Semalaman dia terjaga hanya untuk menemani Mita yang tidak bisa tidur, bercerita banyak hal dan mentertawakan banyak hal. Disha lega karena Mita tidak lagi memikirkan kejadian yang menimpanya kemarin, begitu matahari menampakkan diri, Mita kembali ke rumahnya. Disha membereskan laptop, map berisi lembaran kertas hasil rapat dan hardisk miliknya ke dalam ransel. Setengah jam lagi adalah jam masuk kerjanya, buru-buru dia mengeringkan rambutnya yang setengah basah dengan handuk, mengganti celana pendek dengan jeans hitamnya serta menutup sport bra dengan kemeja denim, warna biru adalah tema seragam hari ini--semua karyawan dibebaskan memakai kemeja atau poloshirt asalkan berwarna biru, khusus hari Jum'at. Setelah merapikan rambutnya, Disha mengikat tali sepatu lalu menyandang ranselnya sebelum keluar mengunci pintu rumah. Ia menuruni tangga, mengambil kunci sepeda yang ia kantongi di saku belakang celananya tadi.
"Disha." Panggilan itu membuat Disha berbalik, menatap Rei yang baru keluar dari rumahnya.
"Mau berangkat?" Rei bertanya dengan senyum hangatnya seperti biasa.
Disha mengangguk, "iya, nih, buru-buru. Kenapa?"
Rei menunjuk ke tepi trotoar di depan, Honda CR-V Metalik terparkir di sana, "mau bareng? saya juga mau berangkat," senyum itu menipis.
"Boleh, deh, daripada telat." Disha nyengir, Rei terkekeh lalu mengunci pintu rumahnya.
Itu pertama kalinya Disha melihat Rei memakai mobil yang sudah terparkir di garasi belakang gedung sejak Disha datang. Selama ini, Disha hanya melihat Rei naik-turun taksi atau beberapa kali laki-laki berwajah polos itu diantar ojek online. Sudah seminggu lebih Disha juga memarkir sepeda Polygon hitamnya di garasi, bersebelahan dengan motor matic milik Mita dan Toyota Vios Merah milik Arbi. Benar, Arbi tidak pernah menggunakan mobilnya itu, kalau bukan Mita yang memberitahu, mungkin Disha mengira kalau itu bukan mobil Arbi.
"Kamu satu kantor sama Arbi, kan?" Tanya Rei sambil menyetir.
"Iya." Hanya itu jawaban Disha yang sibuk memperhatikan jalanan.
"Dis," panggil Rei, ia memperlambat laju mobil sebelum masuk ke halaman gedung BigSign.
Disha menoleh bersamaan dengan mobil Rei yang berhenti di salah satu slot parkir. Rei tidak mengatakan apapun, tubuhnya mendekat dan berhasil membuat Disha kaget setengah mati. Bunyi klik terdengar, seatbelt Disha mengendor. Tak cukup sampai disitu, jarak tubuh keduanya belum juga berkurang, Rei justru membuka laci dashboar entah mengambil apa dari sana. Jantung Disha benar-benar kacau, ia baru bisa bernafas lega begitu tubuh Rei mundur dan senyum hangat itu mengembang lagi.
"Saya yakin ini belum kamu obatin." Rei membuka tutup salep untuk luka memar yang selalu ia sediakan di laci dashboard, telunjuknya mengoles salep di sudut bibir Disha yang lecet dan lebam. Perempuan itu meringis, Rei terkekeh lalu beralih mengoleskannya pada lebam di pipi kanan Disha.
"Aku bisa sendiri." Disha menahan pergelangan tangan Rei lalu mendorongnya.
"Udah selesai, kok." Rei menutup salepnya lalu memasukkannya lagi ke dalam laci dashboard sebelum ditutup.
"Makasih tumpangannya, aku duluan Rei." Disha buru-buru turun dari mobil dan berlari masuk ke kantornya.
***
"Jadi, Disha bakal mantau pengambilan gambarnya dan nanti, kalian bertiga bisa diskusi soal konsepnya," jelas Hanum sambil menunjuk ke arah Disha, Jonathan dan Arbi yang duduk bersebelahan.
Disha mendengus, dia dipasangkan dengan Arbi, mengontrol semua pekerjaan laki-laki itu dari awal sampai selesai. Kalau Disha minta Arbi diganti, Hanum pasti akan berpidato lebih panjang, lebih lebar dan lebih luas, semakin banyak waktu yang terbuang.
"Saya tunggu hasil rapat kalian, sore ini. Kalau bisa, besok kita sudah bikin jadwal ambil gambarnya. Saya akhiri, selamat siang." Hanum menutup mapnya lalu keluar dari ruangan.
Disha mengusap wajahnya, menghela nafas berat lalu menenggelamkan wajahnya di balik lipatan tangannya di atas meja.
"Dua minggu ke depan, kita bakal ketemu tiap hari." Bisik Arbi yang diabaikan Disha.
"Dis, lo udah punya konsepnya, kan?" Tanya Jonathan.
Disha mengangkat kepalanya lalu kembali menghela nafas, "kemarin udah gue jelasin ke elo, kan?" Disha balik bertanya.
"Berarti, jadi pakai yang kemarin. Itu oke, kok, cuman gue nggak bisa jelasinnya ke si anak baru ini." Jonathan menepuk pundak Arbi yang mendengarkan dengan baik lalu menatap Disha kemudian.
"Serius, jelasin konsep yang bakal kita pakai itu ibarat ngejelasin style design gue ke elo, Bi." Keluh Disha sambil menyandarkan kepala di sandaran kursi, melirik Arbi.
"Jelasin sambil makan siang. Mau ikut, Nath?" Tanya Arbi pada Jonathan.
Jonathan menggeleng, "gue cek cetakan buku logonya dulu, nanti nyusul." Ia bangkit, menepuk pundak Disha lalu membawa mapnya keluar dari ruangan.
Arbi menarik tangan Disha, perempuan itu malas-malasan berjalan. Keduanya tidak kembali ke kantor masing-masing, warung bakmie di seberang gedung kantor mereka menjadi tempat makan siang pilihan terakhir karena Disha enggan menjawab ingin makan apa. Bakmie Prenjak khas Solo dipesan dua piring beserta dua gelas es teh oleh Arbi.
Arbi tergelak, Disha benar-benar frustasi karena pekerjaan yang diserahkan padanya itu harus ia selesaikan dalam tiga minggu bersama tim yang terdiri dari Arbi dan Jonathan bagian Video Profile, Banu dan Juli bagian website sementara Disha mengejarkan mulai dari penentuan logo sampai semua atribut dalam bentuk cetak. Untung saja Disha sudah bekerja bersama BigSign Creative Studio selama hampir satu setengah tahun di Jogja, dia sudah paham Style dari BigSign.
Disha mulai menjelaskan, mencoret-coret halaman di salah satu notebooknya. Beberapa kali Arbi memberi saran dan cocok, keduanya mengganti sudut pandang, mengganti spot yang perlu diambil lalu membicarakan pengambilan foto masakan untuk buku menu. Benar, Disha masih harus mengerjakan buku menu restoran di hotel itu.
"Makan dulu, Dis," ujar Arbi melihat Disha sibuk mencoret-coret bukunya.
"Ini kedua kalinya dan lebih menguras tenaga." Sahut Disha yang kemudian menutup buku serta map lalu mengambil garpu dan sendok, menyantap makan siangnya.
Binar mata itu terlihat lagi, senyumnya terlihat, begitu tipis dan hanya tiga detik tapi cukup untuk dilihat Arbi. Mengajak Disha makan adalah obat paling manjur dari kekacauan dalam kepalanya. Helaan nafas Arbi membuat Disha berhenti makan dan menatapnya.
"Kenapa?" Tanya Disha.
"Apanya?" Sahut Arbi.
"Elo itu, kenapa?" Disha mengulang.
"Emangnya gue kenapa?" Arbi balik bertanya. Disha melempar sedotan lalu kembali makan, bodo amat dengan ekspresi kelam Arbi beberapa detik lalu.
Arbi terkekeh, melanjutkan acara makan siang mereka lalu kembali ke kantor masing-masing. Ia melepas kemeja flannel itu, meninggalkan kaos metalica tanpa lengan lalu menutup pintu kubikel kacanya. Pekerjaannya dimulai besok dan menganggur seperti itu adalah hal yang menyebalkan, apalagi dalam kondisi buruk begitu. Kalau dihitung, mungkin baru dua dua belas hari Disha pindah ke atas rumahnya, dalam waktu sependek itu juga sosok Disha menimbulkan gravitasi yang cukup kuat pada dirinya ... dan Rei.
"Mikir apa, sih, lo bego?" Arbi mengacak rambutnya, menyandarkan kepala di sandaran bangku. Matanya menatap lurus langit-langit kubikel yang sengaja ia tempeli sticky note warna warni agar ruangan berukuran 2 x 2 meter itu tidak membosankan. Jangan lupakan juga tumpukan tempat CD di sudut ruangan yang membuat kubikel itu makin sesak.
Dia melihatnya. Rei yang panik setengah mati saat Disha jatuh pingsan, Rei berdiri di depan pintu rumah Disha saat suara benda dibanting berkali-kali terdengar dari sana dan Rei yang dengan lembut mengoleskan salep untuk memar dan lecet di wajah Disha. Arbi tahu penyebab memar itu dari Mita pagi tadi dan Arbi tidak melihat kejadiannya secara langsung, bagaimana Disha menghajar si b******k m***m penyerang Mita, bagaimana Disha meminta Rei membawa Mita pergi lebih dulu. Arbi tidak di sana tapi itu cukup untuk membuat dia tidak bisa berkonsentrasi mendengarkan penjelasan Disha tadi.
"Ah, g****k. Lupa, kan, gue!" Serunya yang kembali duduk tegak, membuka map dan baru ingat kalau apa yang dia dan Disha bicarakan tercatat di notebook perempuan itu.
Tidak ada yang diingatnya, entah kemana perginya semua penjelasan Disha yang dia dengarkan tadi. Arbi bangkit, keluar dari kubikelnya, melambaikan tangan saat Dewa memanggilnya minta dibuatkan kopi. Koridor dengan dinding-dinding kaca itu memperlihatkan kantor bagian Video dan Design yang sibuk dengan kegiatan mereka. Langkah Arbi berhenti begitu Disha keluar ruangan.
"Dis, bentar," ujar Arbi menahan lengan Disha saat perempuan itu berjalan melewatinya.
Disha berbalik, "kenapa? ada yang lo nggak ngerti tadi?" tanyanya.
Arbi diam cukup lama, "ada, Dis."
"Bagian mana?"
Tangan Arbi terlepas, "semuanya."
***