Lantai 1 | Episode 19

1782 Kata
Sepanjang perjalanan pulang, Disha diam. Matanya terpaku pada Vans maroon yang dia kenakan dan basah karena McFlurry yang jatuh tadi, tak jauh berbeda dengan Converse Pro Leather milik Rei. Tidak, bukan karena canggung, justru suasana sialan itu sudah lenyap sejak beberapa menit lalu. Disha hanya berusaha menampar dirinya agar kembali sadar dan mengucapkan mantra ampuh bahwa 'semua pasti baik-baik saja'. b******n itu sudah cukup menambah daftar kekacauan hidup Disha setahun lalu, sekarang dia muncul, di Surabaya yang jaraknya tujuh jam empat puluh lima menit dari Yogyakarta. Helaan nafas Disha membuat Rei menoleh, mobilnya sudah berhenti beberapa meter dari garasi sejak lima menit lalu dan Disha masih melamun. Ia mengurungkan niat untuk bertanya saat Disha membuka pintu mobil, "makasih traktirannya, Rei," ujar Disha dengan senyum yang begitu dipaksakan sebelum turun. Rei memperhatikan langkah gontai Disha melalui kaca spion tengah mobilnya, perempuan itu menendang kaleng kosong di depannya lalu menghilang dibalik tembok. "Apa yang salah?" Gumam Rei sambil menyandarkan kepala lalu memejamkan mata. Sia-sia dia pulang lebih awal dari Malang kalau sudah begini. *** Henry Adikha Santoso. Nama itu mengusik Disha sepanjang hari, beruntung pekerjaannya tidak banyak dan bisa pulang tepat waktu di hari Sabtu ini. Sepedanya sengaja ia tinggalkan di garasi belakang rumah karena berjalan kaki di hari Sabtu bisa menenangkan otaknya yang sedang kacau. Benar, otaknya kacau beberapa hari ini, meski tidak separah saat ia bermasalah dengan Adiknya, tetap saja kehadiran b******n itu menganggunya. Disandangnya ransel keluar dari ruangan. "Disha." Langkahnya terhenti, suara yang tidak asing itu membuat jantuknya berhenti sedetik sebelum dihempas kembali dalam lingkup cemas yang entah sejak kapan mengelilingi dirinya. Bayangan laki-laki chinese dengan mata yang begitu indah melesak masuk ke kepalanya. Setahun lalu, dia meninggalkan laki-laki bermata indah itu, meninggalkan si b******k yang menipunya, si b******k b******n yang mengacaukan hidupnya untuk kedua kali setelah keluarganya sendiri. Disha tersentak, menjauh saat pundaknya ditepuk oleh ... Arbi. "Tumben lo kaget?" Arbi mensejajarkan dirinya di samping Disha yang masih berusaha mengatur detak jantungnya agar kembali normal. Disha enggan menjawab, ia kembali berjalan, mengabaikan Arbi yang mengekor di belakang dengan ransel menggantung di punggung serta adidas cap putih yang menutup kepalanya. Arbi memperhatikan Disha dari belakang, perempuan itu tidak protes sampai mereka keluar dari kantor, tidak seperti Disha yang biasanya. Belum sempat bertanya, Ninja hitam menepi saat Disha dan Arbi berjalan menyusuri trotoar. Sekali lagi Arbi menangkap ekspresi kaget Disha, mata perempuan itu tertuju pada si pemilik Ninja Hitam yang turun lalu melepas helmnya, tersenyum ramah pada Disha. "Hai, Dis! Ketemu lagi." Sapaan itu tidak membuat ekspresi Disha berubah, perempuan itu justru mundur selangkah untuk menjaga jarak. Arbi menatap Disha dan si laki-laki pemilik Ninja bergantian. Sadar bahwa Disha tidak sendiri, laki-laki menatap Arbi, senyum merendahkan itu membuat Arbi memutar otaknya, mencari alasan tepat kenapa Disha kaget lalu mundur serta kenapa si b******k sok gaya itu tersenyum merendahkan padanya. "Aku nggak nyangka, secepat ini kamu membuka hati." Laki-laki itu menatap Disha, ada sesuatu yang berbeda dari tatapan matanya pada Disha. Tunggu, membuka hati? Si Kampret ini mantan pacarnya? Arbi beralih menatap Disha yang masih diam dengan ekspresi kaget dan ... cemas? "Kalau kamu ada waktu, kita makan malam gimana? Aku-- Sadar bahwa Disha benar-benar tidak menyukai kehadiran laki-laki sok gaya itu, Arbi menarik lengan Disha agar tubuh perempuan itu mendekat. Hal itu berhasil membuat si laki-laki pemilik ninja tidak melanjutkan kalimatnya. Disha membalas tatapan Arbi, ada kelegaan yang terlihat dimata perempuan itu. "Ah, kayaknya aku ganggu. Aku duluan, Dis, seneng ketemu kamu di sini." Laki-laki itu tersenyum, melambaikan tangan lalu kembali memakai helm dan mendekat ke Ninja Hitamnya. Hela nafas lega terdengar, Arbi menoleh saat Disha memegangi dadanya serta berusaha mengatur nafas. Belum sempat bertanya, suara motor kembali terdengar dan menepi di dekat mereka, Arbi dibungkam dua kali. Laki-laki dengan motor matic keluaran Honda itu melepas helm, buru-buru menghampiri Disha. Tatapan Disha dan bocah dengan tas selempang cokelat itu bertemu, kecemasan si bocah jauh lebih parah dari Disha saat melihat laki-laki dengan Ninja Hitam beberapa menit lalu. Arbi baru sadar kalau genggaman tangannya sudah terlepas entah sejak kapan. "s**t!" Teriak laki-laki itu mengacak rambutnya frustasi, ia berbalik membelakangi Disha yang masih diam. "Wooo! santai-santai." Arbi berusaha mencerna rangkaian kejadian yang membuatnya terlihat bodoh saat ini. Bocah yang mungkin masih berstatus mahasiswa itu berbalik lagi, menatap Disha lalu menghela nafas, lega bukan main. "Gue udah khawatir setengah mati pas ketemu b******n itu di daerah rumah bokap," ujar si bocah bertas selempang cokelat. "Adek lo, Dis?" Arbi bertanya pada Disha dan hanya dijawab gelengan oleh perempuan itu. "Maaf, Mas, bikin bingung. Saya Alden." Si Bocah memperkenalkan diri, "gue anter pulang, ayo," ujarnya sambil menarik tangan Disha. Giliran Arbi yang diam membatu, memperhatikan Disha yang tidak menyumpah serapahi Alden, sikap Disha lebih baik saat bersama Rei dan sekarang Alden. Sampai dua orang itu lenyap bersama motor matic Honda si bocah, Arbi masih berusaha mencerna semua kejadian barusan. Mantan pacar Disha datang, si bocah juga datang dengan ekspresi panik atau lebih tepatnya khawatir, mungkin bocah itu pacar Disha? Memangnya siapa yang mau pacaran dengan cewek setengah jadi begitu? *** "Arbi!" Teriakan itu membuat Arbi mendecak sebal, ia masih memejamkan mata karena sedang membilas rambutnya yang penuh shampoo. Tanpa menggubris teriakan cempreng Mita, Arbi melanjutkan acara mandinya. "Bi! Aku tahu kamu di dalam!" Teriakan itu terdengar lagi. Bodo amat, Mit, bodo amat. Arbi membatin sambil membersihkan sisa shampoo yang tinggal sedikit lagi di rambutnya. "Bi! Kamu ngebokep, ta?" Teriakan itu sukses membuat mata Arbi terbuka tepat saat jarinya mengusap wajah. "Bajingan." Umpatnya saat shampoo masuk ke mata kanannya. Buru-buru Arbi membilas rambut dan tubuhnya, mengucek matanya sekali lagi sebelum keluar dari kamar mandi dengan rambut basah dan handuk melilit di pinggang sampai ke lutut. Ia menyambar kaos putih penuh coretan spidol dan pilox, tanpa melepas handuk atau memakai celananya, Arbi membuka pintu, menatap kesal Mita yang berdiri dengan senyum lebar. Senyum itu lenyap dalam tiga detik setelah menyadari Arbi hanya mengenakan kaos dan handuk sebagai penutup bagian bawah tubuhnya. "KAMU NGEBOKEP BENERAN?" Teriakan keras itu membuat Arbi menarik Mita lalu membekap mulutnya, menyeretnya masuk ke rumah dan menutup pintu. Mita memukul d**a Arbi sampai laki-laki itu meringis dan terpaksa melepas tangannya dari mulut Mita. "a*u!" Teriak Mita yang kaget setengah mati saat Arbi menatap tajam lalu mencekal pergelangan tangannya sebelum sempat Mita menamparnya. "Mau ngapain! Kamu berani macem-macem, aku-- "Aku habis mandi, Anjing. Bisa nggak, nggak usah sembarangan teriak?" Arbi berteriak, kesal setengah mati lalu melepaskan pergelangan Mita, berbalik membelakangi perempuan itu agar emosinya menurun. Mita menggeplak kepala belakang Arbi, laki-laki itu berbalik mengacungkan kepalannya tapi tidak benar-benar memukul Mita. "Kamu pakai handuk doang, gimana aku nggak kaget, a*u!" Balas Mita tak terima disalahkan. "Ya, kamu ngapain gedor-gedor pake nyebut ngebokep segala?" Arbi tak mau kalah. "Pakai celanamu, Njing!" Mita menendang perut Arbi agar menjauh, laki-laki itu mendecak sebal lalu pergi ke kamar tidurnya, membanting pintu. Mita masih berusaha menenangkan jantungnya yang kacau karena kaget, Arbi kembali dengan celana pendek berwarna navy, tatapan kesal itu masih terlihat saat Mita berusaha menyingkirkan kecanggungannya karena kejadian barusan. "Kenapa?" Tanya Arbi. "Bantuin kerjain tugas lagi." Mita memberikan cengirannya. "Keluar duluan, habis ini aku ke atas." Arbi mendekat. Mita menahan nafas karena jarak tubuhnya dan Arbi hanya terpaut beberapa centi sampai bunyi klik terdengar, pintu di belakang Mita terbuka sedikit. Mita tidak bicara apapun, ia tersenyum canggung lalu kabur begitu saja. Tidak tertutup sepenuhnya Arbi memandang Disha yang entah sejak kapan sudah berdiri di pintu utama. Pandangan mereka bertemu, untuk beberapa detik Arbi terpaku pada sorot cemas dari iris cokelat Disha. Arbi tidak pernah melihat Disha secemas itu, meski tidak sejelas siang tadi, Arbi masih bisa menangkapnya. "Dis! Kalau ada apa-apa, telepon aku!" Seruan itu melepaskan kontak mata mereka, Arbi melirik Alden yang berseru dari tepi trotoar. "Pacar lo khawatir, tuh!" Sahut Arbi saat Disha melambaikan tangan pada Alden. Perempuan itu kembali menatap Arbi, kali ini sorot cemas itu tergantikan oleh sorotan tajam karena kesal. "Gue nggak doyan brondong." Disha membalas, atau mungkin juga klarifikasi. Arbi mencibir lalu menutup pintu rumahnya sementara Disha berjalan naik ke rumahnya di lantai atas. Alden bukan pacar Disha, seulas senyum tampak di wajahnya, begitu tipis lalu lenyap saat ia mengambil kotak besar jus dari kulkas lalu meneguknya sedikit sebelum kembali ke ruang tengah. Disha menghempaskan tubuhnya ke sofa setelah ia masuk ke rumah. Ranselnya tergeletak di dekat meja kopi, otaknya mereka ulang apa yang ia lewati hari ini. Kehadiran Henry benar-benar membuatnya cemas. Setahun lalu, Disha berusaha mati-matian agar bisa lepas dari laki-laki itu, segala cara dia lakukan agar bisa memutuskan hubungan mereka. "Kamu udah hancurin hidupku, Dis. Aku bakal lakuin hal yang sama. Tunggu aja." Suara itu membuat Disha semakin yakin kalau keberadaan Henry di Surabaya bukan sebuah kebetulan. b******n posesif itu pasti sudah menyiapkan kejutan untuk Disha, untuk melepaskan amarah terakhirnya pada Disha. Ia menghela nafas berat, memejamkan mata dan membiarkan otaknya menggali kepingan masa lalunya yang kelam. Disha selalu jatuh cinta pada orang yang salah, jatuh ke lubang neraka yang sama. Henry adalah orang kedua yang mengacaukan hidupnya. Disha menyadari sisi b******n Henry saat hubungan mereka berjalan enam bulan, laki-laki itu mulai berusaha mencari kesempatan untuk menyentuhnya. Sampai hari itu, Disha menemukan fakta bahwa b******n itu berusaha mendekati perempuan lain. Semuanya berubah, Disha bersikap lebih dingin dan tidak peduli, Henry menyadarinya dan mulai menampakkan sisi kelamnya sebagai berandalan. Dua kali dia mengancam akan menghajar Disha kalau perempuan itu tidak menurutinya, dua kali juga Disha menurut sambil terus memikirkan cara agar bisa melepaskan diri dari Henry. Akhir tahun, Alden mengetahui semua tentang Disha dan Henry, membuntuti Disha saat perempuan itu bertemu dengan si b******n. Perkelahian tidak terhindarkan dan Henry dendam setengah mati, bukan hanya pada Disha yang dia cintai tapi juga pada Alden yang ikut campur. Disha masih ingat semuanya dan dia berharap Henry tidak datang ke Surabaya untuk balas dendam. "Kamu yang harusnya bayar!" Seruan itu memecahkan lamunan Disha. "Baksonya dua! Awas kalau cuman satu kamu beli!" Itu teriakan Mita. Disha beranjak lalu membuka pintu, memperhatikan Arbi yang menuruni tangga dan Mita yang berdiri di ambang pintu rumahnya. "Mau dong." Disha mengerucutkan bibir, Mita melemparnya dengan bolpoin di tangan. "Bantuin aku ngerjain tugas juga?" Mita menaik turunkan alisnya. Disha mendengus, "aku alergi sama hitung-hitungan." "Bantu ngerjain analisis jurnal internasional aja kalau gitu?" Mita tak menyerah. "Nggak jadi, deh, baksonya. Nanti gangguin malam indah kamu sama Arbi." Disha tergelak saat Mita mengumpatinya karena bicara seenak jidat. "Bilang aja cemburu." Balas Mita. "Iya, cemburu, cewek yang aku taksir diembat Arbi." Sahut Disha sambil menutup pintu lalu mendekati Mita. "Sableng!" Sahut Mita melangkah mundur. Disha tersenyum, menahan pergelangan tangan Mita, mata perempuan itu membulat tak percaya. Disha mendekatkan wajahnya, jantung Mita semakin kacau. Demi Tuhan! Dia masih normal. "Aku mau kentut." Bisik Disha tepat di telinga Mita. "a*u!" Teriak Mita mendorong Disha yang terbahak. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN