“Pak, jangan dibawa dulu!”
Pria yang akan meninggalkan butik itu dengan cepat menghentikan laju mobilnya dan melihat keluar. Melihat siapa yang baru saja memanggilnya. Kepalanya menoleh pada seorang lelaki dengan piyamanya itu tengah memegang lutut dan mengatur napas. Sesaat, pria itu berfikir sebelum sadar jika lelaki itu adalah anak dari pemilik butik di belakangnya. Segera pria itu turun dari mobil dan berjalan menuju lelaki tadi.
“Nak Gean, ya?” tebak pria itu seraya memegang bahu Gean. Membantu lelaki itu berdiri dengan benar.
“Jangan.. Hah, jangan dibawa dulu gaunnya, Pak,” ujar Gean dengan suara yang terputus-putus karena berlari. Lelaki itu lalu duduk di tanah dengan kepala yang menengadah ke atas. Melihat langit yang perlahan mulai terang dengan sinar matahari.
“Tapi, Bu Riana meminta saya—“
“Tadi mama kasih tahu sama saya, Pak. Katanya jangan dibawa dulu. Ada yang kurang dan belum dipasang,” potong Gean dan menatap pria itu dengan wajah lelahnya. Lelaki itu lalu menunjuk mobil yang ada di depannya.
“Oalah. Pantas dari tadi saya ragu buat bawa gaunnya.”
Gean mengangguk malas. “Bapak bisa pulang. Nanti saya yang beresin mobilnya.”
“Eh, gak papa, Mas Gean?” Gean mengangguk lagi. Gean mengibaskan tangannya di depan pria itu.
“Gak papa, Pak. Makasih, ya..”
Pria itu lalu mengangguk dan berjalan pergi. Beberapa kali melihat ke arah Gean yang tersenyum lebar dan mengangguk. Mengambil motor matic yang terparkir di depan butik, pria itu lalu menunduk sebentar pada Gean sebelum benar-benar pergi. Gean yang melihat pria itu sudah pergi langsung menghela napas lega. Menopang tubuhnya dengan menggunakan tangan, Gean melihat sebuah mobil yang baru saja tiba. Lelaki itu mendengkus. Itu pasti Rian.
“Pak! Jangan dibawa dulu, Pak!” Teriak Rian seraya turun dari mobil. Kakak lelakinya itu tampak tak melihat ke arah Gean dan berlari menuju mobil pick up di depan Gean. Rian membuka pintu mobil dan membulatkan mata kala melihat kursi kemudi yang kosong. Berlari untuk melihat isi dalam mobil, tubuh Rian berhenti begitu melihat Gean yang menatapnya datar. Sejak kapan ada Gean di sana?
“Lo ngapain di sini?” tanya Rian seraya mendekat.
Gean memutar bola matanya malas. “Ke notice juga akhirnya,” lirih lelaki itu dan bangkit. Tangannya menepuk celananya yang terasa kotor. “Lo sendiri ngapain ke sini?”
“Ya.. gua itu..” Rian melihat ke arah lain kala Gean menatapnya dengan tajam.
“Bersyukur Fera bilang sama gua kalau lo gak jadi nikah bulan depan. Kalau nggak, udah gak ada lagi alesan lo buat tolak acara Angel di Paris.” Gean menghela napas panjang. Lelaki itu menatap Rian yang masih diam di tempat. Berjalan menuju sang kakak, Gean bisa melihat Rian yang menghela napas panjang.
“Makasih, Ge. Gua gak tahu—“
“Lo jangan b**o karena cewek, Yan.” Gean sengaja memotong ucapan Rian. Menatap Rian dengan kedua matanya yang tercipta tajam, Gean menepuk bahu sang kakak dengan keras. “Apa yang mau lo jadiin alasan lagi ke mama? Gak capek lo bohong terus sama mama?”
Rian menarik napas. “Gua gak pernah bohong sama mama.”
Gean mengangkat halisnya. “Oh ya?” Lelaki itu terkekeh pelan. “Terus, yang lo bilang ada kunjungan ke Amerika tahun lalu itu tentang apa? Atau seminar di Bali itu juga apa? Besok mau bilang apa sama mama? Mau bilang kalau lo ada urusan kantor di Paris?”
Rian mengangkat kepalanya dan menatap Gean dengan dingin. “Lo gak perlu tahu apa yang gua bilang sama mama,” desis Rian.
Gean berdecih pelan. “Kalau gua yang jadi kakak Angel, udah gua nikahin lo berdua di KUA. Terserah lo berdua mau jalaninnya apa nggak. Lo gak capek ngorbanin diri lo sendiri? Demi Angel? Kalau Fera yang ada di posisi Angel, udah dari lama dia milih putus dari pada biarin gua sakit sendirian. Lo—“
“Gua gak minta pendapat lo sama sekali. Gua juga gak pernah minta lo ada di posisi gua.”
Gean mengangguk. Lelaki itu menyugar rambutnya ke belakang. Gean sandarkan tangannya pada mobil pick up di sebelahnya. Matanya masih menatap Rian. Namun kali ini menelisik lelaki itu dari kepala sampai bawah. Menggelengkan kepalanya sebentar, Gean tahu jika kakak lelakinya itu belum pulang dari kantor.
“Lo sadar gak hidup lo berubah? Bahagia lo bukan cuman tentang Angel!” Gemas Gean. “Mau terus kaya gini?”
Rian mengeraskan rahangnya. “Lo gak tahu apa-apa tentang Angel!”
“Lo yang b**o gara-gara Angel! s**t! Emosi gua jadinya pagi-pagi. Dahlah, terserah lo mau gimana. Yang jelas, hidup lo gak akan setenang dulu selama lo masih tutupin perasaan lo.”
Rian diam. Lelaki itu tidak menjawab ucapan sang adik. Matanya menatap Gean yang berjalan menjauh. Rian yakin apa yang Gean ucapkan bukan hanya kemarahan semata. Gean memang sedikit tempramental dan sulit untuk dibuat mengerti. Namun apa yang dikatakan lelaki itu selalu benar adanya dan keluar langsung dari hati.
Berbanding terbalik dengan Rian yang selau menutup apapun yang sedang dirasakannya. Gean lebih mengarah ke sosok ekstrovert. Lelaki itu mudah mengungkapkan apa yang dirasakannya. Gean bahkan tidak peduli jika orang-orang akan membencinya dan tidak menyukai perangainya. Menurut Gean, apa yang dilakukannya selama benar dan tidak menyalahi aturan agama, artinya ia masih berada dalam zona yang benar. Sekalipun membuat orang yang berbicara dengannya menangis.
Keras, pemarah, tidak peduli, dan berkata jujur adalah sikap Gean. Dan kebalikan dari sikap itu adalah sikap Rian. Keduanya memang lahir dari rahim yang sama dan lahir pada tanggal dan hari yang sama. Sayangnya kepribadian keduanya bertolak belakang.
Penurut, ramah, baik dan sangat peduli adalah sikap Rian. Sosok yang menjadi kakak dan merasa harus menjadi contoh bagi Gean, adalah keyakinan Rian sejak kecil. Akan tetapi, Gean memiliki wataknya tersendiri, sehingga lelaki itu tidak melihat sikap Rian sama sekali dan bersikap acuh atas apa yang diajarkan Rian selama mereka masih kecil. Karena menurut Gean, apapun yang menurutnya nyaman dan bisa membuat hatinya tenang, maka itu adalah kebahagiaannya.
Gean hidup tanpa kepura-puraan. Saat lelaki itu tidak suka, maka akan mengatakan yang sebenarnya. Dan saat menyukai sesuatu, Gean akan mengungkapkannya dengan caranya sendiri. Sedangkan Rian hidup dengan pandangan dan juga kebahagiaan orang. Lelaki itu percaya jika orang lain bahagia karenanya maka ia pun akan merasakan kebahagiaan itu. Memang konsep dan kepercayaan yang Rian miliki tidak salah. Tapi apa yang menjadi sisi bahagianya adalah hal yang salah. Karena dalam kenyataannya Rian sama sekali tidak merasa bahagia ketika harus merelakan pernikahannya yang kembali tertunda.
“Ah, makin mumet kan otak gue!”
***
“Tante Angel! Bangun!”
Angel mengerang kecil. Menarik napas panjang seraya merenggangkan otot tangannya, Angel kemudian membuka mata. Melihat siapa yang baru saja berteriak di depan wajahnya. Kala netranya melihat Revina yang sedang tersenyum lebar ke arahnya seraya mengangkat sebuah handuk, membuat Angel ikut tersenyum. Angel mengambil bantal di sampingnya dan kembali memejamkan mata setelah menempatkan bantal itu di atas telinganya.
“Tante Angel! Ayo, bangun! Mama udah nungguin Tante Angel!” Teriak gadis itu lagi. Kali ini dengan tangan yang menarik rambut coklat Angel. Membuat sang empunya meringis kesakitan.
“Awh! Jangan ditarik, Vin!” ringis Angel dan membuka matanya. Angel melepaskan tangan Revina dan duduk di atas kasur. Ia menatap Revina tajam. Alih-alih merasa takut, Revina justru mendengkus dan menatap Angel tak kalah tajam. “Kamu tau dari mana tarik rambut orang? Gak boleh, tau!”
Revina mengedikan bahunya acuh. “Nabhan aja kalau bangun Vina narik rambut,” jawab gadis itu polos.
“Itu kan karena Nabhan belum tahu! Kamu gak boleh kaya gitu!” peringat Angel seraya menarik handuk yang Revina pegang.
“Iya, Tante. Maafin Vina. Sekarang Tante cepetan mandi. Kata mama, Tante anterin Revina ke TK.”
“Eh? Kok Tante?”
Angel menatap Revina yang mengedikan bahunya acuh. “Mana Vina tahu. Coba Tante tanya nanti sama mama.”
Angel menghel napas. “Ya udah, sana. Tante mau mandi dulu.”
Revina memicingkan matanya pada Angel. Gadis itu seolah mencurigai sesuatu dari Angel. Bahkan hidungnya bergerak seperti sedang mencium sesuatu. “Tante beneran marahan sama Om Rian, ya?”
Mata Angel membulat. “Kamu masih kecil udah kepo urusan orang. Emang tahu marahan kaya apa?”
Revina mengangguk sombong. “Tau! Kaya mama sama papa yang tiba-tiba aja diem. Gak mau ngomong bareng-bareng lagi. Gak peluk-pelukan kalau di dapur. Tante juga, kan?”
Angel menahan tawanya mendengar pengakuan polos dari Revina. “Kamu liat mama sama papa kamu marahan?”
“Iya.” Revina mengangguk polos. Gadis kecil dengan seragam berwarna biru muda dan rompi kotak-kotak biru tuanya itu menaiki kasur Angel. Bersiap untuk bercerita pada sang tante. “Waktu marahan, mama gak mau tungguin papa sampe malam. Mama juga gak temenin papa makan malam.”
Angel mengulum bibirnya menahan tawa. “Terus?”
“Terus, besoknya papa minta maaf sama mama. Meluk mama di dapur sambil bilang maaf. Pas Vina tanya, papa langsung diem terus duduk di depan Vina.”
Angel terkekeh kecil. “Papa malu kali sama Vina,” ujar Angel yang dijawab dengan anggukan kecil oleh Revina.
“Kalau Tante sama Om Rian marahan, sama kaya mama apa beda?”
Angel terdiam. Bertengkar dengan Rian saja bisa dihitung dengan jari. Ia dan Rian adalah jenis hubungan yang paling diidamkan kebanyakan orang. Dengan Rian yang senantiasa berada di sampingnya bagaimanapun caranya, Angel benar-benar berharap lelaki itu selalu ada. Dan ia yang selalu mencari bahan permasalahan tidak pernah membuat Rian merasa marah. Kecuali kemarin.
Ah, mengingat sikap Rian kemarin, membuat Angel sedih. Lelaki itu bahkan tidak menjawab pesannya dan hanya membaca. Itupun pukul setengah 4 pagi. Angel tahu apa yang sebenarnya sedang menjadi masalah bagi Rian. Dan Angel jelas tahu apa yang harus ia lakukan agar lelaki itu bisa kembali tenang. Sayangnya Angel terlalu takut menemui Rian lagi setelah kejadian kemarin. Angel takut Rian akan semakin marah saat tahu ia membujuk Rian dengan cara menolak tawaran ke Paris bulan depan.
Meski marah sampai mengacuhkannya seperti sekarang, Rian tetap tidak akan mengubah keputusannya untuk tetap memberangkatkan Angel ke Paris bulan depan. Walau Angel bisa jujur jika ia akan menolak tawaran itu dan memilih menikah dengan Rian, nyatanya hal itu tetap tidak akan berakhir baik. Karena pada akhirnya Rian akan menyalahkan driinya sendiri karena Angel tidak jadi berangkat. Dan berakhir Angel yang berangkat.
Angel hapal dengan kebiasaan hubungannya dan Rian. Dan entah mengapa, itu terasa menyulitkan keduanya. Angel berharap Rian tidak memendam semuanya sendiri. Ia ada untuk membantu Rian dan ia bersama lelaki itu sampai sekarang karena percaya jika Rian akan terbuka padanya tentang segala sesuatu. Namun sayangnya lelaki itu tidak kunjung mengatakan apa yang dirasakannya selama bersama Angel. Semuanya Rian lakukan hanya untuknya semata. Bukan untuk kebaikan keduanya.
“Tante kok nangis?”
Angel mengedipkan matanya dan mengusap pipinya saat terasa air matanya mengalir. “Ah, ini tadi kelilipan. Vina tunggu di bawah aja. Tante mau mandi dulu.”
Revina tersenyum lalu turun dari atas kasur. Gadis kecil itu keluar dari kamar Angel dengan lambaian tangannya yang khas. Menutup pintu dengan susah payah, Revina benar-benar menghilang setelah suara pintu tertutup terdengar. Meninggalkan Angel yang terdiam dengan air mata yang semakin deras.
“Eh, kok malah makin nangis, sih?!” Angel buru-buru menghapus air matanya dan bergegas bangkit. Namun saat akan berdiri dengan tegak, Angel rasakan kepalanya berputar. Segera Angel memegang meja rias dan berpegangan pada tiang ranjang. Matanya menutup, berusaha meredakan pusing yang menjalar.
“Ini lagi! Pusing pagi-pagi!” Gerutu gadis itu dengan tangan yang mulai memegang kepala. “Sekarang kan..”
Angel segera membuka matanya dan menoleh ke belakang begitu ingat hari ini hari apa dan tanggal berapa. Ia menghela napas lega melihat kasur yang masih bersih. Namun, baru akan merasa bebas, sesuatu mengalir dari bawah tubuhnya. Membuat Angel buru-buru melihat ke arah meja rias dan membalikkan tubuhnya. Mulutnya terbuka melihat noda darah di belakang celananya yang mulai banyak.
“Pantesan baper banget dari kemaren!”
Angel memegang meja rias dan menunduk lesu. Apa harus hari baiknya dimulai dengan tamu bulanan yang selalu membuat hormonnya meningkat?! Angel benar-benar tidak ingin merusak hari ini. Setidaknya untuk hari ini. Angel ingin membuat semua kesalahannya yang lalu selesai hari ini dan kembali menjadi pasangan serasi dengan Rian. Hanya itu saja. Tapi tamu tak diundang ini cukup menguras emosi Angel.
“Hormon, jangan buat Angel jadi kaya anak kecil, ya. Angel mau minta maaf sama Rian hari ini,” monolognya seraya mengusap perutnya yang terasa sedikit nyeri.
“Hari ini aja. Angel mau baikan sama Rian. Ya?”