Lantai 1 | Episode 07

1276 Kata
Ia menghela nafas berat, menghempaskan tubuhnya ke atas sofa setelah membereskan semua kekacauan yang dia timbulkan. Beberapa jam lalu, rumah itu mirip bekas rumah buronan yang diobrak-abrik polisi. Kalau bukan karena ketukan pintu dari Rei dan Disha terpaksa muncul di sana, mungkin dia tidak akan membereskan semuanya sampai besok pagi. Ia lelah, batinnya lelah fisiknya pun begitu. Jam dinding di atas televisi menunjukkan pukul empat sore, jam pulang kantornya masih satu jam lagi. Tidak bekerja sehari rasanya aneh, mengingat ada pekerjaan yang menunggunya dan omelan Hanum yang siap menyapa paginya besok. Helaan napas itu terdengar lagi, ia beranjak ke kamarnya. Menutup kaos hitam tanpa lengan itu dengan kemeja kotak-kotak biru, tanpa mengganti celana pendek hitam selututnya. Disha mengambil tas kameranya di lemari, memasang lensanya lalu memasukkannya kembali. Disandangnya tas itu di bahu, ia mengambil selembar uang seratus ribu dan dua lembar uang lima puluh ribu diselipkannya ke salah satu saku celana lalu keluar dari rumah sambil memakai sepatunya. Kepalanya masih terasa pusing tapi dia butuh udara segar untuk membantu menenangkan diri. Ia memakai snapbacknya saat masuk ke minimarket yang tak jauh dari Surabaya Townhouse. Disha berdiri di belakang perempuan yang sedang membayar di depan kasir, matanya tertuju pada deretan rokok dari yang murah sampai yang mahal. Dia belum pernah mencobanya, tapi situasi kali ini membuatnya tertarik pada benda beracun itu. Tiba gilirannya, Kasir tidak kaget sama sekali, tidak menyadari bahwa pembeli di depannya adalah perempuan. "Lucky Strike Mild, Mbak," ujar Disha sambil menyodorkan selembar lima puluh ribu. Tiba-tiba, tiga permen karet di letakkan ke meja kasir lalu uang Disha diambil begitu saja oleh orang yang menerobos antrian itu. "Berapa, Mbak?" Suara itu membuat Disha menoleh. Arbi dengan jaket denimnya berdiri di samping, mengeluarkan selembar uang lima puluh ribu tanpa mengembalikan uang Disha. "Apa-apaan, sih, lo?" Sahut Disha kesal setengah mati. Belanjaan mereka dimasukkan ke dalam kantung plastik yang sama lalu diberikan pada Arbi, bukan Disha. Tanpa babibu, Arbi menarik kerah belakang kemeja Disha membuat perempuan itu mengeluarkan sumpah serapah begitu mereka sampai di parkiran minimarket. "Enakan Dunhill sebenernya, tapi nggak apa-apa, deh." Arbi mengambil Lucky Strike Mild itu, dimasukkannya ke saku jaket sementara tiga permen yang dia beli justru disodorkan pada Disha. "Gue bukan anak kecil." Sahut Disha kesal. "Lo juga bukan laki-laki," jawab Arbi yang menarik tangan kiri Disha, meletakkan permen dalam genggaman perempuan itu. "Ini," Arbi menarik satu batang Lucky Strike itu, "bisa bikin lo mati." Tanpa ragu, dia menjepit benda beracun tersebut di bibir lalu menyalakannya dengan korek gas yang selalu dibawanya. Disha mendecak sebal, "berarti bentar lagi lo mati," ujar Disha yang kemudian berjalan lebih dulu sementara Arbi mengekor sambil tergelak. Arbi memperhatikan perempuan tampan di depannya yang sibuk memotret. Dia tidak tahu kenapa Disha sampai berani menyentuh si nikotin beracun yang kini berada di saku jaketnya. Mungkin kalau Arbi tidak melihat Disha mengantri di minimarket, sekarang perempuan itu sudah mendaftarkan diri sebagai perokok. Berjam-jam yang lalu, Disha menolak ajakan Rei untuk makan siang di luar, jelas karena perempuan itu sedang dalam kondisi kacau entah karena apa. "Dis," panggil Arbi yang kemudian menyamai langkah Disha. Perempuan itu berjalan sambil mengecek hasil jepretannya, Arbi menghela nafas, "lo udah beresin barang-barang yang lo banting ke lantai?" Pertanyaan itu membuat jemari Disha berhenti menekan tombol menu di samping LCD kameranya, "oh, itu— "Lo perlu semedi, Dis, supaya bisa kontrol emosi," potong Arbi tanpa mempedulikan Disha yang berhenti berjalan. Arbi berbalik, "kenapa?" "Lo tahu?" Tanya Disha berjalan menghampiri. Arbi mengedikkan bahunya, "tahu apa?" balik bertanya. Disha menempeleng kepala Arbi. "Udah berani noyor kepala gue sekarang," ujar Arbi. "Pala lo enak buat ditoyor-toyor." Sahut Disha kembali menempeleng kepala Arbi. Baru menarik tangannya, Arbi mencengkram pergelangan tangan Disha lalu menyentil dahi perempuan itu cukup kuat. "Sakit, bego!" Disha berniat membalas tapi tangannya yang masih dicengkram Arbi itu ditarik. Arbi menarik Disha masuk ke warung tenda yanng menjual delapan menu serabi termasuk serabi solo, serabi bandung dan serabi santan khas Bojonegoro. Keduanya duduk di salah satu bangku panjang, Arbi tersenyum ramah saat Ibu penjual Serabi menyapanya. Laki-laki itu memang sudah sering ke sana. "Serabi s**u dua, ya, Bu." Arbi memesan sementara Disha memperhatikan beberapa pengunjung yang asik menikmati makanan yang harusnya dimakan untuk pengganti sarapan itu. Disha memperhatikan Ibu penjual yang sibuk memasak dengan tungku tradisionalnya, senyum tipis Disha mengembang kala ia berhasil mengabadikannya dalam kamera. Dua piring serabi tiba di depan mereka, "cobain," ujar Arbi meminta agar Disha mencoba lebih dulu. Disha menyukai segala jajanan pinggir jalan, ia melahap serabi dengan rasa s**u itu. Binar mata cokelat yang selama ini tersembunyi pun memancar, membuat senyum setipis bulan sabit milik Arbi terlihat. Disha menatap Arbi, gelak tawanya terdengar membuat Arbi ikut tertawa—entah apa yang mereka tertawakan. "Apa, sih, lo?" Disha menyenggol lengan Arbi, laki-laki itu masih tertawa lalu menggelengkan kepalanya. "Mas Arbi, cocok sama ini lho, daripada yang waktu itu. Mbake perempuan toh?" Ibu Penjual Serabi bertanya, meredakan tawa Arbi dan Disha. "Ibu tahu saya perempuan?" Disha tak percaya kalau si Ibu mengetahui jenis kelamin dirinya. "Yo ngerti toh, Nok, cantik gitu kok." Jawaban Ibu yang sering dipanggil Mbok Jah itu membuat tawa Arbi lepas. "Dia?" Arbi berusaha meredakan tawa, "cantik? Si Ibu Ndagel." Disha mendorong bahu Arbi lalu mendecak sebal, "bener cantik, kan, Bu?" tanyanya lagi. "Cantik, kalau ndak cantik, yo ndak mungkin tah saya bilang cocok sama Mas Arbi." Ucapan Mbok Jah berhasil membuat Disha mendengus sementara Arbi berhenti tertawa. "Makan, makan, kasihan gue sama lo. Abis ngamuk-ngamuk pasti laper." Arbi terkekeh lalu mengambil sendok yang tergeletak dan mulai makan. Sesekali Disha mengobrol dengan Mbok Jah. Setelah menghabiskan serabinya lebih dulu dari Disha, Arbi mengambil kamera yang digantung di leher Disha, perempuan itu sempat mengomel tapi Arbi mengabaikannya. Disha dan Mbok Jah kembali mengobrol, suara jepretan kamera terdengar beberap kali, senyum bulan sabit Arbi terkembang. Disha menoleh, tanpa aba-aba, Arbi memotretnya. Mata cokelat yang kini terlihat jauh lebih tenang dan teduh itu membuat Arbi terdiam beberapa saat. "Kenapa?" Disha bertanya, mengambil kameranya dari tangan Arbi lalu melihat hasil foto laki-laki itu. Arbi masih diam sampa suara tawa Mbok Jah membuatnya menoleh, "buat Mas Arbi, hari ini gratis aja," ujar wanita yang sudah kepala empat itu, beruntung hanya tinggal Arbi dan Disha yang duduk di sana. "Bener, Bu?" Disha menyahut. "Buat Mas Arbi, bego." Arbi menempeleng kepala Disha. Perempuan itu mengurucutkan bibir, dengan cepat Arbi menarik bibir monyong Disha. "Matursuwun, Bu." Arbi melepaskan tangannya, pukulan Disha mengenai punggungnya saat ia berdiri. "Sama-sama, besok ke sini lagi, ya?" Mbok Jah tersenyum. Arbi dan Disha sama-sama melambaikan tangan lalu keluar dari tenda. Ponsel Arbi berdering pendek, Disha memperhatikan laki-laki di sebelahnya itu dan tangannya dengan cekatan memotret ekspresi serius Arbi pada ponsel. "Lo balik sendiri nggak apa-apa?"Arbi bertanya tiba-tiba. "Siapa juga yang ngarepin balik sama lo." Sahut Disha yang kemudian mematikan kameranya lalu memasukkannya ke dalam tas. "Kalau gitu, gue pergi dulu." Arbi mengacak rambut Disha, perempuan itu mendecak sebal memperhatikan Arbi yang menghadang taksi. Taksi yang ditumpangi Arbi sudah menjauh, Disha kembali berjalan menyusuri trotoar lalu menyeberang. Ia baru ingat kalau permen karet yang dibeli Arbi diberikan padanya tadi, dirogohnya saku celana pendek itu. Senyumnya terkembang sementara tangannya sibuk membuka sebungkus permen karet lalu memasukkannya ke mulut. Jam tangannya sudah menunjuk pukul tujuh malam, ia menengadah, bulan sabit menggantung samar karena bias cahaya lampu-lampu kota yang menyala. Entah dari mana datangnya, senyum Arbi melesak masuk ke kepalanya. Disha menggeleng, buru-buru dia berjalan ke rumahnya yang hanya tinggal beberapa meter lagi. Disha tersentak saat Rei tiba-tiba membuka pintu dengan wajah panik, "kamu kenapa?" tanya Disha. "Mita," Rei mengunci pintu rumah, "taksi!" teriaknya begitu melihat taksi melintas. "Mita kenapa?" Disha menyandang tas selempang kameranya lalu mengekor masuk ke dalam taksi. "Dia telepon, tapi dia teriak terus ada suara aneh." ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN