Matanya tertuju pada awan kelabu yang menggantung di luar sana, menghalangi matahari untuk menyapa kota Surabaya pagi ini. Demi menghindari berondongan pertanyaan dan tatapan ngeri rekan-rekan kerjanya, Disha berangkat ke kantor satu jam lebih awal dan berakhir duduk sendirian di kantor. Sesekali ia meringis, merasakan perih menyapa sudut bibirnya yang luka dan memar, nyeri juga masih menggerayangi pelipisnya. Dia tidak bertemu Rei ataupun Mita, bahkan Arbi sejak semalam, tempat tinggalnya benar-benar sepi pagi ini.
Disha tidak tahu bagaimana harus bersikap setelah pengakuannya di depan Rei dan Mita semalam. Fakta mengerikan itu jelas membuat suasana canggung siap menyapa mereka kalau bertemu lagi, terutama Rei. Laki-laki itu pasti berpikir bahwa Disha terseret kasus kekerasan seksual-Siapa coba yang nggak mikir gitu? Dating Violence memang selalu dikait-kaitkan dengan kekerasan seksual, padahal kenyataannya pembatasan kehidupan saja sudah termasuk Dating Violence, pembatasan itu yang memicu--
Disha tersentak saat Arbi sudah berdiri di depannya, menghentikan kursinya yang berputar lalu menempelkan punggung tangannya pada kening Disha. Perempuan itu diam, tak ada adu mulut seperti yang biasanya terjadi. Hanya Arbi yang melepaskan kemeja flannelnya lalu menyampirkannya di pundak Disha.
"Badan lo panas, muka lo juga parah gitu, pucat. Kenapa masih ke kantor?" Arbi sibuk membenarkan kancing di lengan kemejanya lalu menatap Disha yang masih bungkam.
Arbi mendecak kesal, "jangan nyalain AC." Hanya itu dan Arbi keluar dari ruangan dengan ransel yang ia jinjing.
Pertahanannya untuk menghindari Arbi sudah runtuh, laki-laki itu tidak tahu kenapa Disha bisa babak belur dan Disha yakin kalau mendapatkan waktu yang pas, Arbi akan memaksanya menjelaskan seperti waktu dia menanyakan kenapa Henry begitu membuatnya takut.
Pandangan Disha kembali mengarah pada pintu ruangan yang dibuka, Banu muncul dengan snapback dan tas selempangnya. Disha menghitung mundur,
Tiga,
Dua,
Sa-
"Mukamu kenapa, Dis? Gila, sampai luka gitu. Bibirmu agak jontor, loh!" Banu sudah berdiri di depan meja Disha.
"Nggak apa-apa, udah sana ah!" Disha berdiri mendorong Banu ke meja laki-laki itu.
***
"Aku korban kekerasan pacaran."
Helaan nafas itu mengiringi langkahnya keluar dari kamar mandi setelah mematikan keran shower. Mita menggulung rambut panjangnya dengan handuk sambil berjalan ke dapur. Membuka kabinet atas lalu mengambil sebungkus roti tawar, mentega dan Ceres cokelat yang kemudian ia letakkan di atas meja makan mini yang cukup untuk dua orang. Ketukan pintu terdengar saat ia membuka mini kulkasnya untuk mengambil sekotak besar jus yang entah tersisa berapa mililiter. Ketukan itu terdengar lagi, setelahnya suara Rei yang memanggil.
"Sebentar!" Teriak Mita sambil menuang jusnya ke dalam gelas yang ternyata tak sampai setengah. Dilemparnya kotak jus kosong itu ke tempat sampah sembari berjalan ke pintu depan.
Senyum hangat Rei menyapa seperti biasanya, "mau minta apa?" tanya Mita dengan nada ketus-seperti biasanya.
"Nggak, kok. Mau nanya, ada ember nggak dipakai? Ember saya pecah, Mit. Saya mau nyuci." Jelas Rei dengan wajah polos mempesona. Sadar Mita, dia tetanggamu!
Mita mendecak sebal, "laundry aja kenapa, sih?" sahutnya sambil berjalan ke kamar mandi mengambil salah satu dari dua ember yang dia punya lalu kembali ke pintu, memberikannya pada Rei.
Rei mengurungkan niatnya berterima kasih begitu menyadari mata perempuan dua puluh dua tahun itu sembab. Apa dia nangis semalaman?
"Apalagi?" Mita bertanya, tangan kanannya memegang gagang pintu.
"Mata kamu," tangannya hendak menyentuh wajah Mita, dengan cepat perempuan itu mundur selangkah. Rei menarik kembali tangan kirinya, menggaruk tengkuk yang sama sekali tidak gatal.
"Saya pinjam dulu embernya, Mit. Makasih." Senyum cangung Rei mengkahiri acara pagi mereka, Mita menutup pintu tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
Mita kembali ke meja makan. Menikmati sarapan sendirian dengan segudang hal tentang Disha yang enggan beranjak sejak semalam-sejak pengakuan perempuan bertato dan sangat tampan itu. Ingatannya berputar pada tattoo di pergelangan tangan kiri Disha, salah satu tattoo kecil yang menarik perhatiannya saat pertama kali bertemu dengan tetangga depan rumahnya tersebut.
IF
Tattoo kecil itu menggores pergelangan tangan kiri Disha, tepat di urat nadi. Katanya, IF adalah kata penuh penyesalan. Sesal sudah mengalir dalam darahnya. Dari penjelasan singkat itu Mita tahu kalau bukan hanya dia yang terlahir dari keluarga nyaris hancur, sekarang dia bersama dengan salah satu orang yang sama dengan dirinya-Disha.
Senyum tipisnya mengembang, mungkin dia harus memperbaiki suasana canggung yang menyelimuti dirinya dan Disha setelah kejadian semalam. Ia beranjak, meletakkan piring dan gelas bekas makan ke bak cuci piring lalu menyambar tas selempang di sofa. Tentu saja dia keluar setelah rambutnya digerai rapi. Suara hujan menyapa pendengaran saat langkahnya tiba di depan pintu utama gedung Townhouse yang diisi empat rumah tersebut. Bibirnya mengatup rapat, kesal sebab hujan turun saat payung lipatnya tak bisa digunakan karena gagangnya patah. Mita menoleh saat tangan seseorang meraih gagang pintu sebelum ia sempat menyentuhnya. Raga menarik pintu terbuka lalu keluar setelah membuka payung kuning yang terasa tidak asing itu.
"Mau cari taksi?" Raga bertanya, hujan mengguyur semakin deras dan laki-laki itu menunggu jawaban Mita sambil merapatkan jaketnya.
Motornya ada di garasi, tapi kalau hujan deras seperti itu, pakai jas hujan pun tetap basah. Mita mengangguk, Raga kembali mendekat ke pintu, "gue tungguin sampai lo dapat taksi." Tawaran baik hati dari laki-laki yang ia pukul dengan jam weker. Sekarang, rasa bersalah merayap dalam dirinya.
Mita melewati pintu, berdiri di samping Raga dengan jarak yang cukup membuat bahu kirinya diguyur hujan. Raga mendecak sebal karena Mita enggan merapatkan dirinya. Mau tak mau, Raga menarik bahu kiri Mita lalu melenyapkan jarak diantara mereka. Bibirnya terbuka hendak protes tapi Raga mendadak melotot dan,
Pyaaaash!
"b******n!" Kompak keduanya setelah basah diguyur genangan air yang terciprat karena kecepatan mobil yang benar-benar b******k.
"Aaaargh! Gue udah telat!" Teriak Mita kesal setengah mati, hampir seluruh tubuh bagian depannya basah.
Raga memperhatikan celana pendek selututnya yang basah, juga t-shirt Metalica hasil nitip dengan temannya di US yang tak kalah mengenaskannya dengan kemeja milik Mita saat ini.
***
Disha memijat keningnya, pusing menyerang saat ia harus segera menyelesaikan pekerjaan jam lima sore yang tinggal satu jam lagi. Hujan masih enggan beranjak dari kota Surabaya, setelah sekian lama diserang cuaca panas, hari ini kota Surabaya resmi memasuki musim penghujan seperti di beberapa kota dan provinsi lainnya yang sudah lebih dulu. Disha merapatkan kemeja flannel Arbi yang masih kebesaran di badannya, dingin tetap menusuk meski AC tidak menyala sejak siang. Aris dan Juli sudah pamit lebih dulu saat jam menunjukkan pukul lima tepat. Hanum berjalan masuk ke ruangan sembari memperhatikan Disha yang masih mengerjakan pekerjaannya.
"Kamu bisa pulang kalau memang nggak bksa selesai sekarang. Yang penting besok siang buku menunya udah masuk cetak." Ucapan Hanum tidak setegas dan sedingin biasanya.
"Iya, Mas, sedikit lagi kok." Disha tersenyum dengan bibir pucatnya.
"Kalau lima belas menit lagi saya ke sini dan kamu masih duduk di sini, kamu lembur." Ancaman yang aneh karena jelas Hanum menyuruhnya pulang untuk beristirahat. Disha hanya mengangguk sebelum Hanum meninggalkan ruangan.
Mau tak mau, ia menyimpan semua pekerjaannya, menutup semua program yang terbuka di komputernya lalu mengklik ikon shutdown. Disha sibuk membereskan isi ransel saat menyadari ponselnya ternyata sudah jatuh dan tergeletak mengenaskan di bawah meja. Diambilnya ponsel yang sejak siang tak disentuhnya itu sampai ia tersentak kaget karena kalungnya tersangkut pada paku yang menonjol di tepian meja. Terlambat bagi Disha karena perempuan itu baru saja melihat kalung perak berbandul huruf A itu putus. Mulutnya membulat sempurna dan berhasil membuat Banu mendekat.
"Kenapa?" Tanya Banu memperhatikan ke bawah meja.
"Kalung gue!" Teriakan histeris Disha berhasil menghentikan langkah Jonathan dan Arbi di lorong. Dua laki-laki itu masuk ke kantor Design, memperhatikan Disha dengan kemeja kebesaran berjongkok meratapi kalung kesayangan yang rantainya putus tersangkut itu.
Arbi adalah yang pertama menghampiri lalu mengambil kalung dari tangan Disha. Mata perempuan itu berkaca-kaca. Arbi duduk di depan meja kerja Disha, mencoba memasang kembali rantai yang putus meski sialnya rantai kalung itu sangat kecil.
"Itu kalung kramat, lho, ya Tuhan." Suara Disha bergetar menahan tangis. Kalung pemberian Raga saat mereka dipisahkan waktu kecil itu sangat sangat berharga baginya, bahkan jika Raga membelikan yang baru.
"Nggak usah nangis. Kayak bocah aja lo." Sahut Jonathan menahan tawa.
Tanpa diduga, air mata Disha justru mengalir bagai gadis kecil kehilangan boneka. Berulang kali Disha menyeka air matanya melihat Arbi gagal menyambung rantai kalungnya itu sampai Arbi mendecak lalu menatap jengkel Disha.
"Cengeng banget, sih! Ini, kan, gue benerin." Sahutnya pada Disha. Perempuan itu kembali menyeka air mata, tak berani menjawab.
Disha menempeleng kepala Arbi, air matanya masih mengalir, "matane! Itu kalung dari kecil udah gue pakai. Bisa lo beliin yang sama persis! Kan, enggak!" Hardik Disha yang seketika terlihat sangat sangat mirip perempuan.
"Berisik! Mau dibenerin nggak?" Sahut Arbi tak kalah keras. Disha bungkam, berusaha menahan air matanya sekali lagi.
"Mau." Disha mengangguk, tangannya sibuk menyeka air mata.
Arbi mendengus, sibuk menyambungkan bagian rantai yang putus. Tanpa diduga ia berhasil, disodorkannya kalung perak itu kembali pada Disha. Cengiran Disha yang terlihat sangat lucu dengan mata masih basah itu berhasil melenyapkan kekesalan Arbi. Senyum tipis laki-laki itu terlihat beberapa detik. Jonathan bahkan bisa menangkapnya.
"Makasih," ujar Disha dengan cengiran lucunya.
"Malu-maluin sumpah." Sahut Jonathan sambil berjalan keluar menahan tawa.
"Jijik gue, Dis. Lo persis anak kecil yang bonekanya robek tahu nggak!" Sambung Banu.
"Kalung ini, tuh, hidup mati gue." Disha memberi pembelaan sambil memakai kalungnya.
Arbi keluar dari ruangan tanpa mengatakan apapun. Berusaha mempertahankan tampang kesalnya sampai kembali ke kantornya.
Bangke, pakai pasang tampang imut segala!
***