Lantai 1 | Episode 00

1069 Kata
"Makasih udah mau bantu, Mit." Disha melambaikan tangan saat Mita kembali ke rumahnya, lenyap dibalik pintu bercat putih itu. Ia menghela nafas berat. Rumahnya sudah setengah rapi, hanya tinggal membereskan kardus kosong dan menata ulang dapur kecil di samping kamar mandinya. Rumahnya hanya punya satu kamar dan satu ruang tengah, di tambah jendela berukuran cukup besar di samping ruang tengah serta jendela berukuran sedang di kamar tidurnya. Dilepasnya jaket dan kaos putih yang menutupi sport bra yang dipakainya. "Sial. Kapan, sih, lo mau tumbuh?" Ia bicara sendiri sambil memperhatikan dadanya yang sedikit menyembul. Disha menghempaskan tubuh ke sofa panjang di dekat pintu kamar tidurnya, berhadapan langsung dengan LED TV yang baru datang sore tadi dari Jogja. Matanya menerawang langit-langit rumah, mengingat bagaimana Sadewa sableng menyuruhnya untuk ikut membantu kantor baru di Surabaya padahal dia baru bergabung dengan Studio tahun lalu. Ponselnya berdering pendek, pesan w******p dari Dewa tercetak di lockscreen. Dewa : Udh smpe? Heleh, sok nanya. Awas kamu di kantor besok.  Disha mendecak sebal lalu menuliskan balasan sebelum ia bangkit dan pergi membersihkan diri ke kamar mandi. Sebagian dirinya merasa lega, jika Jogja masih tiga jam dari kampung halamannya, maka Surabaya hampir sepuluh jam jauhnya. Tidak akan ada yang mengusiknya di sini, bahkan saat pamit ke kampung halamannya itu, hanya makian yang ia dengar. "Mau jadi laki-laki? Ganti kelaminmu! Dibesarkan susah-susah, kelakuanmu malah kayak binatang begini! Nggak tahu terima kasih kamu aama orang tua!" Tiga bulan lagi, umurnya genap 22 tahun dan kebencian Ayahnya tak kunjung surut. Disha yakin, nama yang diberikan mendiang Ayah kandungnya sudah tidak ada dalam kartu keluarga, hanya ada nama Adissa Dewantari—nama baru yang tak pernah ia akui. Arthadisha adalah satu-satunya nama yang ia miliki dan itu tertulis jelas dalam kartu identitasnya. Seumur hidup dia tidak akan menerima nama Adissa itu. Suara shower berganti dengan derap langkahnya, ia masuk ke kamar, mengganti sport branya dengan yang baru, memakai kaos putih dan menutupnya dengan sweater hitam bergambar hewan Lama yang selalu jadi favoritnya. Jam dinding yang diletakkan di rak paling atas di samping Televisi menunjukkan pukul setengah dua belas malam, masih ada waktu untuk berjalan-jalan disekitar tempat tinggalnya.  Diambilnya Nikon D850 yang ia beli setelah mengumpulkan sebagian gaji setahun penuh di awal bekerja. Hanya dompet yang ia masukkan ke dalam saku sweaternya sebelum keluar dan mengunci pintunya. Disha menuruni tangga, menyisi rambutnya yang setengah basah dengan jari. Langkahnya berhenti begitu sampai di lantai dasar. Laki-laki dengan jaket denim dan jeans hitam itu berjalan sempoyongan, berpegangan pada dinding lalu berhenti di depan pintu rumah berada di bawah rumah Disha. Laki-laki itu melepas lanyardnya, seketika isi perutnya keluar di samping pintu. Gila. Mabok dia?  Disha buru-buru pergi sebelum melihat yang lebih parah dari itu. Dia tidak menyangka kalau keramaian Surabaya tak jauh berbeda dengan Yogyakarta. Disha berjala menyusuri trotoar, supir taksi yang sedang beristirahat di warung kopi pinggir jalan menjadi objek pertama. Objek keduanya adalah persimpangan jalan yang masih cukup ramai, dan ketiga adalah Nenek penjual gorengan yang membuat ia berhenti untuk membeli. "Nek, gorengannya berapaan?" Tanya Disha ramah. "Sewu loro, Nok." Jawab Nenek dengan senyum ramah. "Kalau gitu, saya beli tiga ribu, Nek." Beruntung Disha menyimpan beberapa lembar uang seribuan di dompet, diambilnya tiga lembar lalu diberikannya pada si Nenek sambil menerima satu kantung plastik kecil gorengan yang ia beli. Tengah malam dan Nenek itu pergi tak lama setelah Disha memutuskan berjalan pulang. "Kamu nggak capek, berantem tiap hari sama Ayah?" Suara Bunda terdengar dalam kepalanya. Disha menghela nafas, menengadah memperhatikan langit malam kota Surabaya yang gelap, mendung, tak ada bulan dan ratusan bintang seperti yang biasa ia lihat di Jogja. "Rei! Bukain pintu!" Teriakan itu membuat Disha menoleh, laki-laki yang tadi muntah kali ini berdiri di depan pintu rumah Rei—si bule Jepang yang meminta beras pada Mita. "Rei!" Teriak laki-laki itu lagi karena tak ada respon dari pemilik rumah. Disha tersentak mundur saat laki-laki itu menoleh dan mendekat dengan senyum menyebalkannya. Tak ada bau alkohol saat laki-laki itu berdiri tak sampai dua meter di depan Disha. Baru membuka mulut, laki-laki itu jatuh pingsan dan Disha terpaksa menahan tubuhnya yang hampir sama dengan proporsi tubuh Disha. "Eh? Mas! Bangun! Woi!" Disha menepuk pipi laki-laki itu.  Mendengar suara Disha, pintu rumah Rei dibuka dan pemiliknya muncul. "Dia pasti mabuk. Biar saya yang bawa." Rei buru-buru menarik tubuh laki-laki itu dan mengangkatnya ke dalam rumahnya. Disha mengekor, penasaran. "Tapi dia nggak bau alkohol, sama sekali," ujar Disha di ambang pintu. "Mabuk perjalanan. Dia itu paling nggak bisa naik taksi atau bus dengan pengharum menyengat. Bisa pusing terus muntah." Jelas Rei sibuk mengoleskan minyak di leher laki-laki itu lalu meletakkan bantal di bawah kepalanya. "Rei, dia pacar gaymu?" Pertanyaan itu lolos tanpa dipirkan Disha. Salahkan sifatnya yang suka bicara seenaknya dan frontal tanpa sensor. Rei mendecak sebal, "dia teman saya sejak pertama saya pindah ke Surabaya," jelasnya. "Abisnya kamu perhatian banget." Sahut Disha terkekeh. "Kamu ngapain malam-malam keluar bawa kamera?" Rei bertanya lalu berjalan ke dapur sementara Disha memutuskan untuk duduk di karpet tebal ruang tengahnya karena sofa santainya dipakai untuk membaringkan si laki-laki berambut cepak itu. "Jalan-jalan aja. Aku ada gorengan, kamu suka, nggak?" Disha meletakkan kantung plastik gorengannya di atas coffeetable. Tak lama, Rei keluar dengan secangkir teh hijau serta piring kosong di tangannya. "Ini favorit saya." Rei memberikan cengirannya sambil meletakkan gorengan di atas piring lalu mengambil satu dan memakannya. "Kamu belum kenal dia, kan?" Rei bertanya. Disha menggeleng.  "Dia Arbi, rumahnya di depan situ, di bawah rumah kamu," jelas Rei yang kembali melahap gorengannya. "Oh, asli jawa dia?" Disha ikut makan kemudian. "Enggak, Ibunya Jepang, Bapaknya Bali. Tinggalnya di Jakarta tapi dia pindah ke sini karena diterima kerja di sini." Jelas Rei, membuktikan kalau pertemanan mereka memang sudah lama. Disha menghabiskan teh dan memakan satu gorengan lalu beranjak karena jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari. "Makasih tehnya, Rei." Disha melambaikan tangan lalu meninggalkan rumah Rei, naik ke rumahnya di lantai dua. Pulang ke rumah bukan berarti dia beristirahat tidur nyenyak di kamar. Disha membereskan kardus-kardus kosong, setelah ruang tengah bersih, ia beralih ke dapur. Membereskan letak semua perlengkapan dan beberapa makaan ringan yang ia bawa di dalam koper. Disha mendorong kulkas mini masuk ke rak yang sudah disediakan, dipasangnya semua kabel yang terhubung dengan listrik. Untuk sementara kulkas mini itu kosong, Disha harus menghemat bulan ini. Disha menghela nafas, menghempaskan tubuhnya di sofa lalu memejamkan mata. Entah apa yang akan terjadi besok, dia tidak tahu. Semoga Surabaya tidak menyiksanya seperti Yogyakarta. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN