"Telat! Aku telat! Mampus!"
Brak!
Teriakan Mita terdengar bersama dengan suara pintu yang dibanting. Derap langkah cepat itu semakin dekat, diperhatikannya Mita yang menjeblak pintu atap sampai terbuka, berjalan ke salah satu tali jemuran yang masih kosong, meletakkan ember lalu menjemur beberapa kemeja, jeans dan ... pakaian dalam.
Ransel tergantung di punggung Mita, sepatu terpasang asal-asalan, tak jauh berbeda dengan kondisi rambut hitamnya yang dijepit ala kadarnya. Raga menggantung beberapa cucian terakhir, ia berbalik tepat saat Mita berjalan dan nyaris menabraknya. Keduanya bertukar pandang.
Raga mengerjap beberapa kali, pandangannya beralih pada bra hitam yang jatuh dari tali jemuran. Ia menunjuk dengan dagu, "BH lo jatuh."
Mita membulatkan mata tak percaya, menoleh ke arah pandang Raga lalu menodorong laki-laki itu hingga nyaris terjungkal.
"Dasar m***m!" Mita berteriak histeris sambil memungut beberapa pakaian dalam yang jatuh. Buru-buru dijemurnya pakaian dalam yang hampir semua berwarna hitam itu, tentu saja dipindahkan ke balik beberapa kemeja agar tidak mudah terlihat.
"Ya emang jatuh, masa gue diem? Kotor, nyuci lagi, nggak ganti BH nanti lo." Sahut Raga tanpa filter.
Mita kaget setengah mati mendengar ucapan Raga, tidak menyangka kalau laki-laki itu lebih mengerikan dari Disha bahkan Arbi.
"Cangkemmu alus banget." Mita menatap tajam Raga lalu berjalan melewati Kakak kandung Disha itu.
"Lah? Salah apa gue?" Raga ikut berbalik, mengekor di belakang Mita yang sudah lebih dulu menuruni tangga.
Hitam, Putih, Cream, Ah! Polkadot, celana dalem yang jatuh tadi ada yang polkadot juga. Raga menggeleng, menghapus kejadian beberapa menit lalu yang baru ia sadari kalau ternyata Mita malu setengah mati, itu sebabnya ia berteriak heboh.
***
Keluar dari kantor jam lima tepat sesuai jam kerja adalah berkah Tuhan paling luar biasa bagi penghuni kantor bagian Design dan Videography. Disha membereskan barang-barangnya ke dalam ransel, menyandangnya lalu keluar dari ruangan paling terakhir. Lampu-lampu di lantai dua mulai padam, tidak ada lembur, surga dunia. Baru saja keluar dari gedung, binar bahagia itu lenyap, tergantikan dengan kekesalan luar biasa karena rintik hujan mulai turun perlahan—gerimis.
"Gue mau ke arah rumah lo, mau bareng?" Pertanyaan Jonathan yang entah sudah sejak kapan berada di sampingnya itu membuat Disha menoleh.
Belum sempat menjawab, tangan seseorang menarik lengannya. Disha mundur dua langkah sementara Arbi tersenyum lebar pada Jonathan.
"Nat, bareng Disha-nya besok aja. Hujan, kasihan kalau dia naik motor butut lo. Hati-hati, ya, banyak banci di jalan." Arbi menepuk pundak Jonathan lalu menarik Disha pergi. Jonathan mendengus, anak baru itu sepertinya sedang punya banyak urusan dengan Disha.
Bomber jaketnya ia berikan pada Disha untuk menutup kepala perempuan itu sampai parkiran. Perempuan itu tidak protes seperti biasanya, tidak ada umpatan kasar atau celotehan kesal panjang lebar. Bahkan setelah Arbi masuk ke mobil dan menurunkan kaca jendela, Disha masih berdiri di samping pintu.
"Woi! Ayo pulang!" Teriak Arbi saat hujan semakin deras mengguyur kota Surabaya.
Disha membuka pintu mobil lalu duduk, membiarkan Arbi menyalakan mesin lalu menginjak pedal gas, mengarahkan mobil keluar dari parkiran. Disha yakin seratus persen kalau Arbi mengajaknya pulang bersama bukan karena hujan tapi karena apa yang laki-laki itu dengar pagi tadi. Kemacetan menambah waktu tempuat mereka sampai ke rumah, memberi kesempatan pada Arbi untuk bertanya tanpa basa-basi.
"Lo hutang penjelasan sama gue, Dis." Arbi melirik Disha yang diam memperhatikan hujan di luar.
"Itu bukan urusan lo." Disha masih enggan mengalihkan pandangannya. Hujan deras di luar masih lebih menarik daripada Arbi di sampingnya yang sedang berusaha menahan emosi.
"Dis."
Bodo.
"Disha."
Biarin aja, Dis. Jangan dijawab.
"Lo mau gue cium lagi?"
"Mau mati lo!" Sentak Disha yang menoleh, menatap tajam Arbi yang menunggu penjelasan sejelas-jelasnya dari perempuan itu.
Hening. Hanya mata mereka yang saling menusuk. Klakson dari mobil di belakang mereka memaksa Arbi melepas kontak mata lalu kembali fokus menyetir. Sampai mobil itu masuk ke dalam garasi di belakang gedung, Disha tetap bungkam. Tanpa ucapan terima kasih, perempuan itu turun menembus hujan lalu berbelok masuk ke pintu depan gedung Townhouse mereka. Keras kepala, Arbi tidak menyukai sifat Disha yang satu itu. Alasannya meminta penjelasan adalah fakta bahwa kemarin siang Arbi melihat Henry mengikuti Disha, tentu saja tanpa sepengetahuan tetangganya tersebut. Yang membuatnya semakin memikirkan apa yang terjadi antara Disha dan mantan kekasihnya itu adalah kilat ketakutan di mata Disha. Seperti ucapannya pagi tadi, saat bertemu Henry, nyali Disha lenyap, dia bukan lagi perempuan tampan yang dingin dan garang seperti biasanya. Disha berubah menjadi perempuan normal dalam tiga detik. Perempuan yang takut pada kemarahan kekasihnya.
Baru saja sampai di pintu depan, Arbi melongo melihat Disha menampar Rei lalu naik ke rumahnya di lantai dua. Tatapan kaget dan tak percaya terlihat jelas saat Arbi menghampiri Rei yang berdiri di ambang pintu rumahnya.
"Lo apain dia?" Tanya Arbi penasaran tepat saat pintu rumah Disha dibanting tertutup.
"Saya cuman balikin jemuran yang tadi sempat kena hujan." Rei sendiri tidak tahu dimana kesalahannya sampai Disha berteriak dengan sumpah serapah lalu berakhir menamparnya sebelum naik ke rumah.
"Jemuran?" Arbi mengulang.
"Pakaian dalamnya udah hampir kering." Jawaban itu membuat Arbi menempeleng kepala Rei.
"g****k lo! Ngapain daleman cewek lo ambil!" Seru Arbi yang kembali menempeleng kepala Rei lalu mendecak sebal.
"Itu udah kering, kasihan kalau kena hujan, Bi." Rei membela diri dengan tampang polos luar biasa.
"ITU NAMANYA NGGAK SOPAN!" Sentak Arbi mengacak rambutnya sendiri karena gemas, "Demi Tuhan! Kenapa lo nggak bisa mikir, sih? Segala daleman cewek lo ambil. Mau kena hujanpun itu tetep nggak sopan kalau lo ambil. Jatoh harga diri Disha. Mati lo." Arbi berceloteh panjang lebar sambil membuka pintu lalu masuk ke rumahnya.
Sadar kalau apa yang dilakukannya salah, Rei menutup pintu rumahnya lalu naik ke rumah Disha. Mengetuk pintu rumah perempuan itu berulang kali. Saya harus minta maaf.
"Dis!" Seru Rei sambil terus mengetuk pintu.
"Disha! Saya mau minta maaf!" Serunya sekali lagi.
Pintu disentak terbuka, Disha muncul dengan kaos hitam yang lengannya sengaja digunting serta celana pendek putih. Ia mengembuskan nafas kasar, tidak tahu kenapa tetangganya jadi sangat bodoh begitu. Memang di Jepang tidak ada peraturan dilarang menyentuh pakaian dalam perempuan di jemuran?!
"Maaf, Dis, saya nggak tahu."
"Kamu pulang. Mukamu bikin aku tambah emosi." Disha membalik tubuh Rei lalu mendorong laki-laki itu.
Blam! Pintu ditutup sebelum Rei sempat bicara lebih banyak. Beberapa tahun tinggal di Surabaya, baru kali ini Rei mengangkat jemuran milik tetangga sebelum kehujanan. Baru kali ini juga dia mendapat tamparan cukup keras di pipinya.
Disha mendengar langkah Rei menuruni tangga. Ia menghempaskan tubuhnya ke sofa setelah memastikan Rei tidak ada di depan pintu lagi. Dia tidak tahu kenapa bule Jepang itu dengan sangat baik hati mengambilkan pakaian dalamnya yang hampir kehujanan tadi.
Maksudnya, kenapa lho kok polos banget? Itu polos sama bego beda tipis. Ya Tuhan! Arbi ngapain coba selama ini? Sampe Rei sebego itu.
Arbi. Ah, nama itu masih enggan pergi dari kepalanya. Bukan, kali ini bukan soal ciuman yang entah apa maksudnya itu, melainkan apa yang didesak Arbi sejak pagi tadi. Tentang kenapa Disha ketakutan melihat mantan kekasih bajingannya; Henry. Dia tidak takut, di hari dia memutuskan hubungannya dengan Henry, dia tidak takut pada ancaman laki-laki itu. Hanya saja, tentang apa yang terjadi sampai Henry begitu dendam, itu jadi alasan utamanya mencemaskan kehadiran Henry sekarang.
"Aku udah janji untuk sama kamu selamanya, Dis."
"Tai! Kenapa muncul lagi!" Teriak Disha sambil menutup wajahnya dengan bantal sofa. Segala kalimat manis ala laki-laki kasmaran membuatnya jijik sekarang.
Ingatannya menjelajah pada ucapan Alden bahwa Disha masih tak bisa membuka hati. Benar, Disha tak akan bisa melakukannya. Sekali dia buta, hancur segalanya. Menjauh dari laki-laki adalah cara terbaik untuk tidak sakit hati atau dipermainkan. Tuhan menciptakan manusia berpasang-pasangan, lantas untuk apa mencemaskan cinta dan jodoh? Kalau sudah waktunya mereka pasti datang. Untuk apa jatuh cinta—patah hati, lalu jatuh cinta lagi dan disakiti lagi? Bahkan Disha sudah lupa seperti apa rasanya jatuh cinta.
Disha bangkit, memandang rintik hujan yang masih berisik di luar sana. Tidak bisa kemana-mana, Raga sibuk di Cafe dan Disha tidak punya payung. Dia baru ingat kalau sejak pindah sampai sekarang, setiap kali hujan, Arbi yang menyediakan payung. Atau mungkin waktu itu juga kemeja dan tadi bomber jaketnya. Ia beranjak keluar rumah, balkon atap menjadi pilihan terakhir karena ada ayunan kayu dengan atap kecil di sana. Ia butuh waktu untuk sendiri, menenangkan pikirannya yang sedang berputar-putar pada banyak hal. Hujan sudah tidak sederas tadi saat Disha membuka pintu atap lalu berlari ke ayunan kayu yang jarang dipakai itu. Awan kelabu yang masih menumpahkan air itu menghalangin kecantikan senja yang harusnya sudah menyapa Surabaya saat ini. Disha mendorong ayunan itu dengan kakinya, membiarkan angin dan hawa dingin dari hujan menyapa kulitnya yang hanya tertutup celana pendek serta jaket dari klub sepak bola kesukaannya.
"Kamu di sini juga?"
Disha menoleh. Mita berjalan cepat lalu duduk di sampingnya. Ransel kantor diletakannya di samping, kemeja biru muda, jeans hitam dan sneakers itu masih membalut tubuhnya, menunjukkan kalau Mita baru saja pulang dan tidak berniat masuk rumah.
"Kenapa nggak ganti baju dulu?" Tanya Disha yang kembali memperhatikan rintik hujan yang semakin lambat.
"Males." Mita badmood dan Disha tahu.
"Gila, lho! Aku udah mau pulang, udah beres-beres dan kerjaan ditumpuk lagi sama Mbak Ina." Mita melepas ikatan rambutnya, menyisir rambut panjangnya itu dengan jari.
"Tapi, kamu pulangnya nggak sampai malem." Sahut Disha.
"Dia ngasihinnya sambil ngomel-ngomel. Ngerusak moodku mau ke kampus." Mita masih bicara dengan nada kesal setengah mati khasnya.
"Hari ini terakhir UAS, kan?"
"Iya. Besok aku free!" Seru Mita sambil merentangkan tangan ke depan wajah Disha.
Disha mendecak sebal, mendorong tangan Mita, "mandi sana. Telat nanti kamu."
"Cium dulu." Mita menatap Disha, memperlihatkan wajah imut yang dibuat-buat dan berhasil mendapatkan tempelengan dari perempuan tampan di sampingnya itu.
"Heran aku! Kenapa kamu sama Arbi hobi cium orang." Gerutu Disha yang kemudian beranjak ke pintu atap.
"Arbi? Arbi minta cium? Dis!" Teriak Mita saat Disha berlari menuruni tangga.
"Heh! Kamu ngapain sama Arbi!"
***