Honda CR-V Putih itu masuk ke salah satu slot parkir. Pemiliknya mengambil ponsel dan dompet di dashboard lalu menghambur turun. Suara langkahnya menjadi sorotan berpasang-pasang mata di area depan rumah sakit. Nafasnya tersengal begitu sampai di ruang tunggu IGD. Perempuan berambut hitam sangat pendek itu duduk di salah satu bangku, tak ada yang menyadari kalau dibalik wajah tampan itu ada beberapa jejak yang menunjukkan dia adalah perempuan tulen. Rei menghampiri, nafasnya masih senin-kamis saat Disha menengadah, menatapnya yang berdiri begitu dekat. Ponsel hitam berlogo apel di belakang itu masih ada di tangan Disha.
Rei mengatur nafasnya lalu duduk di samping Disha, "dia lihat kecelakaan? Mobil nabrak pembatas jalan? Atau mobil tabrakan sama truk?" tanyanya pada Disha yang kembali menatap ponsel Arbi di tangannya. Benda itu lebih menarik saat ini.
"Mobil nabrak motor sama pembatas jalan." Jawab Disha, matanya beralih menatap pintu IGD.
Disha tidak tahu kenapa Arbi bisa begitu trauma pada kecelakaan yang melibatkan mobil. Setelah mendengar penjelasan Dokter dan berdebat dengan Jonathan soal pengambilan gambar yang harus dibatalkan, Disha memutuskan untuk mengundur waktu keberangkatan dan tetap mengambil gambar bersama Jonathan. Dia pensaran pada terapi yang dijalani Arbi dan hanya berhasil mendapatkan fakta bahwa Arbi trauma pada kecelakaan yang melibatkan mobil, sejak kelas dua SMA. Sudah sangat lama dan entah apa penyebabnya.
"Oh, tetangganya Disha, ya?" Sapaan Jonathan terdengar, membuyarkan lamunan Disha.
"Rei." Laki-laki di sebelahnya menjabat tangan, memperkenalkan diri pada Jonathan yang kemudian menyodorkan sekaleng coca cola untuk Disha. Perempuan itu menerimanya, enggan bicara lebih banyak.
"Berangkat sekarang, Dis?" Jonathan memandang Disha yang meneguk setengah isi kaleng cocacolanya. Perempuan itu menghela nafas panjang.
Disha beranjak. Ditatapnya sepasang mata cokelat yang lebih gelap darinya itu, setelah kecanggungan mengerikan yang merayapi dirinya, Disha kembali. "Aku harus kerja, kamu jaga Arbi nggak apa-apa?"
"Nggak masalah, kamu nggak perlu ke sini lagi, Dis."
"Aku balik ke sini sekitar jam tujuh malem, pulang kerja. Aku pergi."
Hanya itu dan Disha meninggalkan Rei di ruang tunggu IGD.
***
Disha dan Jonathan berbagi tugas, beruntung pihak Hotel sudah menyiapkan semua tempatnya dengan baik. Mereka berdua hanya perlu bekerja sedikit lalu jepretan demi jepretan terdengar, lensa mereka merekam dengan sangat baik meski beberapa kali Jonathan harus mengambil ulang karena tidak seperti yang Disha inginkan. Memasuki jam makan siang, Disha dan Jonathan memutuskan untuk memotret berbagai hidangan di hotel tersebut. Keduanya sibuk mengecek hasil foto sambil menunggu Koki memasak semua hidangan yang akan masuk ke dalam buku menu.
"Dis, kayaknya yang kamar Suite tadi harus diambil ulang." Jonathan berujar lalu berdiri di samping Disha, menunjukkan hasil jepretannya.
Disha menoleh, mengangguk pelan, "nanti ngambilnya sama aku."
Jonathan kembali ke kursi di depan Disha. Keduanya masih sibuk dengan kamera masing-masing sampai seseorang tiba-tiba berdiri di samping Disha dan berhasil mengganggu perempuan itu. Disha mendongak, nyaris berteriak melihat cengiran lebar laki-laki dengan tas selempang cokelat itu.
"Lo ngapain di sini?" Disha meletakkan kameranya, membulatkan mata tak percaya melihat laki-laki dengan piercing di kedua telinga.
"Hotel Bokap gue, Dis." Laki-laki itu menaik-turunkan alisnya.
"Gila, Alden udah gede." Disha merangkul laki-laki yang ia panggil Alden itu.
Alden menepis tangan Disha, mendecak sebal lalu tersenyum canggung pada Jonathan yang tertawa. Kedatangan tiga hidangan yang sudah siap dipotret mengakhiri sesi temu kangen Disha dan Alden, laki-laki yang belum genap dua puluh tahun itu memaksa untuk ikut duduk di dekat Disha dan Jonathan berdiri mempersiapkan meja.
Alden Garry Pratama, satu dari sekian banyak adik kelas Disha di SMK yang berusaha masuk ke Ekskul Fotografi demi mendekati Arthadisha sewaktu rambutnya masih panjang dan terlihat begitu manis. Alden juga satu dari lima orang adik kelas yang sangat dekat dengan Disha tapi tak pernah bisa mendapatkan hati perempuan itu. Sudah lebih dari dua tahun Disha tidak pernah lagi bertemu Alden karena laki-laki itu memutuskan pindah ke Jakarta, meski begitu, keduanya masih sering menyapa melalui w******p atau kadang facetime.
Sekarang, melihat Disha dalam versi gantengnya membuat Alden nyaris tak percaya kalau hatinya masih berdebar untuk perempuan itu--untuk si kakak kelas. Matanya tak beranjak dari sosok Disha yang entah sudah memotret berapa hidangan. Baginya, melihat Arthadisha dengan kamera kesayangannya adalah berkah Tuhan yang luar biasa. Bayangkan kalau dia tidak kuliah di Surabaya dan tidak berhasil menemukan alamat Disha, tidak berhasil...
"Mata, woi!" Seru Disha yang berhasil melempar kesadaran Alden kembali.
Perempuan itu sudah selesai dan sekarang sibuk melihat hasil fotonya, berdiskusi dengan Jonathan lalu berseru girang setelah menyadari kalau mereka bekerja lebih cepat walaupun berdua. Disha menarik kursi di samping Alden lalu duduk.
"Jadi, ini kebetulan?" Tanya Disha, merogoh saku celana dan mengambil ponselnya.
"Nggak juga," sahut Alden memperhatikan ponsel Disha yang kini berlogo Samsung, "lo ganti handphone, Dis? kenapa?"
Disha mendecak sebal, Alden memang selalu menganggap umur mereka sama. "Yang iPhone rusak."
"Lo apain?"
"Gue banting."
"Kenapa dibanting."
"Lo mau gue banting?" Disha bertanya, kesal karena tingkat Kepo Alden tidak pernah berkurang.
"Dis, jadi ngambil ulang kamar Suite, nggak?" Jonathan bertanya dengan suara yang sedikit lebih keras.
"Jadi, ayo." Disha bangkit, Alden mengekor.
Disha sempat protes karena Alden terus mengikutinya, menimbulkan tatapan penuh pertanyaan dari beberapa pegawai hotel yang mengetahui kalau Alden Garry adalah anak dari pemilik hotel tersebut. Kali ini, Disha yang merekam kamar suite itu, dibanding Jonathan, perempuan itu sangat tenang saat bersama kameranya. Alden berdiri di ambang pintu, setia menunggu Disha selesai dengan pekerajaannya hari ini, ada banyak hal yang ingin dia bicarakan dengan kakak kelasnya itu.
Jam menunjukkan pukul lima sore saat Disha dan Jonathan berpamitan dengan Manajer Hotel serta beberapa pegawai yang membantu mereka. Baru selesai memasukkan semua peralatan ke bagasi mobil Jonathan, Alden sudah berdiri di belakang Disha.
"Ngapain, sih, lo?" Disha berjalan ke mobil Arbi yang dia pakai sementara.
"Lo hutang makan malam sama gue, Dis." Alden merangkul Disha, memperlihatkan cengiran lebar yang begitu menggemaskan dan bisa membuat beberapa perempuan terkena serangan jantung--tentu saja tidak dengan Disha.
"Gue buru-buru, Den, harus ke rumah sakit." Disha masuk ke mobil, menutup pintu lalu menyalakan mesin.
Alden berlari masuk ke mobil, duduk di samping Disha yang mengerang kesal karena Alden tidak berhenti mengikutinya. Disha menatap kesal laki-laki yang dua tahun lebih muda darinya itu.
"Ngapain?" Tanya Disha ketus.
"Ikut." Jawaban singkat beserta cengiran Alden itu membuat Disha mengepalkan tangan gemas. Itu alasan Disha memanggilnya anak ayam sejak masih SMK, bocah ingusan di sampingnya itu tak pernah mau menjauh kalau sudah bertemu dengannya.
Tak ada pilihan, Disha menginjak pedal gas, melajukan mobil keluar dari area parkir. Disha sudah mengatakan pada Jonathan kalau semua kamera yang digunakan harus dicek, hasil foto dan video juga, besok Disha akan membantu proses editing karena dia harus kembali ke rumah sakit.
Tidak ada macet yang membosankan kalau ada Alden di dalam mobil. Cerita-cerita gila Alden dan teriakannya mengikuti lagu yang diputar di radio tak pernah gagal membuat Disha tertawa. Sepanjang jalan sampai ke rumah Disha, Alden benar-benar membuat perempuan itu melupakan beberapa masalah yang sempat memukul telak dirinya beberapa hari lalu. Toyota Vios Merah itu menepi dan berhenti, Alden turun mengikuti Disha masuk ke Surbaya Townhouse dengan nomor gedung A3 itu.
"Woah! Ini berarti empat rumah, ya?" Alden memperhatikan pintu yang berhadapan dengan pintu rumah Disha.
"Iya--
"Masih ada satu rumah lagi nggak? Sebelah gedung ini?" Alden memotong ucapan Disha.
"Nggak ada." Jawab Disha cepat.
Disha berbalik, mendorong kepala Alden cukup kuat sampai laki-laki itu tersentak dan melangkah mundur. Disha menutup pintu kamar, Alden meringis menyadari kalau dia hampir mengikuti Disha ke kamar tidur yang sangat-sangat privasi untuk perempuan itu. Sementara Disha sibuk di dalam kamar, Alden berkeliling dan berakhir di depan kulkas mini milik Disha, membukanya lalu mengambil sekaleng soft drink sebelum kembali ke sofa di ruang tengah. Pintu kamar dibuka, Disha keluar dengan skinny jeans dongker dan t-shirt putih bergambar pisang di seluruh bagiannya.
"Makan malam, kan?" Tanya Alden memastikan.
"Makan malam, gundulmu." Sahut Disha menempeleng kepala Alden lalu berjalan ke dekat pintu rumah, memakai converse abu-abunya.
"Loh, terus kemana?" Alden menghabiskan soft drink, melempar kaleng kosongnya ke tempat sampah tanpa meleset. Ia kemudian memakai sepatunya, mengekori Disha keluar.
"Rumah Sakit." Jawaban singkat Disha berusaha dicerna oleh Alden. Siapa yang sakit? Disha rantau di sini.
Demi dewa manapun, Alden benar-benar mengikuti Disha kembali ke mobil dan meninggalkan Surabaya Townhouse. Disha tidak menyangka kalau sikap gila Alden memang tidak pernah berkurang. Untuk apa mengikutinya seperti itu? Selama ini, Alden tidak pernah lagi mengatakan apapun tentang perasaannya pada Disha dan Disha sudah mengira kalau Alden tak akan pernah terjebak dengan hatinya lagi. Tapi, sekarang? Kenapa jadi mirip anak ayam begitu?
"Siapa yang sakit, Dis?" Tanya Alden saat mobil mereka memasuki basement rumah sakit.
Disha memarkir mobil di salah satu slot parkir, "tetangga gue, temen kerja juga."
Alden mengikuti Disha turun dari mobil. Tidak banyak bicara saat ia berjalan di samping Disha, melewati koridor lalu ruang tunggu bagian informasi. Disha sempat bertanya pada perawat yang berjaga di bagian informasi, kalau Alden tidak salah dengar, Disha menyebut nama Arbi dan jelas itu nama laki-laki. Ia kembali berjalan, kali ini mengekor di belakang Disha menuju ke lantai dua tempat tetangga sekaligus rekan kerja perempuan itu dirawat.
Disha berhenti di depan pintu kamar rumah sakit kelas tiga, dari jendela kecilnya Disha bisa melihat kalau bukan Rei yang duduk di samping brankar melainkan Mita. Melihat Disha yang terdiam cukup lama, Alden mendekat lalu mengikuti arah pandang Disha. Di kamar dengan lima brankar itu hanya ada satu brankar yang terisi, Laki-laki dengan kaos putih tanpa lengan tengah duduk bersandar pada bantal dan perempuan berambut dark brown yang membantunya meminum teh hangat dari rumah sakit. Senyum Disha terlihat, sangat tipis dan Alden berhasil menangkapnya meski tak sampai tiga detik.
"Jadi makan, nggak?" Tanya Disha pada Alden.
"Mau makan sekarang? Ya, ayo." Alden tidak yakin tapi sepertinya Disha terganggu dengan apa yang dilihatnya di kamar kelas tiga itu.
Ia mengikuti Disha, kali ini tanpa ragu merangkul pundak perempuan yang sama tinggi dengannya itu. Langkah Disha berhenti, matanya menatap lurus dan berhasil membuat Alden kembali mengikuti arah mata cokelat terang itu. Laki-laki berambut cokelat berdiri beberapa meter di depan mereka, menatap Disha dan Alden bergantian.
"Kamu nggak jenguk Arbi? Dia udah sadar sore tadi." Rei mengabaikan kehadiran Alden, matanya kembali pada Disha yang terlihat kaget.
"Aku laper, habis ini balik lagi. Aku pergi sebentar, Rei." Sangat canggung dan Disha berjalan melewati Rei begitu saja, melepaskan tangan Alden dari pundaknya.
"Saya juga belum makan." Rei berbalik, berhasil membuat Alden menunda langkahnya menyusul Disha.
"Nggak keberatan, kan? kalau saya ikut kalian berdua makan."
***