Lantai 1 | Episode 06

1172 Kata
Mata cokelat itu lurus menatap cermin, pantulan dirinya dengan pakaian yang terakhir ia pakai sebelum jatuh pingsan. Disha meraih paper bag yang diberikan Rei—titipan dari Mita katanya. Ia melepas semua bajunya, tubuh itu hanya ditutupi pakaian dalam di depan cermin kamar mandi, memperlihatkan bekas-bekas luka permanen di lengan kiri. Satu tatto kecil tercetak di pergelangan tangan kirinya. Perempuan, dia perempuan yang sengaja merubah penampilannya mirip laki-laki. Disha menghela napas berat, mengusap wajahnya yang masih terlihat pucat itu sebelum memakai t-shirt putih bergambar abstrak dan jeans hitam yang diambilkan Mita. Ia menyalakan keran, membiarkan suara air menyamarkan debar jantungnya yang semakin berisik saat dirinya tak bisa lagi membendung genangan di mata cokelat itu. Segalanya berubah kacau sejak hari itu. Hari dimana Ayah tirinya berteriak dan menamparnya di depan Ibu serta kedua adiknya. Tidak ada yang berusaha melerai keributan Disha dan Adrian. Setiap teriakan Disha dibalas dengan makian kasar serta tangan yang terkepal kuat. "Kembalikan semua uang kuliah saya! Kembalikan hak saya! Kembalikan semua impian saya yang anda rampas!" Air matanya mengalir semakin deras. Teriakannya kala itu terdengar jelas, tubuhnya terasa berada di ruang tengah rumah bercat putih itu. "Dasar anak nggak tahu diri!" Tangan kanannya reflek meraba pipi kiri yang pernah mendapat tamparan keras sampai sudut bibirnya berdarah. Teriakan kedua adiknya terdengar saat Ibu mendorong mereka masuk ke kamar. Disha mengingat jelas semuanya. "Saya punya hak untuk mengambil kembali semua hal yang anda rebut dari saya. Termasuk tabungan kuliah dari Papa." Bukan tamparan melainkan bogem mentah yang diterimanya. Sorotan tajamnya terputus begitu Disha berbalik dan pergi ke kamarnya, mengunci pintu sebelum Adrian menghujani tubuhnya dengan tendangan dan pukulan seperti tiga bulan lalu. Teriakan demi teriakan terdengar, Ibunya bahkan tak berniat membela atau menenangkan sang Suami yang murka. Disha membereskan semua barang ke dalam ransel serta koper besarnya, semua uang yang ia simpan di dalam kotak yang ia sembunyikan di bawah kolong sempit lemari, pun di masukkannya ke dalam ransel. Gunting besar di atas meja ia raih, tak sampai satu menit, rambut hitam panjang itu sudah dipangkas sangat pendek di atas leher. Setelah memastikan Adrian tidak lagi mengamuk di ruang tengah atau di depan kamarnya, Disha keluar. Mengangkat koper dan lari sekencang mungkin ke halaman karena ia meminta temannya datang menjemput. Danar, sahabat baiknya selama di SMK itu kaget setengah mati melihat Disha melempar koper ke bangku belakang dan memakai seatbeltnya—rambut panjangnya bahkan dipotong sembarangan mencapai bagian atas leher. Tanpa protes, Danar mengantar Disha ke terminal. Hari itu, Disha meninggalkan kota Semarang dan pindah ke Jogja tanpa peduli pada keluarganya, pada adik-adiknya. Sejak hari itu, keluarganya sudah kehilangan gadis cantik bermata cokelat yang kini menjadi sosok Arthadisha yang menipu banyak orang melalui penampilan cowoknya. Disha kehilangan segalanya, keluarganya melepaskan Disha. "Lo beranak di dalem, Dis? Lama bener." Seruan Arbi terdengar. Mengacaukan segala kepingan masa lalunya yang baru saja tertata kembali. Disha buru-buru membasuh wajah dan memasukkan pakaiannya ke dalam paper bag, keluar tanpa mempedulikan Arbi yang berdiri di depan pintu. Laki-laki berhoodie jeans itu memperhatikan punggung Disha yang perlahan menjauh. Mata cokelat itu masih berair, sembab dan punggungnya pun terlihat lemas, tersirat kerapuhan dari sana. Arbi menoleh ke dalam kamar mandi, air keran menyala. Ia melangkah masuk, memutar keran sampai airnya berhenti lalu memperhatikan pantulan dirinya di cermin. Dia tahu, sejak pertama kali bertemu Disha, mata cokelat itu punya banyak luka yang ia sembunyikan tanpa pernah dibagi. Cengiran bodohnya, senyum hangatnya, bahkan matanya, tak ada yang benar-benar tertawa atau tersenyum. *** Disha tak banyak bicara saat perjalanan pulang, hanya menanggapi Rei dan sesekali mendecak sebal mendengar ocehan Arbi. Bibir itu memang masih pucat saat Disha turun dari taksi dan naikke rumahnya di lantai atas. Rei sempat menawarkan untuk memasakkan makan siang tapi dengan senyum tipisnya, Disha menolak. Melihat makanan membuat moodnya semakin berantakan. Entah kenapa kejadian itu muncul lagi dalam kepalanya tadi. Diha melempar paper bag ke sofa lalu membuka jendela besarnya. Tanpa ragu, dia memanjat dan duduk menyisipkan kakinya di antara besi pagar, membiarkan angin menyapa kedua kakinya yang bergelantungan. Ia melipat tangan di atas pagar lalu menyandarkan dagu di sana, matanya terpejam. Petikan gitar terdengar dari bawah, matanya terbuka, melongokkan kepala sedikit agar bisa melihat pengamen mana yang ngamen dengan gitar akustik elektrik. They think that we're no one We're nothing, not sorry They push us It's too late, it's too late Not going back Dia tidak pernah mendengar lagu itu. Lagi rock yang punya makna menyentuh dalam liriknya. They think we are made up Of all of our failures They think we are foolish And that's how the story goes They stand for nothing They're lifeless and cold Anything they say Will never break our hearts of gold Disha mendengar suara itu makin jelas, satu-satunya orang yang tinggal di lantai dasar tepat di bawah rumahnya hanya Arbi. When you're standing on the edge So young and hopeless Got demons in your head We are, we are No ground beneath your feet Not here to hold you 'Cause we are, we are The colors in the dark The colors in the dark. Ponsel Disha berdering di atas meja, perempuan itu melompat turun lalu bergegas ke kamarnya, meraih ponsel dan menggeser tombol answer. "Halo? Siapa?" Tak ada suara saat Disha menjawabnya. "Adissa," panggilan dari suara lembut Ibunya itu membuat Disha mendadak tegang. Tak pernah sekalipun Ibunya itu menelepon sejak kepindahan Disha ke Surabaya, jangan lupakan juga selama Disha tinggal di Jogja, tak ada satupun telepon dari keluarganya. "Ini Bunda, Dis." Suara itu terdenga lagi. Lidahnya kelu, oksigen mendadak terasa menipis. Mata cokelat itu berair. "Bunda cuma mau kasih kabar. Nanda dapat beasiswa ke SMA favoritnya, Hisha sekarang kelas satu SD di tempat kamu sekolah dulu," hening, hanya suara nafas Ibunya yang terdengar. Disha tidak lagi mempedulikan air matanya yang membasahi pipi. "Kamu nggak perlu lagi kirim uang. Semua biaya di sini sudah ditanggung Bapak. Pakai uangnya untuk kamu kuliah di sana." Sesuatu menusuk dadanya, kuat dan dalam. Benda tipis berbingkai metalik itu menghantam dinding, layarnya retak parah. Berteriak saja rasanya sudah tidak sanggup sekarang. Benda-benda berjatuhan di lantai kamar. Pecahan kaca berserakan, buku-buku dan semua album koleksi tergeletak mengenaskan. Tangisnya terhenti, hanya nafas yang memburu dan kemarahan luar biasa merayap dalam dirinya, menunggu untuk diledakkan. Tidak ingin menimbulkan banyak keributan, Disha masu ke kamar mandi, menyalakan shower dan membiarkan pakaiannya basah, merembes ke badannya. Tangisnya baru benar-benar pecah saat tubuh gemetar itu merosot ke lantai. Sesuatu yang tidak pernah ia lepaskan keluar, pada akhirnya menabrak dinding pertahanannya sampai hancur, menerobos keluar. Sosok kelam dirinya yang selama ini ia sembunyikan berhasil bebas. Rambut basah itu ditariknya, bahkan rasa sakit dari tarikan tangannya sendiri saja tidak mampu menandingi luka robek luar biasa yang selama ini bersarang. Tinjunya lepas ke dinding, berkali-kali sampai tangan kanan itu gemetar, lebam dan robek menghias jemarinya. Siapa peduli? Memangnya siapa yang peduli? Sekali lagi kepalannya menghantam dinding. Debam keras itu terdengar sampai keluar pintu rumahnya, tempat dimana laki-laki itu berdiri. Semua yang terjadi di dalam, dia mendengarnya dengan jelas. Keduanya mendengar suara benda berjatuhan dan debam sesuatu menghantam tembok. Disha lupa kalau rumah itu tidak kedap suara. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN