Jam di dinding terus bergerak maju. Malam semakin larut dan udara semakin dingin. Jarum pendeknya bahkan sudah menunjukan pukul 12 tepat dengan jarum panjang mengarah pada angka 4. Meski begitu, Rian yang merasa dirinya sudah lebih baik masih menatap laptop. Dengan tangan yang sesekali mengambil map yang menumpuk di mejanya.
Setelah beristirahat kurang lebih 3 jam, Rian merasa tubuhnya sudah lebih sehat. Walau kenyataannya tidak seperti itu. Karena pada kenyataanya tubuh Rian semakin melemah dan panas di tubuhnya semakin menguat. Hanya saja Rian tahan dan berfikir jika memang hari ini udara terasa lebih dingin. Sehingga suhu tubuhnya meningkat agar menyeimbangkan kondisi. Rian sendiri tidak tahu mendapat teori seperti itu dari mana. Yang pasti, itu sedikit membantu pikirannya lebih terbuka.
“Yan, gua masuk ya,” ucap Akbar yang berada di belakang pintu. Rian tidak menjawab dan sibuk membereskan pekerjaannya yang mulai berangsur selesai.
“Data yang dikirim Bu Eni mana? Dia bilang datanya dikirim ke lo tadi siang. Mana?” tanya Rian seraya menangkat telapak tangannya. Meminta flashdisk yang ada pada Akbar.
“Udah jam dua belas lewat, Ri. Kagak mau pulang?” Akbar memberikan flashdisk merah yang memiliki namanya pada Rian. Rian tidak menjawab pertanyaan Akbar. Lelaki itu tersenyum ramah pada Akbar sebagai ucapan terima kasihnya.
“Besok jadwal gue apa aja?” Rian mengambil map baru dari atas meja. Membukanya, Rian lalu menggerakan mouse komputer yang berada di sebelah kanan. Matanya dengan lincah bergerak memeriksa dokumen di atas map dengan yang ada di layar laptopnya. Tak kunjung mendengar suara Akbar yang memberitahukan jadwalnya, Rian lantas mendongak dan menatap Akbar dengan halis terangkat.
Akbar yang melihatnya hanya bisa menghela napas panjang. Lelaki itu mengambil ponsel di saku jasnya dan mulai mencari catatan jadwal Rian. Lelaki itu melirik sedikit pada Rian yang masih sibuk dengan pekerjaannya.
“Jadwal lo…” Akbar menatap ponselnya dan menatap Rian secara bergantian. “Lo besok harusnya kosong.”
“Lah? Kosong kenapa?”
“Besok hari jadi lo sama Angel,” ucap Akbar yang mengingatkan Rian pada hal yang lelaki itu lupakan tanpa sadar.
Tangan Rian yang sejak tadi asik mengatur mouse dan mengetik di atas keyboard itu langsung terhenti mendengar ucapan Akbar. Lelaki itu lalu melirik jam yang beberapa menit lagi menunjukkan pukul setengah satu. Rian mengusap wajahnya kasar. Bisa-bisanya ia melupakan hari penting yang mana menjadi awal ia dan Angel bisa bersama seperti sekarang.
“Terus? Gimana sama jadwal sekarang yang ke ganggu tadi?”
Akbar menganggukkan kepalanya kecil. “Maka dari itu, lo besok gagal kosong. Kemungkinan jadwal lo besok padet banget. jam 8 rapat pagi, setengah 10 pertemuan di restoran, jam 12—“
“Pertemuan di restoran?” potong Rian dan menatap Akbar dengan dahi mengerut dalam.
“Iya. Seharusnya hari ini jam 3 sore tadi. Tapi lo tidur. Gua gak enak buat bangunin,” jawab Akbar. “Jam 1 pertemuan dengan Pak Geo di gedung 19. Jam setengah 3 rapat—“
“Rapat lagi?”
“Kan tadi lo bilang mau kasih hasilnya besok. Mau diundur aja?” Rian menepuk keningnya. Itu akibat dari kelalaiannya. Bisa-bsianya ia menjanjikan akan memberi hasilnya besok? Atau mungkin hitungan waktunya hari ini? Rian benar-benar sudah gila!
“Gak usah. Habis itu ngapain?” tanya Rian. Akbar mengangguk dan kembali membacakan rentetan pekerjaan besok pada Rian. Rian menghela napas kasar mendengar semua pekerjaannya yang baru selesai pukul 9 malam. Mengurut keningnya sebentar, Rian menatap Akbar yang kini tampak lelah dan terlihat membutuhkan tidur.
“Lo pulang aja,” titah Rian. Bukan bermaksud mengusir. Ia hanya tidak tega melihat mata Akbar yang kini terlihat seperti akan menutup. Hanya tersisa beberapa persen saja dari tubuhnya yang lelah itu. Dan Rian masih waras jika harus menggunakan Akbar dalama waktu yang sama dengannya. Ia sendiri, sih sudah tertidur tadi. Sedangkan Akbar jelas mengurus semua pekerajaannya selama ia tertidur dan Rian tidak mungkin tetap meminta lelaki itu ada di kantor, kan?
“Gak papa, Yan. Gua masih bisa di sini. Lagain café udah ada yang handel.”
“Bodo amat gua sama café lo. Gua nyuruh lo pulang karena lihat mata lo yang udah mau mati sebentar lagi. Dikit banget lagi kebukanya.”
Akbar rerleks memegang matanya dan terkekeh pelan. “Malam kemarin gua lupa tidur. Asik di café. Makanya sekarang gua kaya yang ngantuk.”
“Bukan kaya lagi! Emang ngantuk dodol!”
Akbar tertawa. Lelaki itu lalu mengangkat ibu jarinya pada Rian. “Gak papa gua pulang beneran?”
“Iya,” jawab Rian dan mengibaskan tangannya pada Akbar agar lelaki itu segera pergi dari hadapannya.
“Padahal gak harus diusir juga gua bisa pulang,” gerutu Akbar dan berbalik untuk pergi. Lelaki itu melirik Rian dari pantulan kaca sesaat. Wajah Rian juga terlihat lelah sama sepertinya. Tapi Rian hanya meminta ia yang pulang? Memang si gila pekerjaan jika sudah menumpuk. Sudah jelas wajah yang pucat dan hidung yang sedikit memerah pertanda jika lelaki itu sedang tidak sehat. Rian sedang demam.
Meski begitu, rasanya percuma memberitahukan hal yang tidak penting pada Rian. Yang ada Rian bukannya berhenti bekerja, lelaki itu mungkin akan semakin lama menyelesaikan semuanya dan terus bergadang di dalam kantor. Akbar menutup pintu setelah benar-benar keluar dari ruangan Rian. Meninggalkan Rian yang langsung mengurut hidungnya karena kembali merasakan pening luar biasa.
“Ada 5 map lagi. Semoga selesai, dah,” gumam Rian dan mengambil map baru. Lelaki itu menutup matanya sesaat kala rasa pusing yang menjalar semakin kuat. Di sela-sela kegiataannya menghilangkan rasa pusing, telepon kantor berdering keras. Membuat Rian mengangkatnya dan langsung menempelkan barang itu pada telinga kanannya.
“Halo?”
“Lo lagi di mana?” tanya seseorang di sebrang sana. Rian hapal dengan suara ini. ini adalah suara adik kembarnya.
“Gua lagi di kantor. Kenapa?” Rian membuka matanya dan menatap jam yang tepat menunjukkan pukul setengah satu malam.
“Lo pulang gak malam ini?” tanya Gean dengan suara yang tampak seperti bangun tidur.
“Gak tahu. Kerjaan gua masih banyak.” Rian menggeletakkan teelpon itu di atas meja dan kembali memeriksa dokumen yang ada. Tak lupa lelaki itu menekan tombol speaker.
“Kalau mau pulang kabarin, ya. Gua ada di lantai dua soalnya. Pak Satpam juga udah pulang.”
“Gua balik ke apatemen aja.”
“Gak papa?”
“Hem.. udah dulu. Gua masih banyak kerjaan.”
“Kenapa hape lo mati? Mama tanyain lo terus ke gua. Lo bales dulu, deh mendingan. Kasian kalau sampe gak tidur nungguin lo bales.”
“Lo aja yang kasih tahu. Lo juga udah tahu gua ada di kantor, kan?” ucap Rian malas.
“Mama bukan nanyain kabar lo doang. Udah, lo bales aja nanti. Gua tutup.”
Rian mendengkus sebal. Tak ingin diganggu dan merasa jika pesan sang mama bukanlah hal yang penting saat ini, Rian menyimpan kembali telepon kantor pada tempatnya sebelum fokus pada pekerjaannya yang menumpuk.
***
3 jam.
Tiga jam Rian baru bisa menyelesaikan semua pekerjaannya. Lelaki yang tengah meregangkan otot tangannya itu menguap kala rasa kantuk datang. Matanya melirik kecil jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul setengah 4. Menggerakkan lehernya guna melemaskan otot, Rian lalu bangkit dari kursi. Mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja kerja, Rian langsung merebahkan tubuhnya di atas sofa.
Mengucek sebentar matanya, Rian mulai menata bantal sofa agar kepalanya tidak sakit. Rian memeriksa ponselnya begitu tubuhnya merasa nyaman. Lelaki itu membuka w******p. Mencoba membuka pesan-pesan yang mungkin saja belum Rian buka sejak sore tadi. Matanya melihat beberapa pesan dari keluarganya dan juga para temannya. Namun satu nama yang cukup membuat dahi Rian mengeryit adalah nama Angel. Yang mana sudah beberapa kali mengirimnya pesan juga meneleponnya. Sepertinya gadis itu ingat hari ini adalah hari jadi mereka.
Angel : Abang, selamat hari jadi!
Angel : Maafin Angel yang sering buat salah. Yang sering buat Abang kesusahan. Yang sifatnya kaya anak kecil. Maafin, ya?
Angel : Abang jangan lupa makan. Jangan keseringan diem di kantor. Tidur yang cukup. Jangan mikir yang berat-berat. Kasian kepala Abang kalau mikirnya yang berat mulu.
Angel : Oh iya, harapan Angel tahun ini… semoga Abang sehat selalu. Dan semoga kita makin langgeng kaya yang lain, hihih…
Angel : Abang?
Angel : Abang udah tidur, ya? Abang lupa?
5 panggilan video dan 6 panggilan tidak terjawab.
Rian mengusap layar ponselnya dengan jari telunjuk. Keluar dari ruang obrolannya dengan Angel. Pesan-pesan selanjutnya yang Angel kirimkan tidak Rian baca kembali. Lelaki itu memilih menutup matanya seraya tertawa miris.
“Harapan tahun ini? Haha.. sehat? Bukan nikah, ya?” gumam Rian dengan tawa mirisnya yang mengudara. Mencoba mengabaikan pesan dari Angel, Rian memilih membuka pesan lainnya. Beberapa menanyakan tentang keadaaanya dan juga meminta untuk berkumpul. Seperti Agung, Simon, Carrel, Viona dan yang lain. Sedangkan pesan dari Gean memintanya untuk melihat pesan dari sang mama. Merasa penasaran, Rian lalu membuka pesan yang berada di urutan kesembilan dairi pesannya yang lain.
Mama : Abang, kok hapenya mati? Mama mau hubungin Abang juga.
Rian tersenyum melihat pesan pertama yang mamanya kirimkan.
Mama : Abang sehat? Kenapa gak pulang ke rumah? Abang sama Angel baik-baik aja, kan?
Rian menggelengkan kepalanya pelan. “Nggak, Ma. Kita gak baik-baik aja,” jawabnya seraya menghela napas pelan.
Mama : Abang, gaun Angel udah jadi. Jas Abang juga. Jadi bulan depan, kan? Mama besok pagi kirim ke rumah Angel langsung, ya? Biar sama Angel dicoba dulu. Takut gak muat.
Mata Rian membulat melihat pesan terakhir sang mama. Rian yang semula berbaring langsung terduduk dan melihat kembali pesan yang baru saja ia baca. Besok? Itu artinya hari ini, kan?
“Gawat! Mana lupa belum bilang sama mama kalau bulan depan gak jadi!”
Rian bergegas bangkit dan mengambil jasnya yang berada di atas sofa. Memakainya dan mengambil kunci mobil yang tergeletak, Rian segera pergi. Gaun itu tidak boleh sampai di rumah Angel pagi ini!
Jelas Rian tidak ingin hal itu terjadi, karena bisa memicu kesalah-pahaman antara ia dan keluarga Angel. Apalagi jika kakak kedua Angel mengetahui tentang gaun itu. Rian bisa dalam bahaya. Rian tidak mungkin mengatakan jika ia belum memberitahu kedua orang tuanya tentang kemunduran tanggal pernikahan, kan? Menyugar rambutnya ke belakang, Rian berusaha menelepon sang mama. Ia akan menjelaskannya secara lengkap kepada wanita itu setelah masalah gaun selesai. Yang terpenting saat ini adalah, gaun itu tidak boleh sampai di rumah Angel hari ini!
Sedangkan sang pelaku yang sudah mengirimkan pesan tentang gaun, sedang sibuk di dapur dan memasak beberapa makanan. Suara telepon berdering yang berada di kamar tidak terdengar sama sekali. Membuat telepon Rian yang berusaha tersambung kembali dibalas oleh operator.
“Ck! Kenapa gak dari selamam gua liatnya, sih?!” gerutu lelaki itu untuk dirinya sendiri. Memasuki mobil hitamnya, Rian segera pergi menuju butik sang mama. Ia tidak boleh kalah cepat dengan pengirim gaun sang mama. Pasalnya, orang yang biasa mengirim gaun buatan sang mama akan tiba dari jam 4 pagi.
Hal itu dilakukan agar gaun yang mamanya buat tidak rusak kala dimasukkan ke dalam mobil. Apalagi ini adalah gaun untuk Angel yang memang mamanya sendiri desain dan jahit langsung. Salah sedikit atau terlipat ujungnya saja, mamanya pasti akan marah besar. Rian tidak boleh membuang waktu. Meskipun ia tahu jarak kantor dengan butik sang mama bisa memakan waktu sampai 45 menit lamanya.
Rian berdecak saat melihat lampu merah di depan sana. Memberi klakson beberapa kali untuk memastikan ada kendaraan lain yang akan lewat atau tidak. Rian lalu menginjak gas sekencang yang ia bisa. Menerobos lampu merah dan melewati jalan yang masih sepi. Namun, saat berada di tengah-tengah, mata Rian membelalak melihat seorang pria menyebrang jalan. Rian langsung berganti menginjak rem dan memejamkan matanya takut.
Suara decitan antara ban mobil dengan aspal terdengar sangat keras. Sampai-sampai memenuhi jalanan yang sepi. Bahkan ada asap yang keluar dari gesekan ban mobil Rian. Lelaki itu hanya bisa merapal doa agar orang di depan sana tidak meninggal karenanya. Beruntungnya, Rian masih bisa membelokkan stir dan membuat mobilnya menghadap ke samping. Tidak mengenai pria itu sama sekali.
Rian menghela napas lega. Ia segera keluar dari mobil dan melihat pria itu yang sedang memegangi dadanya. Terkejut dengan apa yang baru saja terjadi.
“Bapak gak papa?” Tanya Rian seraya membantu pria itu berdiri dengan benar.
“Kamu mau mati, hah?! Saya masih mau hidup! Belum sholat subuh saya! Masih banyak dosa! Kalau mau mati, sana sendiri! Jangan bawa orang!” Marah pria itu seraya melepaskan tangan Rian dan berjalan cepat menuju ujung jalan.
Rian menghela napas dan menyugar rambutnya ke belakang. Sialan! Hampir saja ia membunuh orang.