EDISI FILM HORROR
...
Hujan masih turun deras, tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Persediaan makanannya sudah tertata rapi di atas meja kopi sementara pemilik rumah duduk bersila di sofa dengan mata fokus menatap layar televisi.
Sesekali ia meringis melihat adegan dari film horror yang sedang tayang di salah satu channel swasta. Petir menggelegar di luar, Arbi memperhatikan jam dinding di atas televisi. Pukul sebelas malam. Sekali lagi suara petir terdengar, tangannya meraih bantal lalu meletakkannya di pangkuan. Pandangannya kembali ke layar televisi dan...
"a*u! SETANE METU! g****k!" Teriakan itu memenuhi rumah di lantai satu, tepat di bawah rumah Disha.
Bantal sudah menghantam televisinya, sekali lagi hantu dalam film muncul dan umpatan kasar kembali terdengar.
"SETAN! FILM g****k!" Ketakutan merayap dalam dirinya saat suara petir kembali terdengar.
***
Pandangannya tertuju pada layar televisi. Suara hujan dari luar menambah suasana mencekam dalam rumahnya. Disha memutar matanya, bosan setengah mati. Berbeda dengan Raga yang duduk tegang menikmati film horror yang cukup menyeramkan untuk ditonton kakaknya itu.
"Anjing!" Teriakan Raga membuat Disha mengalihkan pandangannya dari layar ponsel ke layar televisi. Jumpscare dan kakaknya itu berhasil berteriak kaget.
Baru saja kembali membaca chat dari teman SMA-nya, mendadak dingin menusuk dan matanya secara otomatis melirik ke sudut ruangan.
"b******n!" Teriakan Raga kembali terdengar tapi Disha dengan cepat mencekal pergelangan tangan kiri kakaknya itu.
Raga menoleh, terdiam melihat tatapan kaget Disha yang tertuju pada sudut ruangan. Mendadak, suasana mencekam terasa makin nyata, bukan hanya dari teriakan histeris dalam film.
"Dek, jangan gitu. Serius, lho." Raga melepaskan tangan Disha dari pergelangan tangannya. Ia menelan ludah susah payah karena Disha tak kunjung bicara.
"Abang jangan ngomong kasar," ujar Disha yang pada akhirnya menoleh dengan tatapan aneh, "dia nggak suka."
"a*u! SIALAN SUMPAH!" Teriak Raga yang bangkit dan berlari ke arah pintu. Debam pintu membuat sosok yang dilihat Disha lenyap.
"REI! BI! ARBI!" Raga berteriak heboh menuruni tangga.
Disha mengerjap, mengedikkan bahu lalu kembali ke kamarnya setelah mematikan televisi.
***
Selimut menggulung di atas sofa, bantal di sisi kanan dan kiri, hanya wajah Mita yang terlihat saat ini. Suara hujan dan film horror adalah kesialan luar biasa baginya. Ia menyesal sudah menonton film horror yang ia pikir tidak terlalu seram itu.
"Mama!!!" Teriak Mita saat hantu dalam film muncul tiba-tiba. Selimut menutupi wajahnya, menyisakan matanya yang mengintip berharap hantunya sudab tidak ada.
Baru saja menurunkan selimut sampai ke leher, hantu yang lain muncul.
"AAAAAAAAH!!!" Teriakan histeris itu terdengar lagi. Kali ini Mita menutup wajahnya dengan kedua tangan karena selimutnya sudah turun sampai ke pinggang.
Hembusan angin menyapa tubuhnya, "AAAAAAAH! MAK INI APA!" Mita berteriak histeris sambil berusaha menarik selimutnya karena angin yang berhembus tiba-tiba di dalam ruang tengah.
Teriakan histeris Mita membuat Disha bangkit dari ranjang, keluar rumah lalu membuka pintu rumah Mita yang tkdak terkunci. Perempuan itu mendengus melihat Mita sudah menggulung diri dalam selimut sambil berteriak. Disha berjalan mendeksti jendela, menutupnya yang ternyata sejak tadi memang terbuka.
"Jendelamu belum ditutup, Mit. Kalau nggak berani nonton film horror, nggak usah nonton." Disha menarik selimut Mita. Tetangga dan sahabat barunya itu hampir menangis.
***
Film horror yang ditontonnya sudah selesai. Rei mematikan televisi lalu pergi ke kamar tidurnya. Ia sempat memainkan ponsel sebentar sebelum berbaring lalu menarik selimut sampai ke pinggang. Matanya menatap langit-langit kamar, lalu beralih pada guling di sampingnya. Rei menarik guling itu ke dalam pelukannya lalu memejamkan mata.
Tidak sampai dua menit, matanya kembali terbuka lalu ia kembali terlentang. Menatap langit-langit kamar bernuansa monokrom itu. Sekali ia memejamkan mata tapi tak berhasil, Rei akhirnya bangkit melipat selimut lalu keluar dari kamar, melewati pintu rumahnya begitu saja.
"Arbi!" Ia berseru, mengetuk pintu rumah Arbi.
Matanya melirik tangga menuju lantai dua, lalu kembali menatap pintu rumah Arbi.
"Bi! Bukain!" Teriakannya berhasil membuat Arbi menyahut lalu suara langkah di balik pintu terdengar mendekat.
Pintu dibuka, Arbi menatap kesal Rei yang berdiri denvan wajah datarnya, "kenapa?" Tanya Arbi pada Rei.
Tak ada senyuman, hanya tatapan datar yang diperlihatkan Rei, "saya tidur di rumah kamu malam ini, ya?"
Arbi mengusap wajahnya yang berantakan karena dipaksa bangun dari mimpi indahnya, "penakut! Kayak gitu sok cool pula nonton film horror. Ujung-ujungnya numpang tidur." Gerutu Arbi sambil berjalan kembali ke kamar tidurnya sementara Rei mengekor di belakang.
***