Lantai 1 | Episode 04

1253 Kata
Derit pintu terdengar, Disha masuk ke rumahnya, meletakkan ransel di sofa lalu duduk bersandar di sebelahnya. Ia memejamkan mata, otaknya masih panas, mungkin tingkat panasnya mencapai 75%. Logo yang ia buat diterima dan dia harus menyelesaikan buku proses pembuatan logo itu dalam beberapa hari ini. Ia mengusap wajahnya kasar lalu beranjak ke dapur. Kabinet atas dibuka, "mie rebus, mie goreng, sarimi isi dua rebus, telur, La Pasta, keju, s**u," ia sibuk mencari bahan yang bisa ia masak dan cukup untuk mengenyangkan perut, asal bukan mie instant. Tidak ada pilihan, ia memgambil sebungkus mie rebus lalu menutup kembali kabinetnya. Mendadak, tubuhnya menegang. Mata cokelatnya membulat sempurna, tangannya reflek melempar mie instant yang dipegangnya ke sudut dapur. Tubuhnya melemas, ia merosot ke lantai–gemetar. Ia menahan diri untuk tetap terjaga meski debar jantung membuat kepalanya dihantam rasa sakit dan perutnya mulai dikoyak-koyak. Tolong, siapapun pulang. *** Jam yang melingkari tangannya menunjukkan bahwa sekarang sudah pukul sepuluh lewat empat belas menit dan Mita baru saja sampai di rumah sewanya dengan wajah kusut yang tak terkatakan. Audit di kantor membuat urat di pelipisnya menyembul, ditambah lagi fakta bahwa hari ini ada mata kuliah Perpajakan yang membuat kepalanya serasa ingin copot dari tubuh. Dia merogoh salah satu saku kecil di ranselnya, mengambil anak kunci dan memasukkannya ke dalam lubang. Belum sampai tangan itu memutar kenop, suara langkah tergesa membuatnya menoleh ke arah tangga. Ada Arbi di sana, setengah berlari menghampirinya. "Hai Mit, tadi kamu lewat terus nggak sengaja aku lihat, terus kususul, deh," cerocos Arbi sebagai pembukaan dengan menaik turunkan kedua alisnya. Senyum bodoh di wajahnya membuat pikiran Mita semakin keruh. "Mau apa?" Jawab Mita ketus, jauh sekali dari kata sopan yang harusnya dia berikan pada Arbi mengingat dia dan Arbi terpaut usia 3 tahun. Mungkin karena Arbi sudah amat sangat sering membuatnya kesal jadi begitulah respon Mita setiap kali melihat Arbi di depan pintunya. "Galak banget." "Udah buruan ngomong! Mau minta apa kamu?" Arbi meringis, "peka banget, sih," jawab Arbi seraya mencolek dagu Mita, dan dengan kasar tangan itu ditepis oleh Mita. "Jijik!"  Arbi tergelak mendengar ucapan Mita. Cowok itu mengekori Mita sampai ke dalam rumah yang lampunya belum dinyalakan, Arbi meraih saklar lampu dan ruangan di sekitarnya berubah terang. Dia menyusul Mita yang sedang menggeledah kulkas kecil di bawah kabinet dapur. "Minta kornet boleh, ya, Mit?" "Aku jawab gak boleh pun pasti kamu juga tetep minta, kan!" Gerutu Mita—lagi. Arbi meringis—lagi. Dan Mita dibuat geram—lagi. "Harusnya kamu tuh bersyukur, Mit, ada tetangga model aku sama Rei gini. Jadi pahala kamu nambah karena melakukan kebaikan ke tetangga sekitar." "Nggak usah ceramah! Kamu mau aku ceramahin biar berhenti ganggu tetanggamu? Berhenti minta-minta ke tetanggamu?" Seperti seorang stand up comedian yang tengah perform, Arbi merespon ucapan Mita dengan gelak tawanya. "Lagian kamu, sih, udah tau nggak pernah masak, jarang makan di rumah, ngapain juga nyetok bahan makanan segala?" "Sengaja! Buat bantu kaum dhuafa kayak kamu sama Rei!" Jawab Mita dengan menyerahkan bungkusan kornet miliknya pada Arbi, belum sampai Arbi menerima plastik kornet itu, Mita menariknya lagi, "angkatin galon airku dulu!" "Yaah, keburu gosong masakanku!" Arbi beralibi. "Angkatin nggak?" Hardik Mita dengan mata yang sudah melotot memandang Arbi. Bibir lelaki itu mengerucut lalu melenggang memindahkan galon air yang ada di dekat rak piring ke atas dispenser. "Udah tuh. Mana?" Mita memberikan kornet di tangannya pada Arbi, "Sana buruan minggat!" Dia mendorong Arbi agar segera keluar dari rumahnya, dia benar-benar ingin tidur cepat malam ini, sebelum esok hari bangun lagi dan dihadapkan dengan pekerjaan yang—dipastikan—menguras tenaga dan pikirannya. "Bi, kamu ngapain? Flirting sama Mita, ya? Minta kornet aja lama banget!" Suara ocehan itu membuat Arbi dan Mita menoleh. Gadis itu memutar bola matanya mendapati kepala Rei melongok ke dalam rumahnya. "Sabar! Masih disuruh angkat galon segala ini sama nyonya!" Cibir Arbi secara tidak langsung. "Udah dapet kornetnya?" Tanha Rei. Arbi kemudian mengangkat plastik kornet di tangannya. "Makasih Mit, kita mau bikin omelet, nih," jawab Rei sok unyu yang malah membuat Mita mual. "Minggat sana!" Usir Mita pada dua mahluk halus di hadapannya. Arbi dan Rei hendak menjawab namun seketika mereka membisu kala mendengar jeritan lantang yang berasal dari rumah Disha. Rei adalah yang pertama menghampiri pintu rumah Disha dengan wajah cengonya, diikuti oleh Mita dan Arbi paling terakhir.  Rei sedikit menggedor pintu rumah Disha yang tertutup, "Dis! Kamu nggak apa-apa?" Mita memukul bahu Rei dari belakang, "dia teriak, pasti dia kenapa-kenapa!" "Oh iya!" Wajah Rei berubah panik, "Dis! Buka pintunya Dis! Kamu kenapa? Apa ada yang bisa ditolong?" "Coba buka pintunya, jangan cuma lo gedor-gedor doang. Kali aja nggak dikunci." Rei dan Mita menoleh pada Arbi. Tumben Arbi pintar di saat yang tepat. Batin Mita setengah takjub. Rei memutar kenop setelah berteriak, "Saya masuk, ya, Dis!" "Kamu ngapain?" Mita terbelalak melihat Disha dengan wajah pucat pasi berjongkok di pojok dapur dengan membawa serbet kotak-kotak di tangannya. "I-itu! I-itu!! Aaaaaaa b*****t dia terbang!!!" Disha bergidik menghentak-hentakkan kakinya pada lantai, tangannya yang membawa serbet dia kibas-kibaskan ke udara. "Kenapa?" Mita menjerit lagi, berusaha mengalahkan suara Disha yang berteriak histeris. "Itu Mit! Itu!! Ada kecoa lagi ena-ena di bawah meja!!" Teriaknya dan berlari menubruk tiga orang yang kebingungan berdiri di perbatasan antara dapur dan ruang tengah rumahnya. Arbi masuk ke dapur tanpa permisi, dilihatnya ada dua ekor kecoa yang sedang berjalan-jalan di lantai, tanpa rasa jijik atau takut Arbi mengambil kecoa itu dengan tangan kosong. "Ini? Lo takut sama beginian?" Tanya Arbi dengan nada mencibir pada Disha. Cowok itu agak terkejut dengan fakta bahwa Disha takut pada serangga yang katanya bisa terbang itu. "Buang! Buang! Jauhin dari gue, setan!!" Disha menjerit-jerit pada Arbi yang seolah menjadikan dua kecoa itu sebagai mainan. "Bi, buang Bi! Disha takut sama kecoa!" Peringat Rei yang iba melihat Disha ketakutan.  Disha tidak menangis tapi melihat tubuhnya yang gemetar di sebelah Mita, cukup meyakinkan Rei bahwa Disha memang benar-benar takut pada serangga itu. "Halah beginian doang nggak bisa bikin lo mati!" Arbi berjalan menghampiri tempat sampah di dekat kompor, namun laki-laki itu sigap berbalik dan melemparkan serangga di tangannya ke arah Disha. "AAAAAAAAAAAAA!!!!!" "Disha!!!" Mita menjerit reflek ketika tiba-tiba tubuh Disha ambruk mengenai bahunya. Cepat-cepat dia berjongkok dan memangku setengah badan Disha yang tergeletak di lantai. "ARBI KAMU g****k YA!" Mita menjerit memaki Arbi yang tercengang di tempatnya. "Kamu kelewatan bercandanya, Bi!" Rei pun turut mengomel pada Arbi. Laki-laki turunan Jepang itu menarik lengan Disha yang terkulai kemudian menggendongnya untuk dibaringkan di atas sofa. Mita panik mencari sesuatu yang bisa membantu Disha tersadar dari pingsannya. Sementara Arbi masih berdiri dengan penuh keterkejutan. Dia menunduk, membuka kepalan tangannya, terdapat dua ekor kecoa di sana. Hewan yang membuat Disha tak sadarkan diri dengan wajah pucat pasi. "Padahal gue cuma main-main, nggak gue lempar beneran," Gumamnya masih dengan wajah melongo seolah tak ada kejahatan apapun yang baru saja dia kerjakan. "ARBI CEPATAN TELEPON UBER, g****k! DISHA NGGAK MAU SADAR!" Suara teriakan Mita membuatnya tersentak, cepat-cepat dia campakkan kecoa-kecoa itu ke dalam tempat sampah, mencuci tangannya dan berlari keluar dari dapur. "Apa?" Arbi memastikan. "Kamu cari taksi, Bi, atau uber atau apa. Disha nggak mau sadar!" Rei mengulang perintah Mita, karena perempuan itu sedang sibuk mengoleskan minyak angin pada beberapa bagian tubuh Disha. Arbi menatap Disha yang terbujur di atas sofa, seolah belum percaya bahwa perempuan jadi-jadian itu benar-benar pingsan. "ARBI g****k! BURUAN BI!! TANGAN DIA UDAH DINGIN BANGET!!" Setelah Mita mengumpatinya lagi barulah laki-laki blasteran Jepang—Indo itu berlari keluar dari rumah Disha menuju jalanan, beruntung masih ada dua taksi yang berhenti di persimpangan dekat rumah sewa mereka, Arbi berlari dan memesan satu taksi untuk Disha. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN