Lantai 1 | Episode 05

1456 Kata
"Taksinya udah di depan!" Arbi melapor setelah kembali ke rumah Disha. Rei dengan cepat mengambil alih tubuh Disha, menggendongnya setengah berlari menuruni tangga menuju taksi pesanan Arbi. Mita mengunci rumah Disha, berlari masuk ke rumahnya sendiri mengambil tas selempangnya juga selimut untuk Disha. Cepat-cepat dia keluar dan menemukan Arbi berdiri di depan pintu rumahnya. "Ngapain masih di sini? Buruan susulin!" Mita membentak Arbi, laki-laki itu hendak menjawab tapi dengan cepat tangan Mita menyambar lengannya dan membawa Arbi berlari menuju taksi yang sudah terdapat Rei dan Disha—yang pingsan—di dalamnya. Mita membuka pintu depan sebelah supir, menjejalkan Arbi agar duduk di sana. Setelahnya dia masuk ke dalam taksi melalui pintu belakang, duduk bertiga bersama Disha dan Rei. Dari kaca spion Arbi mengamati Rei dan Mita. Rei memangku kepala Disha di atas pahanya wajah laki-laki itu kelihatan tegang, sedangkan Mita memangku kaki Disha dan menyelimuti tubuhnya dengan selimut sampai sebatas leher perempuan jadi-jadian itu. Sampai taksi berhenti di lobby UGD salah satu rumah sakit terdekat, Arbi masih belum percaya bahwa seorang Arthadisha yang kelihatan cowok banget bisa pingsan hanya karena kecoa. *** Arbi dan Rei duduk di ruang tunggu UGD, Mita menemani Disha yang sedang diperiksa oleh dokter di dalam. Belum ada percakapan apapun yang keluar dari mulut Arbi maupun Rei. Keduanya masih terkejut dengan Disha yang tiba-tiba jatuh pingsan hanya karena kecoa. "Kamu kelewatan, Bi." Rei membuka obrolan. "Gue nggak tau kalau dia bakalan pingsan kayak gini." Arbi membela diri. "Dia,kan, udah teriak-teriak sampai gemetaran, itu artinya dia ketakutan." "Iya iya, gue salah." Arbi menyerah, dia menyadari bahwa ini juga salahnya. Tapi di luar kesalahannya dia juga tidak tahu kalau Disha bisa sampai pingsan seperti itu. "Kamu harus minta maaf sama dia, Bi," ucap Rei layaknya seorang Ibu yang sedang menceramahi anaknya. Arbi bergumam, "nanti, kalau dia udah bangun." Dan lorong tunggu itu kembali senyap. Tidak ada yang bermain gadget—karena memang tak ada yang membawa ponsel bahkan dompet. Baik Arbi maupun Rei hanya duduk diam, sesekali menguap kala kantuk mulai melanda. Bayangan kejadian beberapa menit lalu masih memenuhi kepalanya, bagaimana Disha jatuh tak sadarkan diri lalu Mita dan Rei panik setengah mati, itu cukup untuk membuatnya sadar kalau semacho apapun si tomboy itu, Disha tetaplah perempuan. Soal Rei, rasanya Arbi belum pernah melihat dia sepanik itu bahkan saat Mita sempat demam beberapa bulan lalu. "Rei," panggilnya. "Apa?" Jawab Rei parau. Dia nyaris tertidur jika Arbi tidak memanggil namanya. "Lo naksir Disha?" Rei menoleh, menatap Arbi dengan wajah datar setengah ngantuknya, "kenapa kamu tanya begitu? Kamu suka Disha?" Arbi mengalihkan pandangan, menatap langit-langit lorong tunggu UGD, "lo kelihatan care banget sama Disha, beberapa hari ini." "Saya biasa aja, Bi." Jawab Rei datar. "Lo, tuh, udah kayak bapak-bapak yang panik lihat istrinya mau lahiran." Rei tertawa dan Arbi menempeleng kepalanya, "ini rumah sakit bego." Lagi Rei tertawa tapi tidak sekeras tadi, "kamu suka, ya Bi, sama Disha? Dia baik kok," ucap Rei sok-sok mempromosikan Disha. Arbi menggeleng. "Gue nanya ke lo, ngapa lo jadi nanya balik ke gue?" Keduanya menoleh begitu Mita keluar dari ruang UGD, perempuan itu duduk di antara Arbi dan Rei tanpa peduli seperti apa mereka bertiga harus berdesakan di sebuah kursi panjang. "Kalian pulang aja sana. Disha musti nginep malam ini," jelasnya setelah duduk dengan nyaman di antara Arbi dan Rei. "Nginep? Disha harus dirawat?" Rei bertanya. Mita mengangguk, "dia shock, ditambah sama tekanan darah turun, kecapekan dan kurang tidur. Besok kamu bilangin Bosmu, kalau Disha nggak bisa masuk kerja karena dirawat." Arbi menghela nafas panjang, dia bisa tenang sekarang setelah tahu kenyataan bahwa Disha pingsan bukan 100% karena kejahilannya tapi karena memang perempuan jadi-jadian itu sedang tidak dalam kondisi kesehatan yang prima. "Lega gue. Sumpah gue lega!" Tanpa babibu Mita memukul wajah Arbi dengan telapak tangannya, "temen kamu itu, bego!" "Sakit! Kasar banget lo jadi cewek." Protes Arbi. Rei mendorong kepala Arbi lalu mengalihkan tatapannya pada Mita, "jadi gimana Disha, Mit?" "Tinggal nunggu siuman aja, besok siang udah bisa pulang," jelas Mita yang kemudian mengambil ponselnya dari tas, "besok jam enam pagi, kamu Rei yang gantiin aku jagain Disha." "Kok saya?" Sahut Rei yang sudah merencanakan untuk hibernasi besok. Mita menatap tajam Rei, "kan, kamu owner, jadi bebas kamu mau dateng jam berapa aja! Nanti kalau siang Disha jadi pulang, Arbi bisa bantuin." Arbi membuang nafas kasar, ingin protes karena tidak mau dibuat repot oleh tetangga sekaligus teman sekantornya itu. Tapi bagaimana lagi? Dia merasa harus bertanggung jawab pada Disha karena sudah membuat perempuan jadi-jadian itu pingsan—meskipun itu bukan 100% kesalahannya. "Ya udah, deh," Rei setuju dengan saran Mita yang memintanya datang menemani Disha. Menjadi anak-anak perantauan membuat mereka menyadari bahwa orang-orang asing di dekat mereka itulah yang harus mereka anggap sebagai saudara. Seseorang yang harus mereka bantu dan harus mereka keluh kesahi. *** Cahaya matahari menembus tirai putih kamar tersebut, dua pasien di sebelah Disha terbaring, sudah bangun dan membuka tirai mereka sementara Disha belum juga membuka mata. Perlahan, tirai itu ditarik separuh, laki-laki itu duduk di samping Disha. Helaan nafasnya terdengar, ia menyandarkan kepala ke sandaran kursi lalu memejamkan mata. Semalaman dia memikirkan kondisi si perempuan tampan itu. Mata cokelat itu bergerak halus di balik kelopaknya yang kemudian terbuka, mengerjap beberapa kali sampai ia bisa mengetahui dimana dia berada sekarang. Disha memperhatikan laki-laki dengan hoodie jeans yang tertidur dalam posisi kepala bersandar pada kursi. Susah payah Disha mengingat bagaimana dia bisa berakhir di rumah sakit dengan selang infus tertancap di tangan kiri. Kepalanya masih berdenyut saat ia berusaha duduk dan mengambil bantal yang tadi digunakannya. Kekesalannya memuncak dan bantal itu ia lempar tepat mengenai wajah Arbi yang tertidur. Arbi tersentak bangun. Melihat bantal yang jatuh di dekat kakinya, ia menoleh ke arah Disha. "Ngapain lo di sini?" Disha bertanya dengan suara parau dan nada ketus yang begitu jelas. Arbi mendengus, "nungguin lo, gantian sama Mita," jawabnya yang sama ketusnya dengan ucapan Disha. "Keluar sana. Lihat muka lo, bikin kepala gue tambah sakit." Disha mengalihkan pandangannya. "Gue mau minta maaf karena kemarin kelewatan, sekarang gue diusir jadi gue pulang." Arbi beranjak. "Eh! Siapa yang suruh lo pulang?" Mendengar ucapan Disha, seringainya tercetak tanpa sepengetahuan Disha. Ia berbalik dan dalam tiga detik ekspresi kesalnya terlihat, Arbi mendecak sebal. Arbi duduk, Disha diam. Keduanya dibelenggu kecanggungan dan hening yang cukup lama, kejadian kemarin justru memperkeruh suasana diantara mereka. Arbi semakin kesal dan Disha semakin muak. Tidak ada masalah yang jelas sebenarnya, tapi rasa kesal keduanya selalu muncul tiap bertemu. Termasuk saat ini. "Lo tunggu di luar aja, deh, muka lo ganggu kalau di sini," ujar Disha tanpa dosa. "Lo beneran minta ditempeleng pakai pacul?" Tanya Arbi ketus. Disha tidak menjawab, ia kembali memposisikan dirinya berbaring tapi kemudian tangan Arbi menahan lehernya. Disha hendak protes sampai ia melihat Arbi meletakkan bantal yang dilempar Disha tadi ke bawah kepalanya. "Gue ngerokok dulu, bentar lagi Rei dateng." Arbi keluar begitu saja, meninggalkan Disha yang masih menatapnya datar. Sebungkus Dunhill menthol diambilnya dari saku hoodie jeans itu, ia menutup kepalanya dengan tudung hoodie lalu pergi ke balkon khusus untuk merokok. Ia menjepit rokok diantara bibir lalu menyalakannya dengan korek gas, menghisapnya dan menghembuskan asapnya kemudian. Meski tidak sering, Arbi memang selalu membawa sebungkus rokok yang lumayan mahal itu kemana-mana. Sehari, dia hanya merokok sekali dan sisanya dia kecanduan kafein. Berbeda dengan Rei yang jarang sekali terlihat menghisap benda beracun itu, kalaupun terlihat, hanya sekali dua kali dan tentu saja mendapatkan sebatang itu dari hasil minta pada Arbi. Ada sesuatu yang membuatnya tak bisa melihat Disha lebih lama di ranjang rumah sakit dengan infus menancap di tangan itu. Bukan, dia bukan Rei yang takut jarum, dia hanya merasa bersalah. Sangat bersalah. Rei benar, dia kelewatan. Baru satu minggu tapi sesuatu yang aneh sudah menghampirinya gara-gara perempuan jadi-jadian itu. Arbi membuang rokoknya yang baru dihabiskan setengah batang. Khawatir kalau perempuan itu butuh sesuatu, dia kembali ke bangsal tempat Disha di rawat. Langkahnya berhenti di depan pintu yang tidak tertutup rapat, dari situ dia bisa melihat bagaimana Rei dan Disha melempar senyum lalu tertawa. Arbi menghela nafas sebelum mendorong kenop pintu dan masuk, menghampiri ranjang tempat perempuan itu terbaring. "Ngerokok?" Tanya Rei begitu mencium bau rokok dari hoodie Arbi. "Iya, mau?" Arbi mengeluarkan sebungkus rokok yang dibawanya, "tapi nanti lo batuk-batuk, jadi mending lo beli permen aja." Dimasukkannya Dunhill menthol itu ke dalam saku hoodie setelah Rei mendecak sebal. "Lo ngerokok?" Pertanyaan Disha membuat Arbi tergelak. "Nggak punya temen perokok, ya?" Arbi balik bertanya, Disha mendecak sebal. "Disha bisa pulang sekarang, saya disuruh ambil obat tadi. Kamu yang tunggu perawatnya dateng, ya?" Rei beranjak. Baru dua langkah, Arbi menahan kerah belakang kaos Rei, "gue aja, atas nama siapa?" tanya Arbi setelah melepaskan tangannya. "Kamu bisa?" Pertanyaan bodoh Rei membuat Arbi menoyor kepala bule jepang itu. "Nama lo siapa, Dis?" Arbi beralih menatap Disha yang masih terlihat pucat. "Arthadisha." ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN