Lantai 1 | Episode 03

1365 Kata
Disha mengacak rambutnya, kesal bukan main setelah mendengar ceramah pajang lebar Hanum yang tidak menyukai style logo yang ia buat selama tiga hari kemarin. Aris masuk dengan setumpuk brosur serta buku menu, dia sibuk mengecek hasil cetakan bersama satu karyawan produksi yang entah siapa namanya. Disha mendecak sebal melihat Hanum kembali masuk ke ruangan dan berdiri tak jauh dari pintu. "Dis, kamu jemput Pak Risaq ke Bandara, ada mobil?" Perintah Hanum dengan tatapan elang itu. "Aku nggak punya mobil, Mas. Mau pakai sepeda?" Sahut Disha tanpa takut pada pelototan Hanum. Kunci mobil Toyota Rush itu dilempar dan ditangkap dengan baik oleh Disha, "pakai mobil saya. Ajak Dewa atau Jonathan atau siapapun anak Vidgraph, sekalian kenalan sama Owner baru kita." Hanum lenyap dalam lima detik, kembali ke ruangannya. Disha menghela nafas dan kembali mengacak rambutnya. Kalau saja Pak Ipunk tidak menyerahkan jabatan Owner dari empat Studio Creative itu pada adik bungsunya, mungkin Disha tidak perlu repot-repot menjemput ke bandara atau bicara sesopan mungkin pada Bos Besar baru mereka. Sosok Pak Ipunk yang lebih dari kata ramah dan sangat gila itu sudah lenyap, tergantikan dengan sosok kaku yang sama menyebalkannya dengan Hanum. Disimpannya semua pekerjaan yang ia kerjakan di beberapa program lalu mencabut harddisk serta mematikan laptopnya, memasukkan semua barangnya yang tersebar di meja sebelum beranjak keluar dari ruangan. Ia membuka pintu kantor bagian Videography, mencari kubikel kerja Dewa lalu mengetuknya cukup keras. Dewa yang sibuk dengan pekerjaannya pun menoleh, bertanya 'apa?' dari dalam kubikel kaca yang kedap suara itu. Disha melambaikan tangan, isyarat agar Dewa keluar sebentar. "Kenapa?" Tanya Dewa begitu ia keluar dan menutup kembali pintu kubikelnya. "Aku disuruh jemput Pak Risaq, suruh ajak kamu atau anak vidgraph yang lain, Bang." Jelas Disha sambil memakai jaket merahnya yang berbahan parasut. "Aku nggak bisa, kamu ajak Nathan atau Arbi aja yang lagi lowong." Arbi? Yang bener aja. Disha mengangguk, Dewa menepuk pundaknya sambil tersenyum lalu kembali masuk ke kubikelnya. Disha beralih ke kubikel di sebelah Dewa yang menjadi tempat Jonathan bernaung, dibukanya pintu yang memang tidak tertutup rapat itu, Nathan menoleh melepas headphonenya. "Gue disuruh ajak anak Vidgraph buat jemput Pak Risaq," ujarnya dengan wajah memelas. "Pak Risaq, kan, udah kenal gue. Arbi aja, dia anak baru. Belum tahu owner yang sekarang siapa." Nathan nyengir tanpa dosa. Disha mendengus lalu menempeleng kepala Nathan yang kemudian tertawa. Jordi dan Kevin sibuk di dalam kubikel mereka, deadline membuat mereka jadi zombie dadakan. Satu-satunya Editor di Videography yang sedang santai adalah Arbi, dan Disha malas setengah modar kalau harus bersama tetangganya itu selama empat puluh menit perjalanan ke bandara. Ponselnya berdering pendek, nama Hanum tertera di notifikasi pesan whatsappnya. Mas Hanum : Udh brngkat dis? ajak siapa? Sungguh, bos kecil itu berisik sekali. Disha mengetikkan balasan lalu berjalan ke kubikel Arbi di sudut ruangan. Dibukanya pintu kaca kubikel tersebut tanpa menimbulkan suara, Disha menarik turun headphone yang terpasang di telinga Arbi, membuat laki-laki itu menoleh. "Sialan, bisa pelan-pelan nggak, sih?" Sungutnya yang dibalas tatapan kesal Disha. "Ikut gue ke bandara, jemput Owner baru." Disha bicara tanpa basa-basi. "Yang lain, kan, bisa, Dis." Sahut Arbi dengan kekesalan yang siap meledak menjadi sumpah serapah. "Cuman lo doang yang nganggur dan nonton bokep kayak gitu. Ditambah, lo itu anak baru yang belum kenal Pak Risaq." Seketika, Arbi menatap monitornya, mendapati adegan ciuman dari Film yang dia tonton terpampang jelas di layar. Arbi menekan power, layarnya gelap dan ia membanting headphone ke meja. "Mulut lo tajem, asal jeplak." Arbi bangkit, memakai kemeja flannelnya, menutup kaos putih tanpa lengan yang menampilkan tattoo penuh di lengan kiri dan beberapa diantaranya di lengan kanan. Ia keluar lebih dulu, Disha mengekor di belakang. Toyota Rush milik Hanum itu dikemudikan Disha keluar dari halaman parkir di depan gedung kantor. Setelah perdebatan panjang dengan Arbi tentang siapa yang harus menyetir, akhirnya Disha yang bertanggung jawab pada kemudi selama perjalanan berangkat sampai pulang nanti. Empat puluh menit perjalanan dilalui oleh mereka dalam diam, baik Arbi maupun Disha, tidak ada yang mau membuka obrolan bahkan Disha mengemudi dalam kecepatan yang sanggup membuat Arbi mencelos—Disha sepertinya memang bukan perempuan. Mobil itu menepi, Disha mematikan mesin dan turun mengikuti Arbi. "Orangnya kayak gimana?" Tanya Arbi sambil memperhatikan orang yang lalu-lalang di Terminal 1B Kedatangan. "Bentar-bentar, aku ke toilet." Disha membiarkan Arbi menunggu tak jauh dari toilet sementara ia sudah melesat masuk ke toilet wanita. Tidak lama, Disha keluar dari salah satu bilik toilet. Ia terdiam melihat dua perempuan berdiri dengan ekspresi kaget bukan main. Belum sempat Disha tersenyum, dua perempuan itu berteriak. "m***m!!!" Teriakan melengking dua perempuan itu membuat Disha menepuk jidatnya. "Mbak, bentar. Saya— "m***m! NGAPAIN KAMU DI TOILET CEWEK!" Salah satu perempuan memukul Disha dengan tas jinjingnya tanpa ampun. "Mbak! Sakit! Aargh!" Disha melindungi kepalanya, berusaha lari keluar. "Panggil keamanan!" Teriak perempuan yang memegangi kedua lengan Disha dari belakang agar Disha tidak lari. "Mbak! Sumpah saya— "m***m MAH m***m AJA! NGGAK USAH ALASAN!" Teriak si perempuan yang berhasil membuat Disha merunduk, telinganya sakit mendengar teriakan berkali-kali. Arbi memperhatikan perempuan yang masuk ke toilet bersama Security bandara, perempuan dengan rambut kecokelatan yang digerai itu mengoceh kesal sepanjang jalan. Arbi mencerna apa yang dilihatnya, ia baru ingat kalau Disha di dalam toilet perempuan dengan penampilan tampan luar biasanya itu.Ia mendesah kesal lalu berjalan ke toilet wanita tempat Disha masuk tadi. Baru sampai di depan pintu, Security berkulit sawo matang itu menarik kasar lengan Disha. Arbi menghadang Security tersebut. "Pak, dia perempuan." Arbi bicara tegas tanpa bertanya apa yang terjadi. "Laki-laki dia, Pak! Suaranya aja yang cempreng!" Sahut salah satu dari dua perempuan yang berjalan di belakang security. Arbi mendecak sebal, "perempuan. Gue temen dia, kartu identitas dia juga perempuan." "Kamu bisa jelaskan di kantor keamanan nanti." Security tersebut menarik Disha yang sudah menyerah untuk melawan. "Pak! Situ bisa cek ktp dia di sini, sekarang!" Sentak Arbi yang berhasil menarik perhatian orang-orang di sekitar mereka. Security itu mengendorngkan cengkaramannya dari lengan Disha. Disha menyentak tubuhnya dari cengkraman sang Security, menjauh beberapa langkah dan menyorot Security serta dua perempuan yang melaporkannya itu dengan tatapan membunuh. Dikeluarkannya dompet dari saku celana, Disha mengambil ktp yang selalu dia bawa dan memberikannya pada Security tersebut. Dua perempuan yang menyerangnya sembarangan pun ikut melihat. Disha dan Arbi menatap kesal Security serta dua perempuan yang mulai terlihat canggung. Security itu mengembalikan ktp Disha, "saya mohon maaf karena sudah salah mengira, Mbak." "Terserahlah." Disha yang sudah terlanjur kesal, pergi begitu saja tanpa mendengarkan dua perempuan yang berusaha meminta maaf. Setelah berbicara sebentar, Arbi berlari mengejar Disha yang ternyata sudah menyalami Pria nyentrik dengam kemeja putih aksen kotak-kotak itu. Pria yang mungkin hanya beberapa tahun di atas Hanum umurnya. Creative Studio tempatnya bekerja memang diisi oleh keryawan yang masih kepala dua, paling tua mungkin hanya Hanum dan sang Owner baru. Arbi tersenyum ramah menyalami Risaq yang ekspresinya tidak menunjukkan keramahan sama sekali. Malas dengan sikap kaku Pria itu, Arbi memutuskan untuk tidak banyak bicara dan mengekor di belakang Disha yang sibuk menjelaskan beberapa hal dari dokumen yang diberikannya pada Risaq. "Kamu yang nyetir?" Tanya Risaq pada Disha setelah duduk di bangku belakang sementara Arbi mengangkat koper ke dalam bagasi. "Iya, saya, Pak. Gantian sama Arbi." Bohong. Disha melirik tajam Arbi yang sudah duduk di bangku samping supir. Risaq hanya mengangguk, membiarkan Disha menyalak  mesin dan keluar dari slot parkir lalu meninggalkan area itu. Selama perjalanan, Disha diam, Arbi sesekali menjawab pertanyaan Risaq dengan hati-hati. Lampu lalu lintas menyala merah, Disha menginjak rem. "Kamu benar perempuan? Atau transgender?" Pertanyaan itu terlontar tanpa nada hati-hati. Risaq memang bukan orang yang bicaranya hati-hati, dia menanyakan apa yang mengganggunya tanpa peduli pada perasaan orang lain—yang mungkin saja tersinggung. "Perempuan, Pak." Jawab Disha sambil kembali menginjak pesal gas setelah lampu berubah hijau. Toyota Rush Hitam itu parkir di halaman depan gedung BigSign, Risaq turun bersama Arbi yang menyeret koper Pria tersebut. Disha mengikuti sampai ke depan ruangan Risaq lalu pamit bersama Arbi saat Hanum masuk ruangan, memberi isyarat agar dua orang itu kembali bekerja. Keduanya masih enggan membuka obrolan, tapi atas apa yang dilakukan Arbi sampai Disha tidak jadi diseret ke kantor keamanan, membuatnya berterima kasih. "Makasih untuk yang tadi," ujar Disha. Langkah mereka hampir sampai di kantor bagian Videography. "Hmm," hanya gumaman dan Arbi membuka pintu ruangan. Lenyap di balik pintu kaca itu. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN