Cahaya putih menusuk kelopak matanya, memaksanya terbuka lalu menyipit dan mengerjap beberapa kali. Jendela dengan tirai yang sudah dibuka adalah hal pertama yang dilihatnya, pusing masih terasa kala ia bangun dan menendang selimut ke samping. Disha memperhatikan seisi ruangan, baru menyadari kalau dia memang ada di kamarnya. Seingatnya, semalam ia bersama Mita dan Rei di ruang makan, menghabiskan berkaleng-kaleng bir yang dititipkan Raga pada mereka – atau lebih tepatnya Disha yang menghabiskan berkaleng-kaleng bir. Kenapa bisa di kamar, ya?
Ia bangkit, menyisir rambut dengan jemarinya lalu keluar dari kamar. "Udah bangun? Mual nggak?" Pertanyaan Raga menyapanya begitu Disha muncul di ruang makan. Disha menggeleng, membuka mini kulkasnya lalu mengambil botol air mineral dingin yang masih penuh. Ia menghabiskan setengah botol dalam sekali teguk.
"Pulang jam berapa semalem, Bang?" Tanya Disha sambil menutup botolnya lalu mengembalikannya ke dalam kulkas.
"Pas kamu ribut sama Rei, kan, Abang di pintu." Jawaban Raga sukses membuat Disha memutar otak seketika.
Ribut sama Rei?
Apa yang terjadi semalam? Bukannya mereka mengobrol lalu...
"Bisa nggak, lo berhenti nempelin gue melulu? Gue udah bilang kalau gue cuman nganggep lo tetangga gue! Nggak mikir, ya, sama perasaan Mita!"
Disha menepuk jidatnya, mendecak sebal lalu mengusap wajahnya frustasi. Dia tidak tahu bagaimana Mita sekarang, ia yakin seratus persen kalau Mita menghindarinya setelah ini. Raga menoleh, terkekeh melihat ekspresi kaget dan panik Adiknya itu. "Lagian kamu ngapain minum banyak-banyak segala?" Raga bertanya, kembali sibuk dengan masakannya.
"Kelepasan ih! Mana aku tahu kalau ternyata –
"Mana ada minum kelepasan, Dek." Potong Raga yang kemudian mematikan kompor setelah bubur kacang hijaunya matang.
Disha menghela nafas panjang, mengacak rambutnya kemudian beranjak. Dia harus bicara dengan Mita sekarang juga. Bubur kacang hijau mungkin bisa jadi alasan untuk ––
"Mit!" Disha memanggil saat ia membuka pintu. Ia mendekat hendak menahan lengan Mita tapi tetangganya itu justru berbalik dengan cengiran lucu di wajahnya.
"Aku buru-buru mau ke Gereja, Dis," ujarnya melambaikan tangan lalu secepat kilat menuruni tangga meninggalkan Disha. Bahkan, Rei yang baru membuka pintu di bawah tidak disapa oleh Mita seperti biasanya.
"Aaarrrghhhhh!" Disha mengerang, menjambak pelan rambutnya sendiri sambil berjongkok memperhatikan pintu kaca gedung yang sudah kembali tertutup. Rei menoleh, memandang Disha. Sayangnya, belum sempat Rei bertanya, Disha sudah menatap tajam lalu beranjak kembali ke rumahnya – lengkap dengan pintu rumah dibanting tertutup.
***
"Ini jantung mau copot tiap lo deketin gue! Jadi berhenti sekarang karena gue nggak mau Mita sakit hati terus menjauh dari gue, dan elo!"
Helaan nafasnya terdengar. Langkahnya berhenti beberapa meter sebelum sampai ke gedung Townhouse tempatnya tinggal. Mita menahan diri untuk tidak berteriak, dia benar-benar tidak tahu harus bagaimana saat bertemu Disha atau Rei nanti. Pergi ke gereja saatu jam lebih awal dan sekarang pulang tepat pukul satu siang adalah cara kabur terbaik, karena biasanya jam segini Disha ataupun Rei pasti tidak keluyuran di luar rumah. Santai, Mita, pura-pura bego aja kayak biasanya.
Ia melanjutkan langkah. Jantungnya masih berdebar tak keruan – takut bertemu Disha atau Rei saat membuka pintu. Pintu kaca gedung dibuka, Mita mundur satu langkah. Ia tersenyum saat Lina, Pemilik Surabaya Townhouse muncul bersama . . .
"Mita, dari gereja?" Sapa Lina dengan senyum ramah yang baru beberapa kali dilihat Mita itu. Mita mengangguk, tersenyum canggung sambil melirik laki-laki bermata elang mengerikan yang berdiri di belakang Lina.
"Ah, ini Filan. Minggu depan dia pindah ke rumah yang ujung, dekat rumahmu sama Disha," Lina melirik laki-laki di belakangnya yang tidak tersenyum sama sekali, "Filan ini Mita, dia ––
"Saya harus bayar separuhnya dulu, kan, Mbak? Atau bisa pakai kartu kredit?" Laki-laki itu tanpa ragu memotong ucapan Lina, mengabaikan perkenalannya dengan Mita.
"Saya masuk dulu, Mbak." Mita buru-buru pamit lalu masuk ke dalam gedung, naik ke rumahnya di lantai dua.
Apaan sih? Sombong banget. Nggak sopan lagi.
Mita menggerutu dalam hati sambil memasukkan anak kunci. Baru memutar kuncinya satu kali, teriakan penjual Bakpao yang lewat membuyarkan konsentrasinya untuk cepat-cepat buka pintu, masuk rumah lalu sukses menghindari Disha dan Rei. Baru saja menoleh ke pintu gedung di bawah, pintu rumah Disha dijeblak terbuka. Dalam sepersekian detik, suara gedubrak menggema, Mita dan Disha berlari secepat kilat keluar gedung menghadang penjual Bakpao.
"Aduh, Mbak, jangan lari-lari. Malu saya jadinya." Mas Penjual Bakpao tergelak melihat Disha sampai lebih dulu.
"Masih ada, kan? Beli empat." Disha mengeluarkan selembar uang lima ribu tepat saat Mita berdiri di sampingnya.
"Kebetulan tinggal empat doang, cokelat semua Mbak." Mas penjual Bakpao memasukkan empat bakpao ke dalam plastik.
"Aku dua, Mas." Mita menyahut.
"Tinggal empat, Mit. Punyaku." Disha menatap Mita yang berusaha mengatur nafas karena berlari.
"Ya, bagi dua dong! Aku dua pokoknya, Mas!" Mita melotot pada Mas penjual Bakpao.
"Nggak! Aku beli empat. Kamu besok lagi aja belinya!" Disha tak mau kalah.
"Mbak, gini –
"EMPAT MAS! AKU UDAH BILANG KAN, KALO AKU BELI EMPAT!" Disha menaikkan suaranya pada Mas penjual Bakpao yang berniat menengahi perdebatannya dengan Mita.
"AKU LANGGANAN, LHO MAS! AKU DUA! DIA DUA! ADIL!" Mita menarik lengan Mas penjual bakpao, tak mau kalah.
"AKU DULUAN MAS. BURUAN!" Disha mengambil bakpao yang sudah berada dalam kantung plastik, lalu meletakkan uang lima ribu dan pergi begitu saja.
"Kembaliannya Mbak!"
"Disha!" Teriak Mita berjalan cepat menyusul Disha.
Mita menarik lengan Disha tapi beberapa kali tetangga depan rumahnya itu menepisnya dengan mudah. Kesal karena Disha tidak mau mengalah, Mita melepas converse abu-abunya, melemparnya tepat mengenai punggung Disha sampai perempuan tampan itu tanpa sengaja menjatuhkan plastik bakpaonya ke dekat tempat sampah di depan gedung tempat tinggal mereka.
"Yaaaaah!" Seru Disha menatap kaget bakpaonya yang kini sudah tergeletak bersama beberapa plastik sampah. Ia berbalik, menatap kesal Mita yang tak jauh berbeda dengannya – kesal setengah mati, karena bakpao dan masalah semalam.
"Apa salahnya bagi dua! Kan, bisa makan semua!" Teriak Mita tanpa peduli pada orang-orang di sekitar.
"Bakpao, ya, bakpao! Temen, ya, temen Mit!" Sahut Disha tanpa merasa bersalah.
"Kamu tuh nyebelin, sumpah!" Suara Mita bergetar menahan tangis.
Baru saja membuka mulut hendak minta maaf, Mita berjalan cepat melewati Disha begitu saja lalu masuk ke gedung townhouse mereka. Debam suara pintu terdengar kemudian, Disha menghela nafas berat, lagi-lagi ia mengacak rambut frustasi. Dia lupa kalau Mita sedang menghindarinya, sekarang dia salah bicara soal bakpao. Ia mendecak sebal, mengambil sebelah sepatu Mita yang tadi mengenai punggungnya.
Rei melihat Disha membuka pintu, ia menahan lengan Disha dan dibalas tatapan tajam oleh perempuan itu.
"Lepas!" Disha menyentak tangannya lalu berjalan meniti tangga. Berhenti di depan pintu rumah Mita.
Rei memperhatikan Disha yang mengetuk pintu rumah Mita berkali-kali lalu terdengar teriakan Mita.
"Bukain, Mit!" Teriak Disha pada akhirnya.
Rei tersenyum tipis lalu kembali masuk ke rumah. Disha tak mau berhenti, ia terus mengetuk pintu rumah Mita lalu meneriaki nama tetangga depan rumahnya tersebut. Bodoamat, deh, teriak-teriak.
"Mita! Bukain!" Teriak Disha sekali lagi.
Disha tersentak saat pintu dibuka oleh Mita. Perempuan itu melihat sebelah sepatunya yang dipegang Disha, dengan cepat ia menyambar sepatunya tersebut lalu menutup pintu yang sayangnya sudah ditahan oleh kaki Disha. Tanpa mempedulikan kaki kanan Disha yang sengaja dijepitkan di pintu, Mita mendorong pintunya.
Disha meringis menahan agar pintu tidak semakin menjepit kakinya, "Mita ini sakit!"
Mita dan Disha saling mendorong pintu, berulang kali Disha menarik kakinya keluar, hasilnya justru ia kembali terjepit. Disha meringis saat Mita mendorong pintu semakin kuat, "buka to, Mit! Sakit!" Seru Disha sekali lagi.
Mau tak mau, Disha mendorong pintu lebih kuat sampai ia berhasil menarik kakinya dan yang paling sial justru tangan kanan yang kalin ini terjepit.
"AAARGGHH! TANGAN GUE a*u!" Teriakan Disha berhasil membuat Mita menarik kembali pintu yang menjepit jemari tangan kanan Disha. Panik terlihat jelas di wajah Mita kala ia menarik Disha masuk lalu memeriksa tangan Disha yang luka.
Mita tidak mengatakan apapun, ia membiarkan Disha duduk di sofa lalu mengambilkan kotak P3K di atas mini kulkas. Disha meringis saat Mita mengusap kapas dengan obat merah pada empat jemari Disha yang luka. Terakhir, tangan Mita bergetar meneteskan obat merah. Disha membungkuk, berusaha melihat Mita yang terus menunduk menyembunyikan wajahnya.
"Mit, kamu nangis?" Disha menarik tangan Mita yang berusaha menutupi wajah.
"Mit, maaf. Sumpah aku minta maaf." Disha terus menarik tangan Mita yang menutupi wajah.
"Kamu pulang sana." Suara parau Mita membuat Disha semakin kuat menarik tangan perempuan itu agar tidak lagi menutup wajahnya.
"Aku minta maaf. Soal semalem aku minta maaf. Soal bakpao juga aku minta maaf." Disha melepaskan tangannya, lalu menjauhkan diri dari Mita.
Tetangga depan rumahnya itu menyeka air mata yang mungkin sudah membasahi wajahnya. Cukup lama sampai Mita mengangkat kepalanya, tersenyum lalu tertawa karena Disha berusaha menahan diri untuk tidak tertawa – ekspresi Disha begitu lucu saat ini.
"Udah dimaafin, nih?" Tanya Disha.
Mita mengangguk, "udah sana pulang."
"Kok jadi diusir, sih?"
"Ya terus kamu mau ngapain di sini?" Mita membereskan kotak P3Knya lalu beranjak ke ruang makan.
"Kamu masak, nanti aku yang makan." Ujar Disha sambil berbaring di sofa.
***
Jam dinding di ruang tengah menunjukkan pukul 23.55, lima menit menjelang pergantian tahun. Disha menutup kaos putih tanpa lengannya dengan kemeja flannel biru lalu keluar rumah, menyusul Raga ke trotoar di depan. Mita pernah mengatakan kalau daerah tempat mereka tinggal adalah daerah strategis untuk melihat pesta kembang api tanpa perlu ke alun-alun atau Taman Hiburan Rakyat Surabaya. Disha tersenyum melihat Mita sudah berdiri di samping Raga, kakaknya itu sudah diapit oleh Mita dan Rei. Disha mendekat, jalanan semakin ramai dan perlahan kembang api meluncur, meledak menghiasi langit tengah malam kota Surabaya. Teriakan orang-orang yang melihat di jalanan sekitar Surabaya Townhouse membuat Disha lebih tertarik untuk memperhatikan sekeliling. Matanya menangkap ekspresi suka cita orang-orang setiap kali kembang api meledak di udara.
Rasanya baru kemarin dia datang dengan koper-koper besar ke lantai dua, nyaris dikira laki-laki oleh Lina lalu berkenalan dengan Mita yang ternyata sangat mudah menerima tetangga baru. Ia menemukan hal-hal yang menyamarkan rasa sakitnya untuk saat ini.
"Bener, kan? Nggak perlu ke Taman Hiburan Rakyat, nggak perlu kemana-mana. Berdiri aja di sini, pesta kembang apinya kelihatan." Ujar Mita ditengah keramaian orang-orang yang berhenti di tengah jalan demi melihat kembang api.
Entah sudah berapa kali ia tersenyum sejak tadi. Disha kembali memperhatikan sekeliling, matanya berhenti pada laki-laki yang berdiri di seberang jalan. Laki-laki yang rasanya pernah ia lihat entah dimana.
"Ah, iya! Kita bakal kedatangan tetangga baru minggu depan. Orangnya sombong, sok cool gitu, kayaknya nggak ramah. Nggak asik." Mita menggamit lengan Disha.
"Kamu udah ketemu Filan?" Rei menyahut, mencodongkan tubuhnya ke depan untuk melihat Mita.
"Udah! Songong! Temenmu toh?" Mita ikut mencondongkan tubuhnya ke depan memandang Rei yang terhalang tubuh tinggi Raga.
"Iya, teman saya, Mit. Dia memang gitu kalau kamu belum akrab." Jelas Rei.
"Bisa nggak, lo berdua nggak kayak anak TK mainin tiang listrik gitu?" Raga menatap kesal Mita dan Rei.
"Oh, kamu orang toh?" Sahut Mita kembali berdiri tegak.
"Saya kira tiang listrik. Saya pikir barusan tinggi saya bertambah karena sebelahan sama kamu, Ga." Sambung Rei dengan cengiran bodohnya.
"Bule kampret." Umpat Raga.
Fokus mereka kembali tertuju pada kembang api yang belum juga habis. Disha tersenyum, menghela nafas lega, dia mulai mencintai Surabaya.
"Kangen gue, ya?"
***