Lantai 1 | Episode 17

1454 Kata
Dering ponsel memekakkan telinga, ia menggeram, mengacak rambut lalu duduk. Iris cokelat muda itu akhirnya terlihat, ia menyipit menyesuaikan cahaya yang ditangkapnya. Pandanganya menyapu ruangan, ia mengerjap beberapa kali sampai akhirnya sadar kalau ia tertidur di sofa panjang milik Pantry di lantai satu. Disha mengacak rambutnya sekali lagi, baru ingat kalau semalam setelah pergi ke kedai kopi bersama Alden, ia kembali ke kantor, menyelesaikan pekerjaan lalu istirahat di Pantry. Pintu ruangan itu dibuka, Disha mengangkat kepalanya yang tertunduk, menemukan Tika berdiri di ambang pintu dengan tatapan ularnya. Karyawan bagian Administrasi itu memang feminim luar biasa, sayangnya, make up tebal yang menghias wajahnya membuat beberapa karyawan perempuan dari produksi dan Design memberinya julukan Ratu Ular--genit bukan main. "Saya kira kamu tidur sama Jonathan di kantor Video. Kan, ada sofa juga di sana." Tika menyeringai menyebalkan sambil berjalan ke rak piring. "Mulut lo." Disha menatap kesal lalu bangkit. "Saya curiga penampilan kamu cuma kedok supaya nggak ketahuan kalau lagi cari mangsa di kantor." Tika melirik Disha yang tidak melanjutkan langkah keluar ruangan. "Bukannya elo yang lagi cari mangsa? Siapa tahu bisa jadi selingkuhan Bos?" Sahut Disha dengan senyum tipisnya sebelum meninggalkan Tika yang mengeluarkan sumpah serapahnya. Disha kembali ke kantor video di lantai dua, Jonathan sudah membereskan laptopnya ke dalam ransel. Pekerjaan mereka selesai, mereka bisa pulang dan kembali ke kantor setelah makan siang—keistimewaan karyawan yang lembur. Jonathan menepuk pundak Disha lalu keluar dari ruangan. Disha memasukkan semua barangnya ke dalam ransel, mengambil kunci sepedanya di saku jaket lalu menyandang ransel keluar ruangan. Jam ponselnya baru menunjuk angka tujuh, ia menyapa dua karyawan administrasi yang lebih senior dari Tika, tentu saja lebih ramah dan menyenangkan dari Ular berbisa itu. Matanya sempat menangkap Toyota Vios merah yang masuk ke slot parkir tak jauh dari sepedanya terparkir. Disha menghela nafas lalu berjalan ke sepedanya, ia meninggalkan halaman parkir saat Arbi turun dari mobil dengan ransel hitam yang mirip dengan milik Rei. Kenapa jadi Rei? Polygon Hitam dengan warna biru di beberapa bagian itu berbelok ke jalur sepeda, deretan rumah Surabaya Townhouse mulai terlihat. Disha menekan rem di tangan kanannya peralahan lalu berbelok masuk ke garasi di belakang gedung Townhousenya. Rolling door garasi ternyata terbuka saat Disha berhenti, turun lalu mendorong sepedanya masuk. Rei di sana, sibuk memasukkan beberapa box ke dalam bagasi mobil. Kenapa harus ketemu dia lagi? Disha mengunci sepedanya, berjalan sepelan mungkin keluar dari garasi tapi tersentak begitu Rei memanggilnya. "Disha?" Rei menatap Disha yang berbalik dengan cengiran bodohnya. "Eh, aku," Disha menggeleng, "gue nggak lihat lo, tumben pagi-pagi udah di garasi?" Disha berbasa-basi ria, berusaha mengusir kecanggungannya jauh-jauh. "Mau nganter barang teman saya ke Malang." Rei melirik box yang bertumpuk di bagasinya. "Oh, ya udah lanjutin, gue duluan." Disha tersenyum seramah mungkin, berjalan meninggalkan garasi. Hela nafas leganya terdengar saat naik ke lantai dua, ia berhenti di depan pintu, memasukkan anak kunci lalu memutarnya sampai dua kali bunyi klik terdengar. Baru saja melangkah melewati ambang pintu, suara pintu terbuka membuat Disha menoleh. Mita keluar dari rumah dengan dua plastik sampah miliknya. "Baru pulang?" Sapa Mita. Disha mengangguk. Mita berlalu, Disha menutup pintu rumahnya lalu meletakkan ransel di atas meja kopi sementara tubuhnya sudah terbaring di sofa panjang ruang tengah tersebut. Ia butuh tidur, matanya masih terasa berat. "Saya curiga penampilan kamu cuma kedok supaya nggak ketahuan kalau lagi cari mangsa di kantor." Kalimat itu melesak masuk ke dalam kepalanya. Mengingatkannya pada kalimat terakhir Nanda, adik pertamanya. "Mbak kenapa nggak pulang? Aku malu sama temen-temen karena mereka bilang Mbak Disha hamil makanya kabur ke Jogja. Mbak Disha ngelacur di sana?" Sesak, mengingat ucapan adiknya di telepon itu membuat dadanya terasa kembali dihantam balok kayu. Kekacauan dalam keluarganya membuat Nanda sama tidak percayanya dengan Disha, gadis yang belum genap lima belas tahun itu tidak pernah takut pada Disha, berbicara seenaknya, tanpa sopan santun dan lebih suka jika Disha tidak pernah lagi menghubunginya dan sekarang Disha harus mengirim uang ke rekening adiknya, dia bertanggung jawab untuk membantu keuangan keluarganya walau harus lewat Nanda. Disha masih ingat bagaimana ia dilarikan ke rumah sakit karena hidung yang bocor akibat pukulan Ayahnya, ia masih bisa mengingat tangis histeris Ibunya yang berusaha menghentikan Ayah tiri mengerikan itu. Kepingan masa lalu mengerikan itu berterbangan bagai debu, menghilang seiring dengan kesadarannya yang direnggut sementara. *** "Tolong terima Ayah kamu, Dis." Ia tersentak bangun, suara Ibunya berhasil membuat kepalanya diserang sakit luar biasa saat duduk. Cukup lama Disha terdiam sampai ponselnya berdering dengan nama Banu tercetak di layar. Disha menggeser ikon answer berwarna hijau lalu menempelka benda tipis keluaran Samsung itu ke teliga. "Iya, Nu?" Disha bangkit, ke dapur membuka kulkas mini lalu mengambil kotak jus instant ukuran besar, meletakkannya di meja makan. "Ya udah, gue berangkat jam dua aja nanti, sekalian." Disha menuang jusnya memenuhi gelas. Disha menjawab dengan gumaman beberapa kali lalu memutus sambungan telepon. Helaan nafasnya terdengar sebelum jus jeruk instant itu mengalir di tenggorokan, pikirannya masih melayang jauh pada semua kenangan yang tak pernah ia sentuh sampai telepon dari Ibundanya waktu itu menjatuhkan dirinya—sejatuh-jatuhnya. Disha meneguk habis sisa jus dalam gelasnya lalu mencari nomor kontak Nanda, dia harus meminta nomor rekening Adiknya itu untuk mengirim uang bulanan. Tiga kali nada sambung dan suara cempreng adiknya terdengar. "Siapa?" Pertanyaan itu mengingatkan Disha kalau dia tidak pernah menghubungi Adiknya sejak setengah tahun tinggal di Jogja. "Mbak Disha." Jawaban Disha tidak mendapat kata sambutan apapun. Lebih dari satu menit Nanda diam dan Disha menunggu. Keduanya tidak berniat membuka obrolan lebih dulu, dinding pembatas diantara mereka begitu tebal dan tinggi, memperjelas bagaimana hancurnya keluarga mereka. Disha mengacak rambutnya frustasi, ia harus bicara secepat mungkin, suasananya benar-benar menambah kacau dirinya saat ini. "Kirimin nomor rekening tabunganmu, jangan kasih tahu Ayah sama Bunda kalau Mbak ngirim uang ke kamu. Pakai uangnya untuk keperluan sekolah kamu, termasuk biaya sekolah kamu dan Hisha. Mbak bakal kirim tiap bulan." Disha menjelaskan tanpa bertanya kabar dan b*****h lainnya. "Bahkan kamu nggak berniat menjelaskan apapun sama aku, Mbak." Suara Adiknya meruntuhkan pertahanan yang Disha bangun jauh sebelum ia menelepon Nanda. Sesuatu memberontak dalam dirinya, Disha tak bisa menahan terlalu lama. Belum sempat ia bicara, sambungan telepon diputus oleh Nanda. Kali ini bukan ponsel yang menghantam dinding ruangan itu melainkan kepalan tangannya. Lekuk jarinya mulai memerah, nafasnya memburu menahan amarah yang entah sejak kapan menguasai. Sekali lagi kepalan tangannya menghantam dinding, menimbulkan sensasi perih dan nyeri bersamaan yang tidak bisa mengalahkan seberapa bencinya Disha pada keadaannya saat ini. Pukulan terakhir, kepalan tangan itu mulai melonggar, gemetar dan mengalirkan darah akibat terlalu keras menghantam tembok. Disha melempar ponsel ke sofa, mengatur nafasnya yang masih memburu karena emosi yang sudah naik ke ubun-ubun. Frananda Oriana tidak tahu seberapa bencinya Disha pada Ayah Tirinya. Adik yang menjadi saksi bagaimana Disha dihajar sampai bocor itu tidak tahu seberapa benci sang Ayah pada dirinya. Kebencian itu semakin membunuh keduanya, membunuh Disha, memaksanya pergi dan melangkah lebih jauh, berharap kepergiannya bisa membuat keluarga itu tidak lagi diselimuti pertengkaran. Disha mencintai mereka, Bunda, Hisha bahkan Nanda, hal yang paling tak bisa dilihatnya adalah ketiga orang paling berharga dalam hidupnya itu melihat dirinya tergeletak dengan darah mengucur dari hidung serta lebam keunguan memenuhi punggungnya. "Aku lahir dari rahim yang sama dengan Raga!" Teriakan itu menggema dalam ruang kepalanya. Teriakan itu terdengar tiga detik sebelum pukulan keras menghantam hidungnya kala itu. Lututnya lemas, Disha jatuh ke sofa, nafasnya kembali memburu mengingat semua perlakuan Adrian padanya. "Aku, Nanda dan Hisha lahir dari rahim yang sama dengan Raga Danadyaksa!" Disha memejamkan mata begitu bayangan dirinya jatuh ke lantai, darah mengalir deras dari hidung. Kepalanya berdenyut hebat saat itu, melihat kondisi Disha, Ibundanya berteriak dan menghentikan ledakan emosi sang suami yang bisa saja merenggut nyawa Disha. Disha tidak pernah melawan. Seberapa kuat pukulan yang diberikan Adrian, Disha tidak melawan. Bagaimanapun juga, Ibundanya berhak bahagia, pilihan itu jatuh pada Adrian dan Disha tidak menyalahkan siapapun. Disha dan Adrian memang saling melempar kebencian tapi Disha tetaplah seorang anak yang berbakti pada orang tuanya, pada Adrian. Disha memperhatikan tangan kanannya, lekuk jemarinya lecet, darah mengering di sana bersama lebam keunguan yang mulai terlihat. Jam dinding ruang tengah menunjukkan pukul satu siang, ia baru sadar kalau perutnya sudah dipenuhi gembel yang berteriak minta makan. Mandi adalah hal pertama yang dilakukannya, rambut cokelat yang basah itu dikeringkan seadanya dengan handuk lalu buru-buru dia memakai kaos lengan panjang berwarna putih di bagian badan dan biru tua di kedua lengan. Mengganti celana pendeknya dengan jeans hitam lalu mengecek kembali isi ransel sebelum meninggalkan rumah. "Disha tangan kamu!" Seruan itu menghentikan langkah Disha menuruni tangga, Mita menyusul, menarik tangan kanan Disha dan kaget setengah mati melihat kondisi tangan tetangga yang sudah menjadi sahabatnya tersebut. Disha menarik tangannya, menyembunyikannya di saku celana lalu memberikan cengiran khasnya, "aku buru-buru ke kantor. Duluan, ya!" Disha mundur, melambaikan tangan lalu berjalan cepat menyusuri trotoar. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN