"Komplain dari pelanggan itu tanggung jawab kamu, bukan bagian Produksi. Kalaupun Jati yang salah nyetak, ini tetap kesalahan kamu karena nggak mantau kerjaan dia. Tanggung jawabmu sampai ke pengecekan hasil cetak. Beruntung orangnya cuman protes dan terpaksa tetap pakai undangan, kalau disuruh nyetak ulang, minta yang baru, kamu siap potong gaji karena kerugiannya?" Hanum memijat keningnya, dia tahu betul Disha adalah salah satu Grpahic Designer yang paling teliti, tapi tetap saja kesalahan sekecil apapun menjadi tanggung jawabnya, "jangan sampai ada kesalahan lagi. Kamu bisa istirahat makan siang."
"Iya, Mas. Saya keluar dulu." Disha bersikap sesopan mungkin sampai pintu ruangan kembali ditutupnya.
"s**t. Gara-gara Jati." Umpatnya sambil melempar tinju ke udara. Kesal setengah mati karena menanggung omelan Hanum sendirian, sudah pasti Jati diceramahi habis-habisan oleh Kadiv Produksi.
Selera makannya hilang karena omelan Hanum yang kalau dihitung sudah satu jam penuh mungkin. Langkahnya berbelok ke pantry, ia menghempaskan tubuh ke sofa santai. Membiarkan kakinya menggantung di bantalan sofa. Rasa laparnya sudah lenyap, yang tersisa hanya gerutuan-gerutuan kecil tak terucap. Matanya memperhatikan pintu yang didorong terbuka.
Ah, si anak magang yang bulan depan bakal disidang bisa jadi pegawai tetap atau enggak.
Disha diam, memperhatikan laki-laki yang seumuran dengannya dan baru mendapat title Anak Magang seminggu ini. Namanya Aril, sejauh ini yang diketahui Disha adalah, laki-laki asli Jakarta itu suka misuh-misuh di toilet.
"Anak magang." Panggil Disha yang akhirnya bangun dan duduk bersila di sofa.
Aril menghela nafas, berusaha tidak melempar kepala Disha dengan sendok dan cangkir berisi kopi yang ia buat untuk Mas Banu tersayang. Laki-laki yang rambutnya cukup panjang dan bagian poni diikat ke atas itu berbalik.
"Kenapa mau aja disuruh bikin kopi?" Tanya Disha yang penasaran kenapa Aril siap siaga setiap kali disuruh-suruh entah itu ke pantry atau beli rokok atau bahkan mengecek hasil cetakan yang harusnya menjadi tanggung jawab para Graphic Designer yang bersangkutan.
"Karena saya, kan, masih magang. Harus bersikap baik sama--
"Terus kalau lo magang di sini, lo jadi babu, gitu?" Sahut Disha tanpa mendengar jawaban Aril sampai selesai.
Aril diam, menahan diri untuk tidak melempar kata a*u karena Disha tidak memikirkan bagaimana sulitnya menolak perintah para pegawai tetap.
"Bikin kopi itu tugasnya OB, jangan bikin Asep makan gaji buta." Disha bangkit, mengambil secangkir kopi milik Banu lalu keluar dari pantry. Dia pernah menyandang status Anak Magang, tapi dia bukan Office Boy yang mau disuruh-suruh bikin kopi sementara dia melamar pekerjaan sebagai Asisstant Design.
Ctak!
Secangkir kopi yang dibuat Aril ia letakkan di meja Banu. Rekan kerjanya itu mengangkat kepala, menatap ngeri pada Disha yang diselimuti aura gelap. Kalau mood perempuan tampan itu sedang buruk, maka asap hitam akan terlihat kasat mata. Bisa saja dia berubah jadi kuntilanak atau genderuwo dalam lima detik. Oke, itu deskripsi sialan dari Banu.
Hening. Disha hanya menatap tajam Banu lalu kembali ke mejanya. Ini hari Sabtu, besok hari Minggu dan tentu saja tahun baru. Disha sial hari ini karena ulah Jati, ditambah lagi perilaku Banu yang seenaknya pada anak magang. Bukan tidak boleh menyuruh Aril membuat kopi untuknya, tapi itu sudah kelima kalinya sejak Aril mulai bekerja Senin kemarin.
Pandangan Aris, Juli dan Banu beralih pada Aril yang duduk di mejanya--disamping meja Juli. Laki-laki itu diam, kembali pada pekerjaannya tanpa menghiraukan tatapan heran dari tiga orang di ruangan.
Ponselnya bergetar pendek, baru saja ia meraih benda tipis berbingkai metalik itu, getaran mulai terasa berkali-kali.
Pasti grup rumah. Apa, sih? Berisik banget.
Disha menggeser notifikasi Line yang masuk. Tebakannya benar, berondongan pesan dari Mita, Arbi dan Rei masuk.
Mita: Aku gak pulang. :"
Arbi: Gue sore ke airport. Check in jam 7.
Rei: Jadi pakai mobil saya Bi?
Arbi: Jadilah! Ongkos taksi mahal.
Mita: Gak bs ya klo km gak pergi bi?
Disha mengetikkan balasan.
Disha: Mau pulang aja ga modal lu!
Arbi: Bodoamat njing.
Disha: a*u nyolot!
Rei: Stop fighting or I kicked you both.
Arbi: Gk usah dibaca bego!
Disha: Ga usah dibaca oneng!
Mita: Ciye. Samaan.
Raga: Berisik anjing!
Arbi deleted Disha from group.
Rei deleted Arbi from group.
Raga deleted Rei from group.
Mita deleted Raga from group.
"a*u. Malah dikick." Umpat Disha setelah grup chat yang dibuat Rei berganti nama dari Gedung 03 menjadi Empty Room.
***
"Bi, nggak usah pergi, ya?"
Suara Mita terdengar dari lantai bawah saat Disha keluar sambil mengancingkan kancing kemejanya yang paling atas. Ia terkekeh melihat Mita bersandar di ambang pintu rumah Arbi, wajah sahabatnya itu memelas.
Disha berjalan menuruni tangga, mengirim pesan pada Raga bahwa ia akan pulang sebelum Kakaknya itu menutup Cafe. Sampai di pintu, Rei keluar dari rumah, begitu juga dengan Arbi yang sudah menyandang ransel hitamnya.
Belum sempat Arbi memberikan kunci mobil pada Rei, Disha sudah menyambarnya lebih dulu. Berjalan keluar tanpa mempedulikan seruan kesal Arbi.
"Kamu nggak mikirin perasaanku, Bi. Sepi tahu, kalau nggak ada kamu." Mita membuka pembicaraan setelah mereka semua masuk ke mobil.
Disha memperhatikan Arbi dan Mita yang duduk di bangku belakang melalui Rear view. Mita tak berhenti merengek agar Arbi tidak pergi, sementara Arbi berusaha melepaskan tangan perempuan itu yang terus saja menarik lengan kemejanya.
"Mit, biarin kenapa, sih? Lagian, kan, arbi--
"Aku nggak rela lho!" Mita memotong ucapan Disha dengan suara serak hampir menangis.
Mau tak mau, Disha diam. Kembali fokus pada kemudi dan jalanan di depan. Ikut campur urusan suami istri di belakang bisa membuat mobil mereka terbalik di tol. Rei menggeleng mendengar rengekan Mita sekali lagi, tangannya meraih kabel data dari dashboard, menyambungkan ponselnya dengan tape mobil.
"Itu, kamu ada lagu Bedroom Warfare, kan?" Disha bertanya sambil memelankan laju mobil karena jalanan sudah kembali padat.
Rei menggeleng, ia masih sibuk mencari lagu. "One Way Ticket? Hey There Delilah?" Disha bertanya lagi dan Rei masih menggeleng.
"Kiwi? Paris? Paradise? Jet Lag? One Call Away? See You Again?" Cerocos Disha yang gemas karena Rei masih saja menggeleng.
Disha menginjak rem tiba-tiba, membuat Arbi dan Mita tersentak ke depan nyaris membentur kursi Disha dan Rei.
"Bangke! Ngapain lo!" Teriak Arbi di belakang.
"Kamu nggak pakai Joox? Spotify? Soundcloud? Kamu nggak punya lagu apa gitu di hape?" Disha meninggikan suaranya, menatap Rei yang masih menunduk sibuk dengan aplikasi pemutar musiknya.
Beruntung lampu lalu lintas menyala merah, Mita dan Arbi masih menggerutu saat Rei mengangkat kepalanya menatap Disha. "Jaran Goyang itu lagu apa?"
Disha diam, Mita melepas seatbelt lalu memegang lengan kiri Disha. Perempuan itu seketika diselimuti awan hitam, "sabar, Dis, sabar. Kita lagi di jalan, nanti mobilnya kebalik. Bahaya. Itu lampunya udah ijo lagi." Mita menunjuk lampu lalu lintas yang kembali menyala hijau. Disha mengatur nafasnya, berusaha menahan diri untuk tidak melepaskan sumpah serapah pada bule Jepang di sebelahnya.
Selama perjalanan, Disha berusaha mengabaikan lagu yang diputar dari ponsel Rei. Arbi tertawa puas di belakang sementara Mita asik mengikuti lirik lagu Jaran Goyang yang entah sejak kapan dihafalnya. Dalam hati, Disha merapal mantra "jangan emosi. Sabar. Sabar. Nanti mobilnya kebalik."
Disha menepikan mobil di area parkir, melepas seatbelt lalu turun tanpa mematikan mesin mobil. Kepalanya bisa pecah kalau lagu Jaran Goyang kembali didengarnya untuk kelima kali.
Arbi turun dari mobil, mentertawai Disha sambil menunjuk wajah kesal perempuan itu. Disha menepis tangan Arbi lalu berjalan lebih dulu ke Terminal E Departure, membiarkan Rei yang mematikan mesin mobil lalu membawa kuncinya.
Sesampainya di dekat tempat check in, Mita kembali berlinang air mata. Perempuan itu mengusap matanya, "Bi, ini beneran?" Tanyanya. Arbi mengangguk, sibuk dengan ransel.
"Nggak bercanda?"
"Serius, Mit." Arbi sudah kembali menyandang ranselnya.
"Serius kamu mau pergi?" Mita mengulang pertanyaannya, air mata kembali menggenang di pelupuk.
Arbi mendengus, "serius. Gue harus check in sekarang."
"Nggak!" Mita nyaris berteriak. Perempuan itu menghadang Arbi.
Disha memijat keningnya, menunduk menahan malu. Sementara Rei berdiri di samping Disha tanpa mengatakan apapun.
"Mit." Arbi mendorong Mita.
"BI!" Suara Mita lepas dengan nada tinggi yang kepleset. Hal itu membuat orang-orang di sekitar memperhatikan mereka.
Disha menarik lengan Mita, "udah, Mit. Arbi mau check in."
Mita menyentak tangan Disha dari lengannya, "apa yang udah? Arbi mau pergi lho, kamu nggak sedih apa gimana to?" Lengkingan suara Mita sukses meraih sepenuhnya perhatian orang-orang pada mereka berempat.
"Pelanin suara kamu, Mit." Sahut Rei mengingatkan.
Arbi menarik tudung jaketnya menutupi kepala, "Mit, aku--
"Wegah! Ora arep krungu aku!" Mita menutup kedua telinganya.
"Mit, denger dulu,"
"Wegah, Bi! Wegah! Nggak boleh pergi. Kamu nggak boleh pergi. Sini tiketmu!" Mita berusaha merebut tiket dalam genggaman Arbi.
"Mit, malu dilihatin orang." Disha berusaha menarik Mita yang tak mau berhenti merebut tiket pesawat Arbi.
"Emoh! Gah aku!" Mita tak mau berhenti memegangi lengan Arbi lalu menggapai tiket dalam genggaman laki-laki itu sementara Arbi berjinjit mengangkat tangan kiri tinggi-tinggi.
"Nggak--
"EMOH! AKU WEGAH MBOK TINGGAL!" Teriak Mita memotong ucapan Arbi, kemudian menyerah lalu berjongkok, menunduk menahan air mata.
Disha menelan ludah, menurunkan topinya semakin menutup wajah lalu mundur pelan-pelan, menjauh dari Arbi dan Mita. Begitu juga dengan Rei yang memperhatikan sekitar dengan wajah bingungnya. Semua mata tertuju pada drama tragis yang terjadi di dekat tempat check in itu. Arbi mendecak sebal, menarik kedua lengan Mita agar perempuan itu berdiri.
"Nggak mau! Nggak usah pergi lho!" Mita merengek untuk yang kesekian kalinya.
"MIT! YA TUHAN! AKU CUMA KE NIKAHANNYA SEPUPUKU LHO! LUSA UDAH BALIK KE SINI!" Kekesalan Arbi sudah di ubun-ubun.
"BODOAMAT! MASA KAMU TEGA NINGGALIN AKU TAHUN BARUAN SAMA DUA JONES ITU?!" Mita balas berteriak.
"Aku tunggu di parkiran deh." Disha menepuk pundak Arbi. Pergi dengan separuh wajah tertutup snapback, tidak bisa lagi menahan malu.
"Saya malu. Saya ikut Disha ya, Bi." Rei menimpali lalu berjalan menyusul Disha.
"WEH! a*u! IKI PIYE? WOI! TARAH WEDUS KABEH!"
***
Sudah lebih dari setengah jam dan Mita belum juga kembali. Arbi juga sudah mengatakan kalau dia check in sekitar sepuluh menit lalu. Tebakan Disha, tetangga depan rumahnya itu tidak sanggup keluar dari toilet karena malu.
"Belum datang juga?" Rei bertanya, menyodorkan sekaleng cocacola yang dipesan Disha. Laki-laki kelahiran Osaka itu bersandar pada pintu mobil seperti yang dilakukan Disha.
"Paling dia malu keluar dari toilet." Jawab Disha setelah meneguk colanya.
"Saya telepon, deh." Rei mengeluarkan ponsel dari saku celana, menekan speed dial nomor tiga dengan nama Mita.
Disha memperhatikan Rei yang menempelkan ponsel ke telinga. Nada sambung ke empat, panggikannya dijawab. Mita memanggil Rei dengan suara memelas.
"Kamu dimana?" Rei bertanya lalu mendengarkan.
Disha meneguk colanya sampai habis. Melempar kalengnya ke tempat sampah yang cukup jauh dari tempatnya berdiri dan tanpa sengaja kaleng kosong itu jatuh di depan laki-laki yang sedang berjalan menatap ponsel. Laki-laki itu mendadak berhenti menatap tajam Disha lalu mengambil kaleng di dekat kakinya, membuangnya ke tempat sampah lalu kembali berjalan.
"Mita di toilet, Dis. Nggak berani keluar karena malu." Ujar Rei sambil memasukkan ponsel ke saku celananya.
"Udah gue tebak," Disha menyisir rambutnya dengan tangan lalu kembali memakai snapbacknya, "lo tunggu sini, gue yang jemput Mita."
"Hati-hati." Rei mengingatkan, dibalas lambaian tangan oleh Disha.
***