Lantai 1 | Episode 11

1688 Kata
"YES!" Teriak Disha yang berhasil memancing Mita untuk memberitahu isi hatinya. Entah bagaimana bisa. "Apa, sih, Dis!" Seru Mita melempar tissue ditangannya, mengenai wajah Disha tanpa bisa menghentikan tawa si tampan itu. "Saya mau panggil teman saya untuk ikut duduk di sini." Suara Rei mengambil seluruh perhatian Disha dan Mita yang tertawa. Keduanya menatap Rei serta Arbi di atas panggung. "Tepuk tangan untuk Disha!" Seru Arbi tiba-tiba. "Apa-apaan?" Gumam Disha yang terpaksa berdiri karena Mita sudah bangkit, menarik kursinya dari belakang lalu memaksa Disha untuk segera naik ke panggung. Arbi berdiri, memberikan gitar di pangkuannya pada Disha setelah perempuan itu tersenyum menyapa para pengunjung yang memberinya tepuk tangan. Arbi menaikkan stand mic lalu berbalik untuk mendiskusikan lagu yang akan mereka nyanyikan. Disha mengisi posisi Rhytm gitar menggantikan Arbi yang sudah berdiri di balik stand micnya. Petikan gitar Rei mengawali lagu, diikuti Disha kemudian. I've been thinking lately about you and me And all the questions left unanswered How it all could be And I hope you know You never left my head And if I ever let you down I'm sorry Entah sudah berapa kali senyum Mita terkembang. Matanya tertuju pada Disha yang terlihat sangat jauh berbeda saat sedang memangku gitar, dia jauh lebih cantik saat ini. I see you around here lately, You smile brighter than you should. And me I've been so lonely, I'm glad you're doing good. 'Cause I can't forget, The way it used to be, And if I ever let you down Well I'm sorry Perhatian Mita tidak lagi tertuju pada Arbi, Rei dan Disha di atas panggung. Matanya tak sengaja menangkap lensa kamera sekitar tiga meja di sebelah kirinya. Perempuan berambut panjang dengan warna brunette mengkilap itu tidak melepaskan diri dari kamera yang terus membidik dan memotret. Yang membuat Mita semakin penasaran adalah perempuan itu tidak berhenti memotret sampai lagu selesai lalu Arbi, Rei dan Disha kembali duduk di meja mereka. "Kalian belum pesan makan?" Rei membuka obrolan. Mita mengalihkan pandangannya, baru menyadari kalau Rei sudah duduk di sampingnya. Disha berdehem, membuat Mita menatap tajam padanya. "Gue ikut apa yang kalian pesen." Sahut Arbi sambil merogoh saku celana, mengeluarkan ponsel dan jemarinya mulai menyetubuhi benda tipis berbingkai metalik dengan logo apel di belakang tersebut. "Aku udah pesan, Mozarella Fried Rice," ujar Mita sebelum Rei memesan lagi. "Disha."  Belum sempat mereka membuka obrolan, perempuan yang tadi dilihat Mita sudah berdiri di samping meja mereka, memanggil Disha dan berhasil membuat Arbi yang meminum jusnya tersedak—bagaimana tidak kalau di depannya sekarang berdiri perempuan super cantik seperti itu. "Lebay lo, Bi." Mita mencibir. Mita beralih memperhatikan perempuan denagn tali kamera yang sudah melingkar di leher itu. Berbeda dengan Mita, Rei menangkap jelas ekspresi datar Disha yang semakin lama berubah kesal. Perempuan itu tersenyum pada Mita, Rei dan Arbi, "lama nggak ketemu, Dis," ujarnya canggung pada Disha. Disha menghela nafas kasar lalu bangkit, "gue tinggal bentar," ujarnya pada Mita, Rei dan Arbi, "kita ngomong di tempat lain." Disha menatap perempuan itu dengan tatapan dingin yang baru dia perlihatkan kali ini. Ketiga temannya bungkam, jelas sekali aura dingin itu terpancar setelah kehadiran si perempuan cantik dengan kameranya. Disha berjalan lebih dulu, toilet perempuan menjadi pilihannya. Ia bersandar di dinding dekat cermin besar toilet tersebut, tatapan dinginnya menusuk perempuan yang kini berdiri tiga meter di depannya. Perempuan yang dia benci setengah mati. Pengkhianat menjijikkan yang tak pernah ingin Disha temui lagi—sialnya, perempuan itu kembali menemukannya. "Aku nggak tahu kalau kamu ternyata di Surabaya, Dis." Perempuan itu tak bisa mengembunyikan senyum tipisnya. "Gue nggak bego, Liv." Sahut Disha yang kemudian berdiri tegak. "Dis, aku nggak bisa." "Lo gila, ya? Otak lo mati?" Disha tak bisa menahan suaranya untuk tidak meninggi. Semburat amarah terpancar dari matanya. "Kenyatannya begitu." Perempuan itu balas meninggikan suaranya. "Berhenti ganggu gue, Liv. Dari jaman SMA, sampai sekarang dan lo bilang itu nggak bisa dirubah? Sakit jiwa lo." Disha berusaha menahan diri, tidak mau orang lain mendengar pembicaraan mereka. "Kamu sendiri yang nerima aku— "Lo sahabat gue, Liv. Ini udah empat tahun dan lo nggak berhenti. Mau lo apa?" Sentak Disha pada akhirnya. "Aku kangen kamu." Olivia Narinda, perempuan itu berlinang air mata sekarang. Disha tercengang, kaget, tak percaya dan jelas marah. Dia tidak menyangka kalau Olivia akan kembali, mengejarnya, mengatakan bahwa dia tak bisa menerima keputusan Disha untuk tetap menjadi perempuan bagaimanapun penampilannya. Sefrustasi apapun dia pada hidupnya. "Dis, aku selalu bilang kalau— "Gila! Gue masih normal. Saraf otak lo bener-bener putus, Liv." Semua yang ditahan Disha selama ini meluncur. Dia tak bisa lagi bersikap biasa saja pada sahabatnya itu, emosinya meledak. "Dis, denger dulu." Olivia mencengkram lengan Disha sebelum perempuan tampan itu keluar. Disha menepis kasar tangan Olivia, perempuan berambut brnette itu meringis merasakan panas di pergelangan tangannya. "Jangan pernah muncul di depan muka gue atau gue laporin lo ke polisi atas tuduhan mengancam kehidupan orang lain dan berpotensi melakukan pelecehan seksual." Ancam Disha yang kemudian membuka pintu toilet. Langkahnya terhenti, Disha mendongak. Sepasang mata kelam bertemu dengan mata cokelatnya. Rei membeku, begitu juga Disha, keduanya tenggelam dalam tumpukan pertanyaan yang tak mampu disalurkan kemanapun. Rei dengan semua yang didengarnya dan Disha dengan kemunculan Rei tiba-tiba. Disha yang pertama melepaskan kontak mata mereka, perempuan itu berjalan melewati Rei begitu saja tanpa berniat menjelaskan apapun atau bertanya apa yang di dengar Rei. Tidak, Disha tak bisa melakukannya. Kalaupun Rei mendengar, laki-laki itu tak mungkin membicarakannya pada siapapun karena dia terlalu lambat mencerna apa yang baru dia dengar. Disha berharap begitu. Disha kembali bergabung dengan Mita dan Arbi yang ternyata sudah menyantap makanan mereka. Tanpa banyak bicara, Disha mengambil ransel yang tersandar di kaki kursi lalu pergi begitu saja. Mita sempat memanggilnya tapi Disha tidak menoleh, tidak melambaikan tangan, dia berjalan menjauh sampai hilang di balik tangga menuju lantai satu. "Disha kenapa?" Mita bertanya saat Rei kembali dan duduk di sampingnya. "Memangnya dia udah keluar dari toilet?" Rei balik bertanya, berpura-pura. "Lo nggak ketemu dia pas ke toilet tadi?" Sahut Arbi tanpa menjawab pertanyaan Rei. Rei menggeleng. Bohong ... dan Arbi tahu. *** Kacau, moodnya kacau berantakan karena kedatangan Olivia yang pertama di tahun ini. Olivia Narinda adalah sahabatnya sejak SMP dan tak ada yang memisahkan mereka berdua sampai ke bangku SMA. Entah sengaja atau tidak, keduanya kembali satu sekolah, satu kelas dan duduk bersebelahan selama enam tahun penuh. Segalanya baik-baik saja sampai hari itu Olivia membuat pengakuan yang luar biasa mengejutkan, bahkan Disha sempat menjauh dari perempuan itu selama sebulan setelah kelulusan. Hari itu Wisuda dilangsungkan, dilanjutkan dengan Prom Night yang dimulai pukul tujuh malam. Disha mengisi panggung persembahan, menyanyikan lagu Perfect milik Simple Plan dengan gitar akustik, berhasil memukau semua orang yang selama ini mengira Disha hanya gadis tomboy yang sering dikejar-kejar guru konseling. Termasuk Olivia yang akhirnya meyakinkan dirinya bahwa yang ia rasakan selama itu tidak salah, bahwa apa yang terjadi diantara Disha dan dirinya bukan semata-mata hubungan persahabatan. Mengingat pengakuan Olivia empat tahun lalu berhasil mengacaukan pikiran Disha. Perempuan itu berbaring di sofa, memejamkan mata dan berkali-kali mengusap wajahnya kasar, sumpah serapah meluncur bebas dari bibir tipisnya itu. "Bajingan." Umpatnya lagi sambil mengacak rambut frustasi. Dia tidak tahu apa yang akan dipikirkan Arbi dan Mita saat ia meninggalkan Cafe begitu saja beberapa jam lalu. Dia juga tidak tahu apa yang ada dalam kepala Rei, entah laki-laki itu mendengar pembicaraannya dengan Olivia atau tidak. Delapan puluh persen pasti terdengar karena dia dan Olivia sama-sama berteriak di akhir. Ia kemudian duduk, mengacak rambut sekali lagi lalu mengambil dompet yang tergeletak di atas meja, diselipkannya ke saku belakang skinny jeans birunya itu. Minimarket masih buka meskipun hampir tengah malam. Disha keluar, matanya menangkap laki-laki berambut kecokelatan dengan kaos hitam tanpa lengan yang tak pernah dilihat Disha. Perutnya tidak menerima asupan apapun sejak siang dan jatah makan malam gratis juga lenyap karena ulah si perempuan b******k tadi, kembali ke dalam rumah akan semakin menyiksa perutnya. Disha menuruni tangga dan berhenti selangkah di atas anak tangga tempat Rei duduk. Laki-laki itu menoleh, tidak mengatakan apapun, hanya memperhatikan Disha yang terpaksa duduk di sampingnya. Rei kembali menatap beberapa anak tangga di bawah, lalu beralih ke pintu kaca yang mengarah ke jalan, berada di antara pintu rumahnya dan Arbi yang berhadapan. Disha menghela nafas berat, tidak tahu harus memulai obrolan dari mana. "Saya dengar," ujar Rei yang menatap lurus. "Aku tahu." Sahut Disha, mengikuti arah pandangan Rei. Hening, suasanya begitu canggung dan Disha tidak tahu kenapa dia jadi kehilangan rasa percaya diri padahal biasanya dia sangat memalukan. Bagaimana cara menjelaskan kalau kau normal, pada tetangga laki-lakimu yang mendengar pertengkaranmu dengan perempuan yang berusaha meyakinkan — b******k. "Beruntung kamu nggak benar-benar terjebak sama dia dan akhirnya jadi penyuka sesama jenis." Ucapan Rei membuat Disha menoleh, menatapnya yang kemudian menghela nafas berat, "adik saya gay," Rei melanjutkan seolah mendengar isi pikiran Disha. Disha diam, tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Di sampingnya saat ini bukanlah Rei yang lembut seperti biasa. Rei begitu kelam, redup, sesuatu dalam diri laki-laki itu hilang dan Disha melihatnya, melihat lelah yang amat sangat dari sepasang mata kelam yang kini membalas tatapannya. "Saya bersyukur kamu nggak lesbi." Senyum hangat Rei mengembang, sesuatu yang redup itu mendapatkan sinarnya perlahan. Secepat itu Rei mengobati sosok dirinya yang lain itu. "Gini-gini, aku masih doyan cowok ganteng dan tajir." Sahut Disha yang berusaha mencairkan suasana. Dia tidak mau nafsu makannya lenyap karena cerita menyedihkan Rei tentang adik laki-lakinya. "Arbi ganteng." Sahut Rei. "Kamu naksir Arbi?" Sahut Disha kesal karena Rei justru menyebut nama penghuni rumah yang berada tepat di bawah rumahnya. Rei hanya tertawa, Disha makin tak percaya, "gila, kamu juga gay." Senyum itu tak beranjak, "kamu lebih ganteng," ujar Rei. "Aku perempuan. Kamu sukanya laki." Cibir Disha. "Tapi saya nggak suka Arbi." "Hah? Serius kamu gay?" Disha nyaris berteriak. Dia pikir sejak tadi Rei bercanda. "Orang yang saya suka memang ganteng, tapi bukan laki-laki." Jawaban Rei membuat Disha merapatkan bibirnya. Disha bungkam, mencoba mencerna apa yang dikatakan Rei. Berharap dia salah dengar dan Rei tertawa terbahak-bahak, puas mengerjai Disha. Sayangnya, laki-laki itu justru tersenyum, menepuk kepalanya pelan lalu bangkit. "Mau saya antar beli makanan?" Rei menawarkan yang disambut gelengan secepat kilat oleh Disha, "ya udah, hati-hati. Saya masuk duluan." Hanya itu, Rei menuruni tangga lalu lenyap di balik pintu rumahnya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN