Lantai 1 | Episode 02

1165 Kata
Disha baru saja keluar dari kantor pukul enam petang. Kalau saja Hanum menyetujui beberapa idenya tentang bentuk tadi, mungkin diskusinya tidak panjang sampai malam begini. Banu sudah pulang dari jam lima, sekarang tinggal Disha yang berjalan sendirian menyuri trotoar. Taksi sudah jelas mahal ditambah dia harus menghemat untuk bulan ini karena biaya pindahannya yang bengkak. Ia memperhatikan sekitar, orang-orang lalu lalang, kendaraan masih padat seolah tak ada kata tidur bagi kota ini. Disha berhenti di salah satu Music Store dengan dua lantai dan gedung yang besar untuk kategori toko yang justru jarang dikunjungi orang itu. Matanya mengerjap beberapa kali menyadari di dalam toko musik itu cukup ramai orang. Penasaran, Disha masuk dan menjelajahi lantai satu yang dipenuh ratusan CD Album lama sampai terbaru, dari Indonesia sampai Luar Negeri. Disha berjalan ke row A dan B, sambil melihat-lihat, ia sambil mengingat album apa yan belum sempat dibelinya bulan kemarin. Ya, Disha menyukai banyak genre musik dan dia sering mengoleksi album-album dari musisi yang dia suka. Langkahnya berhenti di row untuk semua musisi dengan inisial S. Jemarinya menyapu beberapa Album dan berhenti pada Album Illuminate milik Shawn Mendes. Senyumnya mengembang. "Mas Bule, kok tumben jaga di lantai satu? Biasanya jaga lantai dua?" Suara sok imut dari gadis SMA yang tak jauh dari tempatnya berdiri, membuat Disha menoleh. Menemukan Rei sedang melayani dua gadis sok imut tadi di row belakang Disha. Dia kerja di toko musik? Masa sih? "Disha!" Sapa Rei setelah dua gadis tadi pergi. Ia menghampiri Disha yang masih memegang Album di tangannya. Disha tersenyum, "kerja di sini?" Tanyanya sambil memperhatian beberapa karyawan dengan seragam polo shirt merah dan celana berwarna khaki. Rei menggeleng, "saya sama teman saya dari Jakarta join untuk buka Music Store ini." Penjelasannya membuat Disha membulatkan mata tak percaya. Surabaya Music Store adalah toko musik terlengkap di Surabaya dan yang mengelola adalah Rei, laki-laki 25 tahun dengan tampang bule yang lebih mengarah ke tampang dongonya. Oke, yang terakhir Disha baru menyadarinya semalam. Rei punya tampang d***o yang lucu. "Masih ada lagi yang kamu beli?" Rei bertanya, membuyarkan segala kekaguman Disha pada laki-laki berkebangsaan Jepang itu. "Di lantai dua toko alat musik, kan?" Disha meletakkan albumnya kembali, ada yang sangat ingin dia beli, tabungannya tersimpan untuk satu barang itu dan sejak dulu belum ia temukan yang cocok untuk dirinya. Rei mengangguk, "ayo." Ajaknya yang berjalan lebih dulu. Disha melongo melihat isi lantai dua yang dipenuhi berbagai jenis gitar bass, gitar akustik bahkan drum set serta piano juga terpajang di sana dengan macam-macam harga. Rei tertawa melihat ekspresi tak percaya Disha, perempuan itu jelas belum pernah datang ke toko alat musik yang sangat lengkap seperti itu. "Jadi, kamu masih belajar?" Tanya Rei mengembalikan kesadaran Disha yang sejak tadi menyapu pandangannya ke sekeliling ruangan. Disha menggeleng, "aku bisa main gitar sejak SMP." Disha mulai berkeliling. Binar kagum itu terpancar jelas dari mata gelapnya. Langkahnya berhenti di depan barisan gitar akustik berbagai merk, warna dan model. Jemarinya menyentuh perlahan tiap gitar sampai ia berhenti pada gitar akustik putih keluaran Yamaha. Rei mengambilnya dari hanger yang terpasang di dinding. "Mau coba?" Rei menawarkan. Disha mengangguk, mengambil gitar yang sudah siap pakai tanpa perlu distem ulang. Disha duduk di salah satu kursi yang biasa digunakan untuk mencoba gitar. Jemarinya dengan lincah memetik tiap senar, melodi dari lagu Drown dimainkan Disha tanpa cacat. Ketika ia berhenti, tepuk tangan dari beberapa pengunjung serta Rei membuatnya tersenyum lebar. Disha memberikan gitar itu pada Rei, "mahal, ya?" tanyanya hati-hati. Rei menunjukkan label harga yang tergantug di neck gitar. Disha memikirkan berapa uang tabungan yang selama ini tak pernah ia sentuh untuk membeli gitar baru karena gitar akustik lamanya ia tinggalkan di Jogja, di rumah orang tuanya. Senyum Disha kembali mengembang, "yang ini, tapi bisa nggak kalau kamu antar? Pas kamu pulang aja? Aku ambil sama Standnya sekalian." "Bisa, nanti malam sekalian pulang, aku antar ke atas." Rei berjalan mengambil Stand lalu membawa gitar akustik pilihan Disha ke kasir. Setelah ditotal, Disha memberikan kartu kreditnya. Sekarang dia punya teman baru setelah lama ditinggalkan gitar akustik Blueridge miliknya. *** Suara itu terdengar. Mita memperhatikan sekitar, tidak ada siapapun dan suara dari luar juga bukan. Ia mengetuk pintu Disha beberapa kali, tidak ada jawaban dan kemungkinan besar tetangganya itu belum pulang dari kantor. Mita semakin merinding saat senandung tanpa iringan gitar atau piano itu terdengar makin keras. Seumur hidup, dia tidak pernah diganggu begitu dan seingatnya, selama dia tinggal, tidak ada hal aneh yang terjadi. "Siapa, ya?" Teriaknya, tak ada jawaban. Senandung itu makin keras. Rasa takut merayapinya, buru-buru dia membuka pintu lalu melesat masuk dan membanting pintu.  Sialan. Kenapa jadi horror gini, sih? Derap langkah terdengar, sangat pelan sampai suaranya berhenti. Tanpa diketuk, namanya dipanggil dari balik pintu. Suara itu serak dan dalam. Mita makin ketakutan. "Mita," panggilan kedua terdengar. Mita menjauh dari pintu. Suara serak dan dalam itu bukan dari Arbi ataupun Rei. Dia mengenal baik suara dua tetangga gilanya itu. Tidak ada suara apapun sampai pintunya diketuk sekali. Mita tersentak, semakin mundur dan lari ke kamarnya. Tidak ada panggilan, hanya ketukan pelan beberapa kali. Mita menutup telinganya, sungguh, dia takut setengah mati sekarang. "Muka kamu pucat." Suara itu sampai ke pendengarannya. Mita keluar dari kamar pelan-pelan. Ia yakin yang barusan adalah suara Disha. "Gue nggak manggil lo." Suara serak itu terdengar.  Mita buru-buru membuka pintu, memandang Arbi di depannya lalu Disha yang berdiri di depan pintu bercat putihnya. "Gue ngasih tahu supaya lo bisa kira-kira, siapa tahu abis ini pingsan." Sahut Disha ketus yang kemudian membuka pintu rumahnya, tidak terkunci. "Jadi dari tadi yang manggil aku itu kamu, Bi?" Mita memperhatikan wajah pucat Arbi yang bersandar di dinding. Laki-laki itu mengangguk. "Astaga, kamu mau minta apa? Sosis? Daging? Roti?" "Muka lo doang ganteng, kerjaan lo minta-minta." Disha mencibir lalu masuk ke rumah tanpa mempedulikan ekspresi kaget Mita. "Minta makan, minum, obat pusing sama obat mual," ujar Arbi yang mendorong Mita lalu masuk ke rumah perempuan yang masih tercengang itu. "Kamu hamil?" Pertanyaan itu berhasil membuat Arbi mendecak sebal. Dia sedang tidak ingin menyumpah serapahi Mita. Baru saja berniat masuk, kepalanya menoleh melihat kedatangan Rei yang menjinjing Case Gitar serta box berisi Stand. Ia mengurungkan niat untuk bertanya saat Rei mengetuk pintu rumah Disha. Mereka udah akrab sampai mau main gitar bareng? Pintu rumah dibuka, "loh? Aku kira masih lama," ujar Disha mengambil box berisi Standnya, diletakkanya di samping coffeetable. Disha tersenyum pada Mita yang diam di ambang pintu rumah perempuan itu, "Mit, naik ke balkon atap, yuk? Aku tadi abis bikin nasi goreng, udah di meja yang ada di sana. Sekalian aku nyobain gitar baru." Disha mengambil case yang masih terlihat berat karena gitar di dalamnya itu. "Nasi goreng?" Arbi muncul di belakang Mita. "Kamu tidur sama Arbi?" Rei menyadari dan bertanya, ekspresi datar yang cenderung bodoh itu membuat Disha tertawa sementara Mita menggeleng cepat. "Tunggu, jadi, tadi yang nyanyi di atas itu kamu, Dis?" Mita bertanya begitu ingat senandung menyeramkan dari balkon atap itu. "Iya, di atas keren banget." Disha memperlihatkan cengirannya. "Aku kira setan." Sahut Mita dengan ekspresi datarnya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN