Lantai 1 | Episode 13

1402 Kata
Ponsel, benda itu harus dibelinya pagi ini juga. Ia mengunci pintu rumah lalu menuruni tangga secepat kilat sampai menabrak tubuh tegap seseorang yang berusaha dia hindari mulai hari ini. Bokongnya menghamtam lantai di depan pintu rumah Arbi. "Dis, nggak apa-apa?" Rei berjongkok, memegang kedua lengan Disha sementara perempuan itu meringis. Ditepisnya tangan Rei pelan, "nggak, kok. Sorry, tadi gue yang nggak lihat." Ia berdiri tanpa menjawab uluran tangan Rei yang ikut berdiri. Pintu rumah di sebelah mereka terbuka, Arbi keluar dengan kaos putih tanpa lengan, bibir menjepit ponsel, ransel disandang sembarangan serta kemeja yang dia gantung di bahu. Laki-laki itu hanya melirik Rei dan Disha sambil mengunci pintu. "Kamu mau ke kantor?" Tanya Rei pada Disha yang sibuk menepuk-nepuk paha belakangnya. Mendengar hal itu, Arbi mengambil ponsel dari mulut lalu memasukkannya ke dalam saku jeans. "Mau bareng gue?" Tanya Arbi pada Disha sebelum Rei sempat menawarkan diri. "Peralatannya udah lo cek kemarin?" Disha balik bertanya, Arbi mengangguk. "Ya udah, ayo," Disha mendorong Arbi, "duluan, Rei." Ia tersenyum melewati Rei di ambang pintu utama begitu saja. Rei tahu kalau perkataannya semalam membuat sikap Disha jadi canggung seperti itu. Salahnya juga, tapi dia memang tidak bisa menyimpan kalimat itu lebih lama. Tidak ada pilihan selain menerima tawaran Arbi. Disha membuka ranselnya, memastikan kalau semuanyang diperlukan ke kantor sudah masuk ke dalam. Setelah menutup kembali ranselnya, matanya tertuju pada lampu lalu lintas yang menyala merah dan memaksa Arbi menginjak rem. "Anterin gue ke gerai Samsung." Hanya ponsel itu yang bisa mendukung pekerjaannya, tidak perlu seri terbaru yang penting multitasking—prinsip utama Disha dalam membeli ponsel. "Ngapain? Handphone lo iPhone, kan?" Sahut Arbi yang kembali menginjak pedal gas. Matanya terfokus pada jalanan di depan. Disha mendecak sebal, "bukannya lo tahu?" Arbi pasti tahu barang apa saja yang dilemapr Disha hari itu, rumah mereka tidak kedap suara. Arbi tergelak, dia mengangguk lalu memutar kemudi, berbelok ke kiri di perempatan. Mendung kembali menyapa kota Surabaya, pagi yang suram menambah kekacauan dalam dirinya. Hanya beberapa menit setelah mobil itu parkir di halaman depan Gerai Samsung Surabaya, hujan turun bagai benang bermeter-meter. Arbi mengambil payung di bangku belakang sementara Disha menutup menaikkan kaca jendela mobil sampai tertutup. Payung berwarna kuning yang dibeli di minimarket kemarin itu cukup untuk melindungi tubuh mereka berdua sampa ke teras gedung. Arbi menutup payungnya, membiarkan benda itu diletakkan di keranjang oleh petugas berseragam biru dengan logo Samsung di d**a kanan. Arbi mengekori Disha sampai ke counter di samping kasir. Berbagai gadget terbaru dipajang di sana, sengaja untuk memberi kesempatan para calon pembeli menjajal fiturnya. Arbi berhenti di depan Smartphone Samsung seri S7 Edge, iseng mencoba fitur kamera dan menjadikan Disha yang sibuk memilih sebagai objek potretnya. Senyum Arbi begitu tipis, tapi cukup untuk menggambarkan kepuasannya terhadap hasil tangkapan kamera smartphone itu. Tidak mau dipelototi pramuniaga di depannya, Arbi menghapus foto Disha lalu meletakkan kembali benda tipis dengan kualitas kamera luar biasa itu. Ia berjalan mendekati Disha yang sibuk memilih Smartphone Samsung Seri A yang tidak terlalu mahal. Disha tidak menyentuh ponsel-ponsel di depannya itu, hanya memperhatikan lalu bertanya harga, terus begitu sampai tubuhnya menubruk tubuh Arbi. Sepasang mata cokelat gelap beradu dengan mata cokelat yang sedikit lebih terang itu. Satu detik ... Dua detik ... Tiga detik ... Detik ke-empat Arbi mengambil benda tipis berwarna biru tua yang terpajang di sampingnya.  Ia menyodorkan Samsung Galaxy A5 itu pada Disha, "ini enak buat multitasking." Disha mengambilnya, menjajal beberapa fitur unggulan smartphone tersebut lalu meletakkannya kembali. Tabungan terakhirnya cukup untuk membeli ponsel seri A5 itu dan uang yang tersisa cukup untuk menopang kebutuhannya sampai tanggal gajian. Disha menatap Arbi yang masih berdiri menghadapnya, laki-laki itu menunggu. "Buruan, kita mau ke lokasi." Arbi mendecak sebal. Sikap menyebalkannya kambuh lagi. "Yang ini aja, Mbak." Disha berbalik, menunjuk ponsel yang baru dijajalnya tadi, lalu pramuniaga cantik itu tersenyum ramah sebelum pergi mengambilkan barang yang dimaksud. Arbi memperhatikan Disha yang sibuk membayar lalu mengurus ponsel baru yang sudah diaktifkan itu. Dia tidak tahu seberapa banyak uang dalam tabungan Disha, tapi dilihat dari pertanyaan perempuan itu saat memilih ponsel, uangnya pasti pas-pasan. Paperbag putih berukuran sedang dengan logo Samsung itu sudah berada di tangan Disha sementara ponsel barunya ada di tangan. Arbi merebut ponsel Disha, perempuan itu mendecak sebal, membiarkan Arbi berjalan sambil memainkan ponselnya. Melewati pintu keluar, Arbi menarik lengan Disha mendekat lalu berhenti berjalan. Eskpresi terkejut Disha tertangkap kamera, selfie terburuk bagi perempuan itu tapi cukup untuk membuat Arbi tersenyum puas. "Buat kenang-kenangan," ujarnya yang kemudian mengembalikan ponsel pada Disha. Arbi berjalan tanpa mempedulikan Disha yang mengumpatinya karena sembarangan merebut ponsel dan mengambil foto. Keduanya masuk ke dalam mobil. Belum sempat mobilnya melewati pintu parkir otomatis, suara klakson terdengar memekakkan telinga bersamaan dengan dentuman keras tepat beberapa meter di depan Toyota Vios Merah itu. Beruntung mobilnya masih berada di depan palang parkir, belum berbelok masuk ke jalan raya. Disha menutup mulutnya dengan tangan, Avanza hitam ringsek menghantam pembatas jalan, satu sepeda motor terjepit di antara pembatas jalan dan bagian depan mobil tersebut. Teriakan warga dan berhentinya beberapa kendaraan menambah kacau keadaan, tak jauh berbeda dengan Arbi yang belum juga maju melewati pintu parkir. Disha menoleh, laki-laki itu pucat, dadanya naik turun dan kilat ketakutan terlihat di matanya. "Arbi?" Panggil Disha yang mulai cemas mendengar deru nafas Arbi. Tangan laki-laki itu gemetar membuka pintu mobil. Arbi keluar, berjalan terhuyung ke arah belakang mobil sambil memegangi dadanya. "Arbi!" Seru Disha menyusul laki-laki yang kini menjauh dari mobilnya sendiri. Disha berlari, menarik lengan Arbi dan ditepis begitu saja. Arbi membungkuk, berusaha mengatur nafasnya yang memburu seiring dengan sakit yang menghujam d**a tanpa ampun. "Lo kenapa? Hei!" Disha menahan kedua lengan Arbi, ikut membungkuk untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi pada Arbi. Arbi membuka mulut, menatap Disha. Belum sempat mengatakan apapun, Arbi kehilangan kesadarannya, tubuhnya ditahan oleh Disha tepat saat Security menghampiri mereka karena mobil yang sengaja di parkir di depan palang pintu parkir otomatis. Melihat Disha panik, Security tersebut membantu mengangkat Arbi ke dalam mobil sementara Disha berusaha menghubungi Jonathan yang mungkin sudah berada di Hotel tempat mereka akan mengambil gambar. "Jonat! Arbi," Disha menekan klakson beberapa kali pada orang-orang yang terus berkerumun di lokasi sementara polisi baru saja datang. "Arbi pingsan!" ia berseru panik, memutar kemudi memasuki jalan raya lalu kembali menekan klakson karena beberapa mobil menghalanginya. "Gue nggak tahu. Di depan ada kecelakaan dan dia ketakutan, terus pingsan gitu aja." Disha mempercepat laju mobil setelah berhasil menyalip bus di depannya. "Iya, gue nyetir ini. Lo nyusul ke Rumah Sakit Darmo sekarang." Disha memutus sambungan telepon, membelokkan kemudi ke depan teras utama IGD. Petugas keamanan yang berjaga buru-buru memanggil perawat IGD saat Disha turun dari mobil dan membuka pintu di samping Arbi. Dua Perawat IGD mendorong brankar, mengangkat tubuh Arbi hati-hati lalu membawanya ke dalam. Disha membiarkan mobilnya diparkir oleh petugas keamanan sementara dia berlari ke ruang tunggu IGD, menunggu Dokter IGD selesai memeriksa kondisi Arbi yang nafasnya tidak teratur bahkan setelah jatuh pingsan. Derap langkah cepat terdengar, Jonathan dan Dewa menghampiri Disha yang tak berhenti mondar-mandir karena panik. "Bukan kalian yang kecelakaan?" Tanya Jonathan yang nafasnya masih senin-kamis. Disha menggeleng, "kecelakaannya di depan mata tapi dia yang ketakutan terus keluar mobil. Pas gue pegangin, dia pingsan," jelasnya. Hampir setengah jam Disha, Jonathan dan Dewa menunggu di depan IGD, Dokter yang menangani Arbi pun keluar. Mengatakan bahwa Arbi harus dirawat sampai kondisinya benar-benar stabil mengingat penyebab ia jatuh pingsan adalah trauma mental yang cukup berat--dan ternyata Arbi memiliki rekam data medis yang menjelaskan bahwa dia sedang menjalani Terapi untuk kesembuhan traumanya pada kecelakaan. "Kalian tunggu sini, aku urus administrasinya." Dewa menepuk pundak Disha yang terduduk di kursi, ekspresi panik itu masih tercetak di wajahnya. Jonathan menepuk pundak Disha saat perempuan itu mengusap wajahnya, mengacak rambutnya lalu menghela nafas panjang. Disha bersandar, memejamkan mata, berusaha menenangkan dirinya yang masih diselimuti kecemasan. "Kita cancel aja pengambilan gambar hari ini," ujar Jonathan. "Ganti tim. Siapa yang siap?" Disha tidak bisa membatalkannya, mereka sudah mengirimkan jadwal pada pihak Hotel. "Lo sama gue." Sahut Jonathan. "Mas Dewa udah telepon keluarganya?" Tanya Disha sambil memutar-mutar ponsel di tangannya. "Arbi rantau di sini, Dis, keluarga besarnya hampir semua di Jakarta. Lo tentangganya tapi lo nggak tahu?" "Gue lebih tahu tetangga depan rumah gue dibanding tetangga bawah rumah gue." "Cancel aja pengambilan gambarnya, nanti biar Mas Hanum yang hubungin pihak Hotel. Lo sama gue harus jagain Arbi." "Nggak bisa, Nat. Kalau cuman ada kita berdua, ya kita berdua yang ambil gambar. Gue telepon tetangga gue yang bisa jagain Arbi." ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN