Lantai 1 | Episode 08

1404 Kata
Kalau bukan karena Manajernya, Mita tidak akan bolos kuliah malam ini. Dibereskannya meja kerja itu, setelah memastikan komputer mati, ia keluar dari ruangan. Jam ponselnya sudah menunjukkan pukul tujuh kurang lima menit, kalau dia bisa naik taksi dengan cepat lalu mengambil buku-bukunya, mungkin masuk di jam kedua tidak masalah. Lampu-lampu ruangan sudah dimatikan, Mita berjalan melewati ruangan bosnya lalu membuka pintu tangga saat seruan itu terdengar. "Mita?" Bukan bosnya, Mita menoleh menemukan Brian berdiri di ambang pintu ruangan Ayahnya yang merupakan bos Mita. "Saya mau minta tolong." Brian tersenyum tipis. "Ah, soal laporan tadi, ya?" Mita menghampiri, Brian mengangguk lalu masuk ke ruangan. Brian membuka salah satu folder dalam laptopnya, membiarkan Mita duduk di sofa lalu mulai memperbaiki laporan yang salah. Brian duduk di sampingnya, Mita mulai menjelaskan bagian-bagian yang salah. Ia sempat berhenti saat Brian merapatkan dudukunya, Mita bergeser. Hal itu terjadi dua kali, Mita mulai kehilangan fokus pada laporan milik Brian, jantungnya berdebam tidak karuan. Ia tersentak saat tangan kiri Brian berada di atas pahanya. Tubuhnya benar-benar tidak sejalan dengan otaknya saat tiba-tiba kaki kiri Brian sudah berada di atas kaki kirinya. "Kamu mau ngapa--mmmpp Teriakannya terputus saat kedua tangan Brian menangkup wajahnya, meraup bibirnya kasar sambil mendorong tubuh Mita terbaring di sofa. Bria mencekal kedua pergelangan tangan Mita, tidak membiarkan perempuan itu melepaskan ciuman kasarnya, ia justru menggigit bibir bawah Mita, membuat perempuan itu nyaris menjerit saat lidahnya menelusuri mulutnya. Mita berusaha menggerakkan kakinya tapi Brian menggigit lidah Mita agar perempuan itu tidak memberikan perlawanan lagi. Brian menarik kedua tangan Mita ke atas kepala perempuan itu, mencengkramnya kuat dengan tangan kanan sementara tangan kiri merobek kasar kemeja putih Mita sampai semua kancingnya terlepas. "Jangan berisik." Brian mengancam lalu kembali meraup bibir merah muda itu. Air matanya mengalir tanpa henti. Tubuh itu meronta saat Brian mulai meraba perut Mita dan naik ke bra putih yang menutup area pribadi yang tak pernah disentuh siapapun itu. Sekali lagi Mita meronta, tapi yang didapatkannya justru lecet di sudut bibir karena gigitan Brian. Tangan laki-laki b******k itu menarik bra yang dipakai Mita sampai robek dan terlepas. Punggung Mita mungkin sudah dihiasi goresan akibat tarikan kasar Brian. Jika saja Mita tidak menolaknya mentah-mentah, mungkin Brian tidak akan melakukan ini tanpa seijin Mita. "Kalau aja lo nerima gue, mungkin gue bisa main lebih lembut," ujar Brian yang mengarahkan wajahnya ke bawah. Menatap dua gundukan di depannya penuh nafsu. Tangis histeris Mita memecah keheningan ruangan saat bibir si b******k itu menggigit putingnya. Tak ada yang bisa dilakukan selain berteriak. "Diam!" Brak! Tubuh Brian dilempar ke meja, kerahnya ditarik hingga laki-laki itu berdiri terhuyung. Pukulan menghantam rahangnya sampai ia tersungkur. Rei menarik Brian kembali berdiri sementara Disha menyusul di belakang, melepas kemejanya lalu menutup tubuh Mita yang masih terbaring di sofa. Disha membantu Mita yang gemetaran berdiri, baru saja melangkah keluar, erangan Rei terdengar. Mita menahan lengannya, menahan Disha untuk tetap di sampingnya. Disha menoleh, melihat jelas Brian melepaskan tendangan ke perut Rei sampai laki-laki itu jatuh ke lantai. "Woi! b*****t!" Teriak Disha melepaskan tangan Mita dari lengannya lalu melompat ke sofa dan mengarahkan tendangannya tepat mengenai pipi Brian. Suara meja kopi yang patah terdengar saat punggung Brian menghantamnya. "Bawa Mita keluar!" Teriak Disha pada Rei yang kemudian berlari, membawa Mita keluar dari gedung kantornya. Bugh! Brian bangkit dan berhasil memukul rahang Disha, membuat bagian dalam mulutnya sobek, mengalirkan darah melalui sudut bibir. Murka, Disha melayangkan tinju ke rahang Brian lalu tangan kirinya mendorong laki-laki itu sampai jatuh ke lantai. Pukulan demi pukulan dibiarkan Disha menghantam wajah Brian. Amarah yang tadi pagi sudah dilepaskannya kembali meluap, bukan hanya amarah karena Mita nyaris diperkosa tapi juga amarah pada keluarganya, pada Ibunya yang menelepon. "Berhenti! Berhenti kamu!" Teriakan satpam terdengar. Disha merasakan kedua tangan mencengkram lengannya erat lalu tubuhnya diseret ke belakang. Beruntung Satpam itu dipanggil oleh Rei dan Disha bebas keluar dari gedung sementara Brian babak belur di ruangan yang berantakan karena perkelahian mereka itu. "Biar saya yang urus dia, Mas." Sang Satpam menarik Brian berdiri. "Kalau gue lihat muka lo lagi, abis lo!" Ancam Disha yang kemudian keluar dari ruangan. Ternyata bukan hanya Satpam, ada satu mobil polisi yang terparkir dan Mita sedang dimintai keterangan. Perempuan itu tidak berhenti menangis sampai polisi mengatakan kalau dia bisa pulang. Rei memperhatikan Disha yang menghampiri, pipi kanan perempuan itu mulai terlihat lebam. Sesekali Disha menyeka darah yang mengalir dari dalam mulutnya. "Kamu nggak apa-apa?" Pertanyaan Rei dijawab anggukan oleh Disha, perempuan itu buru-buru membantu Mita turun dari mobil, berjalan ke taksi yang ditumpangi Rei serta dirinya saat menyusul ke kantor Mita yang cukup jauh dari rumah. Setelah memastikan mobil polisi itu membawa Brian, Disha memperhatikan Rei yang berusaha menenangkan Mita di dalam mobil. Senyum tipis Disha terlihat beberapa detik sebelum dia menutup pintu mobil. Disha masuk ke taksi setelah Rei pindah ke samping supir. Dibiarkannya Mita menangis dalam pelukannya. Selama perjalanan, Rei tidak berhenti memperhatikan Disha dan Mita. Disha bersandar sementara Mita masih memeluknya, kaos hitam tanpa lengan itu membuat semua tattoo di tangan kirinya terlihat. Beberapa kali Disha mengusap pundak Mita, memintanya untuk berhenti menangis tapi perempuan itu tidak merespon. Lama-lama suara isakannya hilang dan deru nafas teratur itu terdengar, membuat Disha menunduk, memastikan kalau Mita memang sudah terlelap. Taksi berhenti, menepi di trotoar lalu Rei membayar argonya. "Biar aku aja," ujar Disha saat Rei membuka pintu mobil di sampingnya dan berniat mengangkat Mita sampai ke rumah. "Kamu kuat?" Rei terlihat cemas. "Kuat." Disha bergeser, meletakkan tangan kanannya di lekukan lutut Mita sementara tangan kirinya memegangi punggung perempuan itu, membiarkan kepalanya bersandar di dadanya. Rei tak percaya melihat Disha kuat mengangkat Mita, menaiki tangga sampai ke depan rumah perempuan itu di lantai dua. Disha membawa Mita ke rumahnya, setelah Rei mengambil kunci rumahnya di salah satu kantung tas kameranya, pintu itu dibuka dan Disha bergegas masuk ke kamar tidur, membaringkan Mita yang wajahnya masih pucat serta kemejanya masih menutupi tubuhnya. "Lukamu," ujar Rei menunjuk memar di pipi kiri dan sudut bibir Disha. "Nggak apa-apa. Kamu balik aja ke rumah, biar Mita di sini dulu." Disha tersenyum hangat seperti biasanya. "Kamu bisa obatin lukamu sendiri?" Tanya Disha begitu melihat lecet di sudut bibir Rei. Laki-laki itu mengangguk, "jagain Mita, ya." Ia melambaikan tangan sambil berjalan menuruni tangga. *** Tepat tengah malam, kejadian beberapa jam lalu masuk ke dalam mimpinya. Mita tersentak bangun dan air matanya kembali mengalir. Mendengar suara isakan Mita, Disha berhenti mengerjakan pekerjaan yang kemarin dibawanya pulang. Ia beranjak ke kamar tidur, duduk di samping Mita lalu memeluk perempuan itu. "Dia udah diurus polisi," ujar Disha berusaha menenangkan. Bayangan bagaimana Brian dengan kasar mendorongnya hingga terbaring membuat Mita tak sanggup membayangkan kalau dia dan Brian harus bertemu lagi di kantor besok pagi. Tak ada laki-laki yang pernah menyentuh payudaranya, tak satupun dan Brian dengan kasar melakukannya. Jika Mita tidak menghubungi Rei sebelum Brian mendekatinya lebih, mungkin Mita tidak tahu bagaimana nasibnya setelah itu. Isakan itu tidak terdengar lagi, Disha melepaskan pelukannya, "aku bikinin teh hangat, mau?" tanyanya. Mita mengangguk, "Dis," panggilnya yang membuat Disha menoleh di ambang pintu, "laper," ucapan Mita membuat Disha tersenyum lalu melambaikan tangannya agar Mita ikut ke dapur. Disha menarik kursi di depan meja makan kecil di dapurnya, membiarkan Mita duduk memperhatikan dirinya yang sibuk membuat teh hangat lalu nasi goreng untuk mereka berdua—karena Disha tak punya bahan makanan lain selain bahan-bahan untuk nasi goreng. "Aku pernah nolak dia waktu dia minta aku jadi pacarnya dan jalanin hubungan yang serius." Mita mulai bercerita sementara Disha sibuk dengan masakannya. "Waktu itu sikapnya biasa aja, nggak nunjukin kalau dia kecewa, kalau dia sakit hati," lanjutnya. "Dan aku nyesel karena tadi mau aja disuruh ke ruangan yang isinya cuma kita berdua." Mita menutup wajahnya dengan kedua tangan, menahan air mata dan debar jantungnya. "Udah, Mit, jangan diingat. Dia udah diurus polisi dan kamu sekarang di sini, belum sempat diapa-apain lebih jauh." Jelas Disha. "Makasih udah mau nolongin, Dis." Suara Mita parau, air matanya mengalir lagi. Disha justru tergelak, "anytime, Mit. Aku bukan cuman tetanggamu sekarang." Ia berbalik, tersenyum hangat dengan memar di pipi dan sudut bibir. "Lukamu, udah diobatin?" Tanya Mita sambil menyeka air matanya. "Udah," jawab Disha yang sudah meletakkan nasi goreng ke dalam dua piring, "ngomong-ngomong, si b******n tadi kayaknya giginya patah, deh." Disha membawa duapiring nasi goreng itu ke meja makan yang cukup untuk dua orang, ia duduk di depan Mita. "Gaya banget," cibir Mita. "Bukan gitu, soalnya muncrat ke samping." Disha tertawa, Mita tersenyum mendengarnya. "Aku makasih banget sama kamu— "Dan Rei." Sambung Disha. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN