"Good job, Dish. Nanti ikut makan malam sama saya, Dewa dan Hanum, ya?" Pak Risaq berjalan di depan sementara Disha di belakang meringis merasakan tangan kanannya yang berdenyut karena luka dan emar hang belum diobati itu.
"Saya nggak tahu bisa atau enggak, Pak." Jawab Disha hati-hati.
"Kabari saya sebelum jam tujuh." Pak Risaq menepuk pundak Disha lalu kembali ke ruangannya.
Tidak tahan dengan denyut nyeri serta perih di tangan kanannya, Disha pergi ke Pantry. Diambilnya serbet di atas meja, mengeluarkan tiga es batu dari kulkas lalu menggulungnya ke dalam serbet. Sensasi dingin dan nyeri menyerang punggung tangannya sampai ke jari saat dikompres. Disha bersandar di samping kulkas, dilepasnya kompresan setelah perih dan nyeri di tangannya tidak terlalu terasa seperti tadi. Pandangannya beralih ke pintu yang dibuka, Arbi muncul dengan bolpoin terselip di telinga, sebungkus Good Day dijepit dengan bibirnya sementara tangan sibuk dengan ponsel. Laki-laki itu berhenti di dekat Disha, pandangan keduanya beradu beberapa detik sebelum Arbi menangkap lekuk jemari di tangan kanan Disha lecet dan memar.
"Apa?" Disha menurunkan kedua tangan, menyembunyikan tangan kanannya di saku celana, perih kembali terasa saat jemarinya bergesekan dengan jeans.
Arbi meletakkan ponsel dan Good Daynya di atas meja lalu menarik tangan kanan Disha secara paksa. Disha berusaha melepaskan tangannya, tapi Arbi melotot dan mendecak kesal.
"Lo mukul cermin? Atau tembok?" Arbi meraba luka di jemari Disha, ia menatap mata Disha seiring dengan seringai menyebalkan yang muncul.
"Aak! Sakit g****k!" Disha mendorong kening Arbi setelah laki-laki itu memukul luka dan memar di jari Disha.
Arbi mengambil kotak P3K. Ia kembali menarik tangan Disha, mengoles salep lalu menutup luka di jari telunjuk dan jari tengah Disha dengan plaster kecil. Tidak ada ucapan terima kasih, Arbi mengembalikan kotak P3K dan mulai sibuk menyeduh Good Day yang tadi dibawanya.
"Lo ngapain mukul tembok? Kalau mau belajar boxing, gue ada temen yang jadi pelatih di Sasana. Nggak jauh dari rumah." Arbi membuka obrolan sambil membawa cangkirnya duduk di depan meja Pantry.
"Gue nggak perlu latihan." Sahut Disha sambil berjalan keluar Pantry.
Arbi hanya diam, memperhatikan perempuan tampan itu lenyap di balik pintu. Dia tidak tahu apa yang terjadi pada Disha sampai tangannya seperti, yang dia tahu, Disha mengingatkannya pada dirinya sendiri. Pada sisi gelap dirinya yang sudah lama tak muncul mengambil alih.
***
Rintik hujan yang sore tadi menyapa kota Surabaya sudah tak terlihat. Disha memutar kursi menghadap jendela besar di belakangnya, matahari sudah turun, meninggalkan semburat oranye yang beradu dengan sisa awan kelabu. Tidak ada lembur, pekerjaannya sudah beres tapi kakinya terasa berat meninggalkan kantor bagian Desain berdinding kaca itu. Disha kembali memutar kursi menghadap meja begitu suara pintu ruangan dibuka terdnegar, Dewa muncul disusul Pak Risaq dan Hanum yang melewati koridor di depan.
"Kamu nggak ikut?" Dewa bertanya, memastikan kalau Disha benar-benar menolak ikut makan malam dengan dua Bos tadi.
Disha menggeleng, "lain kali aja. Baik-baik sama si Bos, Mas." Disha melambaikan tangan setelah Dewa mengangguk lalu meninggalkan ruangan menyusul Pak Risaq dan Hanum.
Jam ponselnya hampir menunjuk angka enam, istirahat di rumah mungkin bisa menenangkan dirinya yang masih cukup berantakan. Disha membereskan barang-barangnya ke dalam ransel, meninggalkan ruangan setelah mematikan lampu. Langkahnya berat menuruni tangga, pikirannya masih terjebak pada segala kenangan sialan tentang keluarganya, tentang betapa hancur kondisi keluarganya kala itu. Melewati pintu depan gedung, tudung hoodienya dinaikkan menutupi kepala oleh ... Arbi.
"Apa, sih, lo?" Disha mendengus melihat Arbi berjalan di depannya.
"Makan gratis ke Sisterfields." Arbi memberikan cengiran lebarnya sambil berjalan mundur.
"Nggak bisa, ya, lo makan sendiri?" Sahut Disha memperhatikan Arbi yang masih berjalan mundur, menghadapnya.
"Bisa, lo sendiri nggak mau makan gratis?" Arbi balik bertanya.
"Sialan." Disha tergelak lalu berjalan mendahului Arbi.
Seperti biasa, Disha duduk memperhatikan jalanan yang mereka lewati sementara Arbi fokus menyetir. Arbi kembali dengan dirinya, bersikap seenaknya tanpa mempedulikan reaksi orang lain. Jauh dari sosok Arbi yang dilihat Disha kemarin, begitu kontras. Laki-laki tengil seperti Arbi trauma berat pada kecelakaan mobil dan entah apa yang menjadi penyebabnya. Arbi terjebak di sana bersama ketakutan luar biasa yang mungkin tak bisa dilawannya lagi.
"Lo nggak mau turun? Gue mau ganti baju dulu." Ucapan Arbi membuat Disha terhempas kembali dari lamunannya. Ia tersentak saat pandangannya beradu dengan si laki-laki blasteran Jepang di sebelahnya.
"Iya, turun." Disha buru-buru membuka pintu mobil, turun lalu berjalan cepat dan,
Bruk!
Disha meringis setelah menabrak seseorang di depan pintu gedung Townhousenya. Ia mendongak, mendapati jarak wajahnya dengan Rei yang menunduk memperhatikan, begitu dekat. Kebodohan lainnya di depan Rei dan mungkin juga Arbi, Disha bergeser dua langkah.
"Kamu nggak apa-apa?" Rei bertanya, menatap Disha yang matanya sibuk menghindar.
Sebelum kecanggungan menyapa mereka, Mita melambaikan tangan pada Disha sambil menuruni tangga, berhenti di depan pintu rumah Arbi. Perempuan itu sempat melirik Rei yang matanya enggan beranjak dari sosok Disha di dekatnya.
"Kamu pulang sama Arbi?" Mita bertanya, melongokkan kepala ke tempat Arbi memarkir mobil. Tak lama, Arbi turun dari mobil dengan ranselnya, berjalan mendekat dan berhenti di belakang Disha.
Buru-buru Mita mendorong Arbi menjauhi Rei dan Disha yang masih membeku dengan pikrian mereka, "bantuin gue ngerjain tugas. Kita duluan, Dis, Rei!" Seru Mita mendorong Arbi agar cepat membuka pintu.
Suara kunci terdengar lalu keduanya masuk ke rumah Arbi, pintu ditutup perlahan. Meninggalkan Disha bersama Rei di luar, diselimuti rasa canggung luar biasa yang Disha pikir tidak akan datang lagi. Baru saja membuka mulut berniat pamit untuk naik ke rumahnya, senyum Rei justru berhasil membuat Disha mengurungkan niat.
"Udah makan?" Pertanyaan Rei dijawab dengan gelengan oleh Disha. Dalam beberapa detik Disha sudah merutuki dirinya karena jawabannya sendiri itu.
"Kalau gitu, kita makan." Rei menarik tangan Disha, perempuan itu tak sempat menolak karena Rei sudah menariknya ke Honda CR-V putih yang terparkir beberapa meter di depan mobil Arbi.
Mereka berdua mendengarnya, Arbi yang membeku di dekat pintu sementara Mita yang duduk diam di sofa memperhatikan laptopnya. Tidak ada percakapan, hanya Arbi yang sibuk mengambil dua kaleng soft drink dan Mita yang mulai menyalakan laptop, menyusun lembaran Folio yang penuh dengan tulisan tangannya menggunakan pensil. Mita menghela nafas lalu mulai memberondong Arbi dengan beberap pertanyaan berkaitan dengan tugasnya. Tentu saja butuh usaha ekstra untuk membujuk Arbi membantunya, ditambah laki-laki itu sepertinya sedang kusut saat ini.
"Lo kerjain yang teori, dong, Bi. Daripada nganggur gitu." Mita protes melihat Arbi kembali dengan kaleng soft drink yang baru, yang ketiga.
"Gue cuman bantuin, nggak ngerjain yang teori." Arbi menyahut, mengambil gitar akustik ke kamarnya lalu kembali duduk di sofa ruang tengah sementara Mita sudah duduk di karpet dengan kertas dan buku catatan yang berserakan di dekat kakinya.
Mita diam, kembali fokus pada layar laptop. Petikan gitar menjadi musik pengiring saat ini, tak ada senandung dari Arbi, hanya suara gitar dan bunyik keyboard bersahutan. Petikan lembut berubah menjadi genjrengan asal-asalan, Arbi berdehem.
"Mas! Iku kolore pinten?" Arbi bernyanyi mengikuti genjrengan gitarnya, Mita menoleh, "selawe limo! Selawe limo! Selawe limoooo!"
Mita menggulung buku catatan di tangannya lalu memukul kepala Arbi, "Matane selawe limo!" Sahut Mita kesal setengah mati. Arbi memang begitu, suaranya luar biasa, sayangnya apa yang ia nyanyikan suka minta ditempeleng.
***
"Dimakan, Dis, bukan dipelototin." Rei mengingatkan. Disha tersenyum tipis lalu mengambil McSpicy Burger yang dipesan Rei beberapa menit lalu.
Sepanjang perjalanan tadi, Disha mendengarkan Rei yang sesekali menceritakan hal yang sebenarnya tidak berguna karena kecanggungan diantara mereka masih tetap ada. Ucapan Rei waktu itu masih menghantuinya, ditambah pengakuan Mita dan Alden yang mengingatkan Disha untuk membuka hatinya. Bukan hanya tentang cinta, tapi juga membuka hati untuk keluarganya, untuk mengalah dan memperbaiki segalanya, membangun kembali rasa percaya dalam dirinya yang entah sudah lenyap sejak kapan.
"Tangan kamu kenapa?" Rei berhasil menangkap plaster kecil di dua jemari Disha serta memar di tangannya.
"Oh, ini, nggak sengaja kejepit mesin fotocopy." Sejak kapan kantormu ada mesin fotocopynya, Dis?
Rei melahap kembali burgernya sampai gigitan terakhir lalu membersihkan mulut dengan tissue. Matanya tak berhenti memperhatikan Disha, perempuan itu lucu sekali saat sedang makan, terutama dengan burger di tangannya seperti itu. Kekehan Rei menghentikan Disha mengunyah potongan burger di mulutnya.
"Saya suka lihat kamu makan, Dis." Rei tergelak mendengar gumaman Disha padahal mulut perempuan itu penuh.
"Habisin, saya ke toilet dulu." Rei bangkit dengan senyum yang semakin manis--ah, tidak, maksudnya dengan senyum hangat seperti biasanya itu.
Disha menghabiskan burgernya, menyapu pandangannya ke sekitar dan berhenti pada satu arah. Matanya membulat sempurna, buru-buru Disha membalik tubuhnya membelakangi arah pandangannya barusan. Ngapain dia di sini?
Rei kembali setelah Disha meghabiskan minumannya lalu berdiri, "ayo pulang." Disha tersenyum sehangat mungkin, pergi begitu saja sebelum Rei sempat menahannya.
Tiba di halaman parkir, Disha bersandar pada kap mobil Rei. Mengatur nafasnya dan kembali memperhatikan meja yang berada di samping jendela, begitu jelas terlihat dari tempat mobil Rei diparkir. Laki-laki dengan denim pants selutut serta t-shirt dari brand distro terkenal di Bali itu asik makan dengan tangan kanan yang sibuk memainkan ponsel. Tepat saat Rei berjalan ke pintu keluar, laki-laki itu bangkit, matanya masih terpaku pada ponsel sampai ia bertabrakan dengan Rei. Disha menutup mulut dengan kedua tangan, tak percaya melihat orang yang paling dibencinya itu bertabrakan dengan Rei, membuat kaos lengan panjang yang dikenakan Rei kotor karena salah satu dari dua McFLurry di tangannya tumpah. Cukup lama dua orang itu berbicara di tengah tatapan pengunjung lain pada mereka, Rei tersenyum seperti biasanya lalu keluar dari Restaurant cepat saji itu dengan satu McFLurry yang tersisa di tangan kiri.
Disha tak bisa bertanya apapun, ia menerima McFLurry yang diberikan Rei, "yang satu lagi tumpah. Kamu makan yang itu aja." Rei tersenyum mengacak rambut Disha lalu masuk ke mobil lebih dulu. Disha masih diam, matanya memperhatikan Oreo McFlurry di tangannya lalu beralih pada laki-laki yang membuatnya kaget setengah mati tadi. Laki-laki itu tidak ada di sana, tidak ada di dalam Restaurant sampai suara motor terdengar dan tubuhnya ditarik mundur.
Ninja hitam melaju kencang keluar dari halaman parkir dan nyaris menyeremt Disha kalau saja Rei tidak menariknya.
"Why you stand here?" Suara Rei meninggi, ia menatap Disha yang menunduk memperhatikan cup McFlurry yang tadi di tangannya dan sekarang sudah jatuh mengenai sepatunya serta Rei.
Bajingan itu balas dendam?
***