Lantai 1 | Episode 21

1743 Kata
"Aaarrrghhhh!" Erangan itu menjadi ucapan selamat paginya untuk Minggu yang indah. Ia duduk, mengacak rambut dan mengusap wajahnya kasar. Bayangan wajah Arbi yang tak sampai setengah centi dari wajahnya muncul, kecupan singkat yang diberikan laki-laki itu menghiasi kepalanya, sekali lagi dia mengacak rambut lalu menendang selimut sembarangan. Ia beranjak ke ruang makan yang menjadi satu dengan dapur kecil itu, jus jambu yang ia buat semalam masih tersisa setengah botol. Disha membawanya ke depan jendela, meneguknya bagai Atlet angkat besi kehausan. Punggung tangannya mengusap bibir yang basah, helaan nafasnya terdengar—Minggu yang buruk. Jarum jam menunjuk angka tujuh, Disha menghabiskan jusnya, meletakkan botol kosong itu ke meja makan untuk dua orang di dekat mini kulkasnya. Disambarnya handuk dari rak jemuran kecil di dekat pintu kamar mandi sebelum masuk. Baru saja selesai membilas rambutnya, ketukan pintu terdengar. Beberapa kali sampai Disha keluar kamar mandi sambil memakai celana dan kaos putihnya buru-buru. "Sebentar!" Teriaknya saat ketukan itu tak kunjung berhenti. Disha mengintip dari lubang pintu. Sosok laki-laki dengan windrunner hitam dan ransel yang tergantung di punggung itu membelakangi pintu, mengusap rambutnya sambil menunggu pintu dibuka. Disha mengintip cukup lama sampai ia menutup mulutnya, matanya membulat tak percaya sambil membuka pintu rumah. "Abang!" Mendengar seruan Disha, laki-laki itu berbalik, senyum hangat yang mirip dengan milik Disha terlihat. Bukan hanya senyumnya, hidung dan bibirnya pun mirip, memperjelas alasan kenapa Disha memeluk laki-laki itu sangat erat. "Kamu tambah tinggi." Laki-laki itu mengacak rambut Disha yang basah lalu merangkulnya masuk ke rumah, tak lupa tangan kirinya menyeret koper hitam besar yang cukup berat itu. Disha menahan diri untuk tidak melepaskan butiran air yang menggenang di matanya. Setelah hampir tiga tahun saling menyapa lewat Skype, mereka akhirnya bertemu. Entah bagaimana cara Disha mengungkapkan kalau dia benar-benar merindukan Kakak Kandungnya itu. Raga Danadyaksa--tawanya pecah melihat Disha yang berusaha menahan diri untuk tidak menangis. Adiknya itu melayangkan tinju ke lengannya yang tak kunjung berhenti tertawa. "Sumpah, Dis! Kamu jelek." Kali ini tinjuan Disha lebih keras, Raga meredakan tawanya sambil meringis merasakan lengannya yang agak nyeri. Adiknya itu tidak berubah, kekuatannya juga tidak berubah, dan Raga merindukannya. "Sini," ujar Raga menarik Disha dalam pelukannya kemudian. Air mata Disha tumpah, bukan hanya karena rindunya tapi juga karena semua yang telah dia lalui sendirian selama tiga tahun terakhir. Melihat Kakaknya kembali dan baik-baik saja sudah cukup mengangkat sebagian beban yang menumpuk di pundaknya. Setelah tangis Disha mereda, Raga menjauhkan dirinya, mengusap puncak kepala Disha sekali lagi, "kamu jadi lebih mirip pacarku, Dek," ujarnya. Disha mendecak sebal, menyeka sisa air mata lalu menoyor kepala Kakaknya itu tanpa dosa, "jones." Cibir Disha sambil menutup pintu rumah. Raga mendorong koper besarnya ke dalam kamar tidur Disha, menutup pintu lalu ganti baju. Kakaknya itu keluar bersamaan dengan secangkir teh panas yang diletakkan Disha di meja kopi.  "Nanti, biaya air sama listrik biar Abang yang tanggung." Raga sibuk dengan notebook dan bolpoinnya. "Aku udah bilang sama yang punya kontrakan kemarin, katanya besok malam aja ketemunya karena hari ini dia sekeluarga pergi ke Malang." Jelas Disha yang kemudian menyalakan televisinya, mengganti channel beberapa kali lalu berakhir pada channel yang menayangkan film kartun entah apa judulnya. "Kenapa nggak bilang dulu kalau dateng hari ini, Bang?" Disha bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari layar LED TV-nya. Raga menutup notebook lalu meletakkannya di atas meja, "emang kalau Abang bilang, kamu mau masak terus bersih-bersih rumah?" sahutnya yang kini beralih memainkan ponsel. "Enggak juga." Jawaban Disha dibalas decakan sebal oleh Raga. "Lusa Cafenya dibuka, jadi kamu dateng sejam sebelumnya. Bantuin." Raga meletakkan ponselnya, menyandarkan kepala lalu memejamkan matanya. "Aku undang tetangga depanku boleh, ya?" Sahut Disha. "Ajak tetangga yang di bawah juga boleh," Raga memijat keningnya, "tetanggamu hibernasi? Dari tadi Abang nggak lihat." Kata 'Tetangga' membawa kembali ingatan kejadian semalam. Disha menghelas nafas kasar, ikut menyandarkan kepalanya di sandaran sofa lalu memejamkan mata. Dia tidak tahu harus bagaimana kalau sampai bertemu Arbi hari ini, tetangga sialan itu kenapa juga harus menciumnya? Arbi menyukainya? Jelas tidak mungkin, melihat Arbi dan dia lebih mirip anjing dan kucing kalau bertemu. Terus apa? Kenapa coba? Disha mengacak rambutnya frustasi lalu beranjak ke kamarnya, Raga hanya memperhatikan sampai Adiknya itu keluar lagi sambil memakai kemeja dan mengancingkan satu kancing paling atas. "Kemana?" Tanya Raga saat Disha memakai Converse putihnya. "Jalan sebentar, Abang istirahat aja. Kalau mau makan, ke warung makan seberang aja, jangan lupa beresin baju ke dalam lemari. Awas kalau aku pulang kopernya masih ngegeletak kayak gitu." Disha berceloteh panjang lebar lalu melambaikan tangan keluar rumah. "Hati-hati!" Teriakan itu terdengar saat Disha menuruni tangga. Jam menunjukkan pukul delapan lebih tiga puluh menit saat Disha mengeluarkan sepedanya dari garasi. Baru saja berbelok ke trotoar di depan rumahnya, tangan kanannya menekan rem saat Arbi muncul dengan dua kantung sampah. Kalau saja ia tidak ingat pada kejadian semalam, mungkin mulutnya sudah mengeluarkan sumpah serapah untuk Arbi. Sebelum laki-laki itu bicara, Disha sudah menggowes sepedanya lalu turun ke jalur sepeda. Arbi memperhatikan perempuan yang sekarang jadi lebih terlihat manis alih-alih tampan. Dilemparnya dua kantung sampah itu ke tempat sampah, ia mengerang kesal lalu kembali masuk ke rumahnya. "Kenapa semalem gue cium? Dasar bego! Kalau dia baper gimana? Ah sialan." Ia menggerutu lalu menghempaskan tubuhnya ke ranjang, membiarkan alam mimpi menyeretnya menjauh dari bayang-bayang ciumannya untuk Disha semalam. *** Malam terakhir sebelum UAS digunakannya untuk menonton film horror, tentu saja setelah dia berhasil menyeret Disha yang sialnya sampai sekarang tak kunjung membalas pesan whatsappnya. Mita mendengus, sudah hampir setengah jam tapi tak ada satupun chat masuk dengan nama kontak Disha Ganteng. Oke, lupakan nama kontak Disha, kebosanannya yang lebih penting saat ini. Mita beranjak keluar rumahnya, mengetuk pintu rumah Disha yang sejak pagi tidak terdengar dibuka, atau dia yang memang tidak dengar kalau memang Disha pergi. "Dis! Disha!" Teriaknya setelah ketukan pintunya tak mendapat respon. Mita mengirim pesan pada Disha sekali lagi, mengatakan kalau dia sudah di depan pintu. Satu menit ... dua menit ... Menit ketiga, Mita kembali berteriak, "Disha!" tangannya bukan lagi mengetuk tapi menggedor pintu rumah Disha. Penasaran, Mita membuka pintu rumah Disha yang ternyata tidak terkunci, mungkin Disha tidur. Mita menyeringai, ia masuk ke rumah Disha, melewati ruang tengah lalu mendorong pintu kamar yang sudah terbuka sedikit. Rambut kecokelatan Disha menyembul dari balik selimut, perempuan itu meringkuk dengan guling di sampingnya. Mita menahan diri untuk tidak tertawa, ia naik ke ranjang Disha lalu mendekatkan wajahnya sedekat mungkin dengan kepala Disha. "Sayang, bangun dong." Bisiknya yang berhasil membuat tubuh dibalik selimut itu bergerak. Mita mundur saat tangan Disha keluar lalu dengan cepat menurunkan selimut sambil memposisikan dirinya duduk. Mita mengerjap. Bukan Disha, bukan tetangganya yang ada di balik selimut dan yang barusan dia panggil 'Sayang'. Laki-laki yang ternyata tidak memakai kaos itu menoleh, wajahnya hanya beberapa centi dari wajah Mita. Ia mengerjap, menatap Mita yang tak bergerak sama sekali. "MALIIIIIIIIIING! MALING! b******n!" Teriakan melengking itu membuat si laki-laki tanpa t-shirt yang menutup tubuh bagian atasnya itu merunduk melindungi kepalanya dari pukulan Mita. "Bentar! Tunggu sebentar!" Teriak laki-laki itu berusaha menghentikan Mita yang memukulinya tanpa ampun, tentu saja teriakan Mita lebih keras saat ini. "KELUAR! MALING SIALAN!" Mita mengambil jam weker digital yang ada di atas nakas. "EH! EH! JANGAN SUMPAH! BUKAN MALING GUE!" Teriak laki-laki itu berusaha menahan tangan Mita yang siap menghantamkan jam weker digital ke kepalanya. "DASAR MALING m***m! NGAPAIN KAMU TIDUR DI KAMAR TEMEN SAYA! KAMU PERKOSA TEMEN SAYA YA! KELUAR b******k!" Mita berteriak kalap, tangan kirinya berhasil lolos dari cengkraman si laki-laki berambut kecokelatan mirip Disha itu. Ia menjambak rambut laki-laki itu, teriakan keduanya bersahutan dan berhasil mengusik Arbi serta Rei yang sedang sibuk di rumah masing-masing. Derap langkah cepat terdengar, Arbi adalah yang pertama menerobos ke masuk lalu menarik Mita menjauh sementara Rei melepaskan bogem mentah ke rahang laki-laki yang sudah berantakan di ranjang Disha tersebut. Belum sempat menjelaskan apapun, laki-laki itu sudah diseret ke ruang tengah oleh Arbi dan Rei. Mita tak berhenti menyumpah serapahi laki-laki sialan yang berani tidur di ranjang Disha hanya menggunakan boxer. "Mana Disha!" Teriak Mita yang berusaha menahan diri untuk tidak menjambak rambut laki-laki itu lagi. "b******n! Mana Disha? Lo apain dia!" Sentak Arbi menempeleng kepala laki-laki itu cukup keras. "Saya telepon polisi sekarang." Sahut Rei yang kemudian berjalan keluar rumah Disha. "Jangan! Sumpah! Gue bukan Mal-- "Mana ada maling ngaku, g****k!" Sentak Mita sekali lagi. Keributan masih terdengar saat tiba-tiba Disha masuk diikuti Rei dibelakangnya dengan wajah pucat. Disha membulatkan mata tak percaya melihat Raga duduk di lantai dengan kedua tangan diikat tali rafia, rambut berantakan, lebam di pipi serta tubuh yang hanya tertutup boxer. Kakaknya itu benar-benar mirip maling pakaian dalam wanita yang tertangkap basah sekarang. "KALIAN APAIN ABANG GUE!" Teriakan Disha mengalahkan bagaimana histerisnya Mita saat ia menemukan laki-laki yang berbaring di ranjang Disha beberapa menit lalu itu. Arbi dan Mita bungkam, mata mereka tertuju pada Rei yang mematung tak jauh dari pintu. Disha sibuk melepas ikatan di pergelangan tangan Raga, membiarkan kakaknya pergi ke kamar untuk memakai t-shirt yang tergantung di balik pintu. Disha masih tidak menyangka kalau akan seperti ini jadinya saat tiga tetangganya melihat Raga yang sudah sangat jelas mirip dengan Disha. "Dis, anu-- "Yang mukul Abang gue siapa?" Disha memotong ucapan Mita, menatap ketiga tetangganya itu bergantian. "S-saya, Dis." "Mripatmu iso melek ora? Rupane mirip aku, lho, Ya Gusti!" Disha menatap tajam Rei yang tak berani lagi mengeluarkan pembelaan. Dia tidak tahu kalau laki-laki yang diteriaki Mita 'Maling' itu ternyata kakak kandung Disha. "Dis, aku yang salah. Tadi aku kira dia maling." Mita berusaha meredam emosi Disha yang sebentar lagi meledak. "Gue nggak sempet jelasin, udah digebukin duluan." Pandangan mereka tertuju pada Raga yang berdiri di ambang pintu, mengusap pelan pipinya yang tadi berhasil dipukul Mita dengan jam weker. Disha mengatur nafasnya, tubuhnya jatuh ke sofa, tidak tahu lagi harus bicara apa melihat tiga tetangganya hampir membuat Kakaknya masuk penjara atas tuduhan perampokan. Rampok mana yang mau tidur dulu sebelum kabur coba? Mita memperhatikan Raga, rasanya tidak asing dengan postur tubuh dan mata elang itu. Juga sweater hitam yang dikenakan Raga, rasanya Mita pernah bertemu dengan laki-laki itu entah dimana. "Kami minta maaf, Mas, udah salah paham." Arbi yang lebih dulu angkat bicara, menjabat tangan Raga yang kini justru tersenyum ramah. "Gue juga salah, sih, nggak ngenalin diri dulu padahal bakal tinggal di sini juga." Sahut Raga bersamaan dengan tatapan kaget Mita padanya. Untuk beberapa detik, Mita berusaha menepis kejadian beberapa hari lalu tapi semakin diingat, ia semakin yakin kalau... "Kamu yang waktu itu nyerobot go-jek saya!" Serunya yang berhasil menyita perhatian Arbi, Rei, Disha dan tentu saja si laki-laki yang ditunjuk Mita; Raga. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN