Lantai 1 | Episode 16

1644 Kata
Jurnal Internasional. Nggak perlu di translate dan langsung buat analisisnya. Tuhan, kenapa jadi banyak banget gini? Mita menghela nafas panjang. Ia menuruni tangga menuju lantai satu, jemarinya sibuk menjelajahi benda tipis digenggaman—memesan ojek online adalah jalan terbaik hari ini karena dia tidak membawa motor ... dan dijemput Rei ke rumah sakit tadi. Rei lagi. Otaknya perlu istirahat dari nama Rei, sejak pengakuan Rei pada Disha yang tidak secara gamblang, nama laki-laki kelahiran Osaka itu jadi berlarian dalam kepalanya. Ia berdiri di trotoar, matanya masih terfokus pada layar ponsel sampai klakson dari motor yang berhenti di dekatnya terdengar. Baru saja membuka mulut ingin bertanya apa driver itu yang menerima orderannya, laki-laki dengan kamera lomo tergantung di leher dan ransel menggantung sembarangan di bahu sudah duduk membonceng di belakang sang driver. "Saya terima orderan dari Mbak yang namanya Ayudia, Mas." Driver itu menaikkan kaca helm. "Saya juga order, nanti tukeran sama temennya aja, Mas. Buru-buru ini." Laki-laki itu sibuk mengecek isi ransel sambil duduk di belakang. "Itu drivernya jemput saya. Jangan main serobot gitu, dong! Nggak pernah naik ojek online, ya?" Seru Mita mendekat. Laki-laki itu menatapnya, mendecak sebal lalu turun, "ya udah, naik, jangan main handphone aja di jalan. Yang buru-buru bukan cuma lo!" Mita mengabaikan seruan laki-laki dengan piercing di kedua telinga itu. Ia segera memakai helm yang diberikan drivernya lalu duduk membonceng di belakang. Insiden menyebalkan itu menambah anjlok moodnya saat ini. Motor melaju, melewati kemacetan panjang yang selalu menghiasi kota Surabaya, tak jauh berbeda dengan Jakarta. Motor berhenti di dekat trotoar di depan deretan gedung Surabaya Townhouse. Mita turun melepas helm, membayar ongkosnya dengan uang pas. Langkahnya semakin pelan saat mobil Arbi menepi lalu behenti beberapa meter di depan. Disha keluar dari mobil, diikuti pintu mobil depan sebelah kiri yang terbuka dan Arbi muncul dengan wajah pucatnya. Belum sempat bertanya, pintu rumah Rei terbuka, laki-laki jangkung berambut cokelat itu keluar dengan tatapan penuh tanya sementara Arbi hanya melambaikan tangan lalu masuk ke rumahnya, mengabaikan omelan Disha yang terpaksa masuk lagi ke mobil untuk parkir di garasi belakang. "Bi!" Teriak Rei sambil mengetuk pintu. "Gue mau istirahat." Sahut Arbi dari dalam, membuat Mita dan Rei yang berdiri di depan pintu saling pandang lalu mundur. Rei kembali ke rumahnya sementara Mita menunggu Disha. Perempuan tampan yang rambutnya sudah berubah menjadi cokelat gelap itu kembali dengn ransel terhantung di bahu serta jaket yang ia jinjing di tangan kanan. "Kenapa dia pulang? Harusnya, kan, besok?" Mita bertanya, berjalan di samping Disha. Disha menggeleng, "badannya masih panas tapi perawatnya bilang kalau mau pulang nanti dikasih obat, jadi rawat jalan." Mita mendecak sebal, "dia, tuh, selalu gitu. Dulu juga pulang padahal harusnya masih dirawat sampai infus habis. Sampai bener-bener pulih, tapi dia ngeyel minta pulang." Keduanya berhenti di depan pintu masing-masing, Disha bersandar di samping pintunya, "dia bener trauma parah sama kecelakaan?" Tanyanya pada Mita yang sibuk membuka kunci pintu. Mita berbalik setelah bunyi klik dari kunci terdengar, "iya, dulu dia lewat di lokasi kecelakaan terus mobil yang kecelakaan tunggal dan nabrak pembatas itu ringsek parah banget. Dia lihat dan dia panik setengah mati telepon Rei. Aku sama Rei jemput dia." "Kamu udah makan?" Mita bertanya, Disha mengangguk lalu tersenyum saat Mita melambaikan tangan sebelum masuk dan menutup pintu rumah. Belum. Bakso yang gue makan tadi nggak jadi daging.  Ia masuk ke rumahnya, meletakkan ransel di sofa lalu membongkar isinya. Kantung plastik putih berisi dua bungkus obat dan satu plester penurun panas untuk orang dewasa diletakkannya di meja kopi lalu beranjak ke dapur. Arbi tanggung jawabnya saat ini, laki-laki itu ngotot pulang padahal suhu tubuhnya masih cukup tinggi, bersyukur Disha masih punya belas kasihan padanya. Tunggu, memangnya apa yang bikin gue nggak suka dia selama ini?  Disha menggelengkan kepala, membuang jauh-jauh semua pertanyaannya tentang Arbi, dia harus memasak Sup untuk laki-laki itu lalu menghubungi Jonathan yang mungkin lembur di kantor sekarang. Hidup sendiri selama hampir tiga tahun membuat sisi tomboynya berkurang saat berada di dapur. Bagaimanapun juga, dia tetaplah perempuan yang punya kewajiban memasak terutama saat tinggal sendiri. Jangan lupakan juga soal dia harus ekstra hemat bulan ini. Untung saja ada bahan makanan yang cukup di dalam kulkas mininya. Sup Krim Makaroni adalah masakan paling cepat yang bisa dia buat. Dimasukkannya sup ke dalam rantang lalu diletakkan di meja kopi, bersebelahan dengan obat dari rumah sakit. Disha menyambar handuk dari rak cucian kecil di samping pintu kamar mandi. Kebiasaan buruknya yang tak pernah hilang sejak tinggal sendirian adalah menyalakan shower lalu mandi tanpa menutup pintu. Disha membilas tubuhnya yang dipenuhi sabun. Seperti biasa, dia keluar dengan celana pendek dan sport bra sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Ponselnya berdering, nama Jonathan muncul di layar. "Iya, Nat?" Disha menjawab panggilan telepon Jonathan, dilihatnya jam dinding di atas televisi yang menunjukkan pukul sepuluh kurang sepuluh menit, "iya, gue nyusul abis ini. Lo doang di kantor?" Dijepitnya ponsel di antara pundak dan telinga agar kedua tangannya bebas mengambil ransel di sofa. Laptop, adapter, charger ponsel dan notebooknya kembali masuk ke ransel hitam keluaran Menboson itu. "Aris? Bukannya dia nggak masuk tim?" Disha memasukkan bantal leher lalu menutup ransel, "iya, gue ke sana sekarang." Sambungan telepon diputus oleh Jonathan, Disha buru-buru menyandang ransel, membawa obat dan rantangnya keluar dari rumah. Ia menuruni tangga, lembur adalah jam bebas dan Disha memakai sandal jepitnya kali ini. Pintu kamar Arbi dibukanya tanpa permisi, laki-laki yang ternyata berbaring di sofa itu tidak melayangkan protes seperti biasanya, hanya memperhatikan Disha yang masuk ke dapur lalu suara berisik terdengar, perempuan itu keluar dengan semangkuk Sup dan bungkusan obat. Arbi bangkit, kabur ke kamar sebelum ia dipaksa minum obat tak berguna itu. Disha menarik lengan Arbi yang selangkah lagi masuk ke kamarnya, "makan dulu, minum obat. Gara-gara lo, gue lembur malem ini." Disha menyeret Arbi duduk di sofa, tapi kemudian tangannya disentak. "Perhatian banget lo, udah mulai tahu pesona gue sekarang?" Sahut Arbi dengan seringai menyebalkannya. Disha menggeplak dahi Arbi, "sialan!" Laki-laki itu meringis, memegangi dahinya yang lumayan sakit. Tangannya meraba plester penurun panas yang ternyata ditempelkan Disha di sana. Perempuan itu tidak mengatakan apapun, hanya melambaikan tangan lalu keluar dari kamar. *** Disha mengusap wajahnya, melalui kaca hitam itu dia melihat Jonathan yang tertidur dalam posisi kepala bersandar di sandaran kursi sementara proses rendering baru berjalan seperempat. Dua video profil harus jadi besok pagi dan Disha baru setengah jadi padahal jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Ia bersandar, menatap langit-langit kubikel dengan ventilasi itu. Dering pendek dari ponselnya mengacaukan segala lamunan yang mengambil alih pikirannya. Nama Alden tertulis di notifikasi pesan w******p yang masuk. Alden : Sleeping already? Disha tersenyum tipis, menggeser pesan itu lalu menekan ikon Reply. Ia membuka ruang obrolannya dengan Alden lalu mengetikkan balasan. Lg lembur. Lo sndri? •  Sent. • Mikirin lo. Tai. • Sent. • Cokelat atau kuning encer? Disha tergelak, Alden memang selalu berhasil menaikkan moodnya yang sempat kacau karena pekerjaan Editing yang jarang disentuhnya karena dia bukan bagian dari Bagian Vidgraph. Suka-suka lo, Den. •  Sent. Baru saja benda tipis itu diletakkannya, dering telepon terdengar dan nama Alden tercetak di layar. Disha menggeser ikon answer lalu memasang earhook sementara tangan kanannya kembali bermain dengan mouse. "Kenapa telepon?" Tanya Disha begitu suara tawa Alden terdengar. "Butuh kopi, nggak?" Sesekali suara kendaraan terdengar, bocah itu sepertinya sedang di jalan. "Belum ngopi, sih, mau nganterin kopi?" Disha sibuk memilih potongan video. "Gue di depan kantor lo, Dis, buruan keluar. Mumpung kedai kopi di deket kontrakan gue masih buka." Mendengar jawaban Alden, Disha buru-buru menyimpan pekerjaannya lalu menyambar jaket dan berlari ke lantai satu, melesat secepat kilat sampai ke gerbang. Alden melambaikan tangan dari seberang jalan, berdiri memegang ponsel yang menempel di telinga. Jalanan tidak terlalu ramai, Disha menyeberang lalu menangkap helm yang dilempar Alden, Adik kelasnya yang paling setia itu memakai helm lalu menyalakan mesin motor matic entah milik siapa karena seingat Disha, Alden lebih mencintai Ninja dibanding motor matic keluaran Honda yang sekarang ditumpanginya. Disha tidak tahu kalau ternyata kedai kopi yang dimaksud adalah kedai kopi langganannya bersama Banu kalau sedang butuh kafein tingkat dewa. Ia melepas helm, meletakkannya di atas jok motor lalu mengikuti Alden masuk ke kedai, meja sudut menjadi pilihan keduanya. "Latte Macchiato sama Espresso Macchiato." Alden tersenyum pada pelayan cafe dengan poloshirt putih itu. Pesanannya dicatat, dengan ramah pelayan itu meminta mereka menunggu sebelum kembali ke kasir. Hening, Disha sibuk mengirim pesan w******p pada Jonathan, memberitahu kalau dia harus keluar sebentar. Ia meletakkan ponselnya kemudian, membalas tatapan Alden yang kini tersenyum. "Kenapa?" Tanya Disha. "Gue penasaran, udah berapa cowok yang nyerah sama lo, Dis." Alden menautkan kedua tangan di atas meja, masih dengan senyum yang memabukkan bagi para perempuan seumurannya itu. "Lo ngajak ngopi cuman buat ngomong begini?" Disha mendengus. Alden menggeleng, menyandarkan punggung, "gue mau berterima kasih." "Untuk?" "Untuk tetep temenan sama gue." "Gue harus terharu, nih?" Disha tersenyum, ia sudah menebak apa yang akan dikatakan Alden setelah ini. "Lo harus mulai buka hati, walaupun bukan gue, seenggaknya lo harus buka hati untuk orang yang bener-bener tulus sama lo, Dis." Tidak ada ekspresi kecewa di wajah Alden kali ini, tidak ada helaan nafas panjang atau suara yang meninggi saat bertanya 'kenapa?'. Disha mendecak sebal, "dari dulu jawaban gue sama. Laki-laki nggak bisa dipercaya." "Gue masih hafal," Alden menghirup oksigen dalam-dalam, "orang yang paling lo percaya aja mengkhianati lo, untuk apa meletakkan label percaya kalau ternyata semua laki-laki sama bahkan Ayah sendiri?" Alden masih hafal setiap kata yang meluncur dari bibir merah muda Disha kalau sudah membicarakan tentang hati. Disha tergelak, Alden sudah begit mengenal dirinya. Meski tidak banyak, tapi bocah itu masih setia menjadi penjaga beberapa rahasianya, menjadi sosok yang dia jadikan pegangan terakhir ketika tidak ada lagi tiang untuknya berpegangan agar tidak terjatuh kesekian kali. "Apa alasan sebenarnya?" Alden serius, mata cokelat yang sama terangnya dengan milik Disha itu berhasil menangkap dan mengunci cukup lama. "Apa alasannya, Dis?" Benar, apa alasannya? Kenapa gue nggak bisa percaya siapapun? Kenapa gue nggak pernah membuka hati untuk siapapun, bahkan untuk keluarga gue sendiri. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN