Ke - 11 (Mencoba memahami)

2091 Kata
Angel menatap kosong ke depan. Wajahnya yang terlihat pucat karena belum memakai riasan itu menghadap ke arah Nabhan yang asik memukul meja-meja di depannya. Angel tampak tidak semangat dengan hidangan di depannya. Gadis yang kini memakai kemeja Raya itu menghela napas panjang. Mulai memotong roti di piringnya, Angel memakan sarapannya dengan kunyahan pelan. “Tante gak suka roti buatan Mama, ya?” tanya Revina yang kini duduk di samping Angel. Gadis kecil itu mendongak dan menatap Angel yang sama sekali tidak mendengarkan ucapannya. “Tante!” “Eh, hah? Iya? Kenapa?” Angel menatap bingung pada Revina yang baru saja berteriak memanggilnya. “Vina, jangan teriak di meja makan. Inget kan apa yang Papa kasih tahu?” Raya membuka suaranya. Wanita itu menatap tajam pada Revina yang kini menunduk merasa bersalah. “Kamu kenapa, Ngel? Nyeri perutnya?” Angel buru-buru menggeleng. “Gak, Kak. Oh iya, Revina masuk jam berapa?” “Jam 8. Maaf ya, Ngel. Jadi ngerepotin kamu. Kakak gak tahu kalau sekarang jadwal periksa Nabhan ke puskesmas.” “Gak papa, Kak. Sekalian mau ke butik juga. Kebetulan deket sama TK Revina juga.” Raya mengangguk kecil. Wanita itu mengambil tisu yang berada di depannya sebelum mengusap bibir Nabhan yang tampak berantakan. Anak bungsunya itu sedang asik mengunyah biskuit yang memang khusus untuk Nabhan. “Ma, Kakak ambil tasnya dulu, ya!” Revina yang selesai dengan sarapannya langsung turun dari kursi dan berlari menuju kamarnya sendiri. Meninggalkan Raya dan Angel yang menatap kepergian gadis kecil itu. “Jangan terlalu dipikirin. Rian pasti butuh waktu aja. Dia lelaki baik, Ngel,” ujar Raya setelah melihat Revina yang menghilang dari balik tangga. Wanita itu tersenyum kala Angel menatapnya. Raya tahu apa yang sudah membuat Angel tampak tak bersemangat sepagi ini. Ia juga sudah tahu semua yang terjadi setelah Angel menceritakan apa yang dirasakan gadis itu padanya semalam. Beruntungnya Noah tidak pulang sesuai dengan apa yang Raya ucapkan pada lelaki itu. Karena biasanya Angel akan memilih memendam begitu tahu jika Noah ada di rumah dan sedang bersama dengan Raya. Angel juga tidak akan begitu leluasa ketika tahu Noah sedang memperhatikannya. Sebab, Noah terkadang terlalu kepo sebagai lelaki. Walau apa yang dijadikan rasa penasarannya cukup beralasan, tetap saja rasanya tidak nyaman. Apalagi itu semua tentang Rian. “Aku takut Rian marah kaya kemarin, Kak.” Raya menggelengkan kepalanya. “Kalaupun marah, itu lebih bagus, kan? Seenggaknya dia gak tahan semuanya sendirian lagi. Itukan yang Angel mau?” Terdiam sesaat. Angel nampak berfikir. Apa benar itu yang ia mau? Apa benar itu juga yang diinginkannya saat ini? Tapi kenapa rasanya Angel ragu? Kenapa rasanya Angel takut jika ternyata kejujuran lelaki itu mungkin akan sedikit membuat Angel mundur? Atau bagaimana jika ternyata apa yang Angel dengar langsung dari Rian membuatnya membenci Rian? Atau bagaimana— “Makin kamu ngerasa takut, masalah bisa makin besar loh, Ngel.” Raya memotong roti di piring Angel dan menuangkan s**u putih pada gelas gadis itu. Raya tersenyum saat Angel menatapnya dengan lemah. “Kadang, apa yang kita pikirin masalah besar, ternyata itu cuma masalah kecil yang bisa diselesaikan hanya dengan bicara. Tapi, ada juga masalah kecil yang dibiarin bisa jadi masalah besar saat meledak. Dan itu yang lebih bahaya.” “Kaya Rian ya, Kak?” tanya Angel sendu. “Mungkin iya. Mungkin nggak.” “Tapi Rian udah terlalu banyak diem dan ngalah.” “Itu bisa jadi karena dia gak bisa tolak apa yang kamu mau. Kadang juga, masalah bisa muncul karena kita yang terlalu sayang sama pasangan.” Angel mengernyitkan keningnya bingung. “Bukannya itu lebih baik, ya?” “Apa?” “Sayang sama pasangan.” Raya mengangguk. “Emang baik. Tapi harus ada batasannya.” “Batasan?” Beo Angel. “Batasan di mana kamu juga harus menghargai pendapat kamu. Gak semua pendapat tentang pasangan atau keputusan tentang orang yang kamu sayang selalu benar.” Raya menggenggam tangan Angel. “Semua yang jadi keputusan itu harus dari persetujuan kedua belah pihak. Harus sama-sama setuju dan mau berpendapat. Bukan hanya menerima dan memendam.” Angel menunduk dalam. “Tapi, Kak. Kadang, Angel terlalu sungkan untuk nolak. Angel takut kalau Angel nolak bakal buat hubungan Angel sama Rian renggang.” “Itu juga yang Rian rasain.” Raya menghela napas panjang. “Itu juga mungkin alasan Rian gak bisa nolak kamu dan memilih memendam apa yang dia rasain. Karena rasanya takut kehilangan itu lebih bahaya dari kehilangan yang sebenarnya.” Raya melepaskan tangannya dari tangan Angel begitu melihat Nabhan yang kembali melempar biskuitnya ke lantai. Wanita itu bangkit dan mengusap pipi Nabhan dengan tisu basah baru yang ia ambil. Tak lupa, kedua tangan bocah kecil itu juga dibersihkan dengan tisu basah. “Kalau kamu diputusin sama pacar, mungkin kamu bisa lepas dan temuin yang baru. Tapi beda rasanya saat kamu gak mau ditinggal sama pacar kamu. Kamu bisa aja kasih semua yang kamu punya demi bertahan sama dia. Padahal kamu tahu apa yang kamu lakuin gak sehat.” Angel melirik jari manisnya yang terpasang cincin pertunangannya. Gadis itu mengusap cincin di jarinya sebelum menatap Raya yang kini tampak cekatan membersihkan Nabhan yang asik mengoceh asal dan memukul meja. “Kemungkinan besar, Rian ngerasain fase takut kehilangan daripada mencoba menerima kamu,” ucap Raya. “Bukannya mau ikut campur, tapi yang Rian lakuin bisa jadi boomerang buat dia sendiri. Karena Kakak juga ngerasain hal yang sama saat pertama nikah sama kak Noah.” “Apa yang buat dia kaya gitu, Kak?” Angel menatap Raya cemas. “Tergantung. Kakak sih ngerasain itu karena kak Noah kan banyak yang suka. Kadang Kakak juga ngerasa kalau kak Noah gak akan lirik Kakak lagi. Makanya sampe iyain apa aja yang kak Noah pengen. Padahal gak semua yang kak Noah mau baik semua.” Raya tertawa begitu mengingat dirinya yang tampak bodoh kala itu. Sampai-sampai kedua orang tuanya meminta Raya datang ke psikiater saking cemasnya dengan kelakuan Raya yang selalu pasrah pada Noah. Sekalipun benar dan tidak bermasalah, nyatanya hal itu bisa menjadi ketergantungan yang menimbulkan hal tidak baik. Contohnya bisa membuat suasana hati kita berubah drastis kala ada masalah kecil dengan pasangan. Atau memicu rasa khawatir berlebih ketika melihat pasangan kita berada jauh dari jangkauan biasanya. “Tapi Rian gak mungkin ada di fase itu. Kamu aja gak begitu deket sama cowok.” “Kalau gitu, kira-kira Rian karena apa?” Raya memainkan bibirnya dengan dahi yang mengerut dalam. Mencoba berfikir apa yang menjadi penyebab Rian bisa merasakan hal yang sama dengannya. “Kemungkinan karena hubungan kalian yang udah lama? Dan masih stuck di tempat yang sama?” *** Rian menghela napas panjang. Lelaki yang berada tepat di depan ruang meeting itu melirik Akbar yang tampak segar. Berbeda sekali dengannya yang terlihat lesu dan tidak memiliki semangat hidup. “Lo udah siap, kan?” tanya Akbar dan menatap jam di tangannya. Meyakinkan dirinya agar tetap kuat selama di dalam, Rian lalu mengangguk setelah memejamkan matanya sesaat. Bukan tanpa sebab Rian merasa dirinya kurang percaya diri. Pusing yang semalam terasa dan menghilang, kini kembali terasa lagi dan lebih parah. Ia juga merasakan tubuhnya mendingin dan terasa mengigil. Padahal Rian sudah berusaha untuk tetap makan pagi tadi di kantin. “Lo mau minum obat dulu?” tawar Akbar begitu melihat wajah Rian yang tampak seperti zombie. Rian menggelengkan kepalanya dan berjalan lebih dulu saar Akbar membukakan pintu kaca di depannya itu. “Rapat bisa ditunda lagi, Ri,” bisik Akbar. Sayangnya Rian tidak mendengar dan tetap duduk di kursi khusus untuknya. Lelaki itu mulai mendengarkan apa yang ada di depannya dan mencoba memahami kembali presentasi yang kemarin tak sempat ia dengar dengan benar. Satu jam lamanya Rian berada di sana. Menahan hawa dingin, pusing dan kantuk. Karena bagaimanapun Rian harus bisa menyelesaikan semua pekerjaannya hari ini jika ia memang ingin beristirahat seperti biasa lagi. Ia juga harus mau mengorbankan tubuhnya saat ini atau besok akan kembali menyerangnya dengan segala pekerjaan yang menumpuk. Dan Rian tidak suka hal itu. “Muka lo terlalu pucet, Ri. Bisa-bisa gue di marahin sama bokap lo kalau tau anaknya kek zombie gini.” Rian mengibaskan tangannya pada Akbar yang sejak tadi mengoceh tentang keadaan tubuhnya. Walau Rian tidak bisa mengelak sedikitpun sebenarnya. Ia tidak bisa menyela ucapan Akbar atau mungkin mengatakan bahwa ia baik-baik saja. Ia tidak melakukan hal itu karena ia tahu bagaimana kondisi tubuhnya saat ini. “Jadwal abis ini apa?” tanya Rian yang berusaha mengalihkan pembicaraan keduanya. Akbar mendengkus mendengarnya. “Lo ketemu sama bokap,” jawab Akbar ogah-ogahan. “Yang bener kalau kerja, Bapak Akbar!” Akbar mencebik pada Rian. “Jangan maksain diri, Bapak Rian!” ejek Akbar balik. Rian terkekeh mendengarnya. Lelaki itu mengambil teh di atas meja yang sudah disiapkan Akbar. Meminumnya sedikit, Rian rasakan tubuhnya sedikit lebih segar. “Udah ketemu sama Angel?” tanya Akbar kepo. “Belum. Kenapa?” “Lo gak lupa hari ini hari apa, kan? Ya kali gua udah ingetin lo masih lupa,” sahut Akbar kesal. Rian menganggukkan kepalanya kecil sebelum tersenyum. “Inget, kok. Tenang aja. Lagian gua juga gak mau sia-siain kehidupan gua yang udah lewat 7 tahun sama dia.” Akbar menghela napas lega. “Tapi, Yan.” “Hem?” “Tumben Angel gak ke sini kaya biasanya.” “Maksud lo?” Rian mendongak dan menatap wajah Akbar yang seolah sedang menyelidiki sesuatu. Akbar conan beraksi. Lelaki yang berdiri di sebelah Rian itu bahkan mengambil kacamata hitamnya yang tersangkut di kantung jas sebelum memakainya dan berlagak seperti deketif. “Biasanya, Angel datang ke sini terus bawa kue kaya tahun kemarin. Tapi, dari pagi gak ada tanda-tanda kehebohan tuh anak. Lo sama dia lagi marahan?” Akbar menatap Rian yang dengan santainya mengedikan bahu menjawab ucapan Akbar. “Kalaupun marahan, kenapa?” “Beneran? Kok lo gak bilang sama gue?!” “Ya mau ngapain? Lo emang ngasih saran atau jalan keluarnya? Gak, kan? Lagian gua sama Angel juga gak marahan. Emang sibuk kali di butiknya.” Rian berusaha untuk tidak terpnacing. Sekalipun lelaki itu sadar jika Angel benar-benar menghilang setelah pesannya semalam belum Rian balas juga. Menghela napas panjang, Rian lalu melirik ponselnya yang senyap. Tidak ada panggilan atau pesan baru yang Angel kirimkan padanya. “Khawatir, kan lo? Makanya jangan gengsi. Udah tuwir juga! Masih aja lagak kek anak esempe. Sok-sokan merasa gengsi nge-chat duluan,” sindir Akbar seraya melepaskan kacamatanya. Lelaki itu mencomot satu kue di meja Rian sebelum menyengir kala Rian menatapnya tajam. “Emang kalau gua gak kasih pesan, gua gak khawatir gitu? Gua gak usah kasih pesan. Hidup gua bukan virtual.” Akbar mendengkus mendengar jawaban yang terlontar dari mulut Rian. Memang Rian paling ahli elak-mengelak. “Tapi, Yan.” “Apalagi?” “Lo sama Angel beneran baik-baik aja, kan?” tanya Akbar was-was. “Emang kenapa, sih?” Akbar menyengir lebar dan menggaruk tengkuknya yang terasa gatal. “Kayaknya gua kemarin ngelakuin kesalahan, deh,” lirih lelaki itu seraya menatap Rian takut. “Kesalahan apa? Lo kemaren ketemu sama Angel?!” Akbar tersenyum lebar sampai memperlihatkan gigi-giginya yang rata. Lelaki itu menelan salivanya melihat Rian yang menghela napas panjang seraya mengurut batang hidungnya. “Lo bilang apa sama Angel?” Akbar buru-buru menggeleng panik. “Gua gak bilang yang aneh-aneh, kok. Gua cuma ngomong jujur aja. Kaya biasa,” jawab lelaki itu setengah gugup. Rian mendengus keras dengan bola mata yang memutar tak percaya. “Yakin?” “Iya. Lo liat aja langsung cctv di lift. Lagian keliatannya dia udah murung sebelum ketemu sama gua. Lo ribut duluan sama dia, kan? Gua liat dia dari ruangan lo.” Rian terdiam. Apa karena masalah kemarin? Tapi Rian melakukan itu karena takut meledak di depan Angel dan membuat gadis itu semakin ketakutan. Mendengar ia berkata dingin dan menatap dengan tajam saja Angel sudah seperti akan mati saat itu juga. Apalagi jika gadis itu juga melihatnya marah sampai membuat semuanya diam? Sudah pasti gadis itu akan sangat ketakutan dan mungkin memutuskannya? “Jam berapa ketemu sama papa?” Akbar menahan tawanya. Sepertinya tebakan Akbar benar jika Angel memang dari ruangan Rian dan berbicara sesuatu yang hanya Angel dan Rian saja yang tahu. Dan lagi, kata-katanya saat itu mungkin bisa membuat Angel seidkit sadar. Kalaupun tidak bisa membuat gadis itu sadar, setidaknya bisa membuat Angel mengerti akan posisi Rian yang tidak mudah. Huh! Akbar jadi kesal jika ingat kejadian kemarin. “Lo makan dulu aja. Habisin dulu teh sama cemilan lo. Kalau bisa sekalian makan siang aja. Lo udah kek anak jalanan yang dipakein jas tahu, gak? Kurus kering, pucet, gak punya semangat hidup lagi.” “Lo kali yang kaya gitu!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN