Dia berdiri di sana. Di ujung anak tangga yang menjadi penghubung antara lantai satu dan dua.
Dia ada di sana, sejak mendengar pintu rumah yang ada di depan rumahnya terbuka, sejak dia dengar langkah menuruni tangga, sejak tetangga depan rumahnya duduk bersebelahan dengan tetangga bawah rumahnya. Dia dengar semuanya.
"Orang yang saya suka memang ganteng, tapi bukan laki-laki."
Kalimat itu berputar bagai rekaman suara yang terus berulang dan berulang di kepalanya.
Nggak Mit, kamu kan nggak naksir siapa-siapa. Kamu kan biasa aja, mau sama Arbi kek, Rei kek, bahkan Disha kek, kamu biasa aja, Mit. Kamu nggak lagi suka sama siapa-siapa.
Ucapnya dalam hati. Bagai sebuah mantra yang apabila tidak dia ucapkan maka dia akan mati.
Tubuhnya berjingkat, menempel pada dinding di antara lorong tangga yang gelap agar keberadaannya tak disadari oleh satu-satunya manusia di ujung anak tangga sana.
"Siapa?" Tubuhnya menegang, dia bahkan menahan nafasnya agar keberadaannya tak tertangkap oleh tetangga depan rumahnya.
Jantungnya berdegup, tangannya berubah dingin kala menyadari suara langkah kaki mendekatinya.
Dan bumi seperti kehilangan gravitasi kala namanya dipanggil oleh Disha, "Mita?"
Mita—dia mengangkat kepalanya secara perlahan, membiarkan beberapa anak rambut yang menghalangi pandangannya tersingkap. Sebuah cengiran lebar dia tunjukkan pada Disha yang berdiri di depannya.
"Kamu," Mita menggeleng cepat, memotong ucapan Disha.
"Aku cuma mau nyari bakso, sih, di bawah. Biasanya jam segini lewat. Duluan, ya, Dis." Perempuan itu berucap cepat dan melesat tak kalah cepat pula.
Disha menatap datar helaian rambut Mita yang bergerak mengikuti pergerakan si pemilik. Keningnya berkerut, menyadari beberapa sikap janggal yang baru ditemuinya. Menit berikutnya dia sadar Mita terkesan menghindarinya. Disha bergerak menuruni tangga, mengejar Mita yang dia yakini sudah agak jauh jaraknya dari dia saat ini. Tepat di depan rumah Rei, Disha menyadari sesuatu. Menyadari fakta bahwa kemungkinan besar Mita mendengar pembicaraannya dengan Rei.
"g****k banget, sih?" Disha mengumpat, entah dia mengumpat untuk siapa tapi kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutnya.
Kepalanya menoleh ke segala arah, sorot matanya berbinar kala mendapati Mita baru saja keluar dari minimarket yang tadi menjadi tujuan utama Disha—sebelum tak sengaja melihat Rei di ujung tangga.
Perempuan jadi-jadian itu berlari menyusul Mita yang sudah duduk di salah satu kursi kosong yang disediakan di depan minimarket tersebut.
"Mit, kok ninggal, sih?" Protesnya pura-pura pada Mita yang masih belum menyadari kedatangannya. Wajah tegang itu muncul lagi. Disha tahu itu, tak sulit untuk mencerna perubahan di wajah Mita.
"Eh, iya, tadi udah haus banget, Dis. Kamu mau beli sesuatu? Buruan masuk, bentar lagi mau tutup." Mita berdiri, lagi-lagi Disha bisa menebak bahwa sebentar lagi teman barunya itu memutuskan untuk melarikan diri—lagi.
"Kamu kenapa, Mit?"
"Ha?" Kedua bola mata itu membulat lebar, "aku? Kenapa?"
Disha menghela nafas panjang, mengendikkan bahunya tanpa melepas kontak mata dengan Mita, "kamu sengaja, ya?"
"Sengaja apa?" Kening Mita berkerut, tak mengerti maksud pertanyaan Disha.
"Kamu sengaja menghindar dari aku, ya? Kamu lari gitu aja waktu aku tanya tadi. Kenapa? Nggak biasanya, lho," pancing Disha dengan menaik-turunkan alisnya.
Mita tersenyum lebar, menampakkan deretan giginya seolah ada sebuah hal lucu yang pantas ditertawakan, "aku buru-buru tadi, Dis, takut udah tutup. Nih, mau beli air." Perempuan itu mengangkat satu botol air mineral berukuran sedang.
"Bohong Mit! Kamu tadi bilang mau beli bakso. Sekarang alasan takut tokonya tutup," todong Disha sedikit memaksakan pendapatnya.
"Oh, itu ya? Itu lho, baksonya nggak ada jadi, ya, aku ke sini," Mita menjawab lagi-lagi dengan arah mata yang berkeliaran tidak berani beradu tatap dengan Disha.
"Kamu denger omonganku sama Rei, kan?" To the point Disha berkata. Mengucapkan pertanyaan yang lebih mirip sebuah pernyataan tersebut.
"Ha? Emang kamu ngomong apa sama Rei? Tadi aku nggak lihat ada Rei sama kamu."
"Mit," Disha meletakkan kedua telapak tangannya di atas bahu Mita, "kamu denger, kan, apa yang aku omongin sama Rei?"
Mita menggeleng. Sikapnya sudah tak segusar tadi. "Enggak."
"Kamu suka sama Rei?"
Mita terkekeh kemudian menurunkan tangan Disha dari bahunya, "enggak, Dis. Aku biasa aja kok. Sama kamu, sama Arbi, sama Rei. Sama semuanya juga aku biasa aja."
"Oke. Terserah kalau kamu bilang kamu nggak suka Rei. Tapi aku mau bilang sesuatu sama kamu, Mit. Aku nggak ada perasaan apapun sama Rei."
Perempuan itu tersenyum lagi, "iya Dis, itu hak kamu. Udah, ayo pulang. Udah tutup, tuh!"
"Jangan alihin pembicaraan, dong." Kali ini Disha mulai sedikit kehilangan kesabarannya. Mita selalu mengalihkan perhatian dan pembicaraan ketika Disha mulai berbicara serius dan Disha kesal akan hal itu. Dia hanya tidak ingin hubungan baiknya dengan Mita rusak hanya karena kesalah pahaman tak berguna.
"Disha, oke, aku ngaku, aku denger semuanya. Tapi aku biasa aja. Kamu nggak perlu heboh kasih penjelasan apa-apa ke aku. Toh, aku ini bukan siapa-siapanya kalian, kan?"
"Kamu udah jadi saudaraku, Mit! Jadi wajib buatku buat ngejelasin ini ke kamu. Aku nggak mau hubungan kita jadi renggang hanya karena ini." Disha menyela, nadanya meninggi sampai beberapa pegawai yang sedang bertugas membersihkan pelataran minimarket menoleh ke arah mereka.
"Mit, aku nggak suka sama Rei."
"Aku juga enggak," dustanya.
"Serius?"
"Sangat."
"Kamu bohong."
"Enggak—"
"Kamu bohong!"
"Ck, ya udah lah, kamu nggak percaya juga, kan, kalo aku bilang enggak?"
"Aku bggak percaya karena apa yang kamu bilang itu bohong!" Di luar dugaan Disha berteriak, keras sekali sampai semua mata tertuju pada mereka.
Mita mengerjap beberapa kali. Masih setengah belum percaya bahwa baru saja Disha membentaknya.
"Aku tahu kamu suka sama Rei. Nggak ada yang bisa nggak suka sama dia. Rei perhatian, dia selalu bikin nyaman dan kamu sendiri mengakui kalau Rei bisa bikin nyaman." Disha terengah-engah, mengeluarkan isi kepalanya.
"Aku nggak suka sama Rei, Mit. Aku sama Rei, kita cuma teman. Nggak ada yang istimewa dari kita." Disha meyakinkan lagi.
Mita mendengarkan, mencerna baik-baik ucapan Disha. Sesuatu dalam dirinya bergolak entah dia tak tahu bagaimana cara untuk menggambarkannya.
"Mit, tolong jujur sama aku," Disha menekan bahu Mita lagi, "kamu suka Rei?" Dia hanya perlu kejujuran dari Mita. Jika Mita katakan ya, dia akan dengan senang hati membatasi pertemanannya dengan Rei, Disha tak ingin hanya karena satu pria hubungan baiknya dengan Mita jadi kacau.
Mita menatap kedua bola mata Disha dengan tatapan yang entah apa artinya, kemudian dia menggeleng, "aku nggak ngerti."
"Hah?" Disha berjingkat. Kesal, geram, gemas dan rasanya ingin sekali menjitak Mita yang memberinya jawaban seperti itu. Apa yang membuat Mita tak tahu? Bukankah perasaanmu yang sebenarnya hanyalah dirimu dan Tuhan saja yang tahu?
"Aku nggak tahu Dis. Aku nggak tahu ini apa namanya." Alis Disha berkerut memandang Mita. "Di sini, rasanya kayak ditekan kuat banget waktu denger Rei bilang itu ke kamu," sambung Mita seraya menyentuh dadanya, "rasanya aku pengen nangis tapi nggak tahu apa alasannya dan yang paling bikin aku pusing, aku nggak bisa nangis," lanjutnya.
Disha mengernyit. "Kamu sayang Rei?"
Mita menggeleng. "Aku nggak tahu."
Disha mendekat, menarik salah satu tangan Mita dan menatap lekat bola mata Mita, "Mit, Rei naksir aku."
Mita mengangguk, "aku denger, kok. Tadi dia bilang gitu secara nggak langsung."
"Mit, Rei naksir aku."
"Iya Dis, aku tahu," bola mata itu masih bertahan membalas tatapan Disha.
"Mita—"
"Iya Dis, Rei naksir kamu. Dia sukanya sama kamu." Mita memotong ucapan Disha.
Di seberang mata Disha, dia melihat genangan perlahan berkumpul di mata Mita.
"Mit, Rei naksir aku."
Dan tumpahlah genangan air yang sejak tadi berusaha untuk dibendung. Mita tersenyum, membiarkan satu aliran sungai kecil menghiasi pipinya.
"Iya. Aku tahu."
Disha berdecak, dia menggeleng dan memeluk tubuh Mita yang langsung bergetar hebat kala dia sentuh punggung perempuan itu.
"Mit,"
"Udah dong Dis. Aku udah tau kok." Mita memotong Disha dengan suara paraunya.
"Tahu apa?" Tanya Disha dengan nada setengah kesal.
"Rei naksir kamu."
"Bego!" Disha mengumpat, kali ini benar-benar mengumpati Mita. Mita terkekeh tapi itu tak menghentikan air matanya. "Aku mau bilang, kalau kamu naksir Rei."
"Masa? Ogah banget, bule melarat kayak gitu bisa ngasih apaan coba? Yang ada dia minta-minta mulu," Kilahnya.
Disha memukul belakang kepala Mita sangking geramnya, sudah tertangkap basah tapi tetap tidak mau mengaku. "Kalau kamu nggak naksir, nggak mungkin kamu nangis hanya karena omong kosongnya Rei tadi."
Mita menggeleng, menjauhkan diri dari Disha. Menghapus banyak anak sungai di wajahnya, "Rei bukan orang yang suka gombal, Dis. Dia konsisten sama apa yang dia bilang."
"Bodo amat! Bodo amat! Bodo amat!" Disha menekankan setiap katanya. "Bodo amat Mit. Yang jelas Rei jomblo, dan kamu nggak dilarang sama sekali buat naksir dia."
Mita menggeleng tegas. "Nggak mau aku!"
"Kenapa? Masih mau nyangkal lagi kalau kamu nggak naksir dia?" Emosi Disha tersulut lagi.
"Aku seneng, sih, kalau Rei naksir kamu. Rei nggak cocok buatku, Dis. Aku ini... apa, ya? Kelam? Buram? Suram?" Mita memiringkan kepalanya menatap Disha.
"Kelam?" Disha mengulang.
Mita tersenyum, "aku takut Dis. Lebih baik Rei naksir kamu. Atau Arbi naksir kamu. Pokoknya, jangan aku."
Disha mengernyit lagi untuk kesekian kalinya, "alasannya?"
"Aku nggak mau mereka sakit hati gara-gara aku. Aku takut Dis. Takut sama komitmen, setia, hubungan serius, pacaran, pernikahan, itu semua jauh banget dari aku. Aku nggak bisa."
Mulut Disha membulat, "kamu waras?"
"Sangat. Aku belum siap. Aku belum mau. Aku takut. Aku nggak mau orang-orang di dekatku sakit hati gara-gara aku. Dan yang paling penting aku gak mau hancur karena perasaanku sendiri." Mita tersenyum pada Disha, kali ini senyum yang terlihat sangat tulus, bahkan lebih tulus dibanding hari biasanya.
"Jadi, aku musti gimana? Aku udah bikin kamu nangis, wah!" Disha memprotes dan Mita terkekeh seolah lupa bahwa dia baru saja membuang air matanya.
"Ya, nggak musti ngapa-ngapain, dong! Emang harus ngapain? Udahlah, ayo balik." Mita menyeret Disha untuk berjalan mengekor di belakangnya.
"Aku perlu terima kasih sama Rei."
"Kenapa?"
"Karena dia aku jadi tahu kayak apa itu rasanya sakit hati," jawab Mita diakhiri dengan gelak tawanya.
"Nggak waras kamu!"
Tawa Mita makin keras terdengar. Disha ikut terkekeh mendengar tawa Mita. Entahlah, Disha sendiri juga tak tahu seperti apa pemikiran teman perempuannya itu. Setidaknya Mita baik-baik saja, itu sudah sangat cukup untuknya.
"Setelah ini nggak boleh ada yang berubah di antara kita, ya, Dis. Jangan canggung atau berubah sikap sama aku."
"Nggak salah? Harusnya aku yang ngomong gitu ke kamu!" Protes Disha.
"Ya gitu lah pokoknya. Kita harus biasa aja, oke!" Mita terkekeh dan melanjutkan langkahnya.
"Oke!" Balas Disha dengan menghadiahi sebuah jitakan keras di kepala Mita. Mita meringis dan mengumpati Disha pelan.
"Itu biar lo lebih pinteran dikit, Mit." Cibir Disha sebelum mereka berpisah masuk ke dalam kamar masing-masing.
***