Ke - 12 (Bunga)

2066 Kata
Seperti yang Revina katakan saat membangunkan Angel pagi tadi, Angel benar-benar mengantar gadis kecil itu ke sekolah. Revina yang memang tidak suka berada di bis antar jemput mengharuskan anggota keluarganya mengantar gadis itu sampai ke sekolah. Bukan tanpa alasan Revina tidak suka naik bis antar jemput. Sama dengan Angel yang memiliki trauma menaiki bis, Revina pun begitu. Revina pernah diam di depan sekolah sampai sore karena tertinggal bis sekolahnya dan berakhir menunggu Noah menjemput. Beruntungnya gadis kecil itu bertahan dan bisa mnejaga dirinya sendiri di pos satpam. “Nanti dijemput sama Tante boleh?” pinta Revina yang duduk di samping Angel dan sedang asik menghapal lagu yang katanya akan dites hari ini. “Boleh, dong. Tapi kalau Tante gak ada kerjaan, ya. Kalau nanti yang jemput Papa atau Mama, jangan marah.” Revina mengangkat ibu jarinya dan tersenyum. Gadis itu duduk dengan tenang di samping Angel dengan car seat khususnya yang berwarna merah dan memiliki ukiran namanya sendiri. “Eh, jangan sama Tante, deh,” tolak Revina. “Sama Om Rian aja. Bisa gak, ya?” Angel berdehem kecil. Gadis itu menatap ke depan dengan tangan yang fokus memegang stir. Apa yang sedang dibicarakan Revina sedikit membuat Angel tidak bisa diam. Kaki gadis itu bahkan bergetar kecil. Entah kenapa mendengar nama Rian sedikit membuat Angel takut. Ia yang memang memiliki rencana akan mendatangi lelaki tu ternyata harus memiliki keberanian yang tinggi. Walau Rian sebenarnya tidak akan marah dengan spontan, tetap saja Angel takut. “Tante bisa minta Om Rian jemput Vina, kan?” pinta Revina dengan wajah menggemaskannya dan terlihat bahagia. Berharap apa yang diinginkannya sekarang akan dikabulkan oleh Angel dengan mudah. “Gak bisa, Vina. Kan Om Rian harus kerja. Masa jemput Vina?” “Biasanya juga bisa. Waktu Vina awal masuk aja Om Rian datang. Padahal kata Papa Om Rian lagi banyak kerjaan waktu itu.” Angel mendengkus mendengarnya. Seharusnya Angel tidak mengatakan apapun pada gadis ini atau Revina akan menjawab dengan mudah. Memiliki gen pandai bicara yang tentu saja menurun dari kakak pertama Angel itu, Revina selalu bisa membalas ucapan orang. Sampai-sampai Noah saja kalah jika sudah berdebat dengan Revina. Beruntungnya lingkungan Revina tidak begitu keras. Membuat bahasa yang digunakan Revina masih bisa disaring dan masih terdengar bagus. “Kalau sekarang kan bukan awal Vina masuk,” sahut Angel yang terus berusaha untuk membuat gadis itu yakin. “Nanti Tante usahain buat jemput Vina, deh. Gimana?” “Gak mau!” Tolak Revina cepat. Gadis itu bersedekap dan menatap Angel dengan kesal. “Tante beneran marahan sama Om Rian, ya?” “Gak!” elak Angel dan menatap wajah Revina yang tersenyum jahil. Gadis itu juga menunjuk jarinya pada Angel. “Kalau bohong itu dosa, Tante,” ujar Revina yang berusaha membujuk Angel agar mengatakan yang sebenarnya jika gadis itu, memang sedang bertengkar dengan Rian. Ditambah dengan Angel yang terus menolak membahas tentang Om kesayangannya itu. Persis seperti mama dan papanya saat marah di rumah. “Tante gak bohong. Tante sama Om Rian emang gak berantem. Kamuu kali yang terlalu kepo. Lagian anak kecil gak usah tahu masalah orang dewasa.” Angel menghentikan mobilnya di depan TK Revina dan membantu gadis itu turun dari tempat duduknya. Setelah memastikan Revina mudah turun dari dalam mobil, Angel baru keluar dari mobil dan membukakan pintu mobilnya untuk Revina. Beberapa anak berdatangan dan menyapa Revina. Menjadi sosok yang humble dan cukup periang. Membuat Revina mudah dekat dengan siapa aja. “Tante pulang aja. Jangan lupa! Yang jemput Om Rian!” pesan Revina dan berjalan menuju teman-temannya yang sudah melambai. Angel yang mendengarnya hanya bisa menggelengkan kepala pelan. Keras kepala sekali memang keponakannya yang satu itu. Belum lagi sikapnya yang bisa saja merugikan orang lain. Sangat berbeda jauh dengan Raya dan Noah. Jadi, anak siapa Revina sebenarnya? Tentu saja anak kakaknya. Hanya saja perangainya yang terlalu keras untuk anak seumurannya. Angel melambaikan tangannya kala Revina berbalik dan melambaikan tangan pada Angel. Gadis itu tersenyum lebar melihat anak-anak yang tampak polos dan tertawa keras. Rasanya Angel ingin menjadi mereka. Yang bisa tertawa dengan mudah tanpa harus memendam. Yang bisa melihat dunia hanya dengan mata kecilnya. Yang bisa merasa tenang walau hanya dekat dengan orang dewasa. Rasnaya Angel ingin merasakan hal itu lagi. “Angel, ya?” Angel menolehkan kepala mendengar namanya disebut. Gadis itu tersenyum lebar dan mengangguk sopan. “Iya, Bu.” “Kok Ibu, sih?! Ini gue Sinta!” Angel mengedipkan matanya dan menatap wanita dengan dress sepahanya itu dengan tatapan tak percaya. “Sinta yang sebangku sama Angel itu?!” pekik Angel senang. Sinta mengangguk kecil. Wanita yang menjadi teman Angel semasa SMA itu kini tengah menggendong bayi kecil. Membuat Angel penasaran dan mengintip bayi mungil itu. “Lo ke sini nganter anak lo? Siapa namanya?” tanya Sinta seraya menatap anak-anak yang berbaris sebelum masuk ke dalam kelas. “Bukan. Angel belum punya anak,” jawab Angel sendu. “Nikah aja belum.” “Hah? Serius? Lo belum nikah?” Sinta menutup mulutnya terkejut. Angel mengangguk dan mengusap kecil pipi bayi yang terlihat masih kecil itu. “Ini anak kedua Sinta? Cantik banget. Gemes Angel liatnya,” ujar Angel jujur. Gadis itu menatap bayi mungil di pangkuan Sinta dengan tatapan berbinar. Beberapa kali juga tangannya menjawil kecil pipi yang terlihat akan tumpah itu. “Eh tapi serius, lo belum nikah? Bercanda kali. Gua liat kok lo anter anak kecil tadi,” ujar Sinta seraya meyenggol lengan Angel. Mendengkus sebal, Angel menatap Sinta yang tampak tidak percaya. “Itu keponakan Angel. Anaknya Kak Noah,” jawab Angel dan menunjuk Revina yang melambai padanya. “Eh, maaf. Gua kira lo bohong. Udah ada cincin di tangan lo soalnya.” Angel melihat jari manis di tangan kirinya. Gadis itu tersenyum kecil sebelum mendongak dan menggelengkan kepala. “Ini cincin tunangan. Sinta sekarang tinggal di mana?” “Di deket gang masjid yang biru itu,” ujar Sinta seraya menunjuk gang besar yang berada dekat dengan masjid berwarna biru yang berdiri megah. Angel membulatkan bibirnya dan menganggukan kepala. “Kalau nganter keponakan lo lagi, mampir ke rumah gua. Masuk gang langsung rumah gue, kok.” Angle tersenyum dan mengangguk. “In Sya Allah ya, Sin.” “Oh iya, Ngel. Lo umurnya sama kaya gue kan?” tanya Sinta. “Iya. Sama. Kenapa, Sin?” Angel mengangkat halisnya bingung. “Lo gak mau cepet-cepet nikah? Udah 30 loh, gue. Lo gak iri gitu sama yang lain. Udah pada punya anak. Beberapa ada yang udah punya anak SD loh, Ngel.” Angel menunduk kecil dan tersenyum. “Karir bisa diambil abis nikah juga. Sayang kalau gak nikah cepet-cepet. Apalagi lo cantik.” Angel terkekeh pelan. “Bisa aja, Sinta.” “Gua serius, Ngel. Lo kenal sama Febri, kan? Dia sekarang jadi aktris, tapi gak nikah-nikah. Padahal umurnya udah 32. Katanya sih gak ada yang mau karena udah terlalu tua.” Angel terdiam. Gadis itu tidak berani menjawab apa yang Sinta katakan. Rasanya ia sedang dihadangkan dengan fakta yang sama sekali tidak Angel lihat selama ini. “Untung lo udah tunangan. Nanti kalau nikah, undang gue ya, Ngel.” Angel mendongak dan mengedipkan matanya beberapa kali. Mengangguk kecil, Angel kemudian tersenyum manis. “Angel langsung berangkat lagi ya, Sin. Kapan-kapan kita ketemu lagi.” “Siap. Hati-hati di jalan, Ngel.” Angel mengangguk dan berjalan menuju mobilnya. Memasuki mobil merahnya yang terparkir di depan sekolah, Angel lalu melajukan mobilnya dan melambai kecil pada Sinta yang tersenyum manis padanya. *** “Gak ada bunga melati putih, Mbak?” “Lagi kosong stoknya, Mas. Ada beberapa tadi, tapi udah dibeli sama yang itu.” Rian menolehkan kepalanya dan melihat lelaki jangkung dengan jaket hitamnya itu tengah melakukan pembayaran di kasir. Rian menghela napas panjang dan menatap kumpulan bunga lain yang ada di depannya. Sebenarnya ada banyak jenis bunga yang Angel suka. Tapi, biasanya gadis itu selalu meminta melati dengan warna putih yang memang jarang bisa ditemui. Bahkan ini sudah toko ke 4 yang Rian datangi. “Oh ya udah, Mbak. Makasih.” Rian segera pergi dari toko bunga terakhir yang masih buka di jam 9 malam. Karena biasanya jam 8 saja sudah tutup semua. Menarik napas panjang, Rian merogoh sakunya dan mengambil sebuah kotak perhiasan di sana. Apa ia harus memberikan itu saja untuk Angel? Tapi… Angel akan merasa kurang jika tidak diberi bunga. Memang tidak memaksa, hanya saja Angel terkadang terlihat sedih seperti 3 tahun lalu. Di mana Rian yang datang hanya dengan kue dan juga hadiah untuk gadis itu. Kala itu Rian lupa dengan bunga yang menjadi kesukaan Angel. Angel memang tidak marah dan mengatakan jika Rian harus membeli bunga itu. Hanya saja, wajah gadis itu yang menunjukkan kekecewaan cukup membuat Rian merasa tidak nyaman. Apalagi jika melihat Angel yang tersenyum terpaksa. Itu akan lebih menyakitkan dari apapun. “Masnya butuh bunga ini?” tanya seorang lelaki yang tadi berada di kasir itu pada Rian. Rian menoleh dan tersenyum. Ia mengangguk dan menatap harap bunga melati di depannya. “Iya, Mas.” “Susah ya, Mas carinya? Saya juga baru nemu ini.” Rian mengangguk setuju. “Iya. Padahal kemarin keliatannya masih banyak. Setiap dibutuhin pasti gak ada,” ujar Rian dan terkekeh kecil. Lelaki di samping Rian ikut tertawa. “Nih, Mas.” Rian menatap setangkai bunga melati yang diberikan lelaki di sampingnya. “Eh, gak papa ini, Mas?” “Gak papa. Ambil aja. Saya juga beli 2 tangkai. Semoga istrinya suka ya, Mas.” Rian mengambil tangkai bunga melati yang diberikan lelaki itu sebelum akhrinya tersenyum lebar. “Mas tadi beli berapa? Biar saya ganti—“ “Gak perlu, Mas,” tahan lelaki itu seraya menatap Rian dengan senyum lebarnya. “Nanti Mas balasnya kalau kita bertemu lagi saja.” “Beneran gak papa ini, Mas?” Lelaki itu mengangguk dengan senyuman yang tidak lepas dari bibirnya. “Kalau gitu saya duluan, Mas,” pamit lelaki itu dan berjalan menuju mobil hitamnya yang terparkir di depan mobil Rian. Sepeninggal lelaki itu, Rian tersenyum lebar. Lelaki itu menghirup dalam-dalam aroma bunga yang ada di tangannya sebelum melangkah menuju mobil. Rasanya melegakan melihat barang yang ia cari sejak jam 8 tadi kini ada di tangannya. Tinggal satu langkah lagi yang harus Rian lakukan sekarang. Yaitu menghubungi Angel dan menanyakan keberadaan gadis itu. Rian langsung menelepon Angel begitu ia selesai memasang sabuk pengaman di tubuhnya. Menarik tuas, Rian lalu mulai menginjak gas dan menjalankan mobilnya. “Halo, Abang?” “Kamu di mana, Yang?” tanya Rian dengan wajahnya yang berseri. “Ada di apartemen. Kenapa?” “Gak papa. Aku ke sana sekarang.” Rian segera mematikan panggilan dan tidak menunggu Angel menjawab ucapannya. Lelaki itu tak bisa menutup senyumnya saat melihat bunga di kursi joknya yang kini terlihat lebih anggun dari apapun. Melihat ke kaca di atas yang memantulkan keadaan belakang mobilnya, Rian semakin mengembangkan senyumnya melihat kue yang ada di dalam box. Semoga saja dengan ini hubungannya dan Angel akan segera resmi dan tidak lagi harus mundur karena hal-hal yang sepele. “Harapan aku tahun ini… Aku mau kita nikah, Ngel. Egois gak sih kalau aku minta itu sama kamu?” gumam Rian. Lelaki itu menatap sendu pada jalanan yang sepi. Benar. Apa yang Rian inginkan sejak bertunangan dengan Angel adalah menikahi gadis itu dan menjadikan Angel milik Rian satu-satunya. Sebagaimana janjinya pada orang tua Angel kala ia bertunangan dengan gadis itu. Rian tidak berharap banyak. Hanya itu saja yang Rian inginkan dan itu juga impiannya tahun ini. Karena semua hal yang bersifat material sudah Rian miliki. Hanya satu yang belum Rian miliki. Dan itu adalah seorang istri. “Jadi deg-degan kek anak baru jadian! Biasanya juga gak begini, dah.” Rian memegang dadanya yang berdegup kencang. Entah hanya perasaan Rian saja atau memang benar adanya. Tapi Rian merasa hari ini adalah hari yang membawa Rian pada segalanya. Rian belum tahu apa yang ia pikirkan saat ini. Namun itu cukup membuatnya merasa tidak tenang dan ingin menemui Angel secepat yang ia bisa. “Gila, kangen banget aku sama kamu, Ngel!” ujar Rian dan mengusap wajahnya kasar. Merasa malu dengan apa yang baru saja ia katakan. Karena biasanya Rian tidak merasa serindu ini. Kecuali saat ia dan Angel tidak dalam satu kota atau berada di negara yang berbeda. Tapi sekarang ia dan Angel berada di kota yang sama. Bahkan ia akan menemui Angel. Tetap saja rasanya berdebar dan tidak bisa ditutupi jika Rian ingin menunggu gadis itu secepatnya. “Ah! Beneran gila gua kayanya!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN