"Nggak keberatan, kan? kalau saya ikut kalian berdua makan."
Disha berbalik, menatap Rei lalu beralih pada Alden yang berjalan menghampirinya.
"Itu roti buat Mita sama Arbi, kan?" Disha melirik kantung plastik di tangan Rei yang berisi beberapa bungkus roti.
Rei melihat kembali kantung plastik itu lalu mengangguk, "kalian mau makan di mana? Saya susul habis ini."
Disha membuka mulut, "makan bakso di depan." Bukan dia yang menjawab melainkan Alden dengan tatapannya menajam pada Rei. Kacau, dua i***t itu membuat moodnya kacau.
"Saya kasih ini ke Mita dulu." Rei tersenyum tipis lalu kembali berjalan ke kamar tempat Arbi dirawat.
Alden mendecak sebal, berjalan lebih dulu membuat posisi Disha berbalik jadi mengekorinya. Warung tenda bertuliskan Bakso Mas Junet menjadi pilihan Alden dan Disha, keduanya masuk lalu duduk di salah satu meja dengan dua bangku panjang. Disha membiarkan Alden memesan, kecanggungan luar biasa pasti akan merayap setelah ... Rei datang dan sekarang duduk di depan Disha. Secepat itu dia menemukan warung bakso di seberang Rumah Sakit. Tiga Es Jeruk datang untuk Alden, Disha dan Rei. Disha tidak tahu harus memulai obrolan dari mana karena suasana jadi lebih mencekam begitu dia menyadari kalau Rei dan Alden saling menusuk dengan tatapan mereka.
"Gue kangen makan bakso gini sama lo, Dis. Kapan, ya, terakhir kali?" Alden membuka pembicaraan, mengenang beberapa waktu yang dia habiskan bersama Disha—tentu saja lirikan tajam itu terselip ke arah Rei yang memperhatikan ekspresi tak terbaca di wajah Disha.
Bocah i***t.
Disha memejamkan mata sebentar lalu menghela nafas panjang, "gue kangen bakso Ujang jadinya." Ia menanggapi ucapan Alden.
Tatapan itu melembut dan kini menatap Disha di sampingnya, Alden memberikan cengiran bodoh khasnya. "Ujang udah punya anak dua sekarang." Ia tergelak.
Disha menatap Alden, tak percaya, "serius? Masih jualan bakso?" Suasana canggung meredup, meski Rei masih diam memperhatikan Disha dan Alden.
"Punya warung sendiri sekarang di depan SMK." Alden menjawab, cengirannya berubah menjadi senyum tipis, menampilkan lesung pipi yang begitu manis.
"Kapan coba bisa ke sana lagi?" Disha masih ingat bagaimana Ujang yang umurnya dua tahun diatas Disha berjualan bakso di kantin sekolah, sekarang tukang bakso favoritnya sudah sukses dengan warung bakso di depan sekolah.
Obrolan itu berhenti kala tiga mangkuk bakso sampai di depan mereka. Disha yang paling semangat makan, menjadi pusat perhatian Alden dan Rei. Lagi-lagi suasana mencekam merusak kenikmatan bakso yang dikunyah Disha, ia menatap sebal Rei dan Alden yang saling menusuk lagi dengan mata mereka. Sungguh, makan dengan mereka berdua membuatnya ingin sekali menusuk garpu ke bola mata sialan itu.
Disha menggebrak meja, tiga orang yang duduk di dekat mereka ikut kaget. Bodo amat, lama-lama minta ditempeleng mangkok kepala mereka berdua!
"Makan. Melotot lagi lo berdua, gue siram kuah bakso!" Ancam Disha yang menatap tajam Rei lalu Alden.
Hening, hanya suara kendaraan dan percakapan pengunjung lain bersama pemilik warung yang terdengar. Alden memperhatikan Rei, lalu Disha. Detik itu dia sadar bahwa Disha sebenarnya sangat tidak mau berada di dekat bule jepang itu. Alden memandangnya cukup lama, menangkap setiap lirikan Disha yang ditujukan pada Rei, bagaimana binar mata itu terlihat lebih terang saat Rei melahap bakso lalu menyeruput Es Jeruknya. Berteman dan mengekori Disha sejak kelas satu SMK membuat Alden dengan mudah menebak kecanggungan yang sedang merayap pada diri perempuan itu karena kehadiran si bule yang bernama Rei.
Alden mendorong mangkok yang masih menyisakan tiga potong bakso. Nafsu makannya hilang, melihat Disha sekarang jauh lebih menarik daripada bakso.
"Apa?" Disha melotot. Alden tergelak. Gantian Rei yang menatap Disha.
"Kalau gue masih suka sama lo, gimana, Dis?" Pertanyaan itu meluncur bebas dari bibir manis Alden yang ingin sekali Disha tusuk dengan garpu sekarang.
Lirikan tajam Rei pada Alden membuat bocah itu menampilkan seringai menyebalkannya. Disha tidak tahu harus bagaimana sekarang, di depannya, Rei diam dengan mata elang yang membuatnya bungkam sementara di sampingnya ada bocah sialan yang selalu saja bicara sembarangan. Disha mengangkat kepalanya yang sejak tadi mengarah ke mangkuk kosong miliknya. Sepasang mata cokelatnya bertemu dengan mata elang yang membius itu. Tidak ingin terkunci lebih lama, Disha memandang Alden yang dengan setia menonton adegan drama korea di depannya.
"Otak lo perlu direstart." Hanya itu dan Disha bangkit, membayar pesanan mereka lalu keluar lebih dulu.
Rei bangkit, menyusul Disha yang mulai menjauh tapi langkahnya tertunda karena Alden yang tiba-tiba berdiri di sampingnya. Bocah itu tanpa ragu menantang mata Rei.
"Gue penasaran, seberapa jauh lo bisa bertahan di samping Disha dengan kerasnya dia yang kayak gitu." Tatapan tajam Alden melemah, tergantikan dengan binar terang matanya seiring senyum yang terkembang. Alden menepuk pundak Rei lalu pergi ke pangkalan taksi tak jauh dari Rumah Sakit.
***
"Saya pergi makan dulu di depan."
Ucapan Rei beberapa menit lalu masih berputar dalam kepalanya. Setengah jam sebelum itu, Rei bilang akan keluar cari makan lalu membeli beberapa bungkus roti untuk Mita tapi tiba-tiba datang memberikan kantung plastik berisi roti, pergi lagi setelah mengatakan kalau dia akan makan di depan Rumah Sakit. Memang bukan urusannya mengetahui kenapa Rei bicara begitu, yang melesak ke dalam kepalanya sekarang adalah Disha yang berdiri di balik lalu pergi begitu saja tanpa masuk ke kamar.
Arbi masih terlelap dengan nafasnya yang begitu teratur kala Mita beranjak keluar dari kamar. Dia butuh udara segar dan sebentar lagi harus berangkat kuliah, kalau bukan karena kebaikan Pak Yunus, mungkin Mita tidak akan datang ke rumah sakit. Jangan lupakan juga tugas akhir yang menumpuk sebelum UAS sepuluh hari lagi.
"Mit, kamu mau pulang, kan? Masuk kuliah jam berapa?" Suara itu membuat Mita mengangkat kepalanya, memandang Disha yang berjalan menghampiri diikuti Rei di belakangnya. Oh, sama Disha.
"Saya mau pulang juga, ayo." Rei menyahut sebelum Disha sempat mengatakannya lebih dulu.
"Kamu nggak apa-apa jagain Arbi sendiri, Dis?" Mita melihat jelas bagaimana kusutnya Disha saat ini, entah karena apa.
Disha tersenyum sambil mengangguk, ia mengacak rambut Mita lalu melambaikan tangan, berjalan masuk ke kamar tempat Arbi dirawat. Tersisa Mita dengan jantungnya yang kacau dan Rei dengan senyum hangatnya. Laki-laki itu berjalan lebih dulu, Mita mengimbangi langkahnya di belakang. Mita bersumpah kalau jantungnya tidak pernah sekacau ini saat berdua dengan Rei, segalanya benar-benar berubah sejak hari itu.
"Kamu mau langsung ke kampus, Mit?" Tanya Rei yang kemudian menarik lengan Mita yang hampir melewati pintu basement.
Ia tersentak, lidahnya kelu beberapa detik dan terpaksa ia mengangguk.
Jangan, Mit. Kamu nggak suka dia, kamu lagi Solo Karir sekarang. Batinnya berteriak saat Rei menyalakan mesin mobil dan melaju keluar dari basement. Rei tak berubah, dia mulai membuka obrolan, senyum hangat dan gelak tawanya benar-benar mengacaukan pertahanan Mita. Empat puluh lima menit perjalanan dan Mita tidak ingat lagi apa yang dibicarakan Rei, dia hanya tahu laki-laki itu banyak tersenyum dibanding tertawa atau bercanda. Ada sesuatu yang menganggu laki-laki berambut cokelat itu saat ini ... mungkin Disha.
"Pulang jam berapa?" Tanya Rei sebelum Mita melangkah menjauhi mobilnya.
"Setengah sepuluh. Kenapa?" Sahut Mita sambil mengecek isi tas selempangnya.
"Saya juga mau balik ke rumah sakit jam segitu, mau saya jemput?" Seru Rei lagi.
Mita menatap laki-laki dengan mata segelap malam itu, ia menggeleng, "aku nggak ke rumah sakit lagi. Aku naik taksi aja nanti. Makasih, Rei." Ia pergi dengan senyum tipis.
Yamashita Rei, kamu benar-benar b******k.
***
Perempuan itu tertidur, kepalanya diletakkan di tepi brankar menghadap lengan Arbi sementara kedua tangan menggantung di dekat paha. Surai hitam itu menutup dahinya berantakan, Arbi diam, merasakan degup jantungnya yang kembali tenang setelah kaget melihat posisi tidur Dishha di sampingnya. Arbi bergeser, menurunkan bantal sejajar dengan wajah Disha lalu tidur menghadap perempuan itu, sengaja memberi jarak yang cukup dengan wajah polos Disha yang tidak terganggu sama sekali dengan kedatangan pasien bari di sebelah kanan brankar Arbi--untung saja tirainya ditutup saat ini.
"Gue ngapain, sih?" Gumam Arbi, ia kembali duduk dan membenarkan posisi bantal. Disha memang sumber kekacauannya belakangan ini.
Tirai yang mengelilingi brankarnya disibak oleh perawat, Ia membiarkan wanita dengan pakaian putih yang khas itu memeriksa dirinya. Cukup lama sampai ucapan selamat malam terdengar lalu ia kembali ditinggalkan bersama Disha. Infus di tangan kirinya sudah dilepas, Arbi turun dari brankar, memeriksa lemari kecil di sampingnya lalu mengambl kemeja yang tersimpan di sana, memakainya tepat saat Disha bergerak mengacak rambutnya, mengangkat kepala lalu membuka mata.
"Lo ngapain?" Disha bertanya, kaget melihat Arbi sudah berdiri mengancingkan kemejanya.
"Pulang." Jawaban singkat itu membuat Disha mengusap wajahnya yang masih dihinggapi kantuk luar biasa.
Arbi mengambil ponsel, dompet dan kunci mobilnya, berjalan keluar kamar tanpa mempedulikan Disha yang masih duduk dan tidak mengerti. Melewati koridor, Disha mengejar, berjalan di belakangnya lalu merampas kunci mobil yang ada di tangan kanan Arbi.
"Mau nebeng?" Tanya Arbi pada Disha, perempuan itu berjalan di sampingnya dengan wajah kusut ditambah mata merah karena bangun tidur.
"Gue wali lo selama dirawat tadi." Sahut Disha.
"Terima kasih sudah bertanggung jawab." Arbi merebut kembali kunci mobilnya, berjalan lebih cepat dari Disha.
Disha tidak tahu setan apa yang merasuki Arbi sekarang tapi sikap tetangga sekaligus rekan kerjanya itu benar-benar menyebalkan setengah modar. Baru saja keluar dari pintu utama, Disha menyeret Arbi ke halaman parkir di depang gedung Poliklinik lalu berhenti di samping Toyota Vios Merah milik Arbi itu. Diambilnya kunci mobil dari tangan Arbi lalu didorongnya laki-laki itu ke pintu depan sebelah kiri, Arbi mendecak sebal saat ia dipaksa masuk ke mobil dan duduk di kursi samping supir. Disha membungkuk, memasang seatbelt untuk laki-laki yang kini sedang berusaha mengatur detak jantungnya.
Jarak wajah mereka hanya beberapa centi saat Disha menarik dirinya, perempuan itu menatap kesal Arbi lalu berdiri tegak, menutup pintu mobil sebelum ia berjalan memutar lalu duduk di balik kemudi.
"Kenapa pulang sekarang?" Tanya Disha setelah menyalakan mesin, mempercepat laju mobil meninggalkan parkiran.
Gue benci rumah sakit. Jawaban itu tidak keluar dari bibirnya, Arbi diam, memejamkan mata sambil menyandarkan kepala ke jendela. Berharap pusing dikepalanya cepat hilang dan rasa mual karena bau rumah sakit yang melekat pada tubuhnya juga segera berbaur dengan wangi mobilnya sendiri.
***