Cahaya matahari masuk melalui jendela dan merayapi Disha yang tertidur di sofa tanpa selimut, tanpa menutup tirai juga jendelanya. Sesuatu bergerak lembut di balik kelopak matanya yang kemudian terbuka, menyipit menyesuaikan cahaya. Jam dinding menunjukkan pukul tujuh pagi saat ia bangun dan duduk dengan mata mengerjap beberapa kali, nyawanya baru terkumpul setengah begitu ketukan pintu terdengar.
"Mit! Mita! Minta sosis dong!" Disha mendecak sebal, ia hampir saja membuka pintu kalau suara laki-laki di luar sana tidak memanggil nama Mita.
Disha mengambil setumpuk kardus box bekas pindahannya kemarin, setelah diikat, ie membawa kardus-kardus itu keluar tepat saat Mita membuka pintu dan kekesalannya memuncak lagi.
"Kamu punya sosis, kenapa minta!" Serunya kesal sambil memberikan sebungkus sosis yang isinya tinggal enam buah.
"Mita ngomongnya," ujar laki-laki itu yang ternyata Arbi.
Disha menahan tawa lalu menuruni tangga, berjalan keluar membuang kardus-kardusnya ke tempat sampah khusus bahan daur ulang. Baru saja ia berbalik, matanya tak sengaja menangkap Arbi yang berdiri di depan pintu, tertangkap basah memperhatikan Disha. Buru-buru laki-laki itu berjalan dan menubruk pintu yang tanpa sadar belum dibukanya, dengan cepat ia melesat masuk setelah membuka pintu. Disha hanya memperhatikan lalu kembali naik ke rumahnya, ia mengintip ke dalam rumah Mita sementara pemiliknya itu sedang sibuk menyisir rambut.
"Mau berangkat kerja?" Tanya Disha di ambang pintu.
Mita mengangguk, "tempat kerjaku agak jauh."
"Oh, aku balik ke dalem dulu kalau gitu." Disha tersenyum dan berlalu masuk ke rumahnya.
Tidak ada yang spesial dari hari pertamanya bekerja di kantor cabang yang baru. Disha yakin begitu sampai di kantor nanti, dia akan jadi babu dadakan. Ia mengambil handuk yang tergeletak di coffee table lalu masuk ke kamar mandi.
Surabaya lebih panas dari Yogyakarta dan Disha memilih untuk memakai t-shirt putih bergambar tengkorak kecil-kecil. Selama Penanggung Jawab bagian Design yang di Jogja tidak ikut pindah, maka aturan tidak boleh memakai t-shirt selama kerja tidak akan berlaku. Setelah memasukkan barang-barang yang biasa ia bawa ke kantor ke dalam ransel, Disha mengikat tali sepatunya lalu keluar dan mengunci pintu rumah kemudian. Sepedanya belum datang dan ia terpaksa berangkat lebih pagi karena jarak dari tempat tinggalnya dengan Kantor cukup jauh kalau berjalan kaki.
Disha tersentak dan berhenti saat pintu rumah Arbi tiba-tiba dibuka. Laki-laki itu keluar, mengunci pintu lalu berjalan sambil mengangcinkan satu kancing kemejanya yang paling atas lalu membenarkan ranselnya. Disha berjalan beberapa meter di belakang Arbi, laki-laki itu menyusuri trotoar dan tak kunjung menyeberang atau berbelok di persimpangan.
"Lo ngikutin gue?" Arbi berhenti tiba-tiba lalu berbalik. Tanpa dosa dia melontarkan pertanyaan itu pada Disha.
"Gue? Gue mau kerja. Nggak ada waktu buat ngikutin lo." Jawab Disha ketus.
"Terus ngapain jalan di belakang? Nggak ada jalan lain apa?" Sahut Arbi tak mau kalah.
"Ya orang jalannya emang lewat sini. Lo kira ini jalan punya Embah lo?" Disha menyahut kesal. Apa-apaan dia?
"Ya, lo nyeberang, kek. Sono ada trotoar juga." Arbi tidak surut.
"Apa, sih, lo? Minggir." Disha kesal setengah mati, didorongnya Arbi lalu berjalan lebih cepat di depan.
Sampai kantor Mahami Creative Studio terlihat, keduanya masih berjalan dengan jarak beberapa meter dan Arbi berhenti di teras melihat Disha masuk ke kantor tempat ia juga bekerja sebagai Editor Video. Tepukan di pundaknya membuat Arbi menoleh, mendapati Dewa tersenyum manis menyebalkan.
"Dia cewek, kok, tenang aja." Bisik Dewa yang membuat Arbi mendecak sebal lalu mengekori teman baiknya itu.
Gedung dua lantai itu diisi satu lobby dan satu ruangan administrasi-informasi lalu di belakang ruang depan tadi, ada ruangan produksi. Sementara di lantai dua ada kantor bagian Design yang paling dekat dengan tangga, kantor bagian Videography di sampingnya lalu ruang meeting, pantry, toilet dan ruangan bos di depan dua kantor tersebut. Disha sudah masuk ke ruangannya, memperkenalkan diri pada tiga Graphic Designer yang sudah duduk manis di meja mereka, dua diantaranya baru direkrut sebulan lalu setelah dua minggu kantor itu dibuka. Tak lama, Dewa muncul dengan senyum hangat dan sapaan paginya.
"Langsung saya kenalin aja, ya," ujar Dewa merangkul pundak Disha, "dia Arthadisha, graphic designer dari kantor pusat di Jogja. Mulai hari ini, dia bakal gantiin tugas saya karena saya dipindah ke bagian Vidgraph. Kalian bisa tanya sama dia kalau ada yang belum kalian ngerti."
"Dis, aku bosen weruh rupamu." Sahut Banu dari mejanya dengan cengiran khas yang tak pernah dilupakan Disha sejak pertama bekerja di Jogja.
Disha mendengus, Dewa tertawa mendengarnya, "Aris sama Juli nggak perlu sungkan sama Disha karena dia sebenarnya malu-maluin. Kalian bisa lanjutkan perkenalannya, saya tinggal." Dewa menepuk pundak Disha lalu keluar dari ruangan.
"Asem, aibku dibongkar." Gumam Disha yang kemudian duduk di meja dekat jendela, bersebelahan dengan meja Aris--laki-laki berwajah Arab yang sejak tadi tidak mengeluarkan suaranya.
Suasana ruangan yang ukurannya tidak terlalu besar itu jadi lebih hening, pertama karena Banu yang dikenal sebagai orang gila sewaktu masih bekerja di kantor Jogja, saat ini sedang duduk manis dengan headphone dan mata yang fokus pada game dalam laoptopnya. Sementara Aris dan Juli adalah dua orang baru yang belum kenal siapa Disha atau mungkin memang belum tahu bagaimana kondisi mengenaskan kantor design itu kalau ada Disha dan Banu di dalamnya.
"Jadi, kalian karyawan baru?" Disha bertanya hati-hati.
"Iya, Kak, saya Juli." Perempuan dengan rambut dikuncir kuda itu tersenyum canggung.
"Saya Aris, Kak, yang ngerjain bagian Ilustrasi sama 3D Modelling." Aris menjabat tangan Disha.
"Kalian berarti masih waras, kan? Nggak kayak Banu?" Pertanyaan Disha membuat Banu melempar bolpoin ke arahnya dan meleset.
"Apa, sih? Main aja, nggak usah nimbrung." Sahut Disha.
"Mbak, beneran perempuan?" Pertanyaan Juli membuat Banu melepas headphone dan terbahak.
"Laki dia! Cuman nggak punya burung sama telor!" Seru Banu tanpa dosa.
"Sialan." Disha melempar bolpoin yang ada di meja tepat mengenai dahi Banu.
Suasana hening kembali menyergap begitu Pria berkemeja biru masuk dengan tatapan elangnya. Diperhatikannya empat penghuni ruangan itu. Disha nyaris mengumpat melihat wajah Pria itu lagi di Surabaya. Begini, Pria dengan kumis tipis dan umur yang belum genap tiga puluh tahun itu adalah Penanggung Jawab bagian design sewaktu Disha masih bekerja di kantor Jogja. Namanya Hanum Mandrapati dan mereka yang pernah bekerja dibawah naungannya sering memanggilnya dengan nama...
"Hanoman," gumam Disha tanpa sadar dan ia membalas tatapan Banu yang masih tak percaya kalau Pria garang menyebalkan itu akan menjadi Penanggung Jawab juga di kantor ini.
"Disha dan Banu, karena kalian belum tahu, saya akan menjelaskan peraturannya," Hanum menatap tajam Disha yang mengenakan t-shirt, "dilarang pakai kaos ke kantor," lalu beralih pada Banu yang memakai jaket denim dengan kaos putih di dalamnya, "jaket itu bukan buat ngantor," lalu mata tajam itu berpindah lagi pada Aris dan Juli yang sudah membeku di tempat mereka, "jangan sampai ada kesalahan sekecil apapun dalam pekerjaan kalian. Saya Hanum Mandrapati adalah Penanggung Jawab Bagian Design mulai hari ini."
"Pak! Nggak bosen lihat saya?" Pertanyaan kesal itu terlontar dari mulut Banu.
"Bosen, makanya kamu jangan macam-macam." Ancam Hanum yang kemudian keluar.
Pintu kaca ruangan ditutup dan Banu mengeluarkan sumpah serapahnya. Disha bengong, dia hanya tahu kalau Hanum akan mengurus kantor cabang entah yang di Semarang atau di Jakarta, dia tidak tahu kalau Pria yang ditakuti seluruh karyawan sewaktu masih di Jogja itu akan pindah ke Surabaya dan kembali menjadi bosnya.
Disha mulai benar-benar bekerja saat Hanum masuk dan memintanya ikut bertemu dengan Client. Selama diskusi panjang lebar, Disha hanya mendengarkan dan memberi beberapa masukan sampai akhirnya diputuskan bahwa Hanum menunjuk Disha sebagai penanggung jawab pembuatan Brand Identity untuk Hotel Arpala yang sudah setengah jalan dalam proses pembangunan. Jam menunjukkan pukul dua siang saat ia keluar dari ruang meeting dengan laptop yang masih menyala serta notebook ukuran A5 yang penuh coretan.
"Bangke! Ini printer kenapa nggak dicolokin?" Seru Banu yang sibuk di meja printer.
Disha menendang b****g laki-laki asli Jogja itu, "nggak usah bangke-bangke. Kentutmu itu yang bau bangke."
Disha duduk, dia harus mulai mencari warna, bentuk dan segala hal yang punya arti untuk sebuah logo. Mengerjakan Logo dan Branding tidak sulit, tapi memang memakan waktu dan butuh kreativitas ekstra.
"Hanoman itu kenapa ikut pindah coba?" Banu kesal setengah mati setelah ia ditunjuk sebagai babu dadakan karena Surya—sang office boy pujaan yang selalu dibutuhkan semua orang—sedang libur, Istrinya melahirkan.
"Kandangnya bobrok, makanya dipindah ke sini." Sahut Disha yang mulai mencoret-coret notebooknya untuk mengganbar sketsa logo yang sudah ada dalam kepalanya. Malam ini dia harus kembali bertemu Hanum untuk membicarakan logo rancangannya yang masih berupa sketsa.
"Galak banget, Mbak, itu Pak Hanoman." Ucapan Juli membuat Disha dan Banu tertawa.
"Bagus, kamu bisa secepatnya menyesuaikan diri dengan habitat kita." Banu terbahak.
***