Langkah gontainya berhenti di pertengahan tangga, helaan nafasnya terdengar lalu ia kembali melangkah dan berhenti di depan pintu rumahnya. Derit pintu dibuka mengalihkan pandangannya dari lantai ke pintu rumah di depan miliknya, Disha keluar dengan sekantung sampah. Mita memaksakan senyum, Disha terkekeh mengusap puncak kepalanya sebelum turun membuang sampah. Hari yang panjang dan berakhir dengan materi brevet yang menyumbat otaknya saat ini.
Selangkah masuk ke rumah dan Mita kembali berhenti, menoleh ke arah pintu rumah Rei yang terbuka di lantai dasar. Disha masuk bersamaan dengan Rei yang keluar dari rumah. Laki-laki Jepang itu menahan lengan Disha dan tatapan dingin menjadi balasan untuk Rei. Mita tidak tahu sejak kapan sikao hangat Disha berubah, yang jelas, Rei memang belakangan inj tidak punya kesempatan untuk mengobrol hangat seperti dulu dengan Disha.
Mita masih memperhatikan saat Rei dan Disha bicara, sesekali Disha berusaha melepaskan tangan Rei dari lengannya dan sayangnya gagal. Ada sesuatu dalam diri Mita yang ingin sekali mencakar Disha karena bersikap dingin pada Rei yang jelas-jelas me---
"Itu mata langsung timbilan besok pagi." Suara itu berhasil mengalihkan perhatian Mita dari Disha dan Rei di lantai dasar. Pandangannya tertuju pada Raga yang bersandar di ambang pintu sambil melipat kedua tangan.
Tanpa berniat membalas perkataan Raga, Mita berbalik lalu maju satu langkah ke dalam rumahnya. Detik berikutnya, perempuan itu menutup pintu. Raga terkekeh, matanya sempat memperhatikan Rei dan Disha di bawah sebelum akhirnya kembali masuk ke rumah.
Sementara itu, Disha menahan duri sekuat tenaga untuk tidak menyetujui ajakan makan malam dari laki-laki Jepang yang entah sampai kapan akan terus menahan lengannya.
"Kamu menghindari saya, Dis." Pada akhirnya, tangan kirinya melepaskan lengan Disha. Rei menatap Disha yang tidak lagi memperlihatkan sosok dinginnya.
"Enggak, elo aja yang berlebihan mikirnya." Bohong! Disha mundur satu langkah, memberi jarak yang baginya terlalu dekat tadi.
"Saya tahu kamu bohong."
"Sok tahu."
"Kenapa?"
"Apa yang kenapa?"
"Kenapa menghindar?" Rei serius dan Disha membeku setelahnya.
Disha tidak bisa menjawab. Tidak bisa menjelaskan kalau dia sudah berjanji pada Mita dan dia tidak merasakan apa-apa pada Rei--untuk saat ini. Disha yakin perkataan Rei beberapa minggu lalu ditujukan pada dirinya.
"Orang yang saya suka ganteng, tapi dia perempuan."
Disha mendengus. Kalau kalimat itu bukan untuk dirinya, kenapa Mita bersikap seperti itu? Tetangga depan rumahnya itu jelas-jelas cemburu. Mana mungkin kalimat Rei tertuju pada orang lain? Dia tidak bodoh kali ini.
Gimana cara gue nanya?
Disha menatap Rei yang masih menunggu jawabannya.
"Lo," Disha menelan ludah, menyingkirkan rasa malunya, "suka sama gue? Lebih dari tetangga?"
Ekspresi Rei terlalu datar, Disha tidak tahu laki-laki itu memikirkan apa tapi ia yakin Rei tahu maksudnya dan laki-laki itu pasti menjawab sama seperti yang Disha pikirkan. Tapi kalau tidak, matilah dia!
"Saya suka sama kamu sebagai perempuan." Jawaban itu akhirnya memperjelas semua pertanyaan dalam kepala Disha.
"Dimata gue, lo tetangga gue. Jadi, berhenti sekarang karena gue nggak mau ngerasa bersalah kalau suatu saat lo sakit hati." Disha mengucapkannya dalam satu tarikan nafas. Jantungnya berdegup tak keruan, bukan karena dia memiliki perasaan yang sama dengan lelaki di depannya, tapi karena sudah sangat lama dia tidak mengatakan kalimat itu pada laki-laki.
Rei terdiam cukup lama sampai Disha tak sanggup menatap kesenduan dimata laki-laki itu. Senyum hangat yang terasa berat disituasi saat ini akhirnya terkembang. Disha tidak tahu harus bereaksi bagaimana, Rei tersenyum hangat seperti biasanya, tangan kiri laki-laki itu menepuk pelan puncak kepala Disha. Baru membuka mulut hendak menghentikan kecanggungan yang mulai merayap, tangan kiri Rei sudah turun dan menggenggam tangan kanan Disha. Menarik perempuan itu keluar gedung untuk...
"Temani saya makan." Tiga kata itu meluncur bersama dengan senyum sang lelaki berdarah Jepang. Apa yang membuat hatinya retak benar-benar tidak dihiraukannya. Seolah ucapan Disha hanya terdengar di dalam kepalanya. Tak nyata.
***
Tidak ada yang lebih menyakitkan dari kelaparan tengah malam sementara kalian tinggal sendirian dan brengseknya stok bahan masakan terakhir sudah lenyap berjam-jam yang lalu. Begitulah yang terjadi pada Arbi saat ini. Jam weker digital yang tergeletak di atas nakas hampir menunjukkan pukul dua dini hari, ia terbangun karena suara petir menyambar padahal hujan sudah berhenti mungkin sekitar sejam lalu. Entah karena dia kekurangan asupan gizi sebelum tidur atau karena masakannya sendiri tidak enak tadi, rasa lapar sudah menyapa perutnya lagi. Ia bangkit, menatap melas isi kabinet atas di dapurnya lalu berpindah pada kulkas yang dipenuhi berkaleng-kaleng softdrink, minuman isotonik dan beberapa botol besar air mineral di bagian bawah. Ia menghela nafas sambil menutup pintu kulkasnya kemudian bersandar. Membangunkan Mita dini hari adalah misi bunuh diri karena perempuan yang tinggal di atas rumah Rei itu pasti akan melemparnya dengan kaleng s**u kental manis kosong atau yang lebih parah, stoples sosis yang masih penuh.
"Sialan." Arbi bergumam kesal lalu menyambar hoodienya yang tergeletak sembarangan di meja makan ukuran dua orang. Ia memakainya sambil berjalan keluar dan memastikan bahwa uang receh lima ribuan di saku hoodienya masih cukup untuk membeli beberapa bungkus mie instant di minimarket perempatan jalan--yang tentunya buka 24 jam.
Jalanan begitu sepi, Arbi menaikkan tudung hoodie saat rintik gerimis turun. Beberapa kali ia tersentak kaget karena suara geledek dan tentu saja motor yang lewat dengan kecepatan maksimal. Arbi mendorong pintu minimarket yang dipasangi bell, tatapan ramah dari laki-laki penjaga kasir menyapanya. Rak khusus mie intant menjadi tujuan utama, diambilnya tiga bungkus mie instant rebus lalu satu kotak telur. Laki-laki penjaga minimarket menghitung belanjaannya sementara Arbi menghitung uang yang masih ada di saku hoodienya entah sejak kapan itu. Dua lembar uang lima ribu dan dua belas uang koin lima ratusan, Arbi membayarnya dan beruntung uangnya pas. Ia keluar dari minimarket dengan kantong plastik putih berisi tiga bungkus mie instant dan sekotak telur, silanya, gerimis turun cukup deras. Alamat hoodienya basah sampai ke rumah.
Langkahnya yang semula santai pun kian cepat dan buru-buru karena suara geledek membuat suasana dini hari jadi mencekam. Arbi mencengkarm erat tali pegangan kantung plastik, merapal mantra ajaibnya,
Gue nggak takut. Gue nggak takut. Gue--
Blaarr!
"Gue nggak takut!" Serunya setelah suara geledek nyaris membuat jantungnya copot. Ia berlari menyeberang jalan, semakin kencang saat suara geledek kembali mengagetkannya. Buru-buru dibukanya pintu kaca gedung, nafasnya memburu saat ia menaikkan kunci dibagian atas pintu.
"Ngapain lo la--
"HUWAAAAAAAAH!" Arbi berteriak sambil memejamkan mata lalu melindungi kepalanya dengan kedua tangan. Disha menahan tawa, menuruni tangga lalu...
"Le, aku njaluk getihmu, Le..." Disha sengaja membuat bisikan menyeramkan di depan Arbi karena laki-laki itu jelas tidak tahu kalau dia yang tadi bertanya.
"ORA ENAK MBAK! GETIHKU ORA ENAK! SUMPAH MBAK! PAIT! ORA ONO RASANE! AKEH DOSONE MBAK!"
Disha terbahak mendengar teriakan Arbi. Ia memegangi perut, duduk di tangga tanpa bisa menghentikan ledakan tawanya. Sadar bahwa Disha-lah yang menakutinya, Arbi membuka mata, menurunkan kedua tangan lalu menempeleng kepala Disha keras. Perempuan tampan pujaan Rei itu tertawa puas setelah misinya sukses.
"a*u kowe, Dis." Umpatan Arbi justru membuat Disha semakin terbahak. Perempuan itu melambaikan tangan, tidak bisa menjelaskan, hanya suara tawanya yang terdengar. Arbi kembali menempeleng kepala Disha.
"Kamu itu, kok," Disha berusaha meredam tawanya, "lucu. Mukamu lucu banget." Tawanya semakin parah.
"Matane lucu!" Sahut Arbi.
Tawa Disha sudah tidak terdengar beberapa menit kemudian, Arbi memutuskan untuk duduk di samping perempuan itu. Keduanya hanya memandangi hujan yang turun membasahi jalanan di luar. Cukup lama sampai Arbi membuka pembicaraan.
"Ngapain lo jam segini keluar?" Tanyanya.
"Nggak bisa tidur. Lo sendiri?" Disha masih asik memperhatikan hujan.
Arbi mengangkan tangan kirinya yang masih memegang kantung plastik belanjaan, menggoyangkannya di depan wajah Disha. Perempuan itu mendengus, mendorong turun tangan Arbi yang menghalangi pandangannya.
"Penasaran gue, isi kulkas sama kabinet lo apaan? Sampai beli mie rebus kayak gitu." Sahut Disha melirik Arbi yang tergelak.
"Masakin gue, nanti lo pasti tahu isi kulkas sama kabinet atas di dapur gue."
"Itu mah modus lo aja biar nggak masak sendiri. Tahu beres." Disha menoyor kepala Arbi.
Laki-laki itu bangkit, membuka pintu rumahnya lalu menoleh, "mau makan gratis nggak? Tapi gue nggak jamin masakan gue enak," tawarnya.
Disha menatap Arbi cukup lama sampai ia beranjak lalu mendorong Arbi masuk ke rumah lalu mengganjal pintu dengan sandalnya agar tetap terbuka. Senyum tipis Arbi muncul tiga detik tanpa sempat diperhatikan oleh Disha.
Keduanya berjalan ke dapur. Kulkas menjadi hal yang paling menarik bagi Disha, perempuan itu membulatkan bibirnya membentuk huruf O sempurna. Tidak menyangka kalau isi kulkas ukuran sedang itu hanya minuman.
"Biasa aja mulut lo!" Seru Arbi yang sudah sibuk mengambil panci lalu membuka dua bungkus mie instant yang dibelinya.
"Isinya minuman doang. Pantesan ngemis sama Mita!" Sahut Disha yang kembali menutup pintu kulkas.
"Matane ngemis!" Sambung Arbi.
Disha tergelak, ia menarik kursi di depan meja makan lalu duduk. Matanya memperhatikan tangan Arbi yang sibuk memotong daun seledri kemudian bawang merah.
"Lo bisa masak beneran?" Tanya Disha penasaran--atau lebih tepatnya memastikan kalau Arbi tidak akan meracuninya.
"Lo kira gue minta kornet sama sosis buat apaan? Dimakan mentah?" Sahut Arbi tanpa menghentikan aktifitasnya.
"Ya, kan, siapa tahu aja."
"Nggak digrebek Raga, nih, kalau lo di sini?"
"Emang lo pikir kita ngapain?" Sahut Disha kesal dengan pertanyaan Arbi.
"Gue diperkosa karena nggak ngasih makan anak orang."
"CANGKEMMU!" Seru Disha penuh penghayatan. Arbi tergelak, mengambil sendok lalu memasukkan irisan bawang merah dan daun seledri ke dalam panci berisi mie rebus yang sudah diberi bumbu.
Disha mengambil dua butir telur yang masih berada di dalam kantung plastik, ia berdiri di samping Arbi lalu memecah dua telur tersebut ke dalam panci. Arbi bergeser, memperhatikan Disha yang kemudian mengambil sendok dari tangannya untuk mengaduk mie rebus yang sebentar lagi matang itu. Arbi mengalihkan pandangannya, ia mengambil dua mangkuk dari rak piring, meletakkannya di atas meja. Dia tidak tahu sejak kapan Disha terlihat manis.
Santai, Bi, santai.
***