Raga menahan lengan pegawainya yang membawa nampan berisi tiga gelas minuman berbeda. Ia mmengambil nampan tersebut lalu mengisyaratkan pada pegawainya untuk mengurus pesanan yang lain. Ia berjalan mendekati meja di sudut cafe, bersebelahan dengan jendela. Diletakkannya pesanan minuman tersebut sampai salah satu dari tiga pemesan menoleh – Rei.
"Nggak ada tempat makan lain apa?" Mita sudah lebih dulu berbicara saat Raga membuka mulut. Laki-laki itu mendengus.
"Kamu udah bikin malu. Jadi, aku yang nentuin tempat kita makan sekarang." Sahut Disha cukup tegas.
Mita mengerucutkan bibir, menarik segelas Lemon Tea miliknya. Sepanjang perjalanan Rei menyetir, dua perempuan itu tak berhenti berdebat dimana mereka akan makan malam. Disha bersikeras makan gratis di Cafe milik Raga sementara Mita bersikeras makan di McDonalds. Apa enaknya makan Junk Food? Gemuk iya, sehat engga! Begitu kata Disha.
Perdebatan dimenangkan Disha setelah perempuan tampan itu mengatakan kalau Mita harus menurutinya karena sudah mempermalukan mereka berempat di bandara tadi. Maka, disinilah mereka sekarang. Menunggu tiga porsi Nasi Goreng Mozarella gratis dari sang pemilik Cafe yang kini justru bergabung dengan mereka.
"Kamu ngapain di sini?" Mita bertanya ketus melihat Raga duduk di samping Rei, masih lengkap dengan celemek hitam tergantung di pinggang.
"Ini Cafe siapa?" sahut Raga.
"Cafe lo." Mita menjawab.
"Nah, ya udah." Raga mengedikkan bahunya.
"Nggak ngerti aku." Mita bergumam.
Hening menyapa saat tiga piring Nasi Goreng Mozarella pesanan mereka datang. Disha dan Mita punya kemiripan dalam hal makan. Mata keduanya akan bersinar terang bagai bulan purnama melihat makanan lezat dihidangkan di depan mereka – apalagi kalau ada menu bebek kesukaan Mita.
Mita dan Disha menyantap makan malam lebih dulu. Rei tak bisa mengalihkan pandangannya dari Disha, Raga melihat hal itu cukup jelas.
"Itu nasi goreng nggak akan jalan sendiri ke mulut lo, Bule." Bisik Raga yang kemudian bangkit, meninggalkan meja setelah lima detik menangkap ekspresi lucu Mita saat makan.
Rei menggaruk tengkuknya yang tidak gatal atau lebih tepatnya ia malu tertangkap basah.
Tak ada percakapan, bagi Disha dan Mita, peraturan paling pertama saat makan adalah tidak bicara. Karena itu mengurangi kenikmataan rasa makanan, itu jawaban Mita. Selama Disha makan, mata lelaki yang duduk di depannya tak sedetikpun melewatkan setiap gerakan Disha, bahkan setelah piring mereka bersih pun Rei masih melirik Disha beberapa kali. Dan Mita menyadarinya ... sejak tadi.
"Mau kemana lagi kita? Baru jam setengah delapan lewat lima menit." Disha membuka pembicaraan sambil melihat jam di ponselnya serta membuka beberapa pesaan dari teman-temannya.
"Gue tutupnya masih lama. Gimana kalau gue nitip ini sekalian." Raga memberikan toote bag berisi limaa belas kaleng Bali Hai Premium pada Rei.
Disha mengintip isi toote bag tersebut dan nyaris tak percaya, "mau jualan apa gimana, Bang?" sahut Disha pada Raga yang berdiri dengan senyum tipisnya.
"Tiga kaleng aja bisa bikin kamu mabuk kalau nggak terbiasa minum bir." Sambung Rei.
"Gue tahu, bawa aja. Kalian boleh ambil kalau mau. Gue tinggal dulu." Raga menepuk pundak Rei dan Disha lalu kembali masuk ke cooking room.
Disha tahu, sangat tahu kalau Raga tidak bisa menolak pemberian teman baiknya yang bekerja di perusahaan Bir terkenal itu. Sekarang, kakaknya itu kembali menerima hadiah spesial yang sudah ketiga kalinya diberikan oleh Arvin. Entah karena teman kakaknya itu diberi jatah oleh perusahaannya atau memang dia tidak punya hadiah lain untuk diberikan.
"Kadar alkoholnya cuman 4.5%, menurutku nggak masalah, sih." Mita sudah memegang satu kaleng yang bersiap dia buka kalau saja Disha tidak langsung merebutnya, "Disha, ih!" seru Mita kesal karena kaleng bir itu sudah berada di tangan Disha.
"Perempuan nggak boleh minum ini." Disha bangkit setelah membuka kaleng bir hasil rampasan itu.
"Kamu juga perempuan, Dis." Sahut Rei yang masih menjinjing toote bag di tangan kanan.
"De'e lanang, tapi ora nduwe manuk karo endok kok." Sahut Mita yang berjalan mendahului Disha dan Rei.
"Diajari siapa kamu ngomong gitu, weh!" Disha berjalan lebih cepat, menoyor kepala tetangga depan rumahnya itu lalu merangkulnya setelah meneguk birnya.
Disha menghabiskan birnya, melempar kaleng kosong itu ke dalam tempat sampah khusus untuk alumunium dan bahan yang sulit di daur ulang. Ketiganya berhenti di dekat tangga menuju lantai dua. Toote bag berisi kaleng-kaleng bir yang dibawa Rei pun sudah berpindah ke tangan Disha dan perempuan tampan itu juga sudah membuka satu kaleng lagi untuknya.
"Dis, aku ke rumahmu aja, ya? Nanti kalau Raga pulang baru aku juga pulang. Bingung, lho, mau ngapain." Mita mengambil satu kaleng untuk dirinya tapi sekali lagi, kaleng birnya dirampas – kali ini oleh Rei.
"Saya juga mau ke rumah kamu." Rei membuka kalengnya, meneguk bir sampai setengah kaleng lalu berjalan lebih dulu.
"Apa sih, dia?" Gerutu Disha yang kemudian berjalan di belakang.
Kaleng ke-empat untuk Disha. Rei dan Mita tidak tahu kesadaran Disha masih berfungsi atau tidak karena Disha tidak berhenti mengoceh sejak tadi. Melihat Disha saja sudah cukup bagi Mita untuk tidak menyentuh Bir yang sekarang tergeletak sembarangan di atas meja makan kecil di rumah Disha. Dadanya mendadak sesak melihat Rei merebut kaleng di tangan Disha, perempuan itu menoleh, menatap kesal lalu membentak Rei cukup keras.
"Lo kenapa, sih?" Teriak Disha pada Rei.
"Ini kaleng ke empat, Dis. Saya nggak bisa biarkan kamu –
Ucapan Rei terhenti kala Disha bangkit menarik kerah kemeja Rei, melayangkan tinjunya tepat ke pipi kiri Rei.
"Disha!" Seru Mita yang kemudian bangkit dari kursi, menarik mundur Disha agar menjauhi Rei.
Disha melepas kedua tangan Mita dari lengannya, ia masih bisa berdiri tegak meski setengah sadar karena alkohol dari bir yang mulai berpengaruh. "Bisa nggak, lo berhenti nempelin gue melulu? Gue udah bilang kalau gue cuman nganggep lo tetangga gue! Nggak mikir, ya, sama perasaan Mita!"
Pandangan Rei beralih pada Mita yang berdiri di belakang Disha. Kaget, tidak percaya, kecewa, semuanya terlihat jelas dari ekspresi Mita saat ini.
"Ini jantung mau copot tiap lo deketin gue! Jadi berhenti sekarang karena gue nggak mau Mita sakit hati terus menjauh dari gue, dan elo!" Teriakan terakhir Disha membuat Mita mengepalkan tangannya lalu pergi begitu saja.
Mita tidak menyangka kalau Disha tidak bisa menjaga rahasia terbesarnya. Tidak bisa menutup mulutnya untuk masalah Rei yang sudah dia anggap selesai. Tanpa sadar, aair matanya menggenang saat ia berhenti di pintu karena hampir menabrak Raga. Tanpa mempedulikan lelaki yang begitu mirip dengan Disha itu, Mita mendorongnya cukup kuat lalu masuk ke rumahnya sendiri, menutup pintu saangat keras sampai Raga berpikir gedung mereka akan roboh.
Penasaran, Raga menghampiri Rei dan Disha di ruang makan yang bergabung dengan dapur. Langkahnya berhenti di dekat mini kulkas setelah mendengar teriakan Disha.
"Pergi nggak lo? Pergi nggak?" Teriak Disha melempari Rei dengan kaleng-kaleng kosong di atas meja.
"Keluar aja, biar gue yang urus." Raga memberi isyarat dengan tangannya agar Rei keluar sebelum kaleng bir penuh yang dilemparnya ke kepala bule jepang itu.
"Pergi lo anjing!" Teriak Disha mengambil kaleng bir yang masih penuh, siap dilempar.
"Woi! Woi! Woi! Santai, jangan yang ini yang dilempar." Raga menahan tangan Disha, mengambil kalengnya lalu menahan tubuh Adiknya yang sudah setengah sadar sambil terus menyumpah serapahi nama Rei.
Rei menutup pintu rumah Disha, memandangi pintu rumah Mita cukup lama. Orang mabuk selalu jujur dan Rei masih tidak percaya kalau Mita menyimpan perasaan padanya selama ini.
***
Pukul dua dini hari. Mita masih duduk di tepi ranjang, semua ucapan Disha berputar dalam kepalanya. Yang menjadi masalah bukanlah Disha yang mabuk lalu mebocorkan perasaannya pada Rei, tapi kenyataan kalau Rei pasti menjauh setelah tahu yang sebenarnya. Ia menghela nafas, memakai hoodienya lalu keluar dari rumah. Balkon atap gedung mereka adalah tempat terbaik untuk menghabiskan malam. Ah, kalau saja rumah kosong di dekat tangga menuju atap itu tidak dikunci, mungkin itu akan tempat persembunyian yang cocok untuknya saat ini. Benar, masih tersisa satu rumah yang agak lebih besar dari rumah lainnya di gedung nomor tiga paling ujung itu. Rumah yang sudah lama kosong dan kadang menjadi tempat persembunyian Anjing tetangga gedung sebelah yang hobi jalan-jalan tengah malam.
Sekarang anjing itu duduk di tepi balkon, memperhatikan Mita yang berjalan mendekat. "Kamu ngapain di sini? Kenapa nggak tidur? Pulang ke rumahmu, hmm?" Mita memangku anjing berbulu cokelat itu setelah duduk di tembok pembatas balkon atap.
"Lo sendiri ngapain nggak tidur?" Suara yang dibuat-buat agar mirip anak kecil itu terdengar dari pintu atap, Mita menoleh, menemukan Raga berdiri di sana hanya dengan boxer dan hoodie Thrasher buluk yang mungkin sudah tiga bulan tidak dicuci.
Mita mendecak sebal karena anjing lucu di pangkuannya menghambur lalu berlari menjauh.
"Lo naksir si bule?" Tanya Raga tanpa basa-basi. Atau lebih tepatnya ia hanya menebak dengan keyakinan seratus persen benar.
"Apa, sih? Sok tahu! Nggak usah sok baik deh." Sahut Mita mengalihkan pandangannya ke arah pemabdangan jalan raya di depan gedung Townhouse mereka.
"Gue emang baik." Raga memanjat tembok pembatas atap lalu duduk, membiarkan kakinya menggantuk ke bawah. Mita hanya melirik laki-laki itu, tidak menjawab atau protes pada kalimatnya seperti yang biasa ia lakukan.
"Kalau lo nggak suka si bule, kenapa keluar? Bukannya nolongin Adek gue?" Raga menoleh, menatap Mita yang bersandar membelakangi tembok pembatas atap.
Mita diam, bukan karena enggan menjawab tapi memang apa yang dikatakan Raga itu benar. Bahkan laki-laki yang baru tiga minggu menjadi tetangganya itu bisa melihat dengan jelas.
Hening, Raga tidak lagi bertanya. Laki-laki itu mengeluarkan Chupa Chups, membuka bungkusnya lalu memasukkannya ke mulut, membiarkan tangkai permen itu menjulur di antara bibir. Raga lebih suka permen dibanding rokok, dan itu lucu.
"Kamu nggak ngerokok?" Mita bertanya penasaran.
Raga menggeleng, "ngerokok bikin mati."
"Nanti kalau kamu mati, aku ngelayat." Sahut Mita.
"Matamu." Raga menjawab tanpa menarik permen tangkai di mulutnya.
"Aku itu nggak kayak Disha yang bebas cerita apapun, aku nggak kayak Disha yang bisa bersikap seenaknya tanpa mikirin perasaan Rei kayak gitu, aku juga nggak kayak Disha yang begitu menarik dimata cowok. Mana ada lho, cowok yang mau deketin aku setelah ngerti sifat asliku." Mita tersenyum pahit, menyadari dirinya yang sangat berbeda dari Disha.
Raga mendengarkan, sesekali matanya melirik perempuan berambut hitam panjang itu. Tawanya pahit.
"Kenapa Disha nggak bisa nerima sikap Rei ke dia?" Mita menatap Raga yang asik dengan tangkai permen dibibirnya.
Laki-laki itu menarik permen dari mulut, "karena dia nggak percaya orang lain, terutama laki-laki. Bahkan, percaya sama gue aja masih setengah-setengah padahal gue kakak kandungnya."
"Enak ya, bisa nggak menaruh kepercayaan sepersenpun ke orang lain. Nggak perlu sakit hati." Lagi, tawa pahit terdengar dari mulut Mita.
"Setelah omongan Disha tadi, lo masih percaya dia? Bukannya lo sakit hati karena Disha bongkar perasaan lo ke Rei?"
"Disha mabuk tadi."
"Itu pertama kalinya dia mabok."
"Makanya aku yakin Disha nggak sengaja. Lagian, aku udah nggak suka Rei kok."
Raga melihat jelas perempuan di sampingnya itu tersenyum. Membohongi dirinya sendiri. Mengalah karena tidak mau menyakiti orang lain. Menyakiti diri sendiri, lalu esok pagi bersikap seolah tak ada sesuatu yang terhadi antara dirinya dan Disha.
Raga mendecak sebal lalu melompat turun, "tidur, udah malem. Apa mau gue bantuin supaya bisa tidur?"
"NDASMU!"
***