Lantai 1 | Episode 10

1557 Kata
"Masih ada besok, Dis." Ucapan Banu dibalas anggukan oleh Disha. Perempuan itu mengusap wajahnya lalu menyandarkan kepala ke sandaran kursi. Banu menutup ransel dan menyandangnya. "Pulang, Dis, udah jam setengah tujuh. Gue duluan." Banu menepuk pundak Disha sebelum meninggalkan ruangan. Ruangan berdinding kaca itu hanya dihuni Disha saat ini. Lampu ruangan sengaja ia matikan, menyisakan layar monitor yang menyala sebagai penerangan. Helaan nafas terdengar, dilanjutkannya pekerjaan yang sempat tertunda karena beberapa kali Hanum memanggilnya. Tidak lupa Kepala Bagiannya itu mengingatkan agr Disha segera beli ponsel baru. Ah, ponsel yang kubanting kemarin. Disha melipat kedua tangan di atas meja, menjadikannya bantalan untuk memejamkan mata sebentar. Kejadian kemarin masih mengganggunya. Dia harus menghubungi Nanda untuk meminta rekening adiknya itu, dia harus tetap mengirim uang. Tabungan rahasianya ia gunakan untuk membeli gitar akustik, masih ada tabungan terakhir yang mungkin cukup untuk membeli smartphone, tidak berlogo apel juga tak masalah. Tapi, dia harus benar-benar ekstra hemat sampai gajian bulan depan. Disha mengangkat kepalanya, mengacak rambut frustasi, dan... "Ya Tuhan!" Bruk! Disha terjungkal dari kursinya. Gelak tawa terdengar dari laki-laki yang berdiri di depan mejanya dengan wajah tanpa dosa. "Lo ngapain, sih! Sialan!" Teriak Disha sambil mendorong kursinya kembali lalu berdiri, mengusap siku dan b****g yang menghantam lantai. "Gue? ngapain?" Sahut Arbi dengan cengiran yang belum pudar, "ngeliatin lo dari tadi. Frustasi banget kayaknya." Laki-laki itu mendekat ke balik meja, mencondongkan tubuhnya untuk melihat pekerjaan Disha yang belum selesai bahkan setengahnya. "Minggir." Disha mendorong mundur Arbi lalu kembali duduk di kursinya. "Gue ajarin," Arbi mendorong kursi Disha mundur sedikit lalu mulai mengutak-atik pekerjaan Disha. Disimpannya pekerjaan itu ke dalam hardisk, memastikan semuanya beres lalu jarinya menekan ikon Shutdown pada sudut layar. "Selesai!" Seru Arbi saat layar monitor mati dan kegelapan menyapa mereka. Hanya lampu koridor yang menyala redup karena hampir semua pegawai di lantai dua sudah pulang ke rumah. "Gelap." Arbi bersuara. "Ya gelap, lo matiin monitornya." Sahut Disha yang kemudian menyalakan lampu meja. Dibereskannya laptop, adapter dan notebook serta map yang kertasnya berserakan itu ke dalam tas ransel. Disha berbalik, menubruk Arbi yang ternyata berada tepat di belakangnya. Keduanya diam, Arbi yang sibuk menenangkan jantungnya sementara Disha yang meraba meja karena lampu meja tadi sudah dimatikan. Arbi keluar dari ruangan lebih dulu, disusul Disha di belakang setelah memastikan pintu kantornya terkunci. Keduanya memberikan kunci kantor masing-masing pada Satpam karena Arbi juga orang terakhir yang ada di kantor bagian Video. "Mau kemana?" Seru Arbi saat Disha berjalan ke arah gerbang depan yang sudah ditutup separuh. "Pulanglah!" Sahut Disha kembali berjalan. Arbi menggeleng, ia setengah berlari ke tempat mobilnya diparkir. Tak lama, Toyota Vios Merah itu melaju keluar dari halaman parkir, berbelok ke arah perginya Disha. Perempuan tampan berambut blonde itu berjalan pelan di trotoar, Arbi ikut memelankan laju mobil dan agak menepi. Disha menengadah, memperhatikan malam dengan awan gelap menggantung seolah mendukung kekacauan pikiran perempuan itu saat ini. Sebelum Disha sempat menyeberang, Arbi berhenti di depan perempuan yang kini berdiri di tepi trotoar menunggu lampu lalu lintas menyala merah. "Ayo naik!" Seru Arbi setelah kaca mobilnya terbuka. "Gue bisa pulang sendiri." Sahut Disha ketus, seperti biasa. "Gue traktir makan enak! Buruan!" Teriak Arbi lagi. Tentu saja senyum Disha mengembang, ia bergegas masuk ke mobil lalu memasang seatbelt. Arbi mendecak sebal, "giliran makan gratis aja, cepet." "Manusia mana yang nggak mau makan gratis, coba?" Sahut Disha. "Terserah lo, deh." Arbi mempercepat laju mobil, berbelok di perempatan lalu kembali mengurangi kecepatan karena jalanan padat. Disha memperhatikan titik-titik air yang tercetak di kaca jendela. Arbi menutup kaca jendela di sampingnya tapi Disha justru menurunkan miliknya. Beberapa kali Arbi melirik Disha yang tersenyum lebar melihat hujan menerpa jendela, wajahnya perempuan itu mulai basah. "Dis, hujannya deres." Arbi terpaksa menutup kaca jendela Disha. "Anterin ke salon bentar, ya?" Disha menoleh, menatap Arbi yang kembali fokus menyetir. "Nggak lama." Arbi membelokkan mobilnya masuk ke halaman parkir salon yang tidak begitu jauh dari Cafe tempat ia akan mentraktir Disha. Mesin mobil dimatikan, Disha membuka pintu, buru-buru Arbi melepas kemeja lalu melempar kemejanya pada Disha yang sudah berdiri di luar. Perempuan itu kaget tapi kemudian Arbi pindah ke kursi yang tadi ditempati Disha, mengembangkan kemejanya menutup kepala Disha lalu menariknya berlari setelah memastikan pintu mobil terkunci. Sampai di dalam, Disha mengembalikan kemeja Arbi lalu duduk setelah dipersilahkan oleh salah satu pelayan. "Dipendekin sedikit, terus ganti warna cokelat ya, Mbak, jangan terlalu gelap." Jelas Disha saat Perempuan dengan name tag Jelita bertanya rambutnya ingin dipotong atau ganti warna. Arbi duduk di salah satu bangku panjang, memperhatikan Disha yang duduk di depan cermin sementara Perempuan di belakangnya mulai sibuk memotong rambut Disha atau lebih tepatnya hanya dirapikan. Ponselnya berdering, nama Rei tertera di layar. Arbi beranjak ke dekat pintu untuk menjawab panggilan sahabatnya itu. "Iya," jawab Arbi saat Rei menyapa diseberang telepon, "iya, sama Disha," matanya tertuju pada hujan yang turun makin deras di luar. "Setengah jam lagi mungkin. Tunggu aja." Sambungan diputus Rei, Arbi kembali duduk. Tidak ada perbedaan yang signifikan dari potongan rambut Disha, sekarang rambut perempuan tampan itu sedang diwarnai. Arbi memutar ponsel di tangannya, memperhatikan hujan yang tak ada tanda-tanda akan reda. Kemeja di pangkuannya sudah setengah basah, menyisakan kaos putih yang ia pakai sekarang dan kemungkinannya mereka berdua makan di Cafe dalam kondisi tubuh setengah basah. Itu gila. Arbi beranjak, meninggalkan salon dan masuk ke minimarket di sebelahnya.  Masih tersisa satu payung berwarna kuning, Arbi mengambilnya lalu ke kasir untuk membayar. Memasuki musim hujan, beberapa minimarket memang sering menyediakan payung dan hampir selalu laris di hari pertama hujan turun. Hari pertama hujan turun, ya? Pikirannya menerawang jauh pada sekeping ingatan tentang hujan. Hujan pertama di musim penghujan yang masih membekas dalam ruang kecil kepalanya. Hari itu, andai dia tidak berteriak, andai dia tidak lari, andai saja dia tidak memberontak, mungkin segalanya akan baik-baik saja. Segalanya... "Lo beli payung?" Pertanyaan itu membuyarkan lamunan Arbi. Laki-laki itu menoleh pada Disha yang sudah keluar dari salon dengan rambut kecokelatan yang masih basah sebagian. "Cepet banget." Gumam Arbi yang kemudian mendekat. Cengiran Disha membuat Arbi tertawa, perempuan itu menurunkan poni lalu menyisirnya kembali ke belakang dengan tangan. Gemas, Arbi mengacak rambut Disha, tawa keduanya meledak. "Udah ganteng, ngapain lo acak-acak, sih?" Disha menahan tangan Arbi. "Terserah lo. Sekarang kita makan." Arbi membuka payung lalu menarik lengan Disha, merangkul pundak perempuan itu sampai ke mobil. Toyota Vios Merah itu sudah meninggalkan halaman parkir, membelah jalanan kota Surabaya yang masih padat. Tak sampai lima menit, mobil itu kembali parkir dan pemiliknya turun, tentu saja dengan payung berwarna kuning yang melindungi tubuhnya dari hujan. Disha turun, menempel pada Arbi lalu berjalan masuk ke Cafe setelah Arbi meletakkan payung di keranjang khusus di dekat pintu. "Akhirnya, dateng juga." Sapaan itu membuat Disha berhenti lalu menoleh ke belakang. Arbi dan seorang laki-laki dengan seragam Chef itu berjabat tangan, akrab. "Rei udah ke sini?" Tanya Arbi. "Udah, di lantai dua. Alat-alatnya udah siap. Gue tinggal, ya." Laki-laki berseragam Chef itu menepuk pundak Arbi lalu tersenyum menyapa Disha sebelum pergi meninggalkan mereka. "Ayo." Arbi mendorong Disha. Keduanya berjalan ke tangga lantai dua lalu mengedarkan pandangan. Disha mengekori Arbi sampai ke meja sudut di dekat jendela, Rei dan Mita sudah menunggu di sana. Mita berseru heboh melihat Arbi dan Disha berjalan menghampiri lalu duduk di depan mereka. Dua gelas jus alpukat sudah tersedia, Disha jadi lebih sering memperlihatkan senyumannya. "Kalian berdua bisa pesen makan dulu, gue sama Rei mau tugas negara." Arbi bangkit, diikuti Rei, keduanya berjalan ke arah panggung kecil di depan. Dua gitar akustik sudah tersedia, siap dimainkan. "Mereka sering nyanyi di sini," ujar Mita yang matanya tak lepas dari dua laki-laki di atas panggung, sibuk memetik gitar untuk memastikan alat itu siap menjadi pengiring. "Pantesan tadi ada cowok pakai seragam Chef, nyapa Arbi." Sahut Disha. "Namanya Kevin, teman baik Rei dan sekarang juga jadi teman baik Arbi." Jelas Mita. Mata keduanya tidak beranjak dari sosok Arbi dan Rei yang duduk di kursi mereka, lampu mulai dimatikan, menyisakan satu lampu sorot untuk panggung. Petikan gitar Arbi mengawali intro dari lagu yang akan mereka bawakan. When I wake up feet touch to the ground Whatever holds me down Just looking for some sturdy sounds So tell me about yourself and never say goodbye The less I know the less I cry  Suara itu menarik perhatian Disha sepenuhnya. Ia tidak pernah mendengar lagu itu, sama seperti lagu yang dinyanyikan Arbi kemarin—yang tak sengaja didengarnya. And I can't help but wonder why Things like you stay on my mind So tell me about something So tell me about anything So tell me can you make me still believe? So tell me about something So tell me about anything So tell me can you make me still believe? A little more than now  "Arbi sama Rei selalu nyanyiin lagu ciptaan mereka sendiri di atas panggung." Ucapan Mita membuat Disha memperhatikan perempuan di depannya itu. Senyumnya mengembang mendengarkan bagaimana harmonisnya suara Arbi dengan petikan gitar Rei. "Dis, mereka itu punya sifat yang bertolak belakang. Kalau Rei yang bikin nyaman, Arbi itu yang bikin rame." Mita melanjutkan. "Ada yang menarik perhatianmu diantara mereka berdua." Tebak Disha yang berhasil membuat Mita tersedak jusnya. "Apa, sih?" Sahut perempuan berambut panjang dengan warna yang kini mirip dengan warna rambut Disha. "Ngaku, deh." Disha menaik turunkan alis. "Nggak ada, Dis." "Yakin?" "Yakin." "Bohong." "Enggak." "Tapi Rei manis, lho." "Iya, dari dulu." "YES!" Teriak Disha yang berhasil memancing Mita untuk memberitahu isi hatinya. Entah bagaimana bisa. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN