Gelak tawa Disha menggema di setiap sudut ruang tengah rumah kontrakan tetangganya. Perempuan itu terpingkal-pingkal sesaat setelah Mita memukulinya bertubi-tubi dengan gulungan buku catatan.
"Terusin aja! Terusin!" Mita meradang mendengar tawa Disha yang tidak memberi tanda akan berakhir.
"Udah dong, Dis! Tugasku nanti gak kelar, lho!" Mita merengek tanpa menghilangkan wajah kesalnya.
Sungguh, mengerjai Mita seperti beberapa menit lalu benar-benar menghiburnya saat ini. Disha memegangi perutnya yang mulai kaku karena banyak tertawa, hanya cengiran lebar yang tersisa setelahnya. Ia mengangkat tangan tanda menyerah, kekehannya justru terdengar saat Mita kembali memukulnya, kesal setengah mati karena Disha sepertinya enggan berhenti tertawa.
"Udah, iya, udah. Ayo kerjain tugas." Disha menepuk lengan Mita, ia turun dari sofa, duduk di karpet bulu bersama Mita.
Mita membuang nafas kasar,meraih kertas yang sudah penuh dengan coretan huruf dan angka kemudianmeletakkannya di hadapan Disha, "nih! Kamu cariin jawaban dari lima soal itu—
"Selawe limo!" Teriakan itu membuat tawa Disha pecah untuk kedua kalinya. Ia tak bisa lagi menahan diri, tangannya memukul meja, suara tawanya dan suara tawa Arbi bersahutan.
"Asulah." Mita melempar buku catatannya, mengenai kaki Arbi yang berjalan melewati mereka lalu berakhir di dapur dengan dua bungkus bakso yang dipesan Mita.
Disha menunduk, menyembunyikan sisa tawanya, mengatur nafas lalu berusaha konsentrasi dengan lima soal yang diberikan Mita. Berhadapan dengan rumus dan angka membuat otaknya harus bekerja ekstra keras mengingat dia benci Matematika beserta antek-anteknya. Dua mangkuk bakso dibawa Arbi ke ruang tengah, tanpa mempedulikan Mita dan Disha yang sibuk mencoret-coret kertas serta buku catatan, kakinya menggeser semua buku-buku diatas meja kopi itu. Sumpah serapah menyerang tanpa ampun dan dibalasnya dengan gelak tawa yang justru makin menambah panas suasana.
"Sialan, lho! Asli!" Mita memukul lengan Arbi setelah ia meletakkan dua mangkuk bakso untuk dirinya dan Mita.
Disha melempar Arbi dengan bolpoin, mengenai dahi dan tidak memberi pengaruh apapun pada laki-laki yang tinggal di bawah rumahnya tersebut.
"Mit, kamu nggak bilang dia, kalau aku juga mau bakso?" Tanya Disha begitu menyadari hanya dua mangkuk bakso yang dibawa Arbi.
"Aku udah sms kamu, Bi." Sahut Mita mengambil sendoknya, menikmati baksonya lebih dulu.
"Yah, lupa. Sengaja." Arbi menyahut tanpa dosa.
Disha merampas garpu di tangan kanan Arbi, menusuk salah satu bakso lalu memasukkannya ke dalam mulut tanpa dipotong. Arbi mendecak sebal, merebut kembali garpu yang belum disentuhnya, dijilatnya sampai Disha kesal setengah mati karena tidak bisa mencomot bakso—sementara Mita sudah menjauh dari jangkauannya demi menyelamatkan bakso miliknya.
Disha hanya mendengus, membereskan kertas dan buku yang jatuh dari meja kopi, menyusunnya lalu kembali mengerjakan tugas Mita. Angka dan rumus itu membuatnya menulikan telinga dari perbincangan dua orang di dekatnya, matanya terfokus pada lembar penuh coretan miliknya serta ponsel di tangan kiri yang ia gunakan sebagai kalkulator. Tanpa disadari Disha, hening sudah menyapa, Mita membawa mangkuk bekas makannya dengan Arbi ke bak cuci piring di samping kamar mandi, meninggalkan Disha dan laki-laki itu berdua. Arbi meraih laptop Mita yang menampilkan PDF dari jurnal internasional yang belum dibuat analisisnya. Mengerjakan teori lebih mudah dari mengerjakan soal-soal penuh angka, meski dia bisa mengerjakannya, setelah sekian lama berkutat dengan dunia editing, melihat rumus-rumus dengan angka seperti itu bisa membuat kepalanya berputar tiga kali lebih cepat.
Matanya tak kunjung beranjak dari sosok Disha yang duduk persis di depannya, mengacak rambut lalu kembali menghitung, mencoret jawaban lalu kembali menuliskannya. Disha mengangkat kepalanya yang tertunduk fokus pada soal-soal yang diberikan Mita, pandangannya beradu dengan Arbi yang tertangkap basah tapi tidak memutus kontak mata. Keduanya dibungkam keheningan, debaran jantung mereka mungkin seirama saat ini, bahkan Disha mulai merasa kalau mata cokelat yang sama dengan miliknya itu terlihat jauh lebih terang.
Arbi menjadi yang pertama mengalihkan pandangannya sambil berdehem, keheningan yang tadinya membelenggu berubah menjadi kecanggungan luar biasa. Beruntung, Mita menghampiri, duduk di samping Disha sambil meletakkan nampan berisi tiga gelas jus jambu sisa dari buavita di kulkas mininya.
"Kalian mau titip apa? Aku mau ke minimarket sebentar." Mita mengumpulkan lembar tugasnya yang sudah setengah selesai, menyelipkannya ke dalam buku catatan lalu beranjak mengambil dompet di kamar tidur.
Tak ada jawaban, Disha sibuk mengerjakan, mencoret-coret semua jawaban yang salah karena otaknya kacau beberapa detik yang lalu. Tak jauh berbeda dengan Arbi yang tidak bisa berkonsentrasi dengan paragraf-paragraf bahasa inggris di depannya.
"Heh! Malah nggak nyahut. Mau titip apa?" Mita berjalan ke dekat pintu, memakai sandal sambil menunggu jawaban Disha dan Arbi.
"Apa aja, terserah." Sahut keduanya bersamaan.
"Okay! Aku tinggal sebentar." Mita melambaikan tangan, keluar dari rumah meninggalkan suasana canggung yang kembali merayap diantara Disha dan Arbi.
Helaan nafas Disha menghancurkan suasana mengerikan diantara mereka itu, ia menghentak pensil ke meja lalu menatap Arbi yang masih sibuk menulis meski tulisan tangannya lebih mirip padang rumput.
"Besok lo naksir gue kalau ngelihatin terus." Arbi membalas tatapan Disha.
"Gue penasaran." Sahut Disha.
"Apa?"
"Segitu beratnya trauma lo sama kecelakaan mobil."
Hening. Tangan Arbi berhenti menulis, pandangannya lurus pada kertas yang sudah dipenuhi tulisan ceker ayamnya.
"Gue lebih penasaran kenapa lo berisik banget kalau marah." Sahut Arbi yang mengalihkan topiknya.
Disha mendecak sebal, "karena gue nggak bisa ngamuk di depan keluarga gue."
Senyum miris Arbi tercetak tiga detik, "apa mereka alasan lo di sini?"
"Ada banyak alasan kenapa gue di sini." Untuk pertama kalinya, Arbi melihat kerapuhan dari binar mata Disha.
Memang banyak alasan yang dibawa Disha ke Surabaya, banyak hal yang tak bisa dia jelaskan. Rasa sakit tak terkira dia kubur dalam-dalam sebelum memulai lembaran baru yang ternyata sudah lebih dulu disiram dengan tinta hitam. Disha seolah kehilangan dirinya, tatapan itu bukan lagi tertuju pada Arbi tapi pada hal abu-abu yang menjadi pembatas mereka. Ada sesuatu yang mengusiknya saat melihat Disha diam dengan pikirannya sendiri. Arbi bangkit, pindah ke samping Disha lalu menangkup wajah perempuan itu. Air mata Disha menetes bersamaan dengan Arbi yang mendaratkan kecupan di bibirnya. Dia tidak tahu kalau alasan-alasan yang mereka bicarakan ternyata mengorek luka yang beberapa hari lalu baru saja diobati seadanya oleh Disha. Arbi menjauhkan wajahnya, ia melepas tangannya dari kedua pipi Disha sementara perempuan itu masih berusaha mencerna apa yang terjadi diantara mereka.
"Kamu itu kerjaannya minta-minta melulu! Pergi sana! Nggak bantuin bikin tu—
Teriakan Mita berhenti, Rei menyusul. Mita terpaku di ambang pintu saat jarak antara Disha dan Arbi hanya beberapa centi.
— gas.
Mita menyimpan sisa kalimatnya di dalam kepala. Di dalam rumahnya, Arbi dan Disha saling tatap dengan jarak tubuh mereka yang cukup dekat, jelas jarak itu ada bukan karena mereka sedang berebut kertas, bolpoin atau b*****h lainnya. Jarak tipis itu ada karena memang sesuatu terjadi diantara mereka berdua—tatapan keduanya benar-benar berbeda. Langkah Rei berhenti, buru-buru Mita berbalik dan menabrakkan diri ke tubuh Rei sampai mereka berdua nyaris berguling di tangga sambil berpelukan ala drama korea.
"Kenapa?" Rei bertanya setelah berhasil menahan kedua lengan Mita lalu membantunya berdiri tegak.
Mita menoleh ke dalam rumahnya, Arbi sudah beranjak lalu keluar dari rumah tanpa mengatakan apapun.
"Kalian berantem lagi?" Teriak Mita, pura-pura bodoh.
Disha hanya menatap Mita, lalu beralih pada Rei yang masih memegangi lengan tetangga depan rumahnya itu. Sadar bahwa tangannya belum lepas, Rei buru-buru menurunkan tangannya lalu mundur. Mita menahan tampang bodohnya meski sisi lain dirinya kecewa karena Rei benar-benar menunjukkan kalau dia berusaha meyakinkan Disha pada perasaannya, menjaga perasaan Disha yang mungkin merasakan hal yang sama dengannya. Lo mikir apa, sih, Mit? Bego banget.
"Lo ngapain berdiri di situ? Pulang sono! Pergi ke minimarket sendiri apa salahnya?" Disha berseru pada Rei, dingin, ketus, tak ada sosok Disha yang lembut di depan Rei.
Mita menoleh, Rei menantang mata Disha yang menatapnya tajam, "saya belum ambil uang."
Disha mendecak sebal, Mita yakin seratus persen kalau Disha sedang menyelamatkan susana yang kacau beberapa menit belakangan. Mita beranjak masuk, meletakkan belanjaan di dekat kaki meja kopi lalu pergi ke dapur, mengambil apa yang diminta Rei sebelum keluar dan memberikannya pada si laki-laki Jepang yang katanya belum ambil uang itu.
"Makasih, Mit." Rei tersenyum tipis lalu kembali turun ke rumahnya. Mita menutup pintu rumah, menghampiri Disha yang wajahnya memerah, tetangganya itu mengumpat beberapa kali sambil mengacak rambut.
"Kamu sama Arbi berantem? Rebutan apa? Kertas? Bolpoin? Atau—
"b******n dia." Sahut Disha yang kemudian menyandarkan tubuhnya ke tepian sofa lalu menutup wajahnya dengan buku catatan Mita.
Arbi b******k! Sumpah!
***