Angel menatap kue di depannya dengan kening mengernyit. Kepalanya mendongak. Melihat Rian yang kini sedang sibuk menelepon seseorang di sebrang sana. Lelaki yang datang 10 menit lalu itu terus berada di tempat yang sama. Setelah memberikan kotak kue pada Angel, Rian langsung menerima telepon dan sampai sekarang belum juga selesai. Bahkan lelaki itu masih berada di depan pintu apartemen.
“Gua kan udah bilang sama lo! Jangan sampe laptop lo mati. Ah, Sialan! Terus sekarang gimana?!” Bentak Rian pada seseorang di sebrang sana. Angel menelan salivanya dan menatap takut Rian yang kini berbalik dan menghadap ke arahnya. Dan tiba-tiba saja Rian memeluknya dan mengambil kotak kue yang Angel pegang.
“Gue harus gimana sekarang?”
Sayup-sayup Angel bisa mendengar suara dari sebrang sana karena kepala Rian yang berada di lehernya. “Gua bisa pecat lo sekarang kalau masih ganggu gua ya, Bar!”
“Bodo amat! Yang penting ini data balik lagi.”
“Anjing! Lo denger gua gak sih?!” Sentak Rian seraya melepaskan pelukannya dari Angel. Lelaki itu menyuruh Angel masuk. Yang mana diikuti oleh sang empunya. Angel masuk ke dalam diikuti oleh Rian.
“Yan, besok loh ini.. Bokap lo bisa bunuh gue besok kalau sampe filenya ilang,” ujar Akbar dengan memelas di sana. Rian menyugar rambutnya ke belakang. Lelaki itu menaruh kue di tangannya pada meja dan berbalik guna menutup pintu apartemen Angel.
“Bar, lo gak kasian sama gua? Gua udah capek kerja seharian, Bar. Gua mau beresin masalah gua satu-satu.”
Akbar menghela napas kasar di sebrang sana. “Ya udah. Gua coba dulu nyari ke yang lain. Kalau belum nemu juga, gua telepon lo lagi, ya.”
Rian hanya menggumam kecil dan mematikan panggilan secara sepihak setelahnya. Lelaki itu mendongak dan melihat Angel yang kini tengah tersenyum seraya merentangkan tangan. Membuat Rian langsung berlari dan memeluk hangat sang kekasih. Aroma tubuh Angel yang begitu harum sejenak menjernihkan pikiran Rian.
“Ada masalah di kantor, ya?” tanya Angel seraya mengelus kepala Rian sayang.
“Ya gitulah. Akbar ngilangin file baru lagi. Udah capek denger dia gitu mulu,” gerutu Rian. Kedua tangan lelaki itu terangkat dan memeluk Angel dengan erat. “Maaf, ya. Karena aku kita jadi—“
“Gak papa. Belum terlambat juga. Oh iya, Abang dapet bunganya dari mana?” Angel melepaskan pelukannya dan mengangkat bunga di tangannya pada Rian. “Bagus banget! Harum lagi.”
“Dari toko bungalah, Yang.”
“Itu juga Angel tahu! Yang pastinya di mana?”
“Itu gak penting, sekarang… yang penting itu gimana caranya biar aku masih inget sama Allah.”
Angel mengernyitkan keningnya bingung. “Emang Abang gak inget Allah kenapa?”
“Kamu cantik banget soalnya!”
Angel membuang wajahnya mendengar pujian yang baru saja Rian lontarkan padanya. Rian yang ia kenal memang bukan penggombal handal. Tapi juga bukan orang yang kaku. Rian mengerti situasi dan kondisi. Kapan harus membuat lelucon dan kapan harus membuat gombalan seperti sekarang.
“Aku minta maaf karena kejadian kemarin,” lirih Rian seraya duduk di sofa. Lelaki itu menepuk sisi sebelahnya yang langsung di duduki oleh Angel. “Aku gak bisa ngobrol lebih lama karena kerjaan gak ada yang selesai kemarin. Dan sekarang aja aku belum pulang ke rumah sama sekali.”
Angel menatap Rian dengan sendu. Gadis itu mengusap wajah tunangannya dengan lembut. Tak lupa, Angel periksa suhu tubuh lelaki itu. Yang sayangnya sangat panas sampai Angel membulatkan matanya pada Rian.
“Kenapa?” tanya Rian bingung.
“Abang sakit juga! Kenapa maksain ke sini, sih?!” Angel segera menarik tangan Rian dan membawa lelaki itu menuju kamarnya. Membaringkan paksa Rian setelah menyimpan bunga yang Rian berikan ke dalam vas, Angel lalu memasuki kamar mandi dan keluar dengan sebuah lap yang sudah dibasahi.
“Kamu mau ngapain?”
“Udah diem! Pantes aja Mama Ana suka marah sama Abang. Abang tuh suka gak dengerin apa kata mama! sehat tuh mahal tau!” Omel Angel seraya menaruh lap yang setengah basah itu ke atas kening Rian.
“Berarti dokter pada kaya karena sehat yang mahal, ya? Bukan obatnya?” tanya Rian.
“Gak lucu!” jawab Angel kesal. Mata Angel menatap sekeliling kamarnya. Berusaha mencari kotak obat yang ia sendiri sudah lupa tempatnya di mana. Sedangkan Rian yang melihat itu hanya bisa terkekeh pelan. Lelaki itu menahan tangan Angel yang akan kembali pergi. Rian menggelengkan kepalanya pada Angel dan tersenyum kecil.
“Aku gak papa,” ucap Rian dan menaruh tangan Angel pada pipi kanannya. “Diem aja di sini. Jangan sampe lupa kalau ini hari yang baik buat aku sama kamu.”
Angel mendengkus mendengarnya. Namun tak urung diam dan menatap Rian dengan halis yang mengernyit sebal. “Bilang aja gak mau minum obat,” gerutu Angel.
Rian tertawa kecil. Lelaki itu menarik tangan Angel yang berhasil membuat gadis itu jatuh di atasnya. Angel yang terkejut hanya bisa diam membeku. Apalagi saat Rian tersenyum dan mengusap pipinya lembut. “Jangan marah, dong. Aku juga gak tahu kalau aku sakit.”
“Itu karena Abang gak pernah peduli sama apa yang Abang rasain. Coba kalau Abang peka dikit sama keadaan Abang. Pasti gak mungkin sampe sakit kaya gini. Abang tuh paling susah dibilanginnya! Sebel banget kalau harus kasih tahu setiap hari. Emang Abang kira aku gak—“
Angel terpaksa menghentikan ucapannya saat Rian menunduk dan mengecup kecil bibirnya. Lelaki itu tesenyum lebar melihat Angel yang berhenti bicara dan menatapnya dengan wajah polosnya. Beberapa kali mata bulat Angel mengedip lucu. Membuat Rian semakin gemas melihatnya.
“Jangan ngomel terus. Bibir kamu maju-maju kalau lagi ngomel. Nanti aku nyangkanya mau kamu cium.”
Angel membulatkan matanya dan segera bergerak menjauh. Gadis itu menatap horor Rian yang terkekeh pelan. “Mana ada! Angel gak gitu!”
“Makanya diem. Kan kamu tahu aku sakit, masa diomelin terus?”
Angel mendengkus sebal. Rian selalu bisa membuatnya diam dan mengikuti kemauan lelaki itu. Belum lagi jika Angel ikut bicara dan terus mengatakan yang tidak ingin Rian dengar, pasti bukan hanya kecupan saja yang Rian berikan.
“Abang sakit apa? Masih pusing?” tanya Angel yang berusaha meredam omelannya. Padahal segala kata dan kalimat sudah terangkai di kepala Angel dengan benar.
“Demam aja.”
Angel menganggukkan kepalanya. Gadis itu lalu membantu Rian melepaskan jas yang masih dikenakan lelaki itu dan dasi yang masih melekat. Menaruhnya dengan rapi di atas meja rias, Angel lalu menaikkan selimut untuk menutupi tubuh Rian.
“Kamu juga ikut tidur,” pinta Rian dan mengusap kasur Angel yang masih tersisa banyak. Angel mengambil napas dalam-dalam sebelum mengangguk.
“Tapi Angel mau masukin kuenya dulu ke kulkas.”
Rian mendengkus namun tak urung mengangguk. “Cepetan!”
“Iya!”
***
“Gimana di butik? Ada kerjaan yang buat kamu pusing?”
Angel menggelengkan kepalanya. Gadis itu mendongak dan menatap Rian yang kini tengah memeluknya seraya menutup mata. Tubuh lelaki itu sangat panas dan Angel bisa merasakannya sekarang. Karena posisi keduanya yang sama sekali tidak berjarak, membuat Angel bisa tahu bagaimana suhu tubuh Rian saat ini. Ditambah dengan wajah pucat Rian yang begitu kentara. Angel sangat tahu apa yang lelaki itu rasakan. Karena ia adalah salah satu dari sekian banyak manusia yang mudah terserang demam. Telat makan saja Angel bisa demam.
“Gak ada, sih. Paling kesel aja sama temen.”
“Temen?” Rian menundukkan kepalanya dan melihat Angel yang sedang mendongak. “Temen siapa?”
“Temen Angel waktu sekolah dulu. Dia udah nikah dan udah punya anak. Terus ngomongin hal-hal yang kaya gitu. Abang pasti paham.”
Rian menganggukkan kepalanya. “Biarin aja. Dia juga bisa jadi iri sama kamu yang masih bebas.”
“Keliatannya gitu sih. Tapi, Abang..”
“Hm?”
“Kalau bulan depan kita adain akad nikah aja dulu, mau?”
Rian terdiam. Lelaki yang kini memeluk Angel itu tidak bergerak sama sekali. Tubuhnya kaku dan terasa diberi paku agar diam di tempat. Apa yang Angel katakan sangat mempengaruhi degup jantung juga rasa bahagia yang tidak bisa Rian kendalikan lagi.
“Kamu yakin? Bukannya gak boleh nikah dulu?”
“Kan bisa nanti resmiinnya abis dari Paris. Yang penting akadnya selesai.”
Rian menelan salivanya kasar. Lelaki itu melepaskan pelukannya dan memandang langit-langit kamar. “Itu terlalu beresiko, Ngel. Bahaya kalau ternyata agensi kamu tahu kalau kamu udah nikah.”
Angel mengangguk paham. “Tinggal bilang aja kalau Angel gak perlu jadi ikutan edisi summer.”
Rian langsung menolehkan kepalanya pada Angel. “Bercandanya kamu gak lucu sama sekali!”
“Angel gak bercanda, kok.” Angel bangkit dan menatap Rian dengan serius. Gadis itu menghela napas panjang saat melihat wajah Rian yang terlihat akan mengamuk saat itu juga.
“Kamu mau sia-siain kesempatan bagus itu? Aku—“
“Angel lebih milih lepasin karir Angel daripada harus lepasin Abang selamanya.” Angel berbalik, menatap kosong pada lemari kaca berwarna pink yang ada di depannya. “Angel tahu selama ini Abang lakuin semua yang Angel mau karena Abang yang tahan semua perasaan Abang, kan?”
“Siapa yang bilang? Aku setuju karena—“
“Abang gak capek harus ngomong itu terus? Abang gak capek harus paksain kehendak Angel sedangkan Abang gak terima hal itu?” Angel membuang wajahnya ke samping saat Rian ikut bangkit dan menarik tangannya. Meminta untuk menghadap ke arahnya. “Angel gak mau apa yang Abang jadikan keputusan cuma demi Angel. Sedangkan Abang gak puas dengan keputusan Abang sendiri.”
“Angel, dengerin aku. Aku tahu apa yang aku lakuin gak sepenuhnya benar. Tapi untuk masalah di Paris, itu…”
“Apa? Abang tahan juga, kan?”
Rian terdiam beberapa detik. “Tapi bukan berarti kamu…”
“Apa? Bukan berarti Angel apa?”
“Ngel, kita kan udah bahas ini dari kemarin. Aku sama sekali gak merasa keberatan. Dan kita bisa nunda pernikahan sampai kamu selesai. Itukan yang udah jadi keputusan aku sama kamu?”
Angel menganggukan kepalanya. “Iya. Emang itu keputusannya. Tapi apa Abang puas sama keputusan itu?”
“Ngel..”
“Abang bahkan rela berhentiin gaun Angel yang mau dikirim ke rumah. Abang rela sakit sampe gak sadar udah separah ini karena nyimpen semuanya. Abang sadar kan apa yang Abang lakuin gak lebih dari kata penyiksaan buat diri sendiri?”
Rian menggelengkan kepalanya. “Liat ke sini. Ngomongnya liat ke aku,” ujar Rian seraya mengusap lembut tangan Angel. “Sayang..”
Angel menatap Rian dengan malas. “Apa?!”
Rian tersenyum lembut. “Jangan marah-marah. Aku bisa jelasin kenapa aku milih buat kamu ke Paris daripada nikah sama aku.”
“Kenapa?!”
Rian mengangkat tangannya. Mengusap wajah Angel dengan lembut dan penuh kasih sayang. “Kamu jelas tahu aku gak akan biarin kamu pergi ke luar tanpa aku setelah nikah. Kamu juga tahu kalau aku bakal batalin semua kontrak yang datang ke kamu setelah nikah nanti. Kamu tahu itu semua, kan?”
Angel mengangguk pelan. “Tahu.”
“Aku cuman gak mau kamu nyesel setelah nikah karena gak bisa lakuin apa yang seharusnya kamu lakuin sebelum nikah, Sayang. Semuanya bakal berubah setelah menikah. Aku gak suka istri aku bekerja di luar dan punya karirnya sendiri sedangkan orang rumah gak ke urus. Di tambah setelah menikah, bukan cuma aku atau kamu aja yang dipikirin. Bukan hanya pendapat aku sama kamu aja yang jadi jalan ke depannya. Tapi juga nasehat orang tua kamu, kakak kamu dan juga orang tua aku.”
Angel terdiam. Sepertinya ia mulai mengerti dengan apa yang sedang Rian khawatirkan.
“Aku bukan semata-mata mau kamu bahagia aja dan ninggalin apa yang buat aku bahagia. Bukan hanya itu. Tapi banyak yang harus dipikirkan ke depannya. Aku gak mau ada kata penyesalan karena sudah menikah dan lain-lain. Sedangkan kamu punya posisi yang mungkin akan merasakan kata itu setelah menikah. Apalagi nanti setelah punya anak.”
Angel menatap mata Rian. Lelaki itu memancarkan kelembutan seperti biasanya. Tidak ada emosi di sana. tidak ada rasa kesal juga yang Angel lihat. Rian seolah sudah tahu jika hari ini Angel akan mengatakan hal tersebut.
“Kamu model. Kamu juga seorang desainer. Jelas gak gampang ada di titik kamu yang sekarang. Dan aku paham hal itu. Kamu gak perlu khawatir. Aku udah mikirin semuanya matang-matang. Dan kalau aku emosi, itu karena aku yang terlalu mikirin pekerjaan dan masalah pernikahan bersamaan. Itu kadang emang buat aku gak bisa kontrol emosi. Tapi bukan berarti aku kesel sama kamu karena hal itu.”
“Jadi Abang gak nahan apapun, kan?”
“Nahan, sih. Tapi gak sampe buat aku gak bahagia.”
“Beneran?”
Rian mengangguk. “Bener. Tapi kalau kamu tanya tentang tahan iman, kayanya itu yang bisa baut aku gak bahagia.”
“Ya?”
“Kamu terlalu cantik dan menggoda soalnya.” Rian mengedipkan sebelah matanya.
“Emangnya aku janda!”