"Ah!" Raga menjentikkan jarinya. Senyum lebarnya membuat Disha, Arbi dan Rei beralih menatap laki-laki dengan bibir, rambut dan hidung yang begitu mirip dengan Disha tersebut.
"Cewek yang main handphone sambil jalan dan nggak terima diserobot!" Sambung Raga berseru tanpa dosa. Dibalas tatapan tajam oleh Mita, sekali lagi emosinya merayap naik.
"Kamu yang nyerobot kenapa nyalahin saya!" Balas Mita.
Pandangan Arbi, Rei dan Disha kembali pada Mita.
"Loh? Siapa siapa suruh lo main handphone sambil jalan? Yang buru-buru bukan cuma lo waktu itu." Raga terkekeh kemudian.
"Heh! Kamu aja yang nggak pernah naik go-jek sampai nyerobot-nyerobot segala!" Mita menatap kesal Raga, menunjuk-nunjuk laki-laki yang sepertinya lebih tua dibanding Rei itu.
Belum sempat Raga membalas ucapan Mita, Disha sudah bangkit lalu mendorong Kakaknya itu ke dapur, "masalah selesai! Perkenalan dilanjutin besok aja!" Teriak Disha.
"Untung aja kamu Kakaknya Disha." Gerutu Mita saat Rei mendoronyanya keluar dari rumah Disha, menghindari perdebatan lebih panjang atau parahnya berakhir dengan Mita yang kembali menjambak rambut Raga.
Arbi menyusul kakak beradik itu ke dapur, matanya sempat memandangi Disha yang sibuk memilih bahan makanan di kabinet atas sebelum akhirnya duduk di samping Raga. Sekali lagi kata maaf meluncur dari mulut Arbi, Raga hanya meringis merasakan nyeri di pipi kirinya akibat hantaman jam weker dari Mita. Benar, perempuan garang itu berhasil memukulnya dengan weker, ditambah jambakan dan bogem mentah dari si bule Jepang yang Raga tidak tahu namanya. Disha memberikan es batu yang sudah dibalut dengan kain pada Raga, matanya sempat menangkap lirikan Arbi.
"Tadi, si bule Jepang itu namanya siapa?" Raga bertanya.
"Yamashita Rei." Arbi melirik Disha, mereka berdua menjawab bersamaan tanpa sengaja.
"Untung rahang gue nggak patah," Raga meringis saat memindahkan kain berisi es batu itu ke rahangnya, "cewek garong tadi siapa?" ia kembali bertanya.
"Mita." Lagi, Arbi dan Disha menjawab bersamaan. Kali ini Disha melirik tajam pada Arbi.
"Lo sendiri?" Pertanyaan Raga tertuju pada Arbi.
"Arbi, Mas." Jawaban Arbi membuat tawa Disha dan Raga pecah seketika.
Bahkan cara kakak beradik itu tertawa juga mirip. Arbi hanya diam, tidak tahu apa yang lucu dari namanya. Melihat ekspresi Arbi, tawa Disha mulai tergantikan dengan senyumnya.
"Gue nggak suka dipanggil Mas, panggil Raga aja. Umur lo berapa? Dua puluh empat? Dua lima? Atau seumuran gue, dua enam?"
Pertanyaan Raga membuat Disha ikut penasaran karena ia tidak tahu pasti berapa umur Arbi, tebakannya dua puluh lima. Atau mungkin dua puluh enam, sama seperti Raga.
"Dua puluh lima, Mas, eh Ga." Arbi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, sekali lagi Disha tertawa. Mendengar Arbi mengucapkan kata Mas adalah sesuatu yang entah kenapa lucu baginya, ditambah ekspresi canggung dan aneh itu.
"Muka lo boros tapi ya." Raga tergelak, Disha tertawa makin kencang sambil memegangi perutnya.
"Puas lo, Dis, ketawa!" Seru Arbi pada Disha yang justru makin tidak bisa menahan tawanya.
Raga menepuk pundak Arbi, "adek gue memang gitu, tolong dimaklumi," ujarnya terkekeh, "gue bercanda barusan," Raga mengakhiri kalimatnya dengan senyum ramah yang betul-betul mirip dengan Disha. Gila! Mirip banget, apa kembar ya?
***
Dering ponsel memaksanya untuk meraba nakas lalu menekan asal-asalan layar dari benda tipis itu. Matanya masih terpejam, semalam dia tidur tengah malam karena bertukar cerita dengan Raga, jangan lupakan sebelum itu dia terpaksa memasak makan malam lebih banyak karena Arbi yang bertahan di rumahnya dan asik tertawa bersama Raga. Arbi memang mudah bergaul, mungkin dengan banci yang sering mangkal di perempatan dekat Surabaya Townhouse tengah malam juga laki-laki itu dengan mudah ikut-ikutan ngondek. Kesadarannya nyaris jatuh lagi ke alam mimpi kalau saja suara brebet cukup keras tidak terdengar. Suara itu bagai alarm yang lebih berisik dari alarm ponselnya, mau tak mau Disha membuka mata, memukul lengan Raga yang tidur sampingnya memeluk guling dan menyelipkan kepalanya di sana.
Disha menendang selimut yang menutupi tubuhnya, Brebeet! suara itu terdengar lagi saat Disha menurunkan kedua kakinya dari ranjang. Durasinya lebih panjang dan suaranya lebih keras. Disha mendecak sebal lalu menaikkan kembali kedua kakinya, menggunakan yang kanan untuk menendang b****g Kakaknya yang dibalas dengan erangan lalu tangan kanan Kakaknya menarik selimut sampai menutupi kepala. Makin kesal, Disha menendang Kakaknya semakin keras lalu kabur saat Raga tiba-tiba duduk dan siap melemparnya dengan guling.
"Durhaka kamu! Rejekimu sembelit hari ini!" Teriak Raga dengan suaranya yang serak karena bangun tidur, tentu saja setelah itu ia kembali jatuh ke dalam selimut meski jam sudah menunjukkan pukul enam pagi.
Disha harus mengganti sofa ruang tengahnya dengan single bed yang cukup untuk Kakaknya, kebiasaan kentut saat tidur itu tak pernah hilang dari Raga padahal sudah sangat lama sejak terakhir kali dia tidur dengan Raga. Mungkin SMP atau SMA, sebelum Ayah tirinya mengetahui kalau Disha masih berhubungan dengan Raga dan keluarga dari Ayah kandungnya.
Disha membiarkan tubuhnya diguyur air dingin dari shower, senyumnya mengembang, sisi lain dirinya menghangat. Beban yang ia tanggung mulai terasa ringan, ia mulai melenyapkan semua ucapan Ibundanya beberapa hari lalu. Keluarganya memang sudah melepaskannya sejak lama, tapi setelah sekian lama, Bundanya baru benar-benar melepaskannya sekarang. Disha masih tidak menyangka kalau Raga datang, Kakak kandungnya itu memutuskan untuk mengelola Cafe di Jakarta tahun lalu bersama temannya yang menyandang gelar Chef, sementara Raga sendiri sama sekali tidak bisa memasak. Besok cabangnya akan dibuka di Surabaya, tidak begitu jauh dari tempat Disha tinggal--tentu saja sekarang juga menjadi tempat Raga tinggal mengingat Kakaknya itu mengelola Cafe bersama temannya. Entah kalau Raga berniat mencari tempat tinggal agar tidak merepotkan Disha. Atau mungkin, Raga hanya akan tinggal beberapa bulan sampai urusan dengan cabang Cafenya selesai lalu kembali ke Jakarta.
Aroma cokelat dari shampoonya menguar begitu ia keluar dari kamar mandi. Disha tidak bisa lagi keluar dengan boxer dan sport bra, mulai hari ini dia harus ganti baju di kamar mandi--salah satu hal yang tidak disukainya. Disha mengancingkan kemeja putihnya, hari Senin adalah hari hitam-putih untuk kantornya. Ah, Studio Creative tempat Disha bekerja memang punya aturan unik untuk seluruh pegawainya; aturan warna baju setiap hari.
"Mau berangkat?" Suara serak Raga terdengar saat Disha membereskan barangnya ke dalam ransel. Kakaknya itu melepaskan guling yang menutupi wajah, memperhatikan Disha yang sudah rapi dengan kemeja putih polos yang dimasukkan ke balik jeans hitamnya. Beruntung tidak ada ketentuan soal bahan celana.
Disha mengangguk, memasukkan notebook dan powerbank ponselnya sebelum menutup ransel, "mau sarapan apa?" tanyanya sambil menjinjing ransel, membawanya ke sofa di ruang tengah yang tidak terlalu besar itu.
"Kamu aja, deh, Dek." Raga memejamkan mata, menarik selimutnya menutupi kepala.
"Aku sarapan di luar, Bang. Nanti sebelum Abang keluar, jangan lupa cek kompor udh mati belum. Aku langsung pergi." Disha keluar dari kamar tidur setelah mendengarkan Raga bergumam agar ia hati-hati.
Jam tujuh kurang limat menit, padahal jam masuk kantornya jam sembilan. Alasan utamanya adalah menghindari Arbi. Semalam Disha yang berusaha bersikap biasa saja, tapi malah berujung salah tingkah luar biasa sementara Arbi terlihat baik-baik saja seolah tak terjadi apapun diantara mereka. b******k memang, harusnya Disha menampar Arbi sebelum laki-laki itu keluar dari rumah Mita.
"Ternyata kamu masih suka berangkat pagi ke kantor, ya?"
Disha tersentak mundur, di samping pintu utama Townhousenya, Henry berdiri dengan helm di tangan kanan dan ponsel di tangan kiri yang baru ia masukkan ke saku celana. Mantan Kekasih paling b******k itu menghadap Disha yang masih kaget, tak menyangka kalau Henry akan sejauh ini.
"Mau kuantar?" Nada ramah itu justru terdengar menjijikkan di telinga Disha. Ia mundur lagi satu langkah.
"Santai aja, Dis, gue cuman kebetulan lewat sini dan penasaran." Henry tersenyum--sekali lagi, menijikkan untuk Disha.
"Gue pernah bilang kalau gue masih baik dan nyuruh lo berhenti ganggu. Lo mau gue kasih tahu pakai cara apa?" Disha menyembunyikan debar jantungnya yang kacau karena nyalinya ciut. Perlu digaris bawahi kalau Henry benar-benar b******n b******k.
"Gue nggak berniat ngomongin soal apa yang lo lakuin ke gue dulu, Dis. Tapi karena lo mulai duluan, ya, gue punya jawabannya," Henry menyeringai, Disha menahan diri untuk tidak mundur selangkah lagi, "tanggal dua puluh lima, gue tunggu lo di perempatan sana. Kita perlu ngobrolin banyak hal," Henry berbisik tepat di telinga Disha lalu menjauh, tersenyum dan memakai helm menghampiri Ninja Hitamnya yang terparkir beberapa meter dari tempat tinggal Disha.
Lututnya lemas, Disha berpegangan pada pintu rumah Arbi. Ucapan Henry tidak main-main, Disha tahu persis kalau Henry dendam padanya. Kalian bisa sebut b******n itu berlebihan, tapi itu memang sifat asli Henry, penyimpan dendam, possesive, egois dan tidak bisa menghargai wanita. Jangan lupakan fakta bahwa cinta itu buta. Disha buta dan Henry memanfaatkannya.
Disha kembali dibuat kaget karena kedatangan Arbi dari arah garasi belakang gedung. Tatapan laki-laki itu lebih serius, tidak ada senyum manisnya, tidak ada cengiran lebar seperti biasanya. Dari mata yang sama kelam dengan miliknya itu, Disha tahu kalau Arbi mendengar pembicaraan singkatnya dengan Henry yang entah sudah berapa lama ada di depan gedung.
"Gue penasaran, kenapa lo ketakutan kalau lihat si mantan songong itu." Tidak ada nada mengejek, ucapan Arbi begitu tajam seolah ia murka melihat kemunculan Henry yang sampai sekarang tidak dikenalnya dan Disha tidak menjelaskan apapun tentang mantan kekasih brengseknya tersebut.
"Bukan urusan lo." Tangannya terangkat hendak mendorong Arbi, tapi ia kalah cepat karena tetangga di bawah rumahnya itu sudah lebih dulu mencekal pergelangan tangannya. Untuk pertama kalinya, Disha menciut karena tatapan Arbi, begitu tajam dan mengintimidasi.
"He's not a good boy right?" Disha membalas tatapan tajam Arbi. Laki-laki itu, entah kenapa dia selalu tahu tentang apa yang terjadi pada Disha, selalu berhasil menebak semua yang berusaha Disha sembunyikan mati-matian.
"It's not you bussiness." Disha menyentak tangan Arbi, meninggalkan laki-laki itu tanpa penjelasan apapun.
Arbi memejamkan mata untuk beberapa detik, "dasar keras kepala."
***