuan.
Meskipun memiliki 7 tahun kebersamaan yang mungkin tidak bisa dijalani oleh sembarang pasangan, namun membiarkan perasaan sendiri terluka, rasanya sama saja dengan berpisah namun masih mencintai. Akbar yang memang baru tahu jika selama ini Angel lah penyebabnya, jelas tidak bisa diam. 7 tahun penantian Rian untuk menikahi Angel dan menjadikan gadis itu satu-satunya milik Rian selalu tertunda. Dan alasannya adalah gadis ini yang lebih mementingkan pekerjaannya sebagai model.
“Pantes tadi gak mau ngomong sama Angel,” gumam gadis itu kecil. Berharap Akbar tidak mendegarkan ucapannya. Namun sayangnya keadaan lift terlalu sepi untuk Akbar dan Angel saja. Sehingga suara gadis itu masih bisa didengar oleh Akbar.
“Kalau gua jadi Rian, bukan cuman gak mau ngomong sama lo. Kayanya gua udah putusin lo dari lama,” sahut Akbar kesal. Lelaki itu melihat angka pada lift yang sebentar lagi menginjak lantai 2. “Lo harus bersyukur punya pasangan kaya Rian, Ngel. Gak akan ada yang sesabar Rian. Sekalipun lo nemu, hubungan lo gak akan selancar ini.”
Akbar langsung keluar dari lift begitu melihat pintu lift yang terbuka. Meninggalkan Angel yang terdiam di tempat. Mencoba memikirkan ucapan Akbar yang ternyata terasa menusuk hatinya. Apa ia setidak tahu diri itu sampai Akbar saja mengatakan jika ia harus bersyukur memiliki Rian?
***
Angel mengetuk pelan pintu di depannya. Gadis yang masih memakai pakaian yang sama sejak tadi pagi itu menatap lesu pada pintu hitam yang kini ada di depannya. Matanya yang membengkak karena menangis itu terpejam begitu merasakan air hujan yang perlahan membasahi tubuhnya. Angel tertawa kecil merasakannya. Ternyata Tuhan tahu apa yang sedang ia rasakan saat ini.
Kembali mengetuk pintu di depannya, Angel tersenyum setelah mendengar suara dari dalam sana.
“Sebentar!” ujar seseorang yang kini tengah mencoba membuka pintu yang sempat Angel ketuk. Angel tersenyum lebar begitu melihat wanita dengan dress selututnya itu menatapnya dengan mata membelalak. “Angel?! Kenapa lewat belakang? Ayo, masuk. Hujan juga di luar.”
Angel menganggukkan kepalanya. Gadis itu masuk ke dalam rumah besar milik kakak pertamanya. Hal pertama yang Angel lihat adalah seorang anak kecil berusia 1 tahun yang sedang merangkak menuju ke arahnya. Melihat itu Angel mengembangkan senyumnya semakin lebar. Apalagi kala matanya melihat bocah kecil itu tersenyum balik pada Angel dan menunjukkan giginya yang baru muncul beberapa.
“Halo, Nabhan!” sapa Angel seraya melambaikan tangannya. Bayi yang usianya tepat 1 tahun bulan kemarin itu langsung terduduk mendengar sapaan Angel dan menepuk tangannya dengan gembira.
“Mandi dulu, gih. Ganti baju yang ada di kamar Kakak aja. Jangan mandi pake air dingin!” titah Raya—kakak ipar pertama Angel sekaligus istri dari Noah. Perempuan yang memiliki selisih umur 2 tahun dari Angel itu tersenyum saat melihat wajah Angel yang tidak baik-baik saja.
“Ba!” Panggil Nabhan seraya mengangkat tangannya pada Angel yang melewatinya. Raya yang melihat langsung mengangkat sang putra.
“Tantenya mau mandi dulu. Nanti udah mandi baru sama Tante, ya?” ujar Angel yang dijawab dengan senyuman Nabhan. Seolah bocah kecil itu paham dengan apa yang baru saja Angel katakan.
“Mau makan malam sama apa? Kakak belum sempet masak. Mau order makanan aja?” Tawar Raya. Wanita itu membuka lemari yang berada di bawah tangga. Mengambil satu handuk baru dengan warna merah muda, Raya lalu memberikan handuk itu pada Angel. Angel tersenyum kecil melihat handuk kesukaannya yang masih Raya simpan.
“Gak usah, Kak. Aku udah makan di jalan tadi,” jawab Angel dan bergegas menuju kamar mandi yang berada dekat dengan dapur.
Raya sengaja tidak bertanya lagi. Melihat wajah lesu adik iparnya, Raya cukup tahu ada apa dengan gadis itu. Mengambil ponsel yang berada tak jauh dari meja makan, Raya lalu menelepon seseorang. Sepertinya saat ini Angel membutuhkan teman bercerita.
“Halo, A?”
“Iya, Sayang? Kenapa?”
Raya melirik kamar mandi yang Angel baru masuki. Wanita itu menghela napas pelan dan menatap Nabhan yang ingin merebut ponselnya. “Angel lagi di rumah. Aa jangan pulang dulu gak papa?”
“Angel? Ada di rumah?” tanya Noah di seberang sana.
“Iya,” jawab Raya seraya menganggukan kepala. Sekalipun ia tahu Noah tidak akan melihatnya.
“Pa! Pa!” Nabhan menarik ponsel Raya yang berada di telinga kanan wanita itu. Telinga bocah itu tak sengaja mendengar suara sang ayah yang jelas membuat Nabhan ingin mendengarnya lagi.
“Kamu gak papa sendiri di rumah? Itu tadi Nabhan?”
Raya terkekeh pelan melihat Nabhan yang ingin sekali mengambil ponselnya dengan tangan mungil anak itu. “Gak papa, A. Angel juga mau aku suruh nginep aja. Gak papa, kan?”
“Gak papa. Kalau emang ada apa-apa, langsung telepon aku, ya. Mana Nabhan?”
“Ini ada di sini. Mau ngomong sama papa?” tanya Raya pada Nabhan. Seakan anak kecil itu akan paham dengan apa yang dikatakannya.
“PA! PA!” Kali ini Nabhan berteriak. Apalagi saat telepon yang sedang mereka lakukan berubah menjadi panggilan video. Anak kecil itu dengan semangat menepuk-nepuk perutnya kala melihat Noah yang tengah tersenyum di seberang sana seraya melambaikan tangan.
“Ada tante Angel di sana?” tanya Noah pada sang putra yang hanya dibalas dengan tawa riang Nabhan.
“Masih di kantor?” Raya mengerutkan dahinya begitu melihat ruangan yang ada di belakang Noah terasa familiar.
“Iya. Rizal pulang cepet tadi. Besok dia harus ngeliat nenek Seo yoon.”
Raya mengangukkan kepalanya. “Jangan sampe tidur di kantor! Awas aja kalau tidur di sana!” titah Raya yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Noah.
“Papa ya, Ma?”
Raya menunduk begitu merasakan seseorang memeluk kakinya. Wanita itu mengangguk dan berjongkok. Memperlihatkan wajah Noah pada anak pertamanya yang terlihat masih mengantuk.
“Kakak belum tidur?” tanya Noah dengan wajah yang sengaja dibuat seram.
“Udah, kok! Ini ke bangun mau minum. Iya kan, Ma?” Raya tertawa kecil. Ia mengangguk kecil dan menatap Noah yang kini sedang menatap tak percaya pada si sulung.
“Udah tidur, Papa. Dari jam 8,” ucap Raya dan menunjukkan rambut coklat anaknya yang kini terlihat mengembang. Noah tertawa di seberang sana.
Ketiganya masih asik berbicara sampai tak sadar Angel yang sudah selesai mandi dan sedang menatap haru keluarga kecil kakaknya. Angel tak tahu apa yang saat ini dirasakannya. Namun satu hal yang pasti saat melihat keluarga kecil Noah tampak bahagia di depannya. Ia merindukan Riannya.
***
“Tante mau nginep? Mau tidur bareng sama Vina?”
Angel menolehkan kepala. Gadis yang baru selesai berpakaian itu tersenyum melihat bocah lima tahun yang memakai piyama bergambar doraemon itu tengah bertanya padanya. Melepas handuk kecil dari kepalanya, Angel lalu berjongkok. Angel usap kepala Revina—anak pertama Noah—dengan lembut. Mata bulat yang diturunkan istri Noah itu menatap lugu pada Angel.
“Emang cukup kalau Tante tidur sama Vina?” tanya Angel balik.
“Cukup!” Jawab gadis kecil itu yakin. “Kan Papa udah ganti kasur Vina jadi yang gede. Kaya yang dikamar Mama sama Papa.”
“Oh ya? Warna apa?” Angel mengangkat halisnya merespon gadis itu. Wajah Revina yang begitu mirip dengan kakaknya itu membuat Angel gemas. Hidung mancung juga t**i lalat yang sama persis seperti Noah, terkadang membuat Angel melihat bayangan kakaknya saat kecil.
“Iya. Bisa kan tidurnya berdua?”
“Emm… kayanya gak bisa,” jawab Angel seraya mencubit kecil pipi Revina. “Tante mau tidur sendiri. Nanti, kalau Tante nginep lagi di sini, baru tidur bareng sama Revina. Gimana?”
“Yah..” Revina langsung menurunkan bahunya lesu. Gadis itu menatap Angel dengan tatapan kecewa. “Boleh, deh. Tapi sama Om Rian, ya?”
Angel terdiam. Gadis itu menatap wajah Revina yang terlihat kembali antuasias dan bahagia. Angel tidak bisa berjanji pada Revina. Sebab gadis kecil itu selalu ingat apa yang dijanjikan olehnya dan selalu menagih sesuai dengan waktu yang sudah ditentukan. Daya ingat Revina sangat tajam.
“Tante lagi marahan sama Om Rian, ya?” tanya gadis itu. Revina mengangkat tangannya dan menyentuh mata kanan Angel dengan jari telunjuknya yang kecil. “Mata Tante bengkak. Tante nangis, ya? Om Rian galak ya sama Tante? Om Rian gak beliin Tante es krim lagi, ya?”
Angel tertawa mendengar rentetan pertanyaan yang dilontarkan Revina. Angel mengusap pipi Revina dan menarik hidung mancung gadis itu gemas. “Bawel banget, sih!”
“Kata papa, Vina bawel kaya Tante. Berarti Tante juga bawel,” jawab bocah itu dengan santai.
“Eh, papa bilang gitu sama Vina?” Angel membulatkan matanya terkejut. Kesal pada kakak pertamanya yang seenak jidat menyamakan ia dengan Revina. Kalau wajahnya sih, Angel tidak masalah. Tapi ini tingkahnya! Mana ada Angel seperti anak umur 5 tahun?!
“Kakak… tadi Mama suruh apa?”
Angel dan Revina bersamaan menolehkan kepala pada Raya yang sedang bersedekap. Wanita dua anak itu menatap tajam putrinya yang kini menyengir lebar. Meminta maaf dengan menangkupkan kedua tangannya pada Raya, Revina lalu menarik wajah Angel untuk berbisik.
“Tante jangan nangis lagi, ya. Nanti Om Rian sama Vina di marahin. Kaya papa marahin Om Rizal.” Revina lalu menjauhkan wajahnya dan tersenyum lebar pada Angel yang terkekeh kecil. Gadis itu lalu melambai pada Angel seraya berjalan menuju kamarnya. “Selamat malam Mama, Tante.”
Raya menggelengkan kepalanya melihat si sulung yang tampak seperti orang dewasa. Jika berdekatan dengan Angel, Revina memang terlihat seumuran. Entah Angel yang tampak seperti anak kecil, atau anaknya yang terlalu berlagak seperti orang dewasa.
“Makan dulu, yuk!” ajak Raya. Wanita itu tersenyum manis pada Angel dan melambaikan tangannya agar Angel ikut turun ke bawah.
“Aku udah makan malam, Kak,” tolak Angel. Namun kaki gadis itu tak urung melangkah ke bawah bersama dengan Raya.
“Gak papa. Makan dua kali gak akan buat kamu gendut. Kakak udah masak soalnya. Sayang kalau gak dimakan.”
“Kak Noah gak pulang?” Tanya Angel. Menyampirkan handuk kecilnya pada jemuran baju yang berada di halaman belakang dekat dapur, Angel lalu melihat sekeliling yang tampak rapi.
“Gak, kayanya. Kakak kamu kan kalau Kak Rizal berangkat, kantor adalah rumah,” jawab Raya. Piring putih Raya berikan pada Angel. Tak lupa Raya tuangkan nasi dan lauk pauk yang sengaja ia buat.
“Iya, sih. Mirip banget sama papa mama. Padahal janjinya dulu gak akan kaya papa sama mama.”
Raya terkekeh pelan. “Selama gak ganggu kesehatan dan masih tahu rumah yang sebenarnya, Kakak sih gak papa.”
Angel mengangguk setuju. “Kak Noah itu sama banget kaya Rian. Gak bisa kalau liat kerjaan numpuk. Apalagi kalau adiknya gak bantuin. Udah kaya—“ Angel menghentikan ucapannya. Gadis itu seketika tersadar siapa yang baru saja ia bicarakan. Tangannya yang hendak mengambil minum langsung terhenti. Angel menatap Raya yang tampak biasa saja dan langsung duduk di meja makan.
“Udah kaya apa? Kaya zombie?” tanya wanita itu santai. Wajahnya mendongak dengan halis yang terangkat. Menatap Angel yang tampak akan menangis. “Eh, kenapa, Ngel? Pusing kepalanya? Demam? Atau jatuh waktu ke sini?”
Angel menggelengkan kepalanya. “Angel kangen Rian.”